Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Jangan berkelit lagi!


Di kediaman Adrian tampak Arya gelisah,berjalan mondar-mandir di depan rumah. Pria itu berkali-kali melihat jam di pergelangan tangannya, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang.


Ya, pria berusia 22 tahun itu tentu saja menunggu Ayunda kakaknya yang tidak kunjung pulang, padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 subuh.


"Brengsek, kemana sih Farell membawa kak Ayu? Kenapa belum diantar pulang juga?" Arya mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Wajah pria itu kini antara panik, tegang, kesal bercampur jadi satu.


Tiba-tiba terdengar bunyi dari arah saku celananya, di mana suara itu berasal dari handponenya.


Ia, merogoh saku celananya dan mengerluarkan ponselnya. Tanpa berpikir panjang pria itu langsung menjawab,karena begitu tahu kalau yang menghubunginya adalah Farell.


"Ada apa menghubungiku dari tadi, Sob? Maaf, aku baru lihat handpone," terdengar suara Farell dari ujung sana dengan nada mengantuk.


"Kamu berani tanya lagi? Di mana kakakku? Kenapa belum kamu antar pulang?" bentak Arya.


"Belum pulang bagaimana? Tadi dia minta pulang lebih dulu dan tidak mau antar. Katanya tugasku sudah selesai,"


Wajah Arya sontak berubah pucat mendengar ucapan Farell.


"Rel, please jangan bercanda! Kak Ayu, belum pulang dari tadi!"


"Aku tidak bercanda, Arya! Tadi Kak Ayu bilang, dia mau pulang sendiri. Ya udah, aku nurut aja, karena kakakmu sendiri yang meminta,"


Arya semakin panik. Tanpa basa-basi pria itu langsung memutuskan panggilan secara sepihak dan lari ke dalam rumah.


Di saat bersamaan, Adrian yang berniat ke dapur untuk mengambil minum, kaget melihat sosok Arya yang muncul tiba-tiba.


"Ya, ampun Arya, kenapa kamu muncul tiba-tiba? Buat papa jantungan tahu nggak?" omel Adrian sembari mengelus dadanya.


"Pah, bicara sakit jantungnya nanti saja. Sekarang ada hal yang sangat penting. Kak Ayu belum pulang sampai segini. Handponenya juga nggak aktif, Pa.Ayo kita cari Kak Ayu!"


Adrian tidak terlihat kaget sama sekali. Bahkan terlihat sangat santai.


"Sudahlah, kamu jangan khawatir. Kakakmu baik-baik saja. Dia ada bersama Michelle. Mereka sekalian menginap di hotel itu,"


"Kenapa Papa tidak ngomong dari tadi?"


"Kamu tidak ada tanya. Sekarang sebaiknya kamu tidur saja. Ini sudah hampir jam dua!" Arya menganggukkan kepala dan beranjak pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Matahari kini sudah mulai menyembul, malu-malu dari balik awan, pertanda pagi akan datang.


Di dalam sebuah kamar tampak, dua insan berlain jenis masih tertidur pulas, setelah semalaman sulit untuk tidur.


Cahaya matahari yang membias masuk melalui celah-celah tirai tipis berwarna putih, membuat Ayunda merasa terganggu dan mulai membuka matanya secara perlahan.


Ketika matanya sudah terbuka dengan sempurna, matanya tiba-tiba membesar ketika wajahnya begitu dekat dengan wajah Bima. Selain itu posisinya sedang memeluk tubuh Bima yang masih tertidur pulas. Untuk sesaat Ia menikmati pemandangan langka itu, merasa kalau dirinya sedang menatap seorang pangeran dari negri dongeng



"Tampan sekali kamu!" gumam Ayunda sembari menekan-nekan pipi pria itu, lalu beralih ke bibir. Untungnya pria itu sama sekalu tidak merasa terganggu.



"Kalau lagi tidur begini kamu terlihat seperti malaikat, tapi kalau sudah bangun, kamu galaknya minta ampun," imbuhnya lagi.


Brakk


Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras oleh seseorang dari luar sana, hingga membuat Bima terbangun dan tanpa sadar hampir terjatuh ke lantai. Untungnya tangan Ayunda refleks menarik tangan Bima, untuk menghindari agar tidak terjatuh ke lantai. Namun sialnya, Bima malah jatuh di atas tubuhnya. Mereka berdua sama-sama kaget dan sontak beradu pandang.


"Bimaaaa!" teriak seorang pria paruh baya dengan suara menggelegar marah.


Bima dan Ayunda lagi-lagi kaget dan bersamaan menatap ke arah datangnya suara dengan posisi yang masih seperti tadi.


"Pa-papa!" seru Ayunda refleks mendorong dada Bima.


"Pa, Papa, jangan salag paham dulu! Kami tidak melakukan apa-apa. Kami sama-sama terjebak di kamar ini, dan kami tidak tahu siapa yang sudah menjebak kami!" Ayunda menghambur ke arah Adrian, berusaha untuk menjelaskan.


"Jangan berkilah, Ayu!" nada bicara Adrian terdengar sangat dingin.


"Dia benar, Om! Kami memang tidak melakukan apa-apa! Semalaman kami terjebak di sini. Tolong percaya sama kami!" Bima buka suara menimpali ucapan Ayunda.


