
Sementara itu, di kediaman Teguh tampak wajah pria paruh baya itu tegang, menatap tidak suka pada dua tamunya yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri,orang tua Arumi.
"Tumben kalian berdua datang ke sini. Ada angin apa? apa kalian mau menertawakanku karena Tania di penjara?" tukas Teguh dengan tatapan curiga.
Arfan, papanya Arumi hanya bisa mengembuskan napasnya, berusaha untuk tidak terpancing menanggapi tuduhan Kakaknya itu.
"Please, berhenti berpikir negatif pada orang, Kak! kedatangan kami ke sini sama sekali bukan untuk tujuan yang seperti Kakak tuduhkan tadi. Kami ke sini hanya mau bersilaturahmi saja, karena sudah lama kota tidak kumpul. Padahal kita tinggal di kota yang sama," ucap Arfan dengan seulas senyum di bibirnya.
"Sudahlah, tidak usah berbasa-basi! aku tahu tujuanmu datang ke sini bukan seperti yang kamu katakan tadi. Aku yakin, kalau tujuanmu ke sini hanya untuk melihat kehancuranku, iya kan?" lagi-lagi Teguh melontarkan tuduhan yang sama sekali tidak masuk akal.
"Kalau boleh kembali ke awal, seharusnya aku membiarkan Arumi yang menikah dengan Bara dulu, supaya putrimu saja yang merasakan apa yang dirasakan oleh Tania," lanjutnya lagi.
"Pa, sudahlah! tidak baik berbicara seperti itu! jadi seandainya Arumi yang mengalami hal yang sama seperti Tania, Papa bahagia?" tegur Chintya yang merasa tidak suka dengan ucapan Teguh suaminya.
"Padahal belum tentu yang papa pikirkan itu terjadi, karena Arumi dan Tania itu berbeda. Sikap mereka sangat bertolak belakang. Bisa saja, Bara jatuh cinta pada Arumi," imbuh Chyntia lagi.
Teguh sontak menatap tajam ke arah Chintya, merasa tidak suka dengan ucapan istrinya yang terkesan menyiratkan kalau Arumi lebih baik dari Tania, putri mereka sendiri.
"Kenapa kamu jadi membela dia? kamu ingat kan kalau Arumi selalu memfitnah Tania dari kecil? seharusnya kamu membela anak kamu sendiri, bukan Arumi!" bentak Teguh.
"Arumi tidak pernah memfitnah Tania. Justru Tania lah yang selalu memfitnah Arumi!" Mayang yang dari tadi diam saja, akhirnya buka suara karena merasa tidak suka, mendengar ucapan Teguh yang menjelek-jelekkan putrinya.
"Lagian, Tania yang Kakak bela itu sebenarnya bukan anak kandung Kakak," celetuk Mayang lagi tanpa sadar, hingga membuat Teguh dan Chintya tersentak kaget.
"Ma, kenapa kamu langsung ngomong? bukannya Arumi bilang tunggu dia datang dulu?" bisik Arfan.
"Aku benar-benar tidak sabar, Pa! aku kesal, mereka selalu saja menyalahkan Arumi dan membela Tania, anak yang tidak tahu diri itu,"cetus Mayang, yang tidak sanggup lagi menyembunyikan kekesalannya.
Sementara itu, wajah Teguh terlihat memerah dan rahangnya mengeras, merasa marah karena adik iparnya itu sudah berbicara yang tidak-tidak tentang Tania.
"Fitnah apalagi yang kalian katakan ini? tidak heran kalau Arumi, suka memfitnah, ternyata karena orang tuanya juga suka memfitnah," sindir Teguh dengan sinis.
Arfan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali, berusaha untuk menahan diri agar tidak marah pada kakaknya itu. "Terserah, kakak mau mengatakan kami tukang fitnah atau apapun itu. Yang jelas, kami bisa memastikan kalau yang Istriku katakan tadi itu benar. Bukan fitnah sama sekali. Tania memang bukan putri kandung Kakak dan Kak Chintya. Tapi, kami juga tidak tahu,dia anak siapa," sahut Arfan masih dengan intonasi suara yang lembut tapi terselip ketegasan di balik ucapannya.
