Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Rencana Arumi, Satya dan Bimo


Bara melangkah semakin mendekat ke arah dua buket bunga itu yang sudah tidak sesegar kemarin. Pria itu meraih bunga itu dan melihatnya dengan detail.


"Ini kan bunga yang aku beli kemarin yang katanya untuk wali kelas Bimo?" batin Bara dengan alis bertaut.


"Mas Bara, terima kasih ya buat kiriman bunganya!" ucap Clara, yang merasa mendapat kesempatan untuk mengucapkan terima kasih.


"Kiriman bunga? tapi aku tidak___" belum sempat Bara menyangkal, tangannya sudah keburu ditarik oleh Bima sedikit menjauh dari semua yang ada di ruangan itu.


"Ada apa, Bima? kenapa papa harus ditarik-tarik?" tanya Bara, bingung.


"Pa, Papa tidak ingin mengatakan kalau Papa tidak pernah mengirimkan bunga untuk mama di hari ulang tahunnya kan?" bisik Bima .


"Ya,emang itu yang ingin papa katakan. Papa kan tidak pernah mengirimkan bunga untuk mamamu," sahut Bara yang sama sekali beli mengerti maksud anaknya.


Bima berdecak kesal dan memukul jidatnya.


"Bisa tidak, untuk hal ini papa jangan jujur-jujur amat. Kalau Papa jujur, sia-sia usahaku untuk mendekatkan papa lagi dengan mama. Atau papa tidak ingin bersatu lagi dengan mama, Iya?"


Bara terdiam, berusaha untuk mencerna maksud ucapan Bima barusan. Setelah diam untuk beberapa saat, seulas senyuman langsung merekah di bibir pria itu. "Jadi, bunga yang Papa beli kemarin itu, Papa belikan untuk mamamu sendiri, bukan untuk wali kelasmu? dan kamu mengirimkan kembali pada mamamu mengatasnamakan nama Papa, begitu?"


Bima tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Bara sontak menatap tajam ke arah Bima, hingga membuat anak kecil itu sedikit ketakutan karena takut papanya itu tiba-tiba marah karena sudah lancang melakukan hal seperti itu


"Kenapa Papa menatapku seperti itu? Papa marah ya? tidak suka aku berbuat seperti itu? maaf, aku cuma__"mulut Bima sontak berhenti berbicara karena tiba-tiba Bara sudah memeluk tubuhnya.


"Bagaimana Papa bisa marah? justru Papa sangat berterima kasih. Kamu benar-benar anak Papa, makanya bisa pintar dan cerdik," Bara mulai menyombongkan diri.


"Cih, mulai sombong dia! padahal bertahun-tahun dibohongi Tante Tania, tapi nggak sadar-sadar," ejek Bima, membuat wajah Bara seketika langsung merengut.


"Sialan! aku diejek anak sendiri! untung kamu anakku, kalau kamu tadi orang lain, sudah jadi perkedel aku buat, bisik Bara pada dirinya sendiri.


Sementara itu dari arah yang tidak terlalu jauh tampak Clara dan Bimo menatap ke arah Bara dan Bima dengan tatapan yang penuh tanya.


"Sedang apa mereka, Bimo?" tanya Clara, dan Bimo hanya mengangkat bahunya pertanda kalau dirinya juga tidak tahu.


"Clara ...."


Clara sontak menoleh ke arah suara yang baru saja memanggilnya. Siapa lagi dia kalau bukan Elva.


Kening Clara sontak berkerut bingung melihat mata mamanya Bara itu sudah berair.


"Apa kamu membenciku? apa kamu marah padaku?" tanya Elva.Terlihat jelas kalau ada sedikit rasa grogi pada wanita setengah baya itu, saat memberanikan diri untuk berbicara dengan Clara.


"Marah kenapa?" wajah Clara benar-benar tidak bisa bohong, karena memang dia tidak paham arah pembicaraan mantan mertuanya itu.


"Maafkan Mama yang sudah membohongimu Kalau Bara menikah dengan Tania dulu karena saling mencintai. Mereka sama sekali tidak saling mencintai,Nak. Mereka itu dijodohkan, dan Bara sama sekali tidak pernah mencintai Tania," nada bicara Elva terdengar sangat lirih.


Bibir Clara sontak melengkung membentuk seulas senyuman setelah mendengar ucapan wanita yang melahirkan pria yang masih dicintainya itu.


