
"Mas Bara, kamu pulang juga akhirnya. Kamu pasti panik kan lihat postinganku?" Tania berusaha bersikap santai, sembari mendaratkan tubuhnya duduk di atas ranjang. Wanita itu terlihat bersikap biasa saja, padahal jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar merasa takut melihat tatapan Bara yang menghunus tajam ke arahnya.
Bara mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Tania. Tatapannya sama sekali tidak berubah, tetap tajam, bak sebilah pisau belati yang siap menghujam jantung.
Setelah pria itu berdiri tepat di depan Tania, tangan pria itu terulur ke arah wanita itu. Dengan penuh percaya diri Tania merasa yakin kalau pria itu akan meraih tubuhnya untuk dipeluk karena dia yakin suaminya itu kini sudah mulai menyadari kesalahannya yang telah mengabaikan dirinya dan Tristan selama ini.
Namun,apa yang di pikirannya benar-benar di luar ekspektasi. Ternyata tangan Bara tidak mengarah ke arah pundaknya melainkan ke arah lehernya. Sembari menggertakan giginya, Bara mulai mencengkram kuat leher Tania, hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas.
"Sa-sakit,Mas! le-lepaskan!" rintih Tania sembari memegang tangan Bara dengan kedua tangannya, berusaha melepaskan tangan pria itu dari lehernya
"Beraninya kamu memancing amarahku! Apa maksudmu memposting seperti itu, Hah!" suara Bara menggelegar, memenuhi ruangan itu.
"Apa Kamu tidak tahu, kalau apa yang kamu lakukan itu, bisa membuat perusahaanku hancur? aku akan dipandang jelek dan tidak bertanggung jawab oleh pada kolegaku! kamu mau perusahaanku hancur, Hah!" lagi-lagi suara Bara menggelegar seiring dengan menguatnya cengkraman tangannya di leher Tania.
"Le-lepaskan tanganmu,Mas. Sa-sakit!" rintih Tania lagi. Kali ini air mata wanita itu sudah menetes.
"Bara, lepaskan tanganmu! kamu bisa membunuh istrimu!" pekik Elva yang muncul tiba-tiba karena terganggu dengan gelegar suara kemarahan Bara.
Bara menoleh ke arah mamanya tanpa melepaskan cekikikannya. Mata pria itu kini tampak memerah dan rahangnya mengeras. Pria itu dengan sengaja kembali menekan leher Tania hingga wanita itu kembali merintih kesakitan.
"Bara, mama mohon, tolong lepaskan tanganmu,Nak! kamu bisa masuk penjara kalau dia mati di tanganmu. Lepaskan ya!" bujuk Elva dengan suara yang sangat lembut.
Dengan perasaan yang masih dipenuhi dengan amarah, Bara menyentak tangannya, melepaskan cengkramannya dari leher Tania, hingga membuat wanita itu terbatuk-batuk sembari memegang lehernya yang tampak memerah.
"Ada apa ini sebenarnya? kenapa kamu bisa semarah itu?" tanya Elva setelah dia merasa situasi sudah kondusif.
Bara sama sekali tidak menjawab. Pria itu masih menatap Tania dengan sorot mata yang siap menelannya hidup-hidup.
Melihat tatapan Bara, sontak saja membuat Tania menundukkan kepalanya.
"Ma, aku hanya membuat postingan, mencurahkan isi hatiku yang selalu diabaikan oleh Mas Bara selama ini. Aku kesal, Ma karena hari ini dia memberikan waktu untuk menghabiskan waktu bersama dengan Bimo, sedangkan dia sama sekali tidak pernah memberikan waktu untuk Tristan. Aku merasa sangat sedih melihat anakku sendiri yang seperti tidak dianggap." Tania bercerita sembari sesunggukan, membuat Bara terdiam.
