
"Kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?" Bimo tersentak kaget dan langsung duduk, karena tiba-tiba Bima sudah berada di kamarnya.
"Kamu kenapa tiba-tiba muncul kaya setan? buat aku kaget saja!" protes Bimo dan langsung duduk.
"Aku sudah mengetuk pintu, tapi kamu tidak nyahut, makanya aku masuk saja. Sekarang kamu jelaskan, apa kamu ada nasalah?" ulang Bima.
"Tidak ada sama sekali. Aku hanya kecapean," sahut Bimo berusaha untuk tetap tersenyum.
Bima mendengus dan tersenyum smirk. "Kamu kira, aku bisa kamu bohongi? raut mukamu sudah bisa menjelaskan kalau kamu itu punya masalah, bukan karena kecapean. Sekarang kamu kasih tahu aku, apa masalah kamu? apa ini ada hubungannya dengan Michelle?" tukas Bima, to the point.
"Tidak sama sekali! aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Aku hanya kelelehan dan ingin istirahat, agar aku bisa fit, untuk berangkat besok ke Singapura," Bimo masih berusaha untuk menyangkal.
Bima menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara. Bima belum sepenuhnya percaya dengan apa yang dikatakan kembarannya itu.
"Bimo, kamu tidak perlu menutupinya. Aku tahu kalau kamu tidak baik-baik saja, Dan aku yakin kalau yang membuat kamu tidak bersemangat seperti ini, pasti ada kaitannya dengan Michelle," Bima mendapatkan tubuhnya duduk di samping Bimo.
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Karena satu-satunya yang bisa membuat kamu galau seperti ini adalah Michelle. Aku tahu, secapek apapun kamu, kamu tidak pernah menunjuk wajah murammu,"
"Jangan sok tahu deh!" ujar Bimo, membuat Bima kembali tersenyum.
"Bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Ingat, kini ini saudara kembar dan kita pernah berbagi rahim yang sama. Jadi, aku bisa membaca raut wajahmu, dan tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Jadi, kamu tidak usah lagi mengelak. Sekarang kamu jelaskan, apa yang terjadi?"
Bimo seketika tercenung, merasa tidak ada gunanya lagi untuk mengelak karena sekeras apapun dia untuk menutupi apa yang terjadi, saudara kembarnya itu pasti akan tetap bisa tahu.
"Michelle memutuskan hubungan kami," akhirnya Bimo jujur.
"Hah, kenapa bisa?" tanya Bima dengan kening berkerut.
"Michelle menganggap kalau hubungan kami ini tidak ada kejelasan. Aku bingung, Bima, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu? apa perhatian dan kesetianku selama ini belum bisa membuktikan kalau aku benar-benar mencintainya?" Bimo kini mulai berbicara dengan nada berapi-api.
Bima terseyum tipis. Dari penjelasan yang baru saja dia dengarkan, Bima sudah bisa menarik kesimpulan mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku sebenarnya tahu kejelasan apa yang dia inginkan Michelle, Bima. Hanya saja aku ingin menunggu waktu yang tepat. Sebenarnya aku sudah berniat akan melamar Michelle apabila aku berhasil memenangkan kerja sama dengan klien besar di Singapura, karena aku ingin membuktikan kalau aku bisa melakukan hal itu sendiri tanpa bantuan Papa. Kamu mau tahu alasan kenapa aku masih menundanya?" Bima menggelengkan kepalanya, karena dia memang tidak tahu apa alasan Bimo.
"Itu karena ingin membuktikan diriku mampu dan juga bisa hebat sama seperti kamu, di depan Om Dimas, Bima. Aku tahu kalau aku memang tidak seperti kamu yang mendirikan perusahaan sendiri dan mengelolanya sampai sebesar ini. Aku memang hanya meneruskan perusahaan papa, tapi aku ingin membuktikan walaupun aku hanya meneruskan usaha papa, aku tetap bisa membuat perusahaan papa semakin maju, tanpa harus membawa-bawa nama besar papa. Aku hanya ingin orang-orang mengenalku ya karena memang aku hebat bukan karena nama papa," tutur Bimo panjang lebar tanpa jeda.
Bima sontak terdiam tidak menyangka kalau diamnya Bimo selama ini ternyata menyimpan tekad yang kuat.
"Tapi apa hubungannya antara tekadmu dengan Om Dimas?" tanya Bima, tidak mengerti.