"Tante,aku tidak marah pada Tante, karena aku cukup mengerti kenapa Tante bisa berbohong seperti itu. Itu karena memang menantu Tante atau wanita yang dinikahi Mas Bara pertama kali adalah Tania. Aku juga mengerti kalau pernikahanku dengan Mas Bara,salah, karena kami menikah di saat ingatannya belum kembali. Seandainya aku dulu menunggu sampai ingatannya kembali, mungkin tidak ada pernikahan di antara kami berdua. Jadi, Tante jangan merasa tidak enak hati padaku. Aku ikhlas Tante!" tutur Clara panjang lebar tanpa jeda dan tentu saja tetap dengan senyum di bibirnya


"Tapi ternyata yang aku perjuangkan, dengan mempertahankan pernikahan Bara dengan Tania, salah, Nak. Aku ternyata melindungi seorang penjahat selama ini di rumahku." nada bicara Elva semakin terdengar lirih. Wajah wanita paruh baya itu juga tampak sangat sendu.


"Selama bertahun-tahun kami berhasil dibohongi oleh Tania. Makanya kami bersyukur, berkat dua anakmu semua kejahatannya berhasil terbongkar," imbuh Elva, membuat Clara mengrenyitkan keningnya, karena bingung, tidak mengerti maksud ucapan mamanya Bara itu.


"Maksudnya apa, Tante? aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang sudah dilakukan oleh dua anakku?" tanya Clara dengan alis yang sedikit terangkat ke atas.


Elva, menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya kembali, kemudian menuturkan kejahatan apa yang Tania lakukan, mulai dari wanita itu yang menyebabkan kecelakaan Bara, kebohongannya tentang kehamilannya dulu yang mengatakan kalau yang dikandungnya adalah darah daging Bara, sampai niatnya yang ingin menguasai kekayaan keluarga Prayoga, mengatasnamakan Tristan yang ternyata bukan anak kandung Bara. Semuanya diceritakan Elva dengan detail dan lugas, tanpa menambah maupun mengurangi.


Mendengar penuturan Elva, membuat Clara terkesiap kaget. Wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau kedua anaknya melakukan hal yang di luar batas wajar sebagai anak-anak. Wanita itu, kemudian menoleh ke arah Bimo, " jadi itulah misi rahasia kalian berdua, makanya kamu merahasiakan keberadaanmu pada Mama?"


Bimo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya, Ma. Aku dan Bima tidak ingin rencana kami hancur, jadi kami tetap bertahan untuk berpura-pura dan memainkan peran kami di depan Mama dan papa," terang. Bimo yang membuat Clara berdecak kagum.


"Jadi sekarang di mana Tania?" tanya Clara.


"Dia sekarang sudah dibawa ke kantor polisi, bersama dengan selingkuhannya itu. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hadapan hukum," kali ini Bara yang buka suara, memberikan jawaban.


"Jadi, bagaimana dengan Tristan anaknya? di mana dia sekarang?" Clara terlihat tidak tenang. Jiwa keibuannya seketika langsung terpanggil.


"Dia sudah diantarkan oleh asisten pribadiku ke rumah orang tua Tania. Karena merekalah yang berhak atas anak itu,"


"Iya, kasian tapi lebih kasian lagi kalau dia masih tetap berada di bawah pengasuhan Tania." ucap Elva.


"Kamu jangan berpikir terlalu jauh, karena bagaimanapun kakek dan neneknya juga bukan orang yang berkekurangan, jadi, Tristan tetap tidak akan kekurangan kasih sayang. Aku yakin Chintya akan membesarkan dia dengan baik," lanjut Elva lagi.


Di saat bersamaan terdengar suara seorang pria yang mengucapkan salam dari luar. Semua mata yang yang berada di ruangan itu sontak menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Satya sudah berdiri di ambang pintu dengan raut wajah datar yang sukar untuk dibaca.


"Hei, mau apa kamu datang ke sini? aku kan tidak memintamu untuk datang? seharusnya kamu kembali ke kantor karena ada banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan!" tegur Bara dengan tatapan yang sangat tajam.


"Kamu juga seharusnya kembali ke kantor kalau kamu tidak mau perusahaanmu bangkrut," bukannya takut dengan tatapan Bara, Satya justru balik menantang.


"Sialan kamu! aku ini bosnya, kalau kamu lupa. Jadi suka-suka dong, mau kembali ke kantor atau tidak, terserah aku! Kamu mau gajimu aku potong?" mata Bara semakin tajam menatap Satya.


"Haish, bisa tidak kamu jangan menyinggung-nyinggung masalah gaji. Selalu saja ancaman kamu, itu-itu saja. Telingaku sampai bosan mendengarnya. Pokoknya aku nggak mau tahu, aku akan kembali ke kantor kalau kamu juga kembali. Enak saja, aku mati-matian kerja sendiri dan kamu tenang-tenang di sini!" tolak Satya dengan tegas.


Bara menggeram,dan melangkah menghampiri Satya. Pria itu kemudian menarik tangan sahabatnya itu ke luar dari ruangan.


