Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
AKCA Season 2 ( Aku Mundur)


Mendekati hari-hari pengumuman kelulusan sekolah, banyak siswa yang akan merayakannya dengan mengadakan acara perpisahan yang kalau di luar negeri disebut prom night. Demikian juga dengan sekolah elit tempat Ayunda sekolah dan kebetulan acaranya akan diadakan besok.


Awalnya Ayunda begitu antusias untuk ikut di acara itu dan berdandan dengan sangat cantik dan maksimal. Namun, setelah mendengar pembicaraan antara Bima dan mamanya tadi, dan juga nasehat dari adik laki-lakinya, perasaan antusias itu tiba-tiba menguap entah kemana.


Ayunda menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan terlentang, menerawang menatap langit-langit kamarnya. Sesekali gadis itu memejamkan matanya dan membukanya kembali.


Gadis itu bangkit duduk kembali ketika ponselnya berbunyi, pertanda ada yang sedang menghubunginya. Ayu mengembuskan napasnya sebelum memutuskan untuk menjawab panggilan, karena yang sedang menghubunginya sekarang adalah Clara, wanita paruh baya yang dia hormati selain mamanya.


"Halo, Tante!" sapa Ayunda berusaha menetralkan getaran suaranya.


"Ayu, kamu kenapa belum sampai ke rumah? bukannya kamu tadi bilang kalau kamu sudah di jalan mau ke rumah Tante?" suara Clara seperti biasa, selalu lembut terdengar.


"Aduh, maaf Tante, aku lupa ngasih tahu Tante kalau aku balik lagi ke rumah,"


"Kenapa balik lagi? ada yang tertinggal atau bagaimana?"


"Tidak ada Tante. Aku hanya merasa kalau aku ke sana juga akan sia-sia. Aku yakin kalau Bima tidak akan mau di ajak jalan-jalan. Jadi, lebih baik aku di rumah saja," sahut Ayunda terpaksa berbohong.


Tidak terdengar jawaban dari Clara. Yang terdengar hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut wanita paruh baya di seberang sana. "Maaf ya, Sayang! Tante benar-benar tidak enak hati sama kamu, karena sikap Bima," suara Clara terdengar sangat lirih.


"Tidak apa-apa kok Tan. Tante tidak perlu minta maaf, karena Tante tidak salah sama sekali. Ayunda menyunggingkan senyum manisnya, lupa kalau senyumannya itu tidak bisa dilihat oleh wanita di ujung telepon.


Pembicaraan mereka akhirnya terputus setelah Clara pamit untuk melakukan sesuatu. Ayunda baru saja hendak meletakkan ponselnya, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seseorang.


"Ayu,kamu di dalam kan Nak?" dari suaranya bisa dipastikan kalau yang mengetuk pintunya adalah sang mama.


"Masuk aja, Ma. pintu nggak dikunci kok!" pekik Ayunda dari dalam.


Pintu kamar Ayunda dibuka perlahan oleh sang mama, dan masuk dengan membawa sebuah kotak di tangannya.


"Nak, apa kamu baik-baik saja? Kata Arya kamu ada di kamar dan lagi sedih, apa itu benar?" tanya Anisa mamanya Ayunda dengan lembut sembari mengelus-elus rambut putrinya itu.


Ayunda kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, Ma. Aku baik-baik saja. Lihat, aku tersenyum kan?" Ayunda mencoba untuk ceria, menutupi kesedihannya di balik topeng bahagianya.


Anisa menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskannya kembali ke udara. Bagaimanapun putrinya itu menunjukkan ekspresi bahagianya, sebagai seorang ibu yang melahirkannya, wanita itu tahu benar kalau senyum dan wajah ceria yang ditunjukkan oleh putrinya itu hanyalah kamuflase.


"Yu, kamu tidak bisa membohongi Mama, Nak. Sekeras apapun kamu menyembunyikan kesedihanmu, mama tetap tahu kalau kamu itu lagi sedih. Kamu kenapa lagi? dicuekin sama Bima lagi?" intonasi suara Anisa terdengar lebih lembut dari sebelumnya.


Ayunda akhirnya tidak bisa menahan air matanya untuk tidak jatuh. Akhirnya benteng pertahanan wanita itu runtuh juga mendengar ucapan wanita yang melahirkannya itu. Akhirnya dia menceritakan apa yang sudah dia dengar tentang yang dibicarakan oleh Bima dan Clara mamanya.


"Ma,apa aku benar-benar buruk? apa aku memang kasar? haruskah aku berubah selembut Michelle agar Bima melihatku?" tanya Ayunda beruntun sembari terisak-isak.


"Siapa bilang kamu buruk? kamu itu sangat istimewa,Nak. Kamu istimewa di mata orang yang bisa melihat kelebihanmu. Oh ya, mama juga mau bilang kalau tidak bada yang perlu dirubah dari dirimu. Kamu jangan berubah hanya untuk menarik perhatian atau untuk menyenangkan seseorang. Tetaplah menjadi dirimu sendiri, Nak!" tutur Anisa panjang lebar.