"Pintar sekali kalian berdua, berkilah! Tadi bahkan sudah jelas di mata kami, kalian berdua hendak berbuat macam-macam. Kalau kami tidak keburu datang, kami tidak tau lagi apa yang akan terjadi selanjutnya. Kamu Masih berani mau membantah lagi!"


Bima seketika merasa terdesak. Pria itu mengacak-acak rambutnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sumpah demi apapun, Om. Kami tidak melakukan apapun! Tadi itu murni ketidaksengajaan karena kaget!" Bima masih berusaha untuk menyangkal.


"Bima,Papa kecewa denganmu. Papa tidak menyangka kalau kamu bisa berbuat hal sekotor ini. Apa ini yang kamu dapat dengan sekolah tinggi-tinggi?" Bara yang dari tadi diam saja, kini buka suara.


"Mama juga kecewa denganmu!" Clara menimpali ucapan Bara suaminya.


"Arghhhh, Harus bagaimana lagi aku menjelaskan? Aku benar-benar tidak melakukan apa-apa!" Bima terlihat frustasi dan akhirnya tersungkur menyender di tembok.


"Kamu tidak perlu menjelaskan lagi. Karena Om tidak akan percaya apapun yang akan kamu jelaskan. Semalaman kami mengkhawatirkan Ayu yang tidak pulang-pulang, ternyata kamu membawanya ke kamar ini. Mau dengan cara apa lagi kamu berkelit? kamar ini bahkan dipesan atas nama kamu.


Mata Bima membesar terkesiap kaget mendengar ucapan Adrian.


"Ba-bagaimana bisa, Om? Aku sama sekali tidak memesan kamar. Lagian buat apa aku memesan kamar seperti ini? Aku bahkan memiliki kamar sendiri di hotel ini, yang tentu saja lengkap dengan fasilitasnya,karena ini adalah hotel milikku!"


"Apa?" seru semua orang yang berada di kamar itu dengan ekspresi yang sangat terkejut.


"Ka-kamu jangan bercanda! Ini tidak mungkin hotelmu. Kamu bahkan baru saja kembali dari Amerika 1 bulan yang lalu, dan hotel ini diresmikan tiga tahun yang lalu," Adrian berdecak menggeleng-gelengkan kepalanya


"Terserah Om mau percaya atau tidak. Yang jelas aku tidak berbohong. Ini adalah hotel milikku. Jadi, tidak ada alasan kalau aku memesan kamar ini,"


Adrian sontak menatap ke arah Bara seperti meminta penjelasan. Bara kemudian menganggukkan kepalanya, karena walau tadinya dia kaget juga begitu mengetahui hotel ini milik putranya, tapi tidak ada alasan baginya untuk tidak percaya, mengingat kalau anaknya itu jug sudah mendirikan perusahaan sendiri yang cukup besar.


"Aku semakin yakin kalau ada yang menjebakku dan Ayu. Tolong percaya kali ini, Om!" sambung Bima lagi.


"Ahh,Kali ini Om tidak percaya, karen Om lebih percaya dengan apa yang Om lihat dengan mata kepala sendiri." Tegas Adrian. Kemudian, pria itu menoleh ke arah Bara.


"Bara, kali ini aku benar-benar kecewa denganmu! Ayo, Ayu, kita pulang!"


"Tunggu dulu, Adrian! kita bisa bicara baik-baik masalah ini!" cegah Bara.


"Maaf, sekali lagi.Sebaiknya kamu membicarakan hal ini baik-baik dengan putramu itu!" Adrian kembali melangkah sembari menarik tangan Ayunda.


"Pa, tolong jangan begini. Aku dan Bima benar-benar tidak melakukan apa-apa! Aku berani bersumpah!"teriak Ayu, berusaha melepaskan cengkaraman tangan papanya dari tangannya.


"Ayu,Diam! jangan buat malu Papa! Ayo pulang!" bentak Adrian dengan suara keras, membuat Ayunda terdiam. Karena jujur saja, ini pertama kalinya papanya itu mengeluarkan suara keras padanya.


Setelah berada di luar kamar, ternyata di sana sudah berdiri, Bimo, Tristan dan Michelle.


"Nih, tas kamu Ayu. Aku menyimpannya untukmu! Maaf tidak bisa menolongmu tadi malam" Michelle memberikan tas milik Ayu ke tangan sahabatnya itu.


Mendengar ucapan Michelle,Ayu merasa memiliki angin segar.


"Pa,kalau tidak percaya,Papa bisa tanya Michelle. Dia yang jadi saksi ketima aku diculik dan Bima ingin menyelamatkanku. Kami berdua benar-benat dijebak Pa. Iya kan Michelle?" Ayu menatap Michelle dengan tatapan memelas,berharap sahabatnya itu mau membantu.


"I-iya, Om! apa yang dikatakan Ayu tadi __"


"Ah, sudahlah, tidak perlu dijelaskan lagi! Ayo pulang! Papa serasa mau meledak di sini!" Adrian kembali menarik tangan Ayunda.


"Pa, tolong jangan egois. Papa coba dengar dulu!" Ayunda bersikeras untuk melepaskan diri. Namun, tenaganya kalah dengan tenaga sang papa.


Karena tidak ada gunanya lagi dia membantah sang papa, akhirnya Ayunda pasrah dan ikut bersama papanya. Tanpa Ayunda sadari, Adrian menaruh tangannya ke belakang dan mengacungkan jari jempolnya ke arah Bimo, Tristan dan Michelle.


Tbc