Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Antar Renata pulang


Jam terakhir akhirnya berbunyi. Pertanda kalau sudah waktunya pulang. Salena dan Renata pun memasukkan buku ke dalam tas masing-masing.


"Yuk, Salena!" Renata menggendong tas ke punggungnya.


"Sebentar! tinggal satu lagi, Ren!" Salena menarik resleting tasnya setelah semua buku sudah dia masukkan. "Yuk!" ajaknya kemudian.


Ya, dua gadis remaja itu memang tadi sempat diam-diaman setelah Salena akhirnya mengakui siapa dirinya. Namun, Karena Salena minta maaf dan mengungkapkan alasan dia sebenarnya dan meyakinkan kalau dirinya tidak pernah memandang rendah pada Renata, akhirnya gadis itu mau mengerti dan bahkan ikut minta maaf juga.


"Beb, hari ini kita jalan-jalan yuk! nanti aku akan antar kamu pulang," seorang pemuda remaja bertubuh tinggi dan merupakan idola sekolah tiba-tiba mencegat Salena di depan pintu. Pria itu memperlihatkan senyum manisnya yang selalu berhasil membuat para perempuan di sekolah itu terpesona.


Salena tidak langsung menjawab. Gadis itu berpikir sebentar, bingung mau menerima ajakan pria bernama Reno yang memang sudah menjadi pacarnya semenjak 3 bulan lalu.


"Emm, maaf ya, Beb, aku tidak bisa," tolak Salena akhirnya.


"Kenapa sih selalu tidak bisa. Kita sudah pacaran tiga bulan tapi kita tidak pernah seperti orang pacaran pada umumnya. Kita tidak pernah jalan sama sekali, baik itu hari biasa maupun malam minggu. Aku merasa sama saja seperti tidak punya pacar," protes Reno, memasang wajah kesalnya, berharap dengan dia memasang wajah kesalnya, Salena merasa tidak enak hati dan memutuskan untuk mau memenuhi ajakannya.


"Maaf banget, Beb. Aku memang tidak bisa, Lain kali aja ya! bye, Beb!" Salena menarik tangan Renata, berlalu pergi sebelum Reno mengajukan protesnya lagi.


"Beb, tunggu! aku belum selesai bicara!" Reno masih berusaha untuk memanggil Salena, tapi gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.


"Sial, aku dikacangin sama gadis miskin itu!" umpat Reno yang juga memang tidak tahu identitas Salena sebenarnya.


"Makanya, kalau mau pacaran itu lihat-lihat dulu! aku yang jelas-jelas dari keluarga berada kamu tolak, selera kamu malah si miskin itu," celetuk Farah yang ternyata sudah berdiri di belakang Reno.


Reno tersenyum sinis melihat ke arah Farah. Pria itu kemudian mengayunkan kakinya melangkah mendekati perempuan itu. "Kamu tahu kenapa? itu karena tidak ada tantangan sama sekali mendekatimu, beda dengan dia. Walaupun dia miskin, tapi aku merasa tertantang mendapatkan si miskin itu, karena dia sulit didekati, beda dengan kamu yang tanpa didekati, sudah nyosor sendiri," bisik Reno tepat di telinga Farah. Setelah menyelesaikan ucapannya, pemuda itu langsung berlalu meninggalkan Farah.


"Sialan kamu!" umpat Farah, sembari menghentakkan kakinya.


"Reno,kamu tidak tahu saja, kalau gadis yang kamu bilang susah untuk didekati itu, tidak sepolos yang kamu kira. Dia tadi pagi diantarkan oleh pria kaya yang aku yakin jauh lebih tampan dan jauh lebih kaya juga dari kamu!"


Reno yang belum terlalu jauh sontak menghentikan langkahnya mendengar ucapan Farah. Pemuda itu, kemudian berbalik menoleh kembali ke arah gadis itu. Tatapan Reno terlihat sangat tajam back sebilah belati yang siap menghujam jantung.


"Kamu jangan menatapku seperti itu! kamu mengira aku berbohong ya? sama sekali tidak! itulah kenyataannya. Ingat, kamu itu hanya mainan kecil untuk Salena. Perempuan yang kamu pikir mahal itu, ternyata lebih murahan. Dia itu mengincar pria-pria kaya menggunakan wajah sok polosnya, dan kamu adalah salah satu korbannya. Kasihan sekali kamu!" Farah mendengus dan berlalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Salena dan Renata kini sudah berdiri di depan pintu gerbang, menunggu jemputan seperti yang dikatakan oleh Tristan tadi pagi.