Bimo kembali menghela napasnya dengan helaan yang cukup berat.
"Itu karena aku merasa kalau Om Dimas masih belum sepenuhnya percaya kalau aku bisa memberikan kenyamanan dan kebahagian buat putrinya, makanya sampai, sekarang dia masih saja meminta body guard untuk melindungi Michelle. Dia sama sekali tidak pernah memintaku untuk memberikan perlindungan buat putrinya itu, Bima. Padahal, aku juga bisa seperti kamu membayar orang untuk melindungi wanita yang aku cintai." Bimo berhenti berbicara sejenak untuk mengambil jeda sekaligus untuk mengisi paru-parunya yang hampir kosong dengan oksigen.
"Entah kenapa aku merasa, kalau Om Dimas merasa kalau aku hanya mengandalkan nama besar papa saja. Karena itu dia tidak pernah bertanya, kapan aku siap mempersunting putrinya. Seandainya dia sudah yakin padaku, dia pasti akan bertanya kapan aku siap untuk mempersunting Michelle, bukankah begitu, Bima?" sambung Bimo kembali dan Bima terdiam tidak menjawab.
"Seperti Om Adrian, karena dia yakin kalau kamu bisa menjaga dan melindungi putrinya lah makanya dia mau diajak kerja sama hari itu. Padahal jelas-jelas hal itu bisa saja merugikan putrinya kalau seandainya kamu khilaf. Coba seandainya posisinya itu di balik ke aku, aku yakin Om Dimas pasti tidak akan mau, karena dia masih meragukanku," lanjut Bimo lagi.
Bima bergeming, tidak membantah maupun mengiyakan. Pria itu cukup mengerti apa yang dirasakan oleh saudara kembarnya itu. Karena memang dia cukup tahu kalau karakter adiknya itu tidaklah jauh berbeda dengan dirinya yang tidak suka jika dibanding-bandingkan dengan nama besar Bara papa mereka. Apalagi ditambah dengan dirinya yang sudah memiliki perusahaan sendiri, membuat Bimo semakin bertekad untuk membuktikan kalau dia juga bisa hebat, walaupun dengan tetap meneruskan perusahaan papa mereka. Setidaknya Bimo berharap perusahaan papanya itu bisa lebih maju dari kepemimpinan papa mereka.
Bima kemudian tersenyum dan menepuk-nepuk pundak saudara kembarnya itu. "Aku yakin kamu pasti bisa Bimo. Hanya saja, kalau boleh aku sarankan, kamu jangan terlalu berambisi, sampai membuat kamu kehilangan wanita yang kamu cintai. Michelle hanya butuh kepastian darimu. Seandainya kamu berterus terang dengan alasan kamu ini, aku yakin Michelle pasti akan mau mengerti dan akan mendukungmu dengan sepenuh hati. Dia pasti akan sabar menunggumu. Yang dia harapkan ada kepastian yang bisa dia jadikan sebagai pegangan. Kalau kamu diam saja begini, tentu saja dia tidak tahu. Jadi, kamu lebih baik berterus terang padanya," ucap Bima dengan sangat bijaksana.
"Bima seperti yang aku katakan di awal tadi, kalau sebenarnya aku sudah punya rencana untuk melamar Michelle, setelah kembali dari Singapura, tapi itupun jika aku bisa memenangkan tender mengalahkan Om Dimas. Karena sebenarnya alasan kenapa aku memilih ke Singapura daripada Bali, itu karena aku tahu kalau Om Dimas juga ikut mengajukan proposal mereka. Aku hanya ingin menunjukkan kemampuanku, dan berharap bisa menang tepat di depan Om Dimas. Jika aku menang, aku pun punya muka untuk melamar Michelle," tutur Bimo dengan sangat tegas.
"Jadi, kalau kamu tidak menang bagaimana? apa kamu batal melamar Michelle?"
Bimo terdiam dan menggaruk-garuk kepalanya, bingung. Karena dia tahu jelas kalau Dimas adalah saingan dia yang paling besar.
"Ahh, pokoknya harus optimis. Kamu jangan buat aku jadi pesimis dong, Bima. Kamu harusnya mendoakanku, biar bisa unggul dari Om Dimas,"
"Iya, iya. Tentu saja aku akan tetap mendukungmu! Semangat ya!" Bima terseyum dan menepuk-nepuk kembali pundak saudara kembarnya itu.
tbc