
"Rin, pucuk dicinta ulam pun tiba. Akhirnya aku bisa melihat ayang Bima lagi. Emang ya, kalau sudah, pasti tidak akan ke mana," pekik seorang wanita yang tidak lain adalah Viona,saat melihat Bima, pemuda pujaannya sedang berjalan bersama dengan Bimo di koridor kampus.
Ya, dua gadis yakni Viona dan Rini begitu tahu kalau si kembar kuliah di Amerika, mereka memohon-mohon pada orang tua masing-masing untuk ikut kuliah di Amerika juga.
"Ayo kita samperin dia, Rin. Dia pasti kaget. Oh ya, aku terlihat cantik kan? Make-up ku gak belepotan kan? Pakaianku bagaimana, bagus kan?" Viona terlihat heboh sendiri, sembari berputar-putar di depan Rini.
"Viona, kamu tenang saja! Kamu tetap selalu cantik kok," puji Rini. Entah pujian itu murni dari hati atau hanya di mulut saja hanya dia yang tahu.
"Ahhh, kamu memang sahabatku yang terbaik!" ucap Viona, dengan riang. "Kalau begitu, ayo kita samperin dia!" Viona baru saja hendak melangkah, tapi tiba-tiba seorang gadis cantik berdiri di depannya,menghalangi jalan.
"Kamu mau kemana?" tanya gadis cantik yang tidak lain adalah Michelle sembari menatap Viona dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apaan sih? Aku mau kemana itu bukan urusanmu.Kamu bisa minggir nggak?" Viona terlihat sangat kesal.
"Kalau aku tidak mau minggir kamu mau apa?" tantang Michelle, membuat Viona hanya bisa menggeram saja.
"Kamu mau mendekati Bima ya? Jangan harap kamu bisa mendekatinya selama masih ada aku di sini," ucap Michelle dengan tegas.
Viona berdecih dan tersenyum miring. "Emangnya punya hak apa kamu atas Bima. Kamu bukan pacar ataupun istrinya kan?"
"Aku memang bukan pacarnya tapi aku sahabat Ayunda, calon istri Bima. Jadi, selama aku masih ada, aku akan menjauhkan Bima dari perempuan-perempuan tidak tahu malu seperti kamu!" Michelle menunjuk tepat di dada Viona.
"Hei, kamu boleh saja menghalangi kami dan gadis-gadis lain untuk mendekati Bima, demi Ayunda, tapi apa kamu yakin kalau Bima suka dengan apa yang kamu lakukan? Bukannya itu berarti kamu sudah memaksakan kehendak kamu atas Bima, hah? padahal kamu tahu jelas kalau Bima sama sekali tidak pernah menyukai Ayu kan? Kalau kamu tetap menghalangi ada gadis mendekati Bima, bukannya itu berarti kamu sudah bersikap egois pada Bima?"
Michelle sontak bergeming, mendengarkan ucapan yang terlontar dari mulut Viona yang menurutnya ada benarnya.
"Kamu jangan asal bicara! Aku yakin kalau Bima sebenarnya mencintai Ayu, hanya dia belum menyadari aja,"
Viona sontak tertawa mendengar ucapan Michelle yang dia anggap hanya lelucon.
Michelle semakin terpojok karena dia memang juga belum tahu perasaan Bima yang sebenarnya pada Ayu.
"Dan bagaimana dengan kamu? bagaimana kamu bisa percaya diri untuk mendapatkan Bima? Sementara Ayu jauh lebih cantik dari kamu," tantang Michelle, balik tersenyum meledek ke arah Viona.
"Aku memang tidak secantik Ayu, tapi aku tidak semurahan dia yang terus saja mengejar Bima, padahal sudah selalu ditolak," Viona kembali tersenyum sinis.
Mendengar ucapan Viona barusan, tawa Michelle sontak pecah. "Apa kamu punya kaca di rumah, Viona? Kamu mengatakan kalau Ayu murahan, jadi kamu yang sampai memaksakan diri untuk kuliah di sini untuk mengejar Bima, disebut apa? wanita pejuang? begitu maksudmu? Lawak sekali kamu! Padahal jelas-jelas kalau otak kamu tidak akan sanggup bersaing untuk kuliah di universitas ini, tapi kamu tetap memaksakan diri. Kamu itu lebih murahan plus tidak sadar diri!"
Viona sontak terdiam, tidak bisa membalas ucapan Michelle. Yang bisa dilakukan wanita itu sekarang hanya menggeram dengan tangan terkepal.
Kemudian, Michelle menoleh ke arah Rini, wanita yang dia tahu hendak mendekati Bimo.
"Dan kamu, jangan pernah bermipi untuk bisa mendekati Bimo,karena dia pacarku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun yang berniat merebut milikku, paham kamu!"
"Kamu masih pacar, belum istri kan? Begitu juga Ayunda masih calon istri, jadi sebelum terikat pernikahan, tidak masalah kalau kami mendekati mereka. Yang sudah menikah saja, bisa cerai, apalagi yang sudah menikah. Jodoh itu tidak ada yang tahu, jadi selagi masih ada kesempatan, ya kita harus memanfaatkan kesempatan itu!" Viona kembali bersuara mewakili Rini yang sama sekali tidak berani menjawab Michelle.
"Kamu ...." Michelle menggertakkan giginya, berusaha menahan diri untuk tidak melayangakan tangannya, memukul Viona.
"Apa? Kamu mau mengancamku lagi, mengunakan kuasa papamu? Licik sekali kamu! Apa-apa selalu bawa nama Papa," Viona tersenyum sinis ke arah Michelle.
Michelle menggeram. Ingin sekali dia menarik rambut Viona dengan kencang. Tapi untungnya dia masih memiliki kesadaran untuk tidak melakukan hal yang pastinya akan menjadi tontonan para mahasiswa. Dia tidak bisa membayangkan betapa malunya dia nanti kalau dia sampai terlibat perkelahian dengan wanita paling menyebalkan yang pernah dia kenal itu.
Michelle kemudian terseyum smirk, dan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Viona, "Kamu tenang saja, aku tidak selicik itu. Masalah ini terlalu sepele bagiku, karena aku punya keyakina dan sangat percaya diri kalau kamu dan teman kamu ini tidak layak untuk bersaing denganku maupun Ayunda. Jadi, papaku tidak perlu turun tangan. Tapi, kalau kalian nantinya sudah keterlaluan, tanpa aku minta ke papa,aku yakin papaku maupun papanya Ayunda tidak akan tinggal diam. Dengan sekejap papamu akan dipecat dan kalian akan jadi gembel," suara Michelle terdengar pelan tapi penuh penekanan. Kemudian wanita itu memutar tubuhnya hendak berlalu pergi meninggalkan dua wanita menyebalkan itu.
Tbc.