
Karin dan Mamanya benar-benar sudah tetap dengan keputusan mereka untuk pulang. Kini mereka berdua sudah berada di terminal dan siap untuk masuk ke dalam bus tujuan kampung halaman mereka.
Setelah membeli tiket bus, Karin melangkah mendekati mamanya yang sedang duduk menunggunya.
"Ma, aku sudah dapat tiketnya. Ayo kita masuk ke busnya. Katanya sebentar lagi akan berangkat," Karin meraih tangan mamanya, membantu wanita itu untuk berdiri.
Setelah berdiri, wanita setengah baya itu sama sekali tidak melangkahkan kakinya. Wanita itu tetap berdiri di tempatnya, seakan berat hati untuk melangkah.
Merasa mamanya tidak mengikutinya,Karin kembali berbalik dan mengrenyitkan keningnya, melihat mamanya yang masih berdiri di tempat semula. Karin akhirnya kembali menghampiri mamanya.
"Kenapa Mama masih berdiri di sini? nanti busnya bisa berangkat lho,Ma. Alangkah baiknya kalau kita menunggu di dalam bus saja,"
Munah menarik napas dan mengembuskannya dengan kencang. "Karin, apa kamu yakin untuk pulang saja, dibandingkan menikah dengan Nak Theo?" ternyata itulah yang ada di dalam pikiran Munah. Jujur saja, wanita itu sangat menyayangkan keputusan putrinya untuk menolak menikah dengan Theo, pemuda yang dia anggap adalah pemuda yang baik, dan bertanggung jawab, terlepas dari pria itu yang merupakan orang kaya.
Karin tersenyum tipis mendengar ucapan mamanya. Dia tahu bagaimana perasaan mamanya itu sekarang. Tapi, baginya, bagaimanapun seorang wanita itu harus tetap punya prinsip.
"Ma, kenapa masih membahas soal itu lagi? aku kan sudah menjelaskan kalau aku tidak mau menikah dengan orang yang terpaksa bersedia menikah denganku hanya karena balas budi. Itu benar-benar tidak akan membuat bahagia, Ma. Lagian,aku ini hanya gadis kampung, yang hanya lulusan SMA. Tidak mungkin, Kak Theo yang seorang pengusaha, memiliki pendidikan tinggi, tulus mau menikah dengan perempuan sepertiku. Jadi, tolong jangan tanya hal itu lagi ya,Ma!" tutur Karin dengan sangat lembut berusaha memberikan pengertian pada mamanya itu.
"Tapi,Mama benar-benar khawatir dengan Toni,Nak. Kamu tahu jelas, kalau dia itu kasar dan pemaksa. Mama tidak mau, kamu jatuh ke tangannya, Nak!" Munah mengungkapkan kekhawatirannya.
Lagi-lagi, Karin tersenyum mendengar penuturan mamanya itu.
"Mama tenang saja. Mama tahu sendiri kan, kalau aku bukan wanita lemah? aku punya cara sendiri untuk menghadapi pria sombong seperti Toni. Udah ah, Ma. Ayo masuk ke bus! nanti keburu berangkat, kita jadi ketinggalan!" kali ini Karin memutuskan menggandeng tangan mamanya itu.
"Terserah kamu lah, Nak! mana baiknya menurut kamu, mama hanya ikut keputusanmu saja," pungkas Munah pasrah sembari melangkah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bus yang membawa Karin dan Munah kini mulai bergerak, keluar dari terminal. Di saat bus itu keluar, ada sebuah mobil mewah masuk ke dalam terminal itu.
Pengemudi mobil itu terlihat panik dan mendatangi loket pembelian tiket. Pria itu kembali semakin panik karena kemungkinan apa yang dia cari sudah tidak ada. Pria itu kemudian langsung berlari masuk kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya keluar dari dalam terminal.
Sementara itu, Karin menatap ke luar jendela menatap pemandangan di luar. Wanita itu merasa kalau dirinya mungkin butuh waktu lama akan kembali ke kota ini.
"Apaan sih,Pak? Bapak tidak bisa mengemudi ya? asal main berhenti saja. Bapa tahu, kami semua ketakutan ini!" teriak salah satu penumpang dengan sangat marah.
"Ma-maaf, semua! di depan ada mobil yang memotong dan berhenti secara mendadak. Mau tidak mau aku harus nge-rem. Kalau tidak, aku bisa menabrak mobil di depan itu!" sahut supir itu dengan nada yang ketakutan, takut diamuk penumpang.
"Tiba-tiba pintu bus itu diketuk oleh seseorang dari luar, yang diketahui adalah sang pemilik mobil yang berhenti mendadak di depan bus itu.
Kondektur bus itu dengan cepat dan memasang wajah garang langsung membuka pintu bus itu. "Hei, kenapa kamu berhenti mendadak? kamu bosan hidup ya?" bentak kondektur itu, dengan suara yang sedikit tinggi
"Maaf,Bang, Maaf sekali!" pria si pemilik mobil itu, menangkupkan kedua tangannya, meminta maaf pada sang kondektur.
"Aku hanya merasa ini jalan satu-satunya. Dari tadi, aku klakson dari belakang, Bapak tidak mau berhenti," ucap pria itu, ngos-ngosan.
"Emangnya, kenapa kamu ingin menghentikan bus ini? ada yang penting ya?" kali ini supir yang buka suara dan nadanya sudah mulai melembut.
"Di dalam bus ini, ada perempuan bernama Karin. Dia orang yang sangat penting bagiku. Aku mohon, tolong minta dia untuk turun!" mohon pria itu lagi, dengan wajah yang memelas.
Supir dan Kondektur itu kemudian saling silang pandang dan secara bersamaan menggaruk kepala masing-masing. Mereka berdua seakan mengerti kalau masalah pria itu adalah masalah perasaan. Tanpa pikir panjang, sang supirpun menoleh ke belakang.
"Ada yang bernama Karin di sini? kalau ada mohon turun karena ada yang mencari. Kalau tidak, kita tidak bisa jalan nih!" teriak supir itu.
Merasa ada yang menyebut namanya, membuat Karin mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Ada yang mencariku? siapa? dan kenapa dia mencariku?" gumam Karin, beruntun.
"Mama juga tidak tahu. Kalau ingin tahu, sebaiknya kamu turun untuk cari tahu," sahut Munah.
Karin kemudian berdiri dari tempat dia duduk dan menatap ke luar melalui kaca jendela bus. Mata wanita itu sontak membesar begitu melihat ada sosok pria yang sangat dia kenal berdiri di luar.
"Astaga,itu Kak Theo, Ma!" pekik Karin sembari mengerjap-erjapkan matanya.
tbc