
"Kamu mau tahu, kenapa aku melakukan semua itu? itu karena aku mencintaimu!"
Mata Ayunda sontak membesar terkesiap kaget mendengar pengakuan Bima. Wanita menatap wajah sang suami untuk mencari kebenaran ucapan suaminya itu. Mata wanita itu juga kini terlihat mulai berembun, siap untuk menangis.
"Kenapa kamu diam? apa kamu tidak bahagia? bukannya dari dulu ini yang sangat ingin kamu dengar?"
Ayunda masih saja terdiam, karena mulutnya tiba-tiba merasa kelu, tidak sanggup untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Wanita itu masih belum benar-benar percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Diamnya Ayunda membuat Bima mengrenyitkan keningnya, bingung. Padahal di awal, tadinya dia mengira respon istrinya itu akan begitu bahagia sampai melompat-lompat kegirangan dan memeluknya. Namun, apa yang dilihatnya sekarang? istrinya itu justru diam bagaikan patung.
"Ayu, kamu kenapa sih diam? apa kamu tidak bahagia?" tanya Bima lagi dengan sangat hati-hati dan Kali ini suara Bima terdengar lirih.
Bukannya mendapatkan jawaban, justru wanita yang sekarang menjadi istrinya itu tiba-tiba menangis, membuat Bima semakin bingung.
"Sayang, kamu kenapa sih?" untuk kedua kalinya Bima memanggil Ayu dengan sebutan sayang, membuat tangis Ayunda semakin kencang.
Bima menggusak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu benar-benar bingung, tidak tahu mau berbuat apa. Jalan satu-satunya pria itu menarik tubuh Ayu dan memeluk wanita itu dengan erat.
"Sayang, kamu jangan nangis dong! kamu tidak bahagia ya?"
Ayunda menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menarik cairan yang keluar dari hidungnya, untuk masuk lagi ke dalam.
"Jadi kenapa kamu menangis? jangan buat aku serba salah dong!" Bima kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Aku menangis justru karena aku bahagia. Aku bahkan belum percaya kalau ini nyata. Kamu benar-benar Bima kan? aku tidak lagi bermimpi kan? tadi kamu bilang mencintaiku, kamu tidak lagi kerasukan setan kan?" oceh Ayunda, di sela-sela isak tangisnya.
"Astaga, jadi kamu mengira ini hanya mimpi?" Bima terseyum manis. "Kamu mau bukti kalau ini bukan mimpi?" Ayunda menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
Bima tersenyum smirk, karena dia memiliki sebuah ide untuk memberikan bukti kalau yang terjadi sekarang adalah kenyataan.
Bima mulai mengikis jarak dan tanpa menunggu lama ia langsung membenamkan bibirnya ke bibir istrinya itu. Pria itu melu*mat dengan lembut dan cukup lama. Ayundak yang tadinya sempat pasif, akhirnya memberikan balasan.
"Bagaimana rasanya?" Bima mengerlingkan matanya.
Ayunda menundukkan kepalanya dengan pipi yang memerah bagaikan kepiting yang baru dikeluarkan dari penggorengan. Wanita itu benar-benar malu sekarang.
Ternyata Bima memberikan bukti tidak seperti kebanyakan orang, yang biasanya mencubit atau pun memukul. Pria itu malah memberikan ciuman yang memabukkan.
"Kenapa kamu diam lagi?" Bima mengangkat dagu Ayunda itu agar dia bisa melihat wajah istrinya itu.
"Aku malu," sahut Ayunda, dengan suara yang sangat pelan.
"Kenapa kamu jadi malu-malu begini? bukannya dulu kamu tidak tahu malu," ledek Bima.
"Kamu benar-benar menyebalkan!" Ayunda mencebik membuat tawa Bima pecah.
"Sana kamu menjauh! aku kesal padamu!" bibir Ayunda semakin mengerucut. Antara kesal dan malu mengingat sikap memalukannya dulu, bercampur menjadi satu.
"Kamu serius memintaku menjauh?" Bima berpura-pura memasang wajah memelasnya.
"Iya. Kalau kamu masih menyinggung sikapku yang dulu, jangan dekat-dekat padaku!"
"Maaf, Sayang! iya deh, aku tidak akan menyinggung masalah itu lagi," Ayunda kembali tersipu malu, mendengar Bima yang kembali memanggilnya sayang. Panggilan yang selama ini ingin sekali dia dengar dari mulut pria yang sudah jadi suaminya itu.
"Sungguh?" Bima menganggukkan kepalanya, mengiyakan, membuat Ayunda tersenyum senang. "Tapi aku tidak bisa janji. Soalnya ini hal yang seru kalau diceritakan pada anak-anak kita nanti," imbuh Bima, sembari tertawa lepas.
"Bima!" pekik Ayunda. "Kamu benar-benar menyebalkan!"bibir Ayunda semakin mengerucutdan menatap Bima dengan tatapan tajam.
Tawa Bima semakin pecah melihat ekpresi wajah Ayunda. Sementara itu, Ayunda tiba-tiba tersenyum dengan air mata yang kembali menetes. Wanita itu benar-benar terharu karena tidak menyangka kalau dia bisa melihat salah satu keajaiban dunia yakni melihat Bima tertawa lepas.
Sementara itu, Bima sontak berhenti tertawa begitu melihat air mata yang sudah menggenang di pipi sang istri. Pria itu seketika langsung menghampiri Ayunda lagi dengan raut wajah bersalah.
"Sa-sayang, kenapa kamu nangis lagi? maaf ya, maaf, aku tidak akan menertawaimu lagi!" Bima memeluk Ayunda dan menyeka air mata di pipi istrinya.
