
Bara dan Clara sontak menoleh ke arah datangnya suara, dan melihat di ambang pintu sudah berdiri pasangan paruh baya yang sama sekali tidak dikenal oleh Clara. Namun, melihat ada Theo yang muncul dari belakang pasangan paruh baya itu, Clara bisa menyimpulkan kalau kedua orang itu adalah orang tua Tania, mertua Bara.
Bara sontak berdiri dan berjalan menghampiri tiga orang yang baru datang itu dengan mata yang menatap sangat tajam.
"Apa ada sesuatu yang salah kalau aku melamar orang yang aku cintai, Pak Teguh?" nada bicara Bara terdengar sangat dingin. Bahkan pria itu sudah tidak memanggil Teguh dengan sebutan papa lagi.
"Tidak salah, tapi waktunya yang tidak tepat. Kami bahkan belum bercerai dengan putriku, tapi kamu sudah berani melamar wanita lain. Apa menurut kamu itu benar? itu benar-benar salah,Bara. Sekalipun yang kamu lamar itu adalah wanita yang kamu cintai," Teguh berusaha untuk menahan amarahnya dengan merendahkan intonasi suaranya.
Bara mendengus dan tersenyum smirk. "Aku tahu itu. Tapi hal ini adalah hari yang sudah sangat lama aku impikan,Pak Teguh. Aku bisa hidup bersama dengan wanita yang aku cintai, bukan dengan wanita yang selama ini selalu membuatku seperti hidup dalam neraka. Wanita yang penuh dengan drama dan kepalsuan." ucap Bara dengan bibir yang masih tersenyum miring.
Teguh mengepalkan tangannya dengan sangat kencang, berusaha menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah pria yang masih menantunya itu. Bagaimanapun dia tidak ingin menghancurkan tujuannya yang ingin memohon pada Bara agar memaafkan kesalahan putrinya dan membebaskan dari penjara.
"Nak Bara, aku rasa kamu tahu alasan kenapa Tania bisa berbuat seperti itu. Itu semua tidak lepas dari sikapmu yang dingin dan mengabaikannya. Seharusnya kamu memaklumi hal itu," ucap Teguh dengan menekan suaranya agar tidak sampai mengeluarkan nada tinggi.
Lagi-lagi Bara tersenyum sinis dan berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau masalah dia memiliki hubungan gelap, karena sikapku, mungkin masih bisa aku maklumi. Tapi bagaimana dengan perbuatannya yang berencana membunuhku dan bahkan sampai mengatakan kalau anaknya itu anak kandungku? apa hal itu masih bisa dimaklumi Pak Teguh?"
Teguh sontak terdiam, tidak bisa menjawab, karena memang kalau dia ada di posisi Bara, kemungkinan dia juga akan melakukan hal yang sama.
Setelah terdiam untuk beberapa saat, Teguh akhirnya menghela napasnya dengan sekali hentakan. Selain itu pria itu sekarang juga kesal melihat istri dan putranya yang hanya diam tidak berinisiatif untuk membantunya bicara pada Bara.
Teguh menoleh ke arah Chintya istrinya, yang sekarang justru tengah menatap Clara yang masih berdiri di dekat sofa.
Teguh yang saat itu tidak menggunakan kaca mata, tidak bisa melihat jelas wajah Clara, sehingga dia harus memicingkan matanya untuk bisa melihat Clara dengan jelas. Namun, usahanya sia-sia, dia tetap saja tidak bisa melihat jelas wanita yang dicintai oleh menantunya.
"Ma, kenapa kamu melihat dia sebegitunya? kamu harusnya bantu aku bicara dengan Bara?" bisik Teguh, tepat di telinga sang istri.
Mendengar bisikan suaminya, sontak membuat Chintya tersentak kaget.
"Aku mau bicara apa lagi. Aku rasa apapun yang akan kita katakan, sama sekali tidak ada gunanya. Tania memang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," Chintya balik berbisik tapi dengan mata yang masih tetap melirik ke arah Clara.
"Pantas saja Theo cepat tertarik dengan wanita itu. Ternyata dia sangat menarik dan wajahnya sangat teduh, menenangkan," bisik Chintya pada dirinya sendiri.
"Coba aja bicara dulu! kali aja kalau kamu yang bicara, Nak Bara mendengar dan mengabulkan permohonanmu," kembali Teguh berbisik.
