Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kamu akan tinggal bersama kami


"Berarti aku bukan cucu kakek Teguh dan Nenek Chintya. Jadi sekarang aku harus kemana?" batin anak kecil itu, terisak.


Clara yang memiliki pendengaran tajam, mendengar suara isak tangis yang berasal dari sebuah kamar.


"Aku mendengar suara tangisan dari dalam kamar itu. Itu suara tangis siapa?" tanya Clara dengan alis bertaut.


"Astaga, mama lupa! itu pasti suara Tristan!" pekik Chintya, seraya berdiri dari tempat dia duduk dan langsung beranjak melangkah menuju ruangan yang tertutup itu.


Teguh dan Chintya, baru menyadari kalau ada Tristan di rumah mereka. Pasangan suami istri itu, yakin kalau suara tangisan yang didengar oleh Clara tadi pasti berasal dari Tristan.


Benar saja, ketika pintu dibuka, tampak Tristan yang duduk meringkuk sembari bersender di tembok.


"Tristan, kamu kenapa menangis?" tanya Chintya, menghampiri anak laki-laki itu. Semua orang yang berada di ruang tengah, sontak menyusul masuk.


Tristan yang tadinya menangis sembari menundukkan kepala, memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya. Mata anak kecil itu sudah terlihat membengkak dan menatap sendu ke arah Chintya.


"Nek, aku tadi dengar, kalau Nenek dan Kakek bukan mama dan papanya mamaku. Berarti, aku bukan cucunya Nenek dan Kakek. Jadi sekarang, Tristan akan tinggal dengan siapa? mama sudah dibawa Om polisi, Papa Bara tidak menyayangiku dan sudah mengusirku dari rumahnya. Apa sekarang Nenek dan Kakek juga akan membuangku?" tanya Tristan masih dengan isak tangisnya.


Chintya tertegun mendengar ucapan Tristan yang menurutnya sangat menyayat hati. Bukan hanya Chintya, Clara juga merasakan hal yang sama. Bahkan Bara yang selama ini selalu bersikap apatis pada anak itu, tiba-tiba merasa trenyuh mendengar ucapan anak yang sampai sekarang masih memanggilnya papa itu.


Chintya kemudian berjongkok dan memeluk tubuh Tristan. Wanita itu menghapus air mata Tristan lalu mengelus lembut kepala anak kecil itu.


"Tristan, jangan berpikir yang macam-macam ya! walaupun mama kamu bukan anak Nenek, tapi kamu tetap cucu nenek. Nenek tidak akan mengusirmu," ucap Chintya dengan sangat lembut.


Tristan sama sekali belum merasa tenang mendengar ucapan Chintya, karena justru yang ditakutkan Anak kecil itu adalah Teguh, Kakeknya. Tristan dengan gerakan kepala yang perlahan, menoleh ke arah, Teguh untuk memastikan apakah pria itu juga sama seperti Chintya atau sebaliknya.


Melihat tatapan Tristan yang sangat sendu, Teguh langsung bisa menangkap kalau anak kecil itu meminta kepastian darinya. Dengan seulas senyuman, Teguh kemudian menghampiri Tristan dan ikut berjongkok di depan anak itu.


"Benar kata Nenek. Kamu akan tetap jadi cucu Kakek dan Nenek. Kakek juga tidak akan mengusirmu dari sini," ucap Teguh, meyakinkan Tristan.


Ekor mata Tristan, melirik ke arah Bara dan itu tidak lepas dari pengamatan Clara. Clara bisa menyimpulkan kalau anak kecil itu, merindukan Bara walaupun selama ini dia tidak pernah dekat dengan mantan suami dan yang sebentar lagi juga akan jadi suaminya kembali.


Clara, kemudian menghampiri Tristan dan mengulurkan tangannya untuk membantu anak itu untuk berdiri.


Tristan tidak langsung menerima uluran tangan Clara. Anak kecil itu menatap tangan Clara kemudian beralih ke wajah wanita itu.


"Ayo, sini Tante bantu kami untuk berdiri! Kamu tidak perlulah takut pada Tante!" ucap Clara dengan lembut, disertai dengan bibir yang tersenyum manis.


Tristan lagi-lagi menatap tangan Clara dan kembali ke wajah teduh wanita itu. Melihat senyum manis Clara, Tristan meletakkan telapak tangannya yang kecil ke atas telapak tangan wanita itu dan berdiri dengan perlahan.


Setelah Tristan sudah berdiri, kini gantian Clara yang berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan anak itu.


