Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Bimo muncul


"Sebenarnya yang berdiri di depan kalian sekarang ini bukan Bimo, tapi namaku Bima"


Semua yang berada di ruangan itu, bahkan Jono yang selama ini bersama dengan Bima, tersentak kaget dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut Bima.


"Apa maksud perkataanmu ini? kamu bukan Bimo? kamu jangan bercanda pada situasi seperti ini Bimo?" ucap Bara sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Bima mengembuskan napasnya, karena dia sudah menduga kalau dia akan mendapatkan reaksi tidak percaya dari papa dan Omanya itu.


"Pa, aku sama sekali tidak bercanda. Aku memang Bima bukan Bimo. Aku dan dia sudah hampir sebulan bertukar posisi. Aku di sini dan Bimo sekarang ada bersama mamaku," ucap Bima, berusaha menyakinkan.


Bara bergeming. Pria itu menatap ke arah mata Bima, untuk mencari kebohongan di mata anak laki-laki itu. Namun, sayangnya pria itu melihat keseriusan.


"Bimo,Bima,atau siapapun nama kamu, ini benar-benar tidak masuk akal. Tolong kamu jangan membuat kami semua semakin bingung,"


Seulas senyuman tipis terbit menghiasi bibir Bima mendengar ucapan papanya. Kemudian, anak kecil itu memejamkan matanya secara sekilas, lalu mengembuskan napasnya dengan keras. Anak kecil itu kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Pak Jono yang juga tengah menatapnya, dengan tatapan penuh tanya.


"Pak Jono, apakah Bapak masih ingat kejadian ada anak kecil memakai seragam sekolah, menghajar beberapa preman sampai para preman itu kabur?"


Kening Jono berkerut berusaha mengingat kejadian yang dikatakan Bima. "Oh, iya, aku ingat! saat itu Tuan muda Bimo meminta untuk turun, karena dia sangat kagum melihat kehebatan anak itu. Tapi, apa hubungannya kejadian itu dengan kalian yang bertukar posisi?" Jono kembali bingung.


"Karena anak kecil yang menghajar preman-preman itu adalah 'aku',"


Mata Jono membesar terkesiap kaget mendengar pengakuan Bima barusan. Bukan hanya supir pribadi itu, yang kaget Tania dan Dito juga tidak kalah kagetnya. Rentetan kejadian yang membuat mereka bingung akan perubahan Bimo selama ini kembali datang ke pikiran mereka. Mereka mengingat jelas, kalau preman suruhan mereka dihajar habis-habisan oleh Bimo.


"Ja-jadi dia bukan Bimo? tapi kenapa bisa semirip itu? pantas saja sikapnya hari itu tiba-tiba berani, berbeda jauh dengan Bimo," batin Tania. "Bodoh sekali aku! kenapa aku tidak menyelidiki perubahannya dulu!" umpat Tania merutuki kebodohannya sendiri.


"Tolong jangan buat kami semakin bingung, jangan berbelit-belit!" Elva yang dari tadi diam saja buka suara.


Bima lagi-lagi menyunggingkan senyumnya.


Kemudian, Bima mulai menceritakan bagaimana dia bisa bertukar posisi dengan Bimo, yang dimulai dari kejadian para preman yang salah sasaran.


"Tunggu! tadi kamu mengatakan kalau sasaran preman itu adalah Bimo, tapi mereka malah mengira kamu itu Bimo. Yang Papa bingung kenapa mereka ingin mencelakai Bimo?" Bara memotong cerita Bima.


"Tentu saja, karena perintah Ibu Tania, Pa. Dia sangat iri, karena papa mengistimewakan Bimo dibandingkan Tristan. Aku tahu itu, karena salah satu preman itu menyebut nama Ibu Tania," jelas Bima, membuat Bara kembali mengepalkan tangannya, menatap tajam ke arah Tania yang langsung menundukkan kepalanya.


"Jono, kamu lihat dulu ke depan! kenapa polisi lama sekali datangnya? karena aku takut khilaf melenyapkan nyawa dua itu!" titah Bara, membuat Tania dan Dito semakin ketakutan.


"Sekarang kamu lanjutkan cerita kamu!" titah Bara lagi, setelah Jono melangkah keluar.


"Alasan aku mau bertukar posisi dengan Bimo, selain karena aku ingin merasakan kasih seorang ayah, entah kenapa ada perasaan tidak terima ketika mendengar Bimo ditindas oleh dua orang itu, dan juga Tristan beserta gengnya di sekolah. Selain itu ada perasaan takut kalau mereka akan mencoba mencelakai Bimo lagi, ketika mereka tahu,Bimo selamat dari para preman itu, Pa. Tapi, setelah aku sampai di rumah ini, aku baru menyadari kenapa aku bisa merasakan ingin melindunginya, ternyata dia adalah adik kembarku!"


Semua orang yang berada di tempat itu lagi-lagi kaget mendengar pengakuan Bima, barusan.