"Pak Teguh, maaf sekali lagi! Bapak ataupun Tante Chintya yang bicara, keputusanku tetap tidak akan berubah." celetuk Bara yang ternyata dapat mendengar apa yang dibisikkan oleh pria paruh baya itu pada sang istri.
"Kenapa sih kamu bisa setega ini? apa kamu tidak punya rasa empati sedikitpun? kamu benar-benar pria yang tidak punya hati. Aku bisa saja menuntutmu juga, yang pernah menikah dengan wanita itu, di saat kamu masih berstatus punya istri. Bahkan kamu sampai memiliki anak. Aku yakin, kalau nama baikmu bisa hancur karena masalah itu, dan wanita yang kamu cintai itu akan dianggap wanita perebut suami orang. Kamu tidak mau kan kalau itu terjadi?" Teguh dengan senyum puas, memberikan ancaman pada Bara.
Bukannya merasa takut, Bara justru tersenyum meremehkan. "Silakan saja, kalau Pak Teguh mau menuntut. Bapak kira aku takut? justru di saat itu aku akan memberikan keterangan kalau aku bisa sampai menikah dengan Clara, itu karena aku mengalami amnesia akibat kecelakaan yang direncanakan oleh putrimu sendiri, karena ingin menutupi kehamilannya karena perselingkuhannya dengan Dito. Apa Pak Teguh kira, masyarakat itu bodoh?"
Teguh menggeram, mengepalkan tangannya, dan tidak bisa menjawab ucapan Bara.
"Tapi, kalau kamu mau langsung menikah dengan Clara cepat-cepat, di saat kamu masih berstatus suami Tania, itu sama sekali tidak dibenarkan, Nak Bara."
"Aku rasa tidak ada yang salah sama sekali, karena aku sudah meminta pengacaraku untuk mengurus perceraian dengan Tania secepatnya. Pak Teguh tenang saja, aku juga tidak bodoh, yang langsung menikah besok, tanpa bercerai dengan Tania lebih dulu. Aku akan tetap menunggu surat cerai keluar baru aku mengurus pernikahanku dengan Clara,"
Teguh Benar-benar kehilangan kata-kata. Pria paruh baya itu, merasa kalau ucapan istrinya tadi benar. Apapun yang dikatakannya pada Bara, sama sekali tidak akan ada gunanya.
Pria paruh baya itu kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara dengan berat dan panjang.
"Baiklah, Nak Bara kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu. Tapi, kalau boleh aku meminta, tolong kali ini kamu maafkan Tania. Kalau kamu mau menceraikannya, tidak masalah, aku tidak akan menghalang-halangi lagi, tapi aku mohon, tolong bebaskan Tania! kasihan Tristan yang masih butuh kasih sayang seorang ibu!" kalo ini Teguh terlihat sudah pasrah. Pria paruh baya itu pun akhirnya merendahkan dirinya untuk memohon pada Bara.
"Maaf,aku tetap tidak bisa mengabulkan permintaan Pak Teguh," sahut Bara tegas.
Teguh sontak menoleh ke arah Clara. Pria paruh baya itu, hendak memaki Clara, karena masih merasa kalau wanita itu adalah duri dalam rumah tangga putrinya dengan Bara.
Namun, mulutnya terasa kelu, ketika dengan jelas bisa melihat wajah Clara dari dekat. Kata makian yang hendak terlontar dari mulutnya seketika berhenti di tenggorokannya. Kebenciannya pada Clara menguap pergi entah kemana. Mata pria yang tadinya menatap tajam ke arah Clara, seketika berubah sendu, apalagi wanita itu juga tengah menatapnya dengan mata indahnya, mata yang mengingatkannya pada tatapan seseorang. Yang tidak lain adalah tatapan Chintya sang istri.
"Mata itu! kenapa tatapannya sangat teduh seperti Chintya? tidak heran Theo langsung tertarik pada wanita ini. Tidak heran juga, kalau Bara bisa sangat mencintainya," Teguh bermonolog pada dirinya sendiri.
"Ma, kita sebaiknya pulang saja. Papa sudah pasrah!" pungkas Teguh akhirnya sembari beranjak pergi tanpa pamit pada Bara dan Clara.
"Nak Bara, dan kamu Nak ... kami pulang dulu ya! maaf kalau kami sudah mengganggu pembicaraan kalian tadi!" ucap Chintya dengan mengulas sebuah senyuman yang sangat menenangkan.
Clara membalas senyuman Chintya sembari menganggukkan kepalanya. Wanita itu juga merasakan hal yang sama. Ada rasa tenang yang timbul di dalam hati Clara ketika melihat wajah Chintya dan Teguh.