"Kamu kenapa sih terlihat tidak seperti pacaran dengan Reno? padahal banyak yang iri denganmu, karena dia memilihmu," tanya Renata dengan kening berkerut.


"Entahlah! aku sama sekali tidak tertarik," sahut Salena santai.


"Kenapa bisa sih? kalau kamu tidak merasa tertarik, kenapa kamu malah menerima ketika dia mengungkapkan perasaannya?"


"Itu karena aku tidak ingin mempermalukan dia di depan semua siswa. Itu aja kok, Ren! Coba kamu bayangkan kalau dia aku tolak saat itu? bisa-bisa dia tidak punya muka lagi untuk datang ke sekolah. Iya nggak?" Renata mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan maksud perkatan Salena.


Di saat sedang asik bercerita, sebuah mobil tiba-tiba berhenti di dekat dua gadis itu, hingga membuat alis Salena bertaut, karena dia tahu jelas siapa pemilik mobil itu, dan jelas kalau itu bukan milik Tristan.


Seperti dugaan Salena, tampak seorang pemuda tampan yang tidak lain adalah Arya, turun dari dalam mobil dan langsung melangkah menghampiri Salena dengan senyuman manisnya.


"Kak Arya? kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini?"


"Kebetulan Kakak tadi lewat dari arah sini. Jadi, aku merasa lebih baik sekalian menjemputmu," senyum Arya sama sekali tidak pernah memudar.


"Ya udah, yuk! kamu naik ke mobil biar kakak antar kamu pulang!" lanjut Arya lagi sembari meraih tangan Salena.


"Aduh, maaf,Kak, aku tidak bisa!" Salena menepis tangan Arya dengan halus.


"Kenapa tidak bisa?" Arya mengrenyitkan keningnya.


"Karena aku akan di__"


"Karena aku yang akan mengantarkan dia pulang?" belum sempat Salena menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Tristan sudah muncul dan berdiri di belakang Arya.


Arya sontak menoleh ke arah Tristan dan menatap pria itu dengan tatapan tajam bak sedang mengajak perang. "Kenapa sih orang ini selalu muncul di saat aku mendekati Salena?" Arya menggerutu di dalam hati.


"Salena, apa benar kata Kak Tristan?" tanya Arya memastikan.


Sementara itu, Renata yang dari tadi diam saja, merasa kalau Salena sangat beruntung. Ia bisa melihat dengan jelas kalau dia pria tampan itu sedang memperebutkan sahabatnya itu. "Kasihan sekali diriku! aku dari tadi berdiri di dekat Salena, tapi tidak ada satupun yang menyapaku, seakan aku makhluk tidak kasat mata di sini," keluh Renata yang tentu saja hanya berani dia ucapkan dalam hati.


"Kak Tristan, bukannya kamu sedang sibuk? Kakak kembali aja ke kantor, biar aku saja yang mengantarkan Salena pulang," Arya akhirnya berusaha untuk ngebaik-baikin Tristan.


Sudut bibir Tristan seketika tersenyum tipis dan menarik tangan Salena ke arahnya. " Terima kasih atas inisiatifmu, Arya! tapi maaf ya, aku tetap akan mengantarkan Salena pulang. Aku memang sibuk, tapi mengantarkan Salena pulang tepat waktu sudah menjadi tanggung jawabku,"


Senyum di bibir Arya sontak menyurut mendengar ucapan Tristan. "Kenapa jadi tanggung jawabmu? Apa Om Satya yang__"


"Iya! ini mandat dari Om Satya. Untuk alasannya,kamu bisa tanya sendiri pada Om itu!" Tristan dengan cepat menyela ucapan Arya, membuat pria berusia 22 tahun itu terdiam.


"Ayo, Salena kita pulang sekarang!" Tristan meraih tangan Salena dan sedikit menarik tangan wanita itu agar langsung meninggalkan tempat itu. Sementara itu, Arya hanya bisa memasang senyum kecutnya melihat genggaman tangan Tristan di tangan Salena.


"Kak tunggu sebentar! Aku cuma mau mengenalkan sahabatku. Ini Renata!" Salena menunjuk ke arah Renata.


Tristan dengan wajah datarnya mengganggukkan kepalanya ke arah Renata. "Tristan!


Walaupun Tristan sama sekali tidak tersenyum saat menyebutkan nama, tapi Renata tetap tersenyum saat menyebutkan namanya.


