
Sementara itu di belahan benua lain tepatnya benua Eropa yakni negara Inggris, tampak Ayunda yang sedang duduk termenung di sebuah pinggiran sungai Thames yaitu sungai terpanjang ke dua di Ingris yang mengalir di selatan Inggris dan menghubungkan kota London dengan laut.
Situasi di area sungai itu terlihat sangat ramai, tapi Ayunda tetap merasa sunyi.
Ya, Ayunda akhirnya memilih untuk ke London, kota yang merupakan ibukota negara Inggris. Ayunda kuliah di London College of Fashion, yaitu universitas yang menawarkan program dalam dalam segala hal mode, dari bisnis hingga desain fesyen, karena memang gadis itu dari dulu sudah memiliki mimpi untuk menjadi seorang designer.
"Hmm, kenapa sih aku belum bisa juga melupakan Bima? Apa benar kata Bima kalau aku tidak akan mampu melupakannya?" bisik Ayunda pada dirinya sendiri sembari menatap kosong pada hamparan sungai yang banyak dilalui oleh orang-orang menggunakan perahu kecil.
"Bima sekarang kuliah di Amerika seperti cita-citanya dulu, dan Michelle juga kuliah di sana. Apa mereka berdua sekarang sudah menjalin hubungan ya? Kalau sudah, kasihan juga Bimo, yang sudah lama menyimpan rasa pada Michelle. Tapi, mau bilang apa? Bima menyukai Michelle dan sepertinya Michelle juga. Sepertinya Bimo memang harus bisa menerima hubungan mereka seperti aku," Ayunda tetap saja mengajak hatinya berbicara, padaha dia tahu jelas kalau dia tidak akan mendapatkan respon dari sang hati.
"Hei, Girls, are you alone?" tiba-tiba ada suara seorang pria,menyapa Ayunda.
"I-iya, Bima, aku masih sendiri!" pekik Ayunda tanpa sadar menyahut menggunakan bahasa Indonesia, saking kagetnya.
"Hei, ternyata kamu orang Indonesia! Kita sama!"seru pria yang tadi menyapa Ayunda dengan ceria.
Ayunda sama sekali tidak menyahut, tapi dia tetap melemparkan senyumny.
"Tadi siapa aku kamu panggil? Bima ya? apa kamu lagi memikirkan pria bernama Bima?" tanya pemuda itu, berusaha mengakrabkan diri dengan Ayunda.
Ayunda tetap tidak memberikan jawaban. Gadis itu justru kembali fokus menatap ke hamparan sungai.
"Kenalkan, namaku Galih! Kamu siapa?" Seakan tidak mau menyerah, pemuda itu tetap saja mengajak Ayunda untuk berbicara.
"Ayu!" akhirnya Ayunda mau buka suara.
"Wah, nama yang sangat cantik, sama seperti orangnya," puji pemuda bernama Galih itu, berharap Ayunda senang. Namun, lagi-lagi dia harus kecewa, karena tetap saja Ayu memasang wajah datar.
"Kamu di sini sedang liburan atau kuliah?" walaupun Ayunda masih memasang sikap dingin, Galih tetap saja semangat untuk mengajak wanita itu mengobrol.
"Kuliah!" singkat, padat dan jelas.
"Wah, kita sama dong. Aku juga kuliah di sini dan sudah semester empat. Kalau kamu?"
"Semester satu," lagi-lagi Ayunda menjawab dengan singkat.
"Oh, begitu? Kamu kuliah di mana?" walaupun Galih merasa kalau wanita di sampingnya itu niat gak niat berbicara dengannya, pria itu sama sekali tidak peduli. Dia justru merasa tertantang untuk mendekati wanita yang dari pertama melihat sudah bisa menarik hatinya itu.
"London College of Fashion," walau sebenarnya Ayunda malas meladeni pemuda di sampingnya itu, tapi demi kesopanan Ayunda tetap saja menjawab.
"Waduh, ternyata kita beda. Aku di Oxford. Biar aku tebak, kamu pasti ingin jadi seorang designer kan?"
"Apa kamu tidak merasa kalau pertanyaanmu itu, pertanyaan yang bodoh? Kalau kuliah di sana pasti ingin menjadi seorang designer," untuk pertama kalinya, Ayunda berbicara panjang lebar, semenjak Galih menyapanya.
"Yes, dia mulai terpancing!" sorak Galih dalam hati.
