
Malam sudah berlalu. Matahari pagi kini kembali menyapa melalui ufuk timur. Walaupun masih malu-malu tapi cahayanya tetap saja bisa membangunkan seorang pria tampan, yang tidak lain adalah Theo.
Pria itu duduk dan melakukan perenggangan otot. Seketika ingatannya kembali ke pembicaraan antara dirinya dengan kedua orang tuanya tadi malam, di mana mamanya meminta dirinya untuk menikahi Karin, putri dari ibu Munah, sebagai bentuk balas budi karena sudah ikut membantu merawat Clara dulu.
Theo mengakui kalau memang Karin adalah gadis baik, lembut, periang dan juga tidak kalah cantik dari Clara. Apalagi ketika di acara resepsi Bara dan Clara, gadis itu juga tampak sangat anggun, tapi entah kenapa Theo merasa kalau menikahi gadis itu hanya karena balas budi, itu sangat tidak adil buat wanita itu.
"Huft, apa yang harus aku lakukan sekarang? apa keputusanku untuk setuju menikah dengan Karin sudah benar?" batin pria itu sembari mengembuskan napasnya dengan keras.
"Sebaiknya aku mandi dulu, biar pikiranmu segar. Apapun nanti yang terjadi, aku pasrah saja," gumam Theo sembari beranjak menuju kamar mandi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meja makan kini sudah mulai dipenuhi dengan anggota keluarga, tidak terkecuali Karin dan mamanya Munah. Hanya Theo yang belum terlihat di meja makan itu.
Ya, selama sebulan ini, Karin dan Munah mamanya, tinggal di kediaman Teguh atas permintaan Chintya, sembari menunggu acara pernikahan Clara dan Bara. Karena merasa tidak enak hati untuk menolak, akhirnya Munah dan Karin menyetujui permintaan Chintya tersebut.
"Emm Theo kenapa bisa lama ya? kemana sih dia?" tanya Chintya sembari melihat ke arah pintu.
"Sabar saja, Ma. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," Teguh buka suara.
Benar saja, baru saja Teguh selesai dengan ucapannya, dari arah pintu terlihat Theo melangkah masuk.
"Selamat pagi!" sapa pria itu dengan wajah datar.
"Selamat pagi juga, Nak! ayo duduk! semuanya sudah lapar, kelamaan menunggu kamu," sahut Chintya, yang diselipi dengan teguran halus.
"Aduh, Maaf, sudah membuat menunggu lama," akhirnya Theo menyunggingkan senyuman walaupun hanya senyum tipis saja dan jangan lupakan ekor matanya yang melirik ke arah Karin.
Sementara itu, Karin juga menggunakan ekor matanya melirik ke arah Theo dan lagi-lagi hanya bisa mengagumi pria itu dalam hati.
"Kenapa dia bisa selalu terlihat tampan sih? padahal dia hanya mengenakan pakaian biasa saja. Tapi, tetap saja selalu terlihat tampan," bisik Karin pada dirinya sendiri.
"Ayo semua, mulai sarapannya! kenapa jadi diam semua?" celetuk Chintya sembari terkekeh ringan, melihat tidak ada satupun yang berinisiatif untuk mengambil makanan lebih dulu.
Acara sarapan pagi itu berlangsung seperti biasa yang diselingi dengan obrolan ringan. Dan seperti biasa juga, Theo hanya membuka mulut kalau sedang diajak bicara saja, selebihnya dia hanya diam.
"Tante, Om, aku dan mama hari ini mau sekalian pamit. Kami memutuskan untuk pulang ke kampung, mengingat acara pernikahan Clara sudah selesai," Karin yang juga dari tadi hanya diam saja, kini buka suara dan tentu saja wanita itu tidak lupa untuk melemparkan seulas senyum manis di bibirnya.
