
Hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Bimo dan Michelle, di mana hari ini keduanya disatukan dalam ikatan pernikahan sebagai suami istri. Pukul 9 pagi tadi, keduanya sudah melakukan sesi photo sambil memegang surat nikah mereka karena mereka berdua sudah sah menjadi suami istri.
Seperti biasa acara resepsi pernikahan dilangsungkan pada malam hari di gedung hotel milik Bima. Malam ini acara resepsi pernikahan impian Michelle akan dihelat secara besar-besaran.
Michelle kini sudah tampil cantik dalam balutan gaun berwarna putih, seperti yang diimpikan dia selama ini.
Demikian juga dengan Bimo yang juga sudah tampil gagah dengan tuxedo yang berwarna senada dengan gaun Michelle.
Wajah keduanya tampak berbinar bahagia, terlebih Michelle yang memang sudah lama menunggu pernikahan ini.
"Kamu cantik sekali, Sayang!"puji Bimo dengan sorot mata yang benar-benar terpukau.
"Jangan lebay deh. Aku memang cantik dari dulu," jawab Michelle sembari memutar bola matanya jengah.
"Tapi, kali ini kecantikanmu terlihat lebih spektakuler," Bimo tetap saja tidak mau berhenti memuji.
"Udah ah, sebentar lagi, acara mau mulai, lebih baik kita bersiap untuk masuk ke tempat acara," Michelle melangkah meninggalkan Bimo. Bukan karena kesal dengan pujian pria yang sudah menjadi suaminya itu, tapi karena dia tidak mau melihat kalau sekarang dia sedang tersipu malu karena pujian pria itu.
"Sayang, kenapa main pergi begitu aja sih?" Bimo mengejar Michelle.
"Kamu tidak mau memujiku tampan?" lanjut Bimo sembari mensejajarkan langkahnya dengan langkah Michelle.
"Buat apa muji kamu? setiap hari juga kamu selalu terlihat tampan," sahut Michelle yang secara langsung sudah memuji pria itu.
"Wah, yang benar?" Raut wajah Bimo berbinar bahagia. "Akhirnya, aku mendengar sendiri kamu bilang aku tampan. Selama ini kamu kan tidak pernah memujiku. Jadi makin cinta deh sama kamu," Bimo mencubit pipi Michell dengan gemas.
"Bimo! jangan main cubit-cubit dong! sakit tahu!" Michelle mengerucutkan bibirnya.
Bimo ingin kembali mencubit pipi Michell, tapi dia urungkan karena dia mendengar suara MC yang meminta mereka untuk masuk ke ruangan tempat acara.
Bimo kemudian langsung meraih tangan Michelle dan menggandeng wanita itu untuk masuk ke dalam ruangan. Kehadiran mereka tentu saja langsung disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan.
Sebuah lagu romantis berjudul 'I wanna grow old with you' yang dipopulerkan oleh band dari Irlandia yang tidak lain adalah Westlife menggema mengiringi raja dan ratu di acara itu sampai ke pelaminan.
Di antara para tamu tampak Ayunda yang berdecak kagum melihat keindahan dekorasi yang tidak kalah dengan pernikahannya dulu dengan Bima.
"Kenapa? apa kamu merasa mau merasa iri juga melihat dekorasinya?" tukas Bima, yang mulai paham dengan karakter istrinya.
Bima kemudian mengukir senyum, merasa sedikit tenang.Setidaknya dia merasa lega, karena tidak akan mendengarkan keluhan istrinya.
"Sayang, aku mau ke toilet sebentar ya," Ayunda berdiri dari tempat duduknya. Tiba-tiba, wanita itu merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, sehingga mau tidak mau wanita itu kembali duduk.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Bima khawatir.
"Tidak tahu. Aku tiba-tiba merasa pusing," sahut Ayunda sembari memijat-mijat kepalanya.
"Kita ke dokter sekarang!" ucap Bima, panik.
"Aku hanya sakit kepala, Bima. Nanti juga akan sembuh sendiri," cetus Ayunda, menatap sengit suaminya yang menurutnya sangat berlebihan.
Baru saja Ayunda berbicara seperti itu, tiba-tiba Bima merasa sesuatu bergejolak di dalam perutnya, membuat pria itu ingin muntah. Dan itu terjadi ketika seseorang lewat sembari membawa piring berisi makanan.
