Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Acara ulang tahun


Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa, kalau hari ini adalah hari kedua Tristan ada di Bali. Pembicaraan demi pembicaraan sudah terlalui dengan baik, tapi Tristan belum mendapatkan giliran untuk mempresentasikan proposalnya. dua jam lagi, setelah makan malam giliran buat pria tampan itu untuk menunjukkan kemampuannya.


Tristan berkali-kali menarik napas dengan berat. Pria itu benar-benar terlihat sangat gelisah. Entah apa yang ada dipikirannya sekarang. Yang jelas, pria itu tidak gelisah bukan karena grogi akan mempresentasikan proposalnya, tapi ada hal lain yang membuat pria itu gelisah


Tristan melirik jam di tangannya dan melihat jam sudah menunjukkan hampir pukul 6 sore waktu Bali. Sunset yang sangat indah di depan matanya, sama sekali tidak tampak begitu mengagumkan bagi pria itu.


"Arghh, tidak bisa dibiarkan ini. Aku harus membuat keputusan!" bisik Tristan pada dirinya sendiri.


Pria itu kemudian terlihat menghubungi seseorang dan dia terlihat serius melakukan pembicaraan dengan orang tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, di sebuah hotel, tepatnya di sky hotel, tampak sudah mulai ramai didatangi oleh para remaja, karena memang di malam itu akan acara pesta ulang tahun Reno, putra seorang pengusaha yang lumayan sukses dan bergerak di bidang property.


Jam sudah menunjukkan pukul 6.30 waktu Indonesia bagian barat, itu pertanda setengah jam lagi acara ulang tahunnya akan segera dimulai.


"Salena di mana sih? kenapa dia belum datang juga?" batin Reno sembari menatap ke arah pintu masuk.


"Kamu cari Salena ya? kenapa sih cari yang tidak ada. Coba kamu lihat aku sekarang! aku cantik kan?" Farah tiba-tiba berdiri di samping Reno sembari melemparkan senyuman termanisnya.


"Farah, bukannya aku sudah bilang, kalau kamu itu hanya jadi yang kedua. Tolong jangan berharap lebih terutama malam ini. Kamu tahu jelas kan apa rencanaku malam ini? jangan karena sikapmu, semuanya jadi gagal," ucap Reno dengan nada datar dan tanpa menoleh ke arah Farah, yang sudah mencebik, kesal.


"Baiklah! tapi nanti setelah kamu berhasil melakukannya dengan Salena, kamu tetap akan datang ke kamar yang aku pesan kan? aku juga mau melakukannya denganmu. Aku rela berbagi deh dengan Salena, walaupun sebenarnya aku tidak sudi,"


"Iya, iya. Aku akan tetap menemuimu nanti. Karena aku juga sudah ketagihan bercinta denganmu. Permainanmu, benar-benar bisa membuatku puas,"


Senyum Farah, seketika kembali merekah begitu mendengar ucapan Reno yang sedikit vulgar. Hanya mendengar ucapan seperti itu saja, sudah membuat wanita itu bergairah, membayangkan permainan mereka nanti malam.


"Sekarang, sebaiknya kamu pergi dulu! tuh Salena sudah datang!" ucap Reno membuat pandangan Farah langsung mengarah ke arah pintu masuk.


Bibir wanita itu seketika berubah manyun dan tatapannya juga sangat sinis, menatap kehadiran Salena yang terlihat sangat cantik memakai gaun yang bisa dikatakan cukup mewah. Salena datang bersama Renata yang juga cantik memakai gaun yang tentu saja dibelikan Salena untuknya.


"Cih dasar wanita sok suci! dia bisa memakai gaun mahal seperti itu pasti dia dapat dari Om-Om, yang jadi sugar daddynya," umpat Farah, kesal melihat Salena yang terlihat lebih canti darinya malam ini. Kekesalan Farah semakin menjadi, begitu melihat tatapan Reno yang sama sekali tidak berkedip saat menatap Salena.


Merasa Reno tidak mengindahkannya lagi, Farah akhirnya memutar tubuhnya dan berlalu pergi sembari menghentakkan kakinya ke lantai.


Sementara itu, Reno yang memang merasa kagum melihat penampilan Salena yang sangat berbeda dari biasanya, langsung berjalan menghampiri Salena.