Ayunda diam saja tidak menanggapi ucapan mamanya. Namun, gadis itu tetap berusaha untuk mencerna baik-baik nasehat mamanya tadi.


Ayunda tersenyum simpul dan memeluk mamanya.


"Ma, tadi aku sudah berpikir masak-masak dan aku sudah mengambil keputusan. Aku mau membatalkan perjodohanku dengan Bima!" ucap Ayunda dengan tegas walaupun masih terlihat masih ada sedikit keraguan di mata anak gadisnya itu.


Mata Anisa sontak membesar terkesiap kaget mendengar keputusan putrinya itu. Bagaimana tidak? wanita itu tahu jelas bagaimana gigihnya putrinya itu mendekati Bima, Bahkan sampai memohon pada sang papa untuk dijodohkan dengan putra Bara itu.


"Apa kamu serius,Nak? mama tidak salah dengar?" tanya Anisa memastikan.


Ayunda kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya." Aku serius, Ma. Mulai dari hari ini, aku ingin membuat diriku sendiri berharga. Cara satu-satunya, aku harus mundur dan berhenti mengejar cinta Bima. Aku yakin, kalau aku pasti bisa melupakannya!" ucap Ayunda dengan penuh semangat dan sangat yakin.


"Tapi Nak, membatalkan perjodohan kalian berdua bukan hal yang mudah. Karena kemungkinan, akan ada rasa tidak enak yang timbul di antara papamu dan Om Bara, yang tentu saja bisa membuat hubungan mereka renggang. Apalagi kamu juga tahu kalau Tante Clara yang sangat menyukaimu," Anisa terlihat ragu.


Di sisi lain, ada perasaan bahagia mendengar keputusan putrinya itu, karena bagaimanapun sebagai seorang ibu, dia selalu sedih jika melihat wajah Ayunda yang selalu muram setiap mendapat penolakan dari Bima. Namun di sisi lain Anisa benar-benar tidak enak hati Bara dan Clara.


"Mama tenang saja! apa Mama lupa kalau Om Bara dan Tante Clara orang yang bijaksana? aku yakin dengan kita memberikan alasan yang masuk akal di balik pembatalan ini, Om Bara dan Tante Clara tidak akan keberatan dan akan maklum. Aku yakin, Om Bara dan Papa akan tetap bersahabat." Ayunda terlihat sangat yakin.


Anisa diam untuk beberapa saat, memikirkan ucapan Ayu. Detik berikutnya wanita itu ? kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau memang itu sudah jadi keputusanmu. Mama tidak bisa memaksamu lagi. Nanti Mama akan coba berbicara dengan papamu. Satu hal yang harus kamu tahu, Mama, Papa dan adik kamu akan selalu ada mendukungmu,"


"Terima kasih, Ma! Ayunda kembali memeluk Mamanya dan Anisa membalas pelukan putrinya itu seraya memberikan kecupan di puncak kepala Ayunda.


"Apa yang ada di kotak itu, Ma?" setelah pelukan kedua wanita berbeda usia itu lepas, Ayunda menunjukkan ke arah kotak yang tadinya dibawa mamanya ketika masuk.


"Oh, ini gaun pesananmu yang akan kamu pakai besok di acara perpisahan sekolahmu. Kamu coba dulu!" Anisa meraih kotak itu dan memberikannya ke Ayunda.


Ayunda menarik napas berat dan meletakkan kembali kotak itu ke atas kasur.


"Aku sudah malas, Ma. Aku tidak antusias lagi untuk menghadiri acara itu. Aku sepertinya tidak akan datang. Aku ingin benar-benar tidak ingin bertemu dengan Bima lagi, supaya aku bisa melupakannya." Ayunda kembali tidak bersemangat.


Anisa, tersenyum tipis dan kembali duduk di atas ranjang di samping Ayunda. "Kamu tidak boleh seperti itu. Kami harus tetap hadir. Bukan untuk Bima tapi untuk teman-teman kamu. Ini kan acara perpisahan, Nak. Jangan gara-gara Bima, kamu tidak hadir," bujuk Anisa.


Ayunda bergeming, tidak membantah ucapan mamanya yang menurutnya memang benar adanya. Setelah diam beberapa saat, Ayunda kembali tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan hadir. Setidaknya untuk bertemu dengan Michelle untuk terakhir kalinya, sebelum aku berangkat kuliah ke luar negeri,"


Ucapan Ayunda yang terakhir, membuat Anisa tersentak kaget, karena tidak ada pembicaraan sebelumnya kalau anak gadisnya itu akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.


"Ke luar Negri? maksud kamu apa, Yu?" alis Anisa bertaut tajam.


"Eh, aku belum ngomongin ke mama ya? aku berencana untuk kuliah di luar negeri Ma dan tidak akan kembali ke Indonesia, sebelum kuliahku selesai. Aku membuat keputusan seperti itu agar aku tidak pernah bertemu dengan Bima lagi, sehingga aku bisa fokus belajar dan cepat melupakan Bima," pungkas Ayunda dengan sangat yakin.


tbc