"Kamu tenang saja ya. Nanti kamu bisa juga tinggal bersama Tante, Papa Bara, Bima dan Bimo," ucap Clara dengan senyuman yang tidak pernah memudar.


"Tidak, Tante! Papa Bara dan Oma Elva pasti tidak akan mengizinkanku tinggal di sana lagi. Bima dan Bimo juga pasti tidak akan menyukaiku. Jadi, aku akan tinggal dengan kakek Teguh dan Nenek Chintya saja," tolak Tristan dengan suara lirih.


"Siapa bilang, Papa Bara tidak akan mengizinkanmu? walaupun kamu bukan anak kandung Papa Bara, kamu akan tetap jadi anaknya. Iya kan, Papa?" Clara menoleh ke arah Bara yang seketika langsung tergagap. Apalagi melihat tatapan Clara yang menatapnya dengan sangat tajam dan menuntut.


Bara kemudian mengayunkan kakinya, ikut menghampiri Tristan.


"Iya, Tante Clara benar. Kamu akan tetap menjadi anak Papa, dan kamu bisa tinggal dengan kami," pungkas Bara akhirnya.


"Ta-tapi ...." Tristan menggantung ucapannya dengan mata yang melirik ke arah Bima dan Bimo.


"Kamu tenang saja, kami juga tidak keberatan kok. Kamu akan tetap jadi kakak laki-laki kami. Iya kan Bima?" Bimo Bima suara, ikut meyakinkan Tristan.


Bima, menerbitkan seulas senyuman dan menganggukkan kepalanya, mengiyakan.


Wajah Tristan yang tadinya penuh dengan air mata kini mulai terlihat berbinar. Anak kecil itu, kembali menatap ke arah Clara. "Tante, apa aku bisa memelukmu?" sebuah permintaan keluar dari mulut mungil Tristan.


Clara kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Bahkan, wanita itu lebih dulu meraih tubuh Tristan dan memeluk anak kecil itu.


"Terlepas dari apa yang sudah dilakukan oleh mamamu, akuberjanji akan menyayangimu, sama seperti aku menyayangi Bima dan Bimo. Aku juga akan selalu ada, untuk mendidikmu ke arah yang lebih baik. Karena aku tahu kalau kamu tidak salah sama sekali," janji Clara di dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di tempat di mana Tania ditahan, wanita itu begitu bahagia ketika mendengar ada yang mengunjunginya. Namun, senyum di bibirnya langsung sirna begitu melihat siapa yang datang. Orang itu tidak lain adalah seorang wanita yang dia tahu asisten rumah tangga orang tuanya.


"Kenapa, Bibi yang datang? mana Mama dan Papa? apa mereka masih ada di luar?" tanya Tania, penuh harap sembari melihat ke arah pintu masuk.


Wanita paruh baya yang dipanggil Bibi oleh Tania itu, menggelengkan kepala dengan raut wajah sedih. "Mereka tidak datang. Mereka sedang bergembira di rumah karena kembalinya anak mereka yang dulu sengaja ditukar dengan bayi orang lain," sahut Pembantu itu, ambigu.


"Maksud Bibi apa?" Tania mengrenyitkan keningnya. Perasaan wanita itu tiba-tiba berubah tidak enak.


"Tania, maafkan Mama, Nak. Kamu__"


"Tunggu, tunggu! apa kata Bibi tadi? Maafkan Mama? dan kamu memanggilku, Nak, bukan Non? apa maksud, Bibi?" Tania dengan cepat menyela ucapan pembantu itu. Perasaannya benar-benar sudah tidak nyaman sekarang. Apalagi kalau dihubungkan dengan cerita wanita di depannya itu tentang bayi yang ditukar.


"Tania, sudah saatnya kamu tahu semua sekarang. Kamu sebenarnya bukan anak kandung dari Tuan Teguh dan Nyonya Chintya, tapi kamu itu anakku, terang pembantu itu, memutuskan untuk jujur.


Tania tersenyum smirk dan sinis seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya.


"Aku, putri kandungmu? hahahaha, itu sangat mustahil dan tidak masuk akal. Bagaimana, aku yang memiliki paras cantik dan elegan seperti ini, dilahirkan oleh wanita yang hanya seorang pembantu. Itu sangat tidak mungkin. Bibi jangan mengada-ada. Sekarang, lebih baik, Bibi pergi dari sini, daripada Bibi semakin berbicara yang aneh-aneh. Oh ya ... sekali lagi aku mau tegaskan, aku ini hanya pantas dilahirkan oleh wanita berkelas bukan wanita seperti kamu!" hina Tania, sembari menatap rendah ke arah wanita paruh baya di depannya itu.


Tbc