Theo yang berniat menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, sontak menghentikan niatnya untuk sepersekian detik, karena tiba-tiba ada rasa tidak suka ketika dia mendengar niat Karin yang akan kembali ke kampung halaman. Namun, pria itu berusaha menepis rasa tidak sukanya, dan kembali melanjutkan memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Kenapa kamu harus pulang, Karin? boleh tidak kamu di sini saja?" ucap Chintya yang memang sangat keberatan kalau gadis itu kembali lagi ke kampung.
Mendengar ucapan Chintya, Karin kembali tersenyum manis. "Maaf Tante! aku di kota ini juga ngapain? aku tidak memiliki kegiatan apapun di sini. Kalau di kampung aku bisa bantu-bantu mama dan mengajar les anak-anak di sana," ucap Karin dengan lembut.
"Oh, kamu mau pulang karena kamu merasa tidak melakukan apa-apa di sini. Bagaimana kalau kamu Tante kasih pekerjaan?"
"Pekerjaan apa, Tante? aku hanya tamatan SMA saja. Apa ada perusahaan yang menerima lulusan SMA? kalau menjaga stand di mall apa masih ada yang menerima dengan usiaku yang hampir kepala tiga?" ucap Karin, pesimis.
Chintya sontak tersenyum misterius, mendengar penuturan Karin. Wanita paruh baya itu, meletakkan sendoknya, karena kebetulan wanita itu sudah selesai dengan sarapannya. Kemudian, wanita itu meraih tissue dan melap mulutnya.
"Yang mengatakan kalau aku meminta kamu bekerja seperti itu siapa? maksud Tante, pekerjaan yang bisa kamu lakukan itu, pekerjaan membahagiakan putraku, Theo. Tante mau kamu menikah dengannya,"
"Maaf, Tante ... tapi kenapa aku harus menikah dengan Kak Theo. Tante tahu sendiri kalau kami berdua sama sekali tidak pernah menjalin hubungan apapun dan lagi, kami tidak saling mencintai. Jadi__"
"Tante rasa tidak masalah sama sekali. Karena kalian berdua bisa belajar untuk saling mencintai setelah menikah. Karena kebetulan juga Theo tidak menolak, iya kan Theo?"
Mendengar pertanyaan mamanya yang tiba-tiba, membuat Theo tersentak kaget sampai terbatuk-batuk. "I-iya!" sahut Theo.
Lagi-lagi Karin terkesiap kaget mendengar kesediaan Theo. Kemudian, Karin menoleh ke arah mamanya yang tampak juga tidak kalah kaget dari dirinya.
"Maaf, Tante. Ini sepertinya terlalu tiba-tiba bagiku. Biarlah aku memikirkannya lebih dulu!" pungkas Karin akhirnya.
"Baiklah. Kamu pikirkan lebih dulu, tapi Tante mohon jangan terlalu lama ya berpikirnya!" pinta Chintya yang mendapat anggukan kepala dari Karin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ma, bagaimana ini? apa aku harus menerima permintaan Tante Chintya?" tanya Karin ketika hanya mereka berdua saja di dalam kamar.
"Mama rasa tidak ada salahnya kamu menerima permintaan mamanya Nak Theo. Lagian Nak Theo juga pemuda yang baik dan usia kamu juga sudah sepantasnya menikah. Dari pada kamu pulang kampung, kamu akan diganggu lagi sama Toni. Mama benar-benar tidak suka dengan dia, yang selalu bersikap sombong dan kasar. Selalu membandingkan papanya yang kepala desa. Mama rasa kamu akan lebih aman kalau menikah dengan Nak Theo," tutur Munah, dengan panjang lebar tanpa jeda.
"Tapi, Ma, aku sama sekali tidak tahu, apa alasan Kak Theo setuju menikah denganku. Aku melihat kalau sebenarnya Kak Theo masih berat hati. Aku tidak mau, menikah dengan pria yang sama sekali tidak mencintaiku dan karena unsur paksaan. Mama ingat kan, Bara yang dipaksa menikah dengan almarhum Tania? bagaimana? apa Bara bisa mencintainya? tidak kan? jadi aku tidak mau hal itu juga nantinya terjadi padaku. Bisa-bisa aku terkena tekanan batin, Ma." Karin mencoba mengingatkan mamanya.
