Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Membuat Tristan setuju


Sementara Bima dan Ayunda sedang asik bercocok tanam di kamar hotel, di kediaman keluarga Prayoga tampak anggota keluarga itu baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Seperti biasa di hari libur begini, setelah selesai sarapan, mereka terbiasa melakukan obrolan santai karena di waktu libur seperti ini mereka punya waktu lebih untuk bercerita dan bercanda tawa.


"Kalian semua bisa tebak gak, apa yang dilakukan Bima dan Ayunda sekarang?"celetuk Bara sembari menyeka mulutnya menggunakan tissue.


"Emm, apa ya? aku rasa tidak perlu dijelaskan kita semua sama-sama sudah tahu jawabannya," jawab Bimo yang langsung disambut tawa oleh semuanya.


"Belum tentu juga sesuai dengan yang kamu pikirkan. Karena kemungkinan juga, apapun tidak terjadi selama Bima masih belum mengungkapkan perasaannya," sambung Tristan menimpali ucapan Bimo. Semenjak Tristan tahu kalau dia benar-benar disayang oleh keluarga Prayoga dan tidak pernah menganggap dirinya orang lain, Tristan sudah terlihat tidak kaku untuk menimpali candaan. Tidak seperti dulu, yang hanya tertawa tanpa berani bercanda balik.


"Aku berani bertaruh kalau yang kamu katakan itu salah. Karena aku yakin kalau Bima pasti menggunakan powernya. Kakak tahu kan apa powernya?" ucap Bimo, ambigu.


"Apa?" tanya Bara dan Tristan bersamaan.


"The power of tatapan tajam atau tatapan menggoda. Kalau sudah begitu, aku yakin Ayunda pasti akan mengatakan, 'Ok, Bima aku serahkan semuanya padamu, lakukanlah sesuai yang kamu mau',"


Tawa di meja makan itu sontak pecah mendengar ucapan Bimo. "Buktinya sampai sekarang mereka belum ada kabar kan? mungkin Ayunda masih ditahan di kamar tidak boleh keluar," sambung Bimo lagi, membuat tawa semakin kencang.


"Ah, Bimo sudahlah! jangan bicara seperti itu! kalian tidak malu ada mama di sini?" Clara yang dari tadi diam saja akhirnya buka suara.


"Kenapa mesti malu, Ma. Kalau dulu, mungkin kami mengira kalau mau punya adik itu bisa dapat beli di toko, kalau sekarang kami sudah tahu cara pembuatannya, karena kami kan sudah dewasa," tutur Bimo.


"Sekarang Papa mau tanya, apa kalian masih ingin punya adik?"


"Nooo!" seru Tristan dan Bimo bersamaan.


"Kenapa? kalau papa mau, soalnya kalian semua sudah pada dewasa dan akan punya keluarga sendiri. Papa dan mama pasti akan kesepian," ucap Bara, dengan nada bercanda tapi sejujurnya terselip kesedihan di balik ucapannya.


"Papa tenang saja, kami akan memberikan cucu yang lucu buat mama dan Papa supaya papa dan mama tidak kesepian. Kami benar-benar akan menjadikan rumah ini, tempat penitipan anak-anak kami, saat kami bekerja,"


"Sialan! jadi maksudmu kami jadi pengasuh anak-anak kalian!" umpat Bara yang dibalas dengan tawa dari Bimo dan Tristan.


"Lagian, Papa sih bicara kesepian. Kami kan semua tidak akan pergi jauh. Mungkin akan punya rumah masing-masing, tapi kan akan tetap sering datang ke rumah ini. Jadi, Papa tidak akan kesepian," sambung Tristan menimpali ucapan Bimo.


"Pa, Ma aku punya sesuatu yang ingin dikatakan," ucap Bimo tiba-tiba di sela-sela obrolan.


Obrolan yang tadinya santai dan penuh tawa, tiba-tiba berubah serius. Semua mata menatap Bimo dengan tatapan penuh Tanya


"Kamu mau bicara apa?" alis Bara bertaut tajam.


"Mmm, aku berencana mau melamar Michelle, Pa,"


Bara dan Clara sontak saling silang pandang seakan bertanya melalui mata mereka, siapa yang lebih dulu menanggapi permintaan putra mereka itu.


"Kakakmu Bima baru saja menikah, Bimo. Apa menurutmu baik untuk langsung menikah dalam waktu cepat ini lagi?" akhirnya Clara buka suara.


"Emangnya ada yang salah ya, Ma? aku rasa pantangan menikah di tahun yang sama dengan saudara hanyalah mitos. Apa percaya dengan hal-hal seperti itu?" tanya Bimo penuh selidik.


"Mama memang tidak terlalu percaya, tapi walaupun kita tidak percaya ada baiknya kita tetap berjaga-jaga kan? mencegah lebih dulu sebelum terjadi,"


"Ma, yakinlah kalau ito hanya mitos, tidak akan terjadi apapun nantinya. Ucapan yang baik adalah doa Ma, dan begitu juga dengan ucapan yang buruk. Kalau kita berucap kalau semuanya akan baik-baik saja, niscaya semuanya akan baik-baik saja," ujar Bimo, lugas dan tegas.


Clara bergeming dan tidak mau membantah ucapan anaknya itu lagi. Sebenarnya bukan itu alasannya sebenarnya merasa berat kalau Bimo menikah, tapi ada alasan lain, yang dirinya sedikit enggan untuk mengatakannya. .


"Bagaimana, Ma, Pa, kalian setuju kan?" tanya Bimo, memastikan.


Clara kemudian menatap ke arah Bara untuk mempersilakan suaminya itu untuk memberikan tanggapan.