"Sebelum Tante pulang, boleh Tante memelukmu?" celetuk Chintya tiba-tiba, membuat Clara mengrenyitkan keningnya, bingung Jangan lupakan Bara yang juga bingung mendengar permintaan Chintya yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
Melihat tatapan Chintya yang penuh harap, membuat Clara tidak sanggup menolak. "Baiklah, Tante!" pungkas Clara yang berinisiatif untuk memeluk Chintya lebih dulu.
Chintya menyambut pelukan Clara dengan hangat dan erat. Wanita itu seakan enggan untuk melepaskan tubuh Clara, dan dia tidak tahu kenapa dia bisa memiliki perasaan seperti itu.
Sementara itu, Bara tiba-tiba tanpa sengaja menoleh ke arah Theo, yang tengah tersenyum dan menatap sendu ke arah Clara. Pria itu sontak berpikir yang tidak-tidak dan takut kalau keinginan Chintya memeluk Clara, karena menginginkan wanita yang dicintainya itu menjadi menantunya.
Bara kemudian meraih bahu Clara dan menarik wanita itu ke arahnya.
"Aku rasa pelukannya sudah selesai. Clara juga tidak akan pernah menjadi menantu Tante. Karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi," ucap Bara, dingin.
Tindakan Bara itu, sontak membuat Theo emosi. Pria itu baru saja hendak melangkah untuk menghampiri Bara, tapi tangan Chintya langsung menahan pergerakan putranya itu. Wanita itu, paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya, sebagai perintah agar putranya itu tidak terpancing dan membuat keributan.
Theo kini hanya bisa mengepalkan tangannya dan langsung berlalu pergi tanpa sepatah katapun.
"Kami pamit dulu ya,Nak! Maaf kalau kedatangan kami sudah mengganggu kenyamanan kalian," ucap Chintya, yang juga langsung berlalu pergi, setelah melihat Clara menganggukkan kepalanya.
Setelah, tubuh Chintya benar-benar sudah menghilang di balik pintu, Clara sontak menoleh ke arah Bara dengan tatapan yang sangat tajam bak pisau belati yang siap menghujam jantung.
"Mas, kenapa kamu bersikap seperti itu? apa yang kamu lakukan tadi benar-benar tidak sopan. Kamu berani sekali menarikku dari pelukan Tante itu!" ucap Clara dengan berapi-api.
"Itu karena aku melihat kalau di balik pelukannya, dia punya maksud lain. Aku rasa dia menginginkanmu menjadi menantunya. Tentu saja aku tidak akan membiarkannya terjadi."
"Kenapa kamu tidak membiarkannya? lagian apa hak kamu melarangku? bagaimana kalau aku juga mau jadi menantu Tante itu?" tantang Clara.
Bara sontak mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah, rahangnya mengeras,merasa geram mendengar ucapan Clara. "Itu tidak akan pernah terjadi, karena selama aku masih hidup, aku tidak akan membiarkannya terjadi, cam kan itu!" tegas Bara, dengan napas memburu.
"Kamu tidak punya hak untuk melarang, dengan pria manapun yang akan menjadi suamiku. Walaupun kamu itu papanya si kembar. Lagian yang mengatakan kalau aku bersedia menikah denganmu lagi siapa? aku tidak mengatakan bersedia kan?"
Bara sontak bergeming, diam seribu bahasa. Hatinya seperti ada yang mencubit sehingga rasanya sangat sakit. "Maksudmu? apa kamu menolakku?" tanya Bara dengan lirih.
Clara mengembuskan napasnya dengan cukup berat dan menatap Bara dengan tatapan sendu.
"Mas,apa yang dikatakan oleh Om Teguh tadi ada benarnya. Tidak baik rasanya kalau kamu langsung menikahi wanita lain di saat kamu baru saja bercerai. Kamu akan tetap terlihat jelek di mata masyarakat. Jadi, biarkan dulu berjalan seperti biasa. Kalau kita berjodoh, suatu__"
"Tidak ada kata kalau! kita pasti akan tetap berjodoh." potong Bara dengan cepat.
" Kamu jangan terlalu memikirkan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Kalau kamu selalu memikirkan apa kata orang-orang, kapan kamu akan bahagia? perkataan orang-orang itu, seiring berjalannya waktu, juga akan hilang lambat laun," imbuhnya lagi.
Tbc