Melihat apa yang terjadi pada suaminya, Ayunda langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol berisi pil dan langsung memberikan pada Bima.
Ya, sudah hampir sebulan ini, Bima selalu merasa mual, kalau mencium aroma makanan tertentu. Satu-satunya yang menolong agar dia tidak mual adalah pil yang merupakan anti mual, yang mereka beli dari apotik.
Sementara itu di depan sana, tepatnya di pelaminan Tampak Dimas berjalan ke panggung dan berdiri di atas sebuah mimbar yang biasa digunakan oleh MC. Sepertinya pria paruh baya itu hendak mengatakan sesuatu.
" Para tamu undangan yang kami hormati, terima kasih banyak atas kehadiran kalian semua di acara pesta pernikahan putri dan menantuku. Terima kasih juga atas doa dan harapan kalian semua. Semoga dia dan harapan kalian semua dikabulkan Tuhan," Dimas mulai pidatonya. Kemudian pria paruh baya itu mengalihkan tatapannya ke arah Michelle dan Bimo.
" Michelle, waktu berjalan dengan cepat. Aku seperti merasa baru kemarin aku menggendongmu, menyanyikan lagu pengantar tidur untukmu, menciummu di pagi hari, walaupun kamu masih bau ompol ketika baru bangun. Papa merasa, seperti baru kemarin kamu merengek-rengek minta dibelikan es cream, minta dibelikan mainan dan mengadu karena mainanmu direbut sama temanmu. Sekarang ternyata kamu sudah dewasa dan sudah jadi seorang istri. Papa mau,kamu bisa menjadi seorang istri yang baik dan menghormati suamimu bagaimanapun keadaannya nanti. Bila nanti saatnya kamu diberikan anugrah menjadi seorang ibu, jadilah seorang ibu yang baik dan didik anak-anakmu dengan akhlak yang baik terlebih dulu. Karena percuma kalau anak-anakmu pintar, tapi ahklaknya tidak ada. Bila ada masalah dalam rumah tanggamu kelak, jadilah seorang istri yang bijak, jangan mempublikasikan masalah keluargamu. Karena di saat hal itu terjadi pasti akan banyak yang berpura-pura simpati pada masalahmu, dan akan ada orang yang berbahagia dengan masalahmu itu. Tapi selesaikanlah dengan kepala dingin dan mengadulah kepada Tuhan terlebih dahulu," tutur Dimas panjang lebar, dengan cairan bening yang sudah berhasil membobol bendungan manik mata milik pria itu. Dari arah pelaminan Tampak Michelle juga sudah mulai meneteskan air mata mendengar pesan dan nasehat papanya.
Setelah itu, Dimas mengalihkan tatapannya dari Michelle ke Bimo.
"Bimo, aku memang tidak pernah terlihat serius dalam berkata-kata. Tapi kali ini aku mau berbicara serius padamu. Kamu sekarang sudah menjadi suami putriku, itu berarti kamu sudah menjadi menantuku. Aku minta padamu agar tulus menyayangi Michelle, dan membahagiakannya. Sekarang aku menyerahkan sepenuhnya putriku untuk kamu jaga dan lindungi. Tapi itu bukan berarti aku akan lepas tangan dalam melindungi dia juga. Papa mohon tolong bimbing dia agar semakin dewasa. Aku percaya kamu pasti bisa menjadi suami yang baik buat putriku. Jangan sekali-kali kami sakiti dia baik secara fisik maupun batin, karena bukan hanya dia yang merasa sakit, aku pun pasti akan merasakan sakitnya juga." tutur Dimas panjang lebar tanpa jeda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Bimo dan Michelle.
Kini ruangan pesta sudah mulai sepi, karena banyak tamu yang sudah pulang. Bima, Ayunda, Tristan dan Salena serta Radit baru saja hendak ke depan untuk memberikan selamat, tapi tiba-tiba Ayunda kembali merasakan kepala pusing hingga tidak bisa dihindari lagi, wanita itu pun terhuyung dan jatuh pingsan. Beruntungnya Bima yang dari tadi sudah merasa khawatir, langsung menangkap tubuh istrinya itu, hingga wanita itu tidak terjatuh ke lantai.
Tbc