"Saudara kembar?" gumam Bara dengan suara yang sangat lirih.


"Iya, Pa. Aku tahu karena ketika aku di kamarnya, aku menemukan gelang yang sama seperti milikku waktu bayi. Di mana di gelang itu ada nama dan tanggal lahir kami. Akhirnya aku menghubungi Bimo dan meminta dia untuk bertanya pada mama tentang kebenarannya. Ternyata mama membenarkan." Bima berhenti sejenak untuk menarik napas.


Bara bergeming, tidak bisa berkata-kata apapun. Di lain sisi ada rasa bersalah yang timbul di pikirannya, karena sudah berpikir negatif tentang mama si kembar yang belum dia tahu siapa. Dia bisa membayangkan bagaimana perasaan wanita itu di saat kehilangan anaknya. Seandainya dia tidak buru-buru mengejar mobil orang yang dia anggap membuang Bimo, mungkin wanita e tidak akan kehilangan Bimo. Namun, di sini lain ada rasa syukur Bara, dengan kejadian itu. Karena dengan kejadian itu, dia bisa bertemu dengan anak seperti Bimo hingga bisa memunculkan Bima. Kalau tidak, kemungkinan kebohongan Tania tidak akan terungkap.


"Pa, apa Papa tahu siapa mama kami?" Bima kembali buka suara menyadarkan Bara dari lamunannya. Pria itu kemudian menggelengkan kepalanya.


"Papa sangat mengenalnya, karena dia pernah sangat dekat dengan Papa," ucap Bima, ambigu.


"Pernah sangat dekat denganku?" Bima mengreyitkan keningnya, semakin bingung.


"Bima, tolong jangan berbelit-belit! kasih tahu kami dengan jelas siapa mama kalian!" Elva terlihat tidak sabaran.


"Baik Oma. Mungkin kalian akan kaget mendengarnya.Kami dilahirkan oleh Mama tanpa adanya dampingan dari seorang suami yang sudah menceraikannya, tanpa tahu kalau mama hamil saat diceraikan. Mama kami bernama Clara. Papa dan Oma pasti ingat nama itu kan?


Duarrrr


Bagai petir yang menyambar di siang hari bolong, semua yang berada di dalam ruangan itu benar-benar tersentak kaget mendengar ucapan Bima.


"Hahahaha! Kamu pasti berbohong! Kamu sok mengaku-ngaku saja kan? ternyata kecil-kecil kamu sudah licik!" pekik Tania, memberanikan diri lagi untuk bersuara.


"Ternyata tujuan kamu membongkar apa yang sudah kami lakukan, hanya agar kamu dan Bimo bisa sepenuhnya diterima di keluarga ini, dengan mengaku-ngaku anak kandung Mas Bara." lanjut wanita itu lagi. Kemudian, Tania menoleh ke arah Elva, yang kini menatap Bima dengan intens.


" Udah Ma, kali ini Jangan percaya sama dia, karena dia tidak punya bukti sama sekali! bisa saja dia memang anak Clara tapi dari pria lain!" seru Tania, mencoba mempengaruhi wanita yang sampai sekarang masih mertuanya itu.


Sementara itu, Bima juga terdiam karena dia menyadari kalau dia sama sekali tidak memiliki bukti yang dia dan Bimo merupakan anak kandung dari Bara.


"Sial, kenapa aku bisa sampai lupa melakukan test DNA antara papa dan aku? kenapa aku bisa tidak teliti seperti ini sih?" umpat Bima, merutuki keteledorannya.


"Tapi yang dikatakan Bima itu benar


Dia dan Bimo memang anak kandung Bara!" terdengar suara seorang pria yang muncul dari arah pintu.


Semua mata sontak menoleh ke arah datangnya suara. Tampak Satya sudah berdiri di ambang pintu. Tidak beberapa lama dari belakang tubuh pria itu menyusul munculnya seorang wanita yang tidak lain adalah Arumi dan di samping Arumi berdiri anak kecil yang tidak lain adalah Bimo.


"Papa!" seru Bimo sembari menghambur ke arah Bara dan memeluk pria yang sangat dirindukannya itu.


Bara benar-benar speechless! saking kagetnya, dia bahkan sampai tidak sanggup menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Bimo. Mata pria itu justru menatap Bima dan Bimo bergantian. Demikian juga dengan Elva. Jangan lupakan Tania dan Dito yang benar-benar kaget melihat dua orang berwajah sama.


"Pantas saja, aku bisa terkecoh. Mereka benar-benar identik!" batin Tania


"Papa,aku rindu, Papa!" Bimo kembali bersuara, menyadarkan Bara dari alam bawah sadarnya.


Tbc


Maaf, kalau lama menunggu! aku nggak bisa nulis, karena adik iparku dan istrinya datang berkunjung dan baru pulang jam 10 malam. Jadinya aku mulai menulis ini setelah mereka pulang. Maaf sekali lagi 🙏🏻