"Bimo, Papa tahu kalau kamu sangat mencintai Michelle, tapi kalau boleh dan kalau kamu setuju, boleh tidak kamu menikah setelah Kakakmu Tristan juga menikah?"


Ucapan Bara barusan sontak membuat mata Tristan membesar karena kaget.


"Pa, kenapa harus menunggu aku menikah lebih dulu? aku tidak masalah sama sekali kalau Bimo menikah lebih dulu," ucap Tristan keberatan.


"Kalau dia mencintaimu, dia pasti akan sabar menunggu," ucap Nada.


"Pa, bisa tidak kalian bersikap adil padaku? apa aku harus __"


"Pa, biarlah Bimo menikah lebih dulu!" Tristan yang dari tadi diam saja, menyela Bimo, sebelum adiknya itu selesai bicara. "Bukannya Papa menginginkanku untuk menikah dengan Salena? berarti masih butuh waktu yang lama, 3 atau 4 tahun lagi sampai dia menyelesaikan pendidikannya. Jadi, tidak mungkin Bimo dan Michelle menunggu selama itu," imbuh Tristan.


Karena tidak ingin membuat masalah semakin runyam, Tristan akhirnya memutuskan untuk memenuhi keinginan Bara dengan bersedia menikah dengan Salena, sebagai alasan untuk menghentikan perdebatan papa dan adiknya itu.


Bara dan Bimo membesarkan mata bersamaan, kaget dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Tristan.


"Dari mana kamu tahu, Papa menginginkanmu menikah dengan Salena? papa sama sekali tidak pernah mengungkapkan keinginan papa itu ke kamu," Bara memicingkan matanya, curiga.


"Aku yang memberitahukan dia," sahut Clara.


Bara menghela napasnya dengan sekali hentakan. Dia tidak mungkin marah pada istrinya itu.


"Tapi, itu hanya keinginan papa saja, Nak. Bahkan, Om Satya juga belum menyetujuinya. Dan lagi Papa juga tidak memaksa kamu. Papa harap kamu jangan merasa terbebani dengan keinginan papa itu. Kami membebaskanmu untuk memilih wanita yang kamu suka," tutur Bara, dengan lugas.


"Aku sama sekali tidak terpaksa, Pa. Kalau masalah Om Satya aku akan berusaha menyakinkannya. Dan untuk masalah Salena aku akan melakukan pendekatan pelan-pelan," ujar Tristan.


" Ya Tuhan, apa yang ucapkan tadi? aku bersedia menikah dengan Salena? kenapa aku bicara seperti itu sih? tapi sudah terlanjur, jadi aku harus bertanggung jawab dengan apa yang aku ucapkan. Mudah-mudahan ini jalan terbaik, untuk membuat papa dan mama setuju kalau Bimo menikah lebih dulu," bisik Tristan yang sedikit menyesali keputusannya tadi.


"Baiklah, kalau itu keputusanmu, Tristan! tapi satu yang harus kamu tahu, Papa dan Mama tidak ingin kamu melakukannya karena hanya ingin balas budi. Sekarang, sekali lagi Papa mau tanya,apa kamu yakin dengan keputusanmu tadi? papa memberikan kamu kesempatan untuk memikirkan ulang, tapi kalau kamu menjawab yang kamu sudah yakin, papa tidak mau kamu menarik kembali ucapanmu! jadi pikirkan baik-baik!" ucap Bars tegas.


Tristan tidak langsung menjawab, karena sejujurnya dia belum sepenuhnya yakin. Pria itu diam cukup lama, dan berpikir keras.


"Aku mau me ... Ya, aku sudah yakin Pa!" hampir saja Tristan ingin berubah pikiran dengan menjawab ingin menarik ucapannya tadi, tapi ketika dia ingin menjawab seperti itu, dia melihat raut wajah Bimo, sehingga akhirnya dengan tegas dia tetap pada keputusannya untuk mau dijodohkan dengan Salena.


"Baiklah, kalau begitu. papa pegang kata-katamu!"


"Iya, Pa! kalau begitu, papa harus izinkan Bimo untuk menikah lebih dulu!" Bara menganggukan kepala mengiyakan.


"Baiklah, Pa, Ma, Bimo, aku ke kamar dulu ya!" Tristan beranjak pergi setelah ketiga orang itu mengangukkan kepala.


"Yes, akhirnya kita berhasil!" sorak Bara dan Bimo sembari melakukan tos, membuat Clara mengrenyitkan kening, kebingungan.


"Jangan bilang kalian berdua, berpura-pura berdebat tadi, agar Tristan ...." Clara menggantung ucapannya, karena tanpa dia ucapkan pun, dua pria berbeda usia itu pasti sudah tahu apa yang hendak dia katakan.


"Mama benar! ternyata kami berhasil!" ucap Bimo dengan senyum lebar.


"Kalian ya, benar-benar keterlaluan!" Clara berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Tapi, Mama juga suka kan?" Bimo mengerlingkan matanya.


Clara tersenyum dan mengangukkan kepalanya. "Hanya saja, Mama kesal tidak kalian ajak kerja sama lebih dulu," Clara mengerucutkan bibirnya pura-pura kesal.


"Maaf, Ma! lain kali kalau kita ajak-ajak mama deh." Bimo merangkul Clara dari belakang.


"Oh ya, Pa, tapi aku tetap ingin melamar Michelle ya? jangan lupa akan hal itu!"


"Iya, iya!"


tbc


Oh ya, guys, kalau berkenan mampir juga di Karya temanku kak Nopani Dwi Ari yang berjudul 'Bukan Penggantin Pengganti', ya 🙏🏻