"Kamu gimana sih? kamu harusnya iya, iya saja dan biarkan aku tetap di sini dan kamu langsung pergi. Aku di sini, lagi memutar otak, untuk merangkai kata agar bisa mengajak Clara mau kembali padaku." bisik Bara.


Satya terkekeh geli mendengar bisikan Bara. "Bilang dong! baiklah,aku akan pergi! semoga berhasil ya!" Satya juga balik berbisik.


"Emm, kamu tidak usah ke kantor dulu deh. Kamu pergi ke kantor polisi dan cabut laporan Jamal, dan minta dia dibebaskan. Setelah itu, minta dia besok menemuiku!" titah Bara dan Satya mengangguk mengiyakan.


"Oh ya, sebelum aku pergi aku mau bicara dulu dengan Arumi,bisa panggilkan dia?"


Bara sontak mengrenyitkan keningnya, dan menelisik wajah Satya dengan tatapan curiga.


"Ada urusan apa kamu dengan Arumi? jangan bilang kalau kamu datang ke sini hanya untuk menemuinya? Kamu suka pada dia ya?" Bara mengerlingkan matanya, meledek.


Satya berdecih dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan berpikir yang tidak-tidak! aku mencarinya karena ada sesuatu yang harus aku bicarakan," sangkal Satya.


"Iya, yang penting itu, masa depan kalian berdua. Aku rasa cacing kamu sudah menemukan sangkarnya," ledek Bara lagi.


"Enak saja bilang ini cacing. Ini ular bukan cacing. Kecil sekali, cacing!" protes Satya tidak terima.


Tawa Bara sontak pecah melihat wajah Satya yang cemberut.


"Puas kamu tertawa? kalau belum, tertawalah sepuasnya!" ucap Satya kesal sembari kembali melangkah hendak masuk kembali ke dalam rumah.


Namun, belum benar-benar masuk, tiba-tiba orang yang dibicarakan mereka sudah muncul.


"Aku masuk dulu ya! aku tidak mau mengganggu kalian berdua!" ucap Bara yang tetap menyelipkan sebuah ledekan di balik ucapannya.


"Kenapa dengan dia? kenapa dia bisa bicara seperti itu?" Arumi mengrenyitkan keningnya, melihat tubuh Bara hilang di balik pintu.


"Jangan pedulikan dia! sekarang aku mau memberikan apa yang kamu minta. Ini dia!" Satya memberikan sebuah kantong plastik.


"Terima kasih banyak ya! sekarang giliran punya Clara. Mudah-mudahan denganku benar. Kamu pasti kesulitan mendapatkan sample ini," ucap Arumi sembari memasukkan kantong plastik itu ke dalam tasnya.


"Ya, seperti itulah! tapi tidak terlalu sulit sih, karena Pak De kamu itu marah-marah,apalagi ketika putranya menolak untuk menemui Bara untuk memohon agar putrinya dilepaskan. Pak de kamu sampai meninju tembok, hingga tangannya mengeluarkan darah. Jadi aku pura-pura berdiri dekat darah itu, dan langsung mengambilnya tanpa mereka tahu." terang Satya.


Ya, tadi ketika di perjalanan menuju rumah Teguh,Arumi sempat menghubunginya dan menceritakan kecurigaannya. Wanita itu pun meminta Satya untuk mengambil sampel darah atau apapun itu dari Teguh agar bisa dilakukan test DNA dengan Clara.


"Kamu mau melakukan test DNA antara Pak Teguh dengan Clara, apa kamu tidak berpikir juga untuk melakukan test hubungan Pak Teguh dengan Tania? karena perlu juga diketahui, Tania benar-benar anak kandung Pak Teguh atau tidak," Satya memberikan saran.


Arumi tersenyum tipis dan misterius." Kamu tenang saja. Aku juga sudah memikirkan ke arah sana. Ketika di rumah Bara tadi, aku sudah mengambil sampel darah Tania bekas pukulan Tante Elva. Aku pura-pura baik,melap mulutnya dengan tissue," terang Arumi, terkekeh.


Satya mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.


"Kalau begitu kerjaanku sudah beres. Aku pergi dulu. Aku masih mau ke kantor polisi untuk membebaskan Jamal," pungkas Satya sembari melangkah pergi.


Setelah mobil yang dikemudikan oleh Satya berlalu pergi, Arumi berbalik dan hendak masuk kembali ke dalam ruangan.


"Bagaimana, Tante? apa semua hal yang dibutuhkan sudah beres?" tiba-tiba Bimo sudah berdiri di ambang pintu.


Arumi tersenyum dan mengangkat tangannya yang jarinya sudah membentuk huruf 'o'.


tbc