"Kamu ternyata bisa bicara kalimat panjang ya? Aku pikir tadi, bisanya hanya satu-satu kata saja,"
Ayunda terdiam seraya kembali menatap ke depan.
"Aku tidak marah!" sahut Ayunda, yang akhirnya juga merasa tidak enak hati pada pemuda itu.
"Syukurlah kalau kamu tidak marah. Oh ya, kamu tidak keberatan kan kalau aku duduk di sini menemani kamu?"
"Dia mungkin tidak keberatan, tapi aku yang keberatan!" sahut seorang pria yang sudah berdiri di belakan Ayunda.
Ayunda dan Galih sontak menoleh ke belakang dan melihat seorang pria yang menatap Galih dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Kak, Tristan!" seru Ayunda, langsung berdiri dari duduknya.
"Emangnya kamu siapanya Ayu, makanya keberatan?" Galih juga ikut berdiri dan menatap Tristan dengan sorot mata tidak senang.
"Aku kakaknya! Dan tugasku untuk menjaganya dari apapun itu termasuk dari pria tidak jelas seperti kamu," sahut Tristan dengan sinis.
"Jangan bicara sembarangan! Aku ini pria yang jelas. Aku punya orang tua yang jelas, dan tujuanku ke sini juga jelas yaitu kuliah,"
"Kamu ikut aku!" Tristan melangkah sedikit menjauh dari Ayunda dan Galih menyusul dengan raut wajah penasaran. Sementara Ayunda juga mengrenyitkan keningnya bingung kenapa Tristan harus mengajak Galih menjauh darinya.
"Ada apa? kenapa kita harus manjauh dari Ayunda?" tanya Galih dengan wajah serius.
Tristan kemudian mengucapkan apa yang hendak dia ucapkan Pada Galih.
Sementara itu dari tempat Ayu berdiri, tampak wanita itu semakin kebingungan dan penasaran apa yang dibicarakan oleh Tristan pada pria yang baru dikenalnya itu. Apalagi, begitu melihat wajah pemuda itu yang tiba-tiba berubah pucat, seperti sedang ketakutan dan langsung pergi begitu saja tanpa pamit padanya.
Setelah pria bernama Galih itu pergi, Tristan kembali melangkah menghampiri Ayunda.
"Kakak lagi bicara apa ke dia? Kenapa dia langsung pergi?" cecar Ayu, begitu Tristas sudah berdiri di dekatnya.
"Aku tidak bicara apa-apa! Aku hanya memintanya untuk tidak mengganggumu lagi, itu saja!"
Ayunda mengrenyitkan keningnya, merasa tidak percaya dengan ucapan Tristan.
"Kalau hanya itu, tidak mungkin dia langsung pergi. Apalagi tadi wajahnya seperti ketakutan. Kakak bohong ya?" sudut alis Ayunda naik sedikit ke atas, menatap Tristan dengan curiga.
"Aku tidak bohong. Aku memang hanya bilang itu!" Tristan berusaha meyakinkan, Ayunda.
"Cih, aku tetap tidak percaya! karena tidak mungkin dia sampai ketakutan seperti itu, kalau kakak hanya mengatakan hal seperti itu. Kakak mengancamnya ya?" desak Ayunda.
"Baiklah, aku jujur. Aku tadi memang mengancamnya, mengatakan kalau kamu itu sebenarnya adalah calon istriku dan aku ini putra Bara Prayoga. Aku mengancamnya kalau dia berani mendekatimu lagi, aku akan cari tahu tentang keluarganya dan akan aku hancurkan," tutur Tristan,jujur atau bohong hanya dialah yang tahu.
"Kenapa kakak melakukan itu? aku benar-benar tidak suka, karena aku bukan calon istrimu!" tegas Ayunda dengan sangat kesal, sembari berlalu pergi meninggalkan Tristan.
Melihat Ayunda yang pergi dengan kekesalannya, Tristan hanya bisa menghela napas dengan sangat berat.
"Maaf, Ayu! Aku sebenarnya ingin jujur tentang sesuatu padamu, tapi aku sudah berjanji pada Om Adrian agar merahasiakannya dulu darimu sampai kamu selesai kuliah. Mudah-mudahan aku bisa kuat menyimpan rahasia ini, karena ini semua demi kebaikanmu." batin Tristan sembari menatap punggung Ayu yang semakin menjauh.
Tbc