"Beb, kamu cantik sekali! puji pria itu sembari menyusuri tubuh Salena dari atas sampai ke bawah.


"Aduh, seharusnya kamu tidak perlu membawa kado segala, karena hadiah yang sebenarnya adalah kehadiran kamu," Reno mulai berbicara manis semanis madu.


Kalau bukan karena menghargai Reno, ingin sekali Salena muntah saat itu juga mendengar kata-kata manis pemuda di depannya itu.


"Oh ya, orang tua kamu di mana?" Salena sengaja mengalihkan pembicaraan, dengan berpura-pura celingukan mencari keberadaan orang tua Reno.


"Mereka tidak datang, Beb. Seperti yang aku katakan, mereka berdua itu selalu sibuk. Papa lagi ada urusan bisnis di luar negri dan mamaku menemani papa. Mereka hanya mengirimkan ucapan selamat dan memberikan aku kebebasan untuk memilih bagaimanapun caraku untuk merayakan ulang tahunku," ucap Reno dengan nada bangga tapi terselip kesedihan di balik ucapannya, karena memang dia selalu dijejali dengan uang, tidak dengan perhatian yang akhirnya membuat pemuda itu tumbuh menjadi anak yang egois.


"Udah ah, kita langsung ke depan yuk! biar acaranya langsung bisa kita mulai," Reno meraih tangan Salena dan berjalan sembari menggandeng tangan gadis itu.


Acara akhirnya dimulai. Dan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Reno, potongan kue pertamanya memang benar diberikan kepada Salena. Semua yang ada di tempat itu, bertepuk tangan dengan gembira kecuali Farah. Perempuan itu, menatap sinis dan bahkan seperti ingin menelan Salena bulat-bulat.


Acara demi acara berjalan begitu lancar. Dan sekarang para siswa dan siswi, mulai masuk ke sesi dansa yang memang sengaja dimasuk list oleh Reno.


"Beb, dansa yuk! masa dari tadi diam saja di sini?" ucap Reno yang terlihat mulai tidak tenang duduk di tempat duduknya.


"Maaf, Reno! aku sama sekali tidak bisa dansa," tolak Salena dengan halus


"Nanti aku akan ajari kamu. Kamu hanya tinggal mengikuti instruksi dariku. Kamu mau kan?" Reno sama sekali tidak menyerah untuk membujuk Salena, gadis yang selama ini membuatnya penasaran.


"Tapi, Reno. Aku sama sekali tidak percaya diri untuk berdansa. Jadi, aku mohon agar sebaiknya kita duduk di sini saja, menikmati teman-teman kita yang berdansa.


Reno benar-benar kehabisan akal. Wanita di depannya itu benar-benar tidak mudah untuk di takluklan membuat dia semakin penasaran dan semakin memperbesar keinginannya untuk mendapatkan Salena.


Waktu sudah mulai menunjukkan pukul 9 malam. Ruangan itu juga terlihat sudah mulai sepi karena rata-rata sudah pulang,kini yang tersisa tinggal Salena, Renata, dan Reno serta dua orang pria yang merupakan sahabat Reno.


"Beb, acaranya sudah selesai kan? Aku dan Renata sudah bisa pu__" belum sempat Salena menyelesaikan ucapannya, Salena tiba-tiba terdiam karena salah satu teman Reno, langsung membekap mulut gadis itu, dan satu lagi membekap mulut Renata, menggunakan sapu tangan yang sebelumnya sudah dibubuhi obat bius.


"Bagus! sekarang kalian berdua bawa gadis miskin itu ke kamar kalian, dan Salena biar aku yang bawa. Terserah kalian berdua mau melakukan apapun padanya!" titah Reno sembari menunjuk ke arah Renata yang sudah tidak sadarkan diri.


Dua pemuda itu mengangukkan kepala dan tersenyum lebar. Salah satu dari mereka langsung mengangkat tubuh Renata ala bridal style, melangkah membawa Renata ke kamar yang sudah mereka booking.


Reno juga tidak mau ketinggalan. pria itu pun mengangkat tubuh Salena dan membawa wanita itu menuju kamar pesanannya dengan senyum penuh kemenangan di bibirnya.


tbc