Munah tersenyum dan mengelus lembut rambut Karin. "Rin, kamu itu berbeda dengan Tania. Mama yakin, kalau suatu saat kamu akan bisa membuat Theo benar-benar mencintaimu. Coba kamu pikirkan, apa yang terjadi nanti kalau kamu pulang kampung dan dipaksa menikah dengan Toni? mana menurutmu yang lebih baik?"
Karin sontak bergidik ngeri, membayangkan dia menikah dengan pria yang disebutkan oleh mamanya itu. "Jauh lebih baik kak Theo lah, Ma,"
"Nah, itu dia! Sekarang bagaimana keputusanmu?"
Karin diam untuk beberapa saat dan kemudian tersenyum. "Baiklah, Ma. Aku sudah tahu keputusanku. sekarang aku akan pergi menemui Tante Chintya dulu!" pungkas Karin, sembari beranjak meninggalkan Mamanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana, Nak? kamu benar-benar bersedia kan menikah dengan Karin?" tanya Chintya memastikan.
Theo tidak langsung menjawab. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan cukup berat.
"Ma, bukannya aku sudah menyetujuinya tadi malam? kenapa harus ditanyakan lagi?" keluh Theo dengan raut waja malas.
"Karena Mama lihat, wajahmu muram, Theo. Mama hanya ingin memastikan saja, kamu ikhlas menerima permintaan mama. Yakinlah, Theo, Karin gadis yang cocok denganmu. Mama yakin, tidak akan butuh waktu lama. membuatmu, cinta padanya. Yang harus kamu lakukan itu hanya cukup membuka hatimu,"
"Iya, Ma. Aku hanya merasa kalau aku menikahinya karena hanya ingin balas budi, itu sangat tidak adil untuknya. Itu saja, Ma. Terlepas dari kemungkinan kalau aku nantinya aku bisa mencintainya, tapi bagaimana kalau sebelum aku bisa mencintainya , dia lebih dulu tahu alasan sebenarnya? pasti dia sedih kalau tahu alasan kenapa aku menikahinya. Dia pasti tidak akan terima, Ma," tutur Theo panjang lebar tanpa jeda.
Tanpa mereka sadari, dari balik pintu Karin mendengar semua apa yang mereka bicarakan. Wajah wanita yang semula berbinar itu langsung berubah muram.
Wanita itu kemudian berusaha mengatur napasnya sebelum memberanikan diri untuk masuk.
"Tante, maaf aku langsung masuk," ucap Karin begitu dia masuk ke dalam ruangan tempat Chintya dan Theo berbicara. Kemunculan wanita itu tentu saja membuat Chintya dan Theo kaget.
" Tante, Kak Theo, maaf, aku tidak bermaksud untuk menguping, tapi tadi aku tidak sengaja mendengar semua yang Tante dan Kak Theo bicarakan. Aku ke sini tadinya mau mengatakan kalau aku bersedia, tapi tadi aku sudah mendengar alasannya, kenapa Tante meminta Kak Theo menikahiku, jadi sekarang aku mau mengatakan, kalau Tante tidak perlu mengorbankan Kak Theo, hanya demi balas budi. Aku yakin, almarhum Nenek dan mama ikhlas merawat Clara dulu. Jadi, sebaiknya jangan ada pernikahan ini. Maaf, sekali lagi Tante, Kak Theo, aku memutuskan, hari ini aku dan Mamaku akan pulang ke kampung. Terima kasih buat kebaikannya selama sebulan ini!" Karin membungkukkan tubuhnya sedikit dan berlalu pergi meninggalkan Chintya dan Theo yang diam terpaku menatap nanar ke arah tubuh Karin sampai menghilang di balik pintu.
tbc