"Aku kesal juga,Ma karena Bimo dibawa ke perusahaan dan karyawan-karyawan menyebutnya sang pewaris. Aku merasa hak anakku dirampas oleh anak itu. Coba,Mama ada di posisiku. Aku yakin Mama pasti akan merasa sedih dan tidak terima. Karena tidak mungkin ada seorang Ibu yang rela, anaknya diperlakukan tidak adil. Tapi, Mas Bara sangat marah dan menganggapku sudah merusak reputasinya. Apa aku salah Ma, melakukan seperti itu? aku merasa tidak punya teman cerita, makanya aku curhat di media sosial. Mama sendiri belakangan ini suka mengabaikanku," lanjut Tania lagi, berusaha menarik simpati mertuanya itu lagi. Syukur-syukur kalau tangisannya juga bisa menarik simpati Bara.
Elva menarik napas panjang dan mengembuskannya. Wanita paruh baya itu, melangkah menghampiri Tania dan meraih tubuh menantunya itu ke pelukannya.
"Maaf, kalau kamu merasa belakangan ini Mama mengabaikanmu." ucap Elva sembari melerai pelukannya.
"Tapi, apa yang kamu lakukan itu juga salah, Tania. Citra Bara sebagai pimpinan sekaligus pemilik perusahaan bisa hancur. Dia pasti akan kehilangan kepercayaan dari para pemilik saham dan para klien-kliennya, karena dianggap tidak bertanggung jawab. Harusnya kamu harus lebih bijak dalam bertindak," lanjut Elva lagi dengan nada yang sangat lembut.
"Tapi, sumpah demi apapun,Ma aku tidak pernah bermaksud membuat citra Mas Bara hancur. Tujuanku hanya ingin membuat Mas Bata menyadari kehadiran kami, bukan hanya Bimo," Tania kembali sesunggukan.
"Kalau kamu berpikir aku akan berubah baik padamu dengan postinganmu itu, kamu salah besar. Itu sama saja kamu sudah membangunkan singa lapar yang tertidur," celetuk Bara yang masih benar-benar merasa kesal dengan apa yang sudah diperbuat oleh Tania.
"Bara! kamu seharusnya memaklumi apa yang dilakukan oleh Tania. Dia melakukannya karena kamu memang sangat keterlaluan. Mama tidak menyalahkanmu, kalau kamu menyayangi Bimo, tapi kamu tidak boleh pilih kasih. Kamu juga seharusnya bersikap sama kepada Tristan, karena anak kamu itu Tristan bukan Bimo! jadi ini semua murni karena kesalahanmu yang tidak bisa bersikap adil!" Elva berucap dengan sangat tegas, menyalahkan Bara atas yang baru saja terjadi.
Mendengar pembelaan mertuanya, sudut bibir Tania, tersenyum tipis merasa kalau dramanya kali ini, berhasil membuat mama mertuanya itu kembali simpati padanya.
Sementara Bara hanya bisa terdiam, tidak bisa membantah ucapan mamanya. Karena memang dia tidak menemukan celah di mana kesalahan pada ucapan mamanya.
"Mulai sekarang kamu harus bisa bersikap adil. Bahkan kalau boleh, kamu harus lebih memprioritaskan Tania dan Tristan, bukan Bimo. Mama tidak mau nanti anak yang kamu angkat itu, berubah sombong dan merasa lebih berkuasa di rumah ini! kali ini, mata Mama benar-benar sudah terbuka, kalau memang sikap kita yang berlebihan pada Bimo harus segera kita hilangkan dan itu demi kebaikan keluarga besar kita! Elva buka suara kembali, membuat Tania merasa semakin terbang di awang-awang.
"Rasain kamu Bimo. Siap-siap saja kamu kehilangan satu orang yang selalu membelamu!" bisik Tania dalam hati, dengan kepala tertunduk untuk menutupi senyum liciknya.
"Mulai sekarang,mama mau kamu bersikap baik pada Tania, dan memperlakukannya selayaknya sebagai seorang istri. Cobalah menurunkan egomu dan menerima Tania dengan tulus. Ingat, sebelum kamu amnesia, kalian berdua itu pernah saling mencintai. Mama mohon tolong tumbuhkan rasa cintamu pada Tania. Kamu harus menghargai kesabarannya selama ini yang masih setia menjadi istrimu, padahal kamu tidak pernah memperlakukannya dengan baik! Mama keluar dulu. Selesaikan masalah kalian berdua dengan baik dan kepala dingin!" pungkas Elva sembari beranjak keluar.