
Keesokan harinya, tepatnya menjelang malam, Bima sudah rapi dengan tuxedo yang membuat pemuda itu terlihat semakin tampan. Ya, malam ini adalah hari di mana sekolahnya mengadakan acara perpisahan atau prom night.
Sebelum keluar dari kamar, pemuda itu sekali lagi berdiri di depan cermin untuk mematut penampilannya. Setelah merasa sudah siap, pemuda itu kemudian melangkah keluar dari kamar dan langsung menuju kamar Bimo.
Setelah dia berdiri di depan kamar Bimo, pemuda itu tidak langsung mengetuk pintu. Bima terlihat mengatur napasnya lebih dulu, karena dari kemarin dia merasa bingung melihat sikap Bimo yang tiba-tiba sangat dingin padanya.
Setelah dia merasa sudah sedikit tenang, Bima akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar kembarannya itu.
"Bimo, apa kamu sudah siap? kalau sudah Ayi berangkat bersama!" Bima baru saja hendak mengetuk kembali, tapi tiba-tiba pintu sudah dibuka oleh Bimo dari dalam.
"Eh, kamu sudah siap ya? ayo berangkat sama-sama!" Bima mencoba bersikap ramah sembari menyunggingkan senyum.
"Aku mau berangkat sendiri. Aku tidak mau pergi dengan orang yang munafik!" Bimo berlalu melewati tubuh Bima. Sikap pemuda itu benar-benar dingin dan semakin membuat Bima bingung.
"Dia kenapa sih? siapa yang dia katakan munafik?" batin Bima sembari beranjak dari tempat dia berdiri menyusul Bimo.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bimo turun dari dalam mobil setelah mobil berhenti di depan sebuah hotel bintang lima. Tanpa menunggu Bima, pemuda itu langsung melangkahkan kakinya, untuk masuk ke dalam hotel.
"Bimo!" tinggal beberapa langkah lagi, agar dia masuk ke dalam tempat acara, sebuah suara yang sangat dia kenal memanggil namanya. Ia sontak menghentikan langkahnya dan berbalik.
Bimo tiba-tiba mematung, saking kagumnya melihat penampilan seorang gadis yang baru saja memanggilnya. Bagaimana tidak, penampilan gadis yang tidak lain adalah Michelle itu tampak sangat cantik hingga membuat bibir Bimo terasa kelu, dan susah untuk mengeluarkan suara.
"Bim, Bimo!" Michelle mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Bimo.
"Bimo!" suara Michelle meninggi hingga membuat Bimo tersentak, dan tersadar dari lamunannya.
"I-iya, Chel?" suara Bimo terdengar gugup.
"Kamu kenapa sih? kamu seperti melihat hantu saja, apa ada yang salah dengan penampilanku?" Michelle mengerucutkan bibirnya, hingga tampak semakin menggemaskan di mata Bimo.
"Te-tentu saja tidak. Kamu selalu cantik dan bahkan malam ini kamu lebih cantik berlipat-lipat dari biasanya!" puji Bimo yang membuat semburat merah langsung muncul menghiasi pipi gadis itu.
"Ah, kamu bisa saja! kamu juga sangat tampan malam ini," Michelle balik memuji, membuat Bimo jadi salah tingkah. "Oh ya, kamu sendiri saja? di mana Bima?"
Senyum di bibir Bimo seketika menyurut begitu mendengar Michelle mencari keberadaan Bima. Mood pria itu yang tadinya bahagia, langsung berubah kesal. "Kenapa hanya Bima yang kamu tanyakan? kenapa tidak mencari di mana Tristan juga? padahal kamu tahu kalau kami bertiga tinggal serumah kan?" nada suara Bimo terdengar sangat dingin apalagi dibarengi dengan alis pemuda itu yang bertaut tajam.
Perubahan sikap Bimo sontak saja menimbulkan tanda tanya besar di dalam hati Michelle. "Kamu kenapa sih? kenapa kamu tiba-tiba dingin seperti ini? apa aku salah bertanya tentang Bima tanpa bertanya tentang Tristan? lagian, biasanya juga seperti itu kan?" sudut alis Michelle sedikit naik ke atas, menatap Bimo dengan tatapan menyelidik.