Setelah itu, Salena juga mengenalkan Renata pada Arya.


"Oh ya, kebetulan sekali kak Arya di sini. Kakak sebaiknya antar sahabat saya pulang saja!" Tanpa basa-basi Salena membuka pintu mobil Arya dan menarik tangan Renata, dan mendorong pelan tubuh sahabatnya itu masuk ke dalam mobil Arya.


"Len, Salena aku bisa pulang naik angkutan seperti biasanya," tolak Renata sembari ingin turun dari mobil.


"Tidak apa-apa, Ren! kamu jangan sungkan! Kak Arya pasti akan mau mengantarkanmu pulang. Kamu tetap duduk di sini!" Salena menahan tubuh Renata agar tidak bergerak dari tempat duduknya. Kemudian gadis itu menutup pintu dan melangkah mendekati Arya.


"Kak, aku titip sahabatku ya! tolong antar sampai ke rumahnya dengan selamat tanpa kurang apapun!"


Ingin rasanya Arya mengumpat dan menolak, tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak mengumpat. Dengan raut wajah terpaksa, akhirnya Arya menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, Kak Arya! Kak Arya baik deh!" Salena mengulurkan tangannya hendak mencubit pipi Arya. Namun belum juga tangan gadis itu sampai ke pipi pria itu, tangannya sudah ditarik oleh seseorang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Tristan.


"Ayo pulang!" ucap Tristan sembari memasukkan Salena ke dalam mobil. Kemudian Tristan masuk juga ke dalam mobil, lalu menjalankannya tanpa izin lagi pada Arya.


"Sialan! apa sih alasan Om Satya meminta Tristan untuk bertanggung jawab mengantar dan menjemput Salena sekolah? jangan bilang kalau mereka berdua dijodohkan?" batin Arya,kesal.


Pria itu kemudian berbalik dan menatap ke arah gadis yang duduk di dalam mobilnya, hingga membuat kekesalannya semakin bertambah.


"Sial! udah tidak bisa mengantarkan Salena pulang, aku justru harus mengantarkan gadis ini pulang, nasib, nasib!" Arya mengusap wajahnya dengan kasar dan melangkah masuk ke dalam mobilnya.


"Pakai sabuk pengamanmu!" titah Arya dengan nada dingin.


Renata menghela napasnya dengan berat. Dari raut wajah pria di sampingnya itu, ia bisa melihat dengan jelas kalau pria itu berat hati untuk mengantarkannya pulang.


"Tidak perlu, Kak! aku turun saja!" Renata memegang handle pintu mobil dan siap untuk membukanya, tapi tangan Arya langsung menahannya.


"Aku akan tetap mengantarkanmu pulang. Aku tidak mau hanya gara-gara aku tidak mengantarkanmu, Salena jadi membenciku!" ucap Arya dengan wajah datar dan sikap dinginnya.


"Kakak tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka mengadu. Jadi, bisa aku pastikan kalau Salena tidak akan tahu. Permisi Kak!" Renata kembali hendak membuka pintu, tapi lagi-lagi ditahan oleh Arya.


"Sudah aku bilang, aku akan tetap mengantarkanmu pulang. Jangan keras kepala! sekarang kamu duduk dengan tenang dan pasang sabuk pengamanmu!" titah Arya sembari memasang sabuk pengamannya sendiri.


Renata terlihat memperhatikan cara Arya memasang sabuk pengaman, tapi karena terlalu cepat, gadis itu sama sekali tetap tidak mengerti.


"Kenapa kamu masih belum memasang sabuk pengamanmu?"


"Ma-maaf, aku tidak tahu caranya, karena seumur-umur, ini pertama kalinya aku naik mobil seperti ini," ujar Renata sembari menundukkan kepalanya.


Mata Arya sontak membesar, terkesiap kaget mendengar pengakuan sahabat Salena itu. "Bagaimana mungkin ini pertama kalinya dia naik mobil seperti ini? bukannya kalau sudah bersekolah di sini, naik mobil sudah menjadi kebiasaan?" batin Arya sembari menatap wajah Renata untuk mencari kebenaran ucapan gadis itu.


Arya akhirnya mengembuskan napasnya dengan sekali hentakan, melepaskan sabuk pengamannya dan berinisiatif membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Renata. Ia sama sekali tidak punya alasan untuk tidak percaya pada ucapan gadis remaja itu, begitu melihat raut wajahnya yang memang tidak menyimpan kebohongan.


tbc