Bima sontak menoleh ke belakang untuk mencari keajaiban dunia yang dimaksud sang istri. Soalnya yang ada di kepalanya hanya ada Taj mahal India, Colloseum Italia dan 5 keajaiban dunia lainnya.
"Mana keajaiban yang kamu lihat?" Bima mengrenyitkan keningnya.
"Senyum dan tawamu," sahut Ayunda, membuat Bima seketika kembali menatap Ayunda dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.
"Iya, senyum dan tawamu! Dua hal yang benar-benar sulit dan hampir tidak pernah aku lihat. Dari dulu kamu selalu sinis bahkan untuk menatapku saja kamu enggan. Sekarang aku bisa melihatnya, bukannya itu adalah sebuah keajaiban?"
Bima sontak bergeming, seketika merasa bersalah, mengingat semua sikapnya dulu pada wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.
Wanita yang dulu selalu dia anggap menyebalkan, justru selalu membuat hatinya merasa kacau, yang selalu membuat hidupnya tidak tenang bila tidak mendapatkan kabar wanita itu. Wanita yang selalu mendatangkan kecemburuan yang sukar untuk dilukiskan kalau ada pria yang berniat mendekatinya. Wanita yang membuatnya sangat marah dan tidak rela ketika wanita itu mengatakan akan melupakannya dan mencari pria lain. Ingin dia berteriak saat itu kalau Ayunda tidak boleh mencintai pria lain, hanya dia lah yang harus dicintai wanita itu.
Bima kemudian kembali menarik tubuh Ayu ke arahnya dan mendekap dengan sangat erat, kemudian memberikan ciuman yang bertubi-tubi di puncak kepala istrinya itu.
"Maaf, maafkan sikapku selama ini!" ucap Bima berulang-ulang.
Mereka berdua cukup lama berpelukan, sampai akhirnya Ayunda berinisiatif untuk melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bima dengan mata memicing.
"Ada apa? kenapa kamu melihatku seperti itu?" Bima mengrenyitkan keningnya.
"Aku penasaran dan benar-benar ingin tahu, sejak kapan kamu mencintaiku?" Ayunda mendekatkan wajahnya ke wajah Bima, membuat
tenggorokan pria itu seketika tercekat, sulit untuk menelan ludahnya sendiri.
"Sial, kenapa dia bertanya seperti itu sih? tidak cukupkah dia tahu kalau aku mencintainya. Kenapa harus bertanya kapan aku mencintainya? nanti kalau dijawab, dia pasti tanya lagi, kenapa kamu bisa mencintaiku? apa harus se detail itu?" Bima menggerutu di dalam hati.
"Kenapa kamu diam? ayo jawab dong!" desak Ayu.
"Haish, dia kembali menyebalkan! " umpat Bima, tapi lagi-lagi hanya berani diucapkan dalam hati.
"Buat apa sih hal itu lagi? itu sudah tidak penting lagi kan? yang jelas sekarang aku mencintaimu, cukup!" Bima berusaha menghindar.
"Belum cukup! aku harus tahu kapan kamu mulai mencintaiku, ayo katakan, kapan?" Ayu menarik-narik lengan kaos yang dipakai oleh Bima.
"Ahh, gak mau! pokoknya aku mencintaimu, titik. Masalah kapannya biar aku saja yang tahu," Bima dengan sengaja mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Ayunda mencebik, benar-benar kesal. Wanita itu kemudian mulai menggelitiki pinggang Bima.
"Kasih tahu nggak!"
"Nggak!" sahut Bima sembari menghindar.
"Kasih tahu!" Ayunda tetap mendesak dan tangan masih aktif menggelitiki pinggang Bima, hingga tanpa bisa dihindari lagi, Bima jatuh terlentang di atas kasur, dan tubuh Ayu di atasnya.
Pandangan mereka seketika terkunci untuk sepersekian detik. Detik berikutnya mata Bima kini beralih ke bibir pink alami milik Ayunda, yang sekarang sudah menjadi candu baginya. Dengan perlahan pria itu mulai mengikis jarak dan menempelkan bibirnya ke bibir istrinya itu.
"Woi, apa-apa-an kalian berdua! kalian sudah membuat mataku ternoda!" baru saja Bima hendak melu*mat, tiba-tiba terdengar suara yang tidak terlalu jauh dari mereka.
Bima dan Ayunda sontak menoleh ke arah datangnya suara dan mereka melihat sosok Bimo yang berdiri sembari menutup mata.
"Bimo! kenapa main masuk saja tanpa izin, bangsat!" umpat Bima kesal.
"Apaan tanpa izin! aku sudah mengetuk pintu dari tadi tapi kalian tidak dengar, ya kebetulan pintu nggak terkunci, aku masuk saja. Takutnya kalian berdua mati di dalam sini,"
"Sialan! kamu menyumpahi kami mati?" Bima melemparkan bantal ke arah Bimo yang langsung dengan sigap menghindar sembari tertawa lepas. Jangan lupakan wajah Ayunda yang sekarang sudah benar-benar memerah, menahan malu.
"Kalian diminta turun untuk makan malam! aku pergi dulu ya!" setelah puas tertawa, Bimo memutar tubuhnya dan berlalu pergi. Namun sebelum menutup pintu, Bimo kembali menyembulkan kepalanya,
"Ingat, mama dan Papa minta kalian turun sekarang bukan untuk melakukan prose's pembuatan cucu. Tahan-tahan lah dulu! oh ya, lain kali, ingat untuk mengunci pintu!"Selesai mengucapkan ucapannya, Bimo langsung menutup pintu sebelum bantal yang sudah siap dilemparkan oleh Bima mendarat di kepalanya.
tbc