Di saat bersamaan, begitu Bimo masuk tiba-tiba pintu lift terbuka. Tampak seorang pemuda yang tadi ditanyakan oleh Michelle yang tidak lain adalah Bima, keluar dari dalam bersama dengan Tristan.
"Michelle, kenapa kamu berdiri di situ? kamu menunggu Bimo ya? dia sepertinya sudah ada di dalam," sapa Bima dengan lembut.
Menanggapi ucapan Bima, Michelle berdecak kesal dibarengi dengan bibir yang mencebik. "Aku sudah tahu dia ada di dalam. Tapi aku bingung dan kesal melihat sikapnya. Dia benar-benar aneh. Aku hanya menanyakan di mana kamu, kenapa kalian tidak sama-sama, eh dia malah langsung bersikap dingin padaku dan main masuk aja, tanpa mengajakku. Kalian berdua lagi ada masalah ya?" Michelle berceloteh dengan sangat berapi-api. Tampak jelas kalau wanita itu sangat kesal sekarang.
Bima dan Tristan sontak saling pandang dengan tatapan yang penuh tanya. Namun mereka berdua juga terlihat sama-sama bingung dan secara bersamaan mengangkat bahu masing-masing.
"Kalian bicara berdua dulu, biar aku menyusulnya ke dalam. Sepertinya dia lagi tidak baik-baik saja," Tristan akhirnya buka suara dan melangkah masuk ke dalam tempat acara.
"Kalian berdua benar tidak ada masalah sama sekali?" ulang Michelle memastikan, tapi dengan nada suara yang bergetar. Entah kenapa tiba-tiba wanita itu merasa grogi ketika mengingat pembicaraan Bima dengan Clara mamanya kemarin yang mengatakan kalau pemuda di depannya itu menyukainya.
"Tidak sama sekali. Aku juga bingung kenapa dia bisa bersikap dingin padaku, dan menatapku seakan aku ini musuhnya," terang Bima dengan wajah sendu.
"Emm, kenapa ya?" gumam Michelle yang ditanggapi Bima dengan cara mengangkat bahunya.
"Sudahlah, mungkin dia lagi ada masalah yang tidak ingin dia bicarakan padaku. Sekarang lebih baik kita masuk saja!" pungkas Bima, bersiap hendak melangkah masuk.
"Kamu masuk dulu aja. Aku mau menunggu Ayu," Michelle kemudian mengarahkan tatapannya ke arah lift, untuk melihat apakah Ayunda sudah datang atau belum.
Di saat bersamaan, pintu lift terbuka dan sosok gadis yang penampilannya terlihat sangat cantik, keluar dari dalam lift.
"Ayu, akhirnya kamu datang juga!" pekik Michelle dengan riang dan wajah berbinar.
Pekikan Michelle sontak saja membuat Bima menoleh ke arah Ayunda. Untuk beberapa saat, pemuda itu terpana melihat penampilan Ayunda yang dia akui, sangat mempesona bak seorang bidadari.
Sementara itu, Ayunda yang melihat kebersamaan Bima dengan Michelle, merasakan hatinya sakit seperti teriris pisau, karena jujur saja, walaupun dia memutuskan untuk mundur dan melupakan pria itu, dia belum bisa membohongi hatinya kalau nama pemuda itu masih melekat di dalam hatinya.
"Ayu, kenapa kamu bengong di sana? Ayo ke sini, kita masuk sama-sama!" Melihat Ayunda yang masih terdiam di tempatnya, membuat Michelle melangkahkan kakinya menghampiri Ayu dan meraih tangan sahabatnya itu.
Setelah berhasil meredam perasaan sakit di hatinya, Ayunda pun mengulas seulas senyum manis di bibirnya dan melangkahkan kakinya. Ketika dia sudah berada di dekat Bima, wanita itu hanya menganggukkan kepalanya sedikit ke arah Bima, dan berlalu melewati pemuda itu tanpa menyapa sama sekali.
Sikap yang ditunjukkan Ayunda, barusan tentu saja membuat Bima diserang tanda tanya. " Kenapa dia tidak seperti biasa, yang berteriak histeris dan langsung menempel padaku? apa yang terjadi padanya?" bisik Bima pada dirinya sendiri dengan alis yang bertaut.
"Ah, bodo amatlah, bukannya ini yang aku inginkan? kenapa aku harus bingung?" kembali Bima berbicara pada hatinya sendiri sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tempat acara prom Night.
tbc