"Sudahlah! aku tidak akan pernah percaya dengan apapun yang kalian katakan. Kalian tahu, pintu keluar kan? Sekarang, lebih baik kalian pergi dari rumah ini, dan jangan pernah menginjakkan kaki kalian di sini, kalau hati kalian masih penuh dengan kebusukan!" Teguh, berdiri sembari menunjuk ke arah pintu.
"Pa, sabar! jangan seperti itu! hal ini bisa kan dibicarakan baik-baik?" Chintya buka suara kembali, berusaha menenangkan suaminya.
"Tidak ada lagi yang perlu untuk dibicarakan. Mereka benar-benar sudah keterlaluan kali ini. Aku tidak peduli, sekalipun dia itu adikku, aku tetap tidak bisa terima, dia memfitnah keponakannya sendiri. Seharusnya dia membantu untuk memikirkan bagaimana caranya, agar Tania bisa bebas, atau setidaknya hukumannya ringan. Ini, dia datang ke sini malah mengatakan yang tidak-tidak. Bagaimana aku bisa bicara baik-baik lagi dengan dia. Jadi, sebaiknya usir mereka berdua dari sini!" pungkas Teguh sembari siap-siap untuk melangkah pergi.
"Tunggu, Pakde!" tiba-tiba Arumi muncul, hingga membuat langkah Teguh terhenti.
Arumi mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Teguh.
"Apa yang dikatakan Papa dan Mamaku sama sekali tidak bohong! Tania memang bukan putri kandung Pakde dan bude. Aku punya buktinya. Kalau tidak percaya, Pakde silakan lihat ini!" Arumi menyerahkan sebuah amplop berwarna putih yang merupakan amplop dari rumah sakit.
"Apalagi ini? jangan lagi mengatakan yang tidak-tidak, sampai-sampai harus membawa surat seperti ini!" Teguh sama sekali tidak menerima amplop itu dari tangan Arumi.
"Aku tidak mengatakan yang tidak-tidak,Pakde! Coba Pakde lihat dulu isi amplop ini!" Arumi tanpa segan, langsung meraih tanga Teguh dan meletakkan amplop itu di tangan pakdenya itu.
Walaupun, Teguh merasa enggan, entah dorongan dari mana, pria paruh baya itu tetap saja membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata hasil test DNA antara dirinya dengan Tania. Tampak jelas di surat itu, kalau hasilnya negatif.
"Apa-apaan ini? hasil test ini kamu sabotase kan? karena tidak mungkin, kalau Tania bukan anakku. Aku yang sudah membesarkan dia dari bayi, dan tidak mungkin aku salah!". Teguh dengan cepat merobek hasil test itu.
Mata Arumi membesar dan mulutnya terbuka melihat tindakan Teguh yang merobek hasil test itu. Dia kira kalau pakdenya itu akan langsung percaya, ternyata dugaannya salah.
"Pakde, cobalah berpikir positif padaku! hasil test itu asli. Sumpah demi apapun, aku tidak pernah menyabotasenya. Alasan kenapa aku berniat melakukan testnya, karena aku menemukan wanita pemilik kalung ini. Yang menurut orang yang membesarkannya, kalung ini tergantung di leher bayi perempuan itu yang ditemukannya, 29 tahun lalu." Arumi mengeluarkan sebuah kalung dari dalam tasnya.
"Da-dari mana kamu dapatkan kalung ini?" tanya Teguh dengan terbata-bata.
"Dari Bimo!" sahut Arumi singkat.
"Bimo?" Teguh mengrenyitkan keningnya, bingung. "Apa hubungannya kalung ini dengan Bimo?" imbuhnya.
"Karena bayi perempuan pemilik kalung itu, adalah Clara, mamanya Bimo!" tegas Arumi yang membuat Teguh dan Chintya tersentak kaget.
"Bimo mendapatkan kalung itu dari seorang wanita, yang ikut andil membesarkan Clara. Wanita itu mengatakan kalau kemungkinan kalung itu bisa memberikan petunjuk, siapa orang tua kandung Clara. Makanya, aku curiga kalau Clara lah sebenarnya anak kandung Pakde dan Bude. Ternyata dugaanku benar. Dari hasil test DNA antara Pakde dan Clara hasilnya, 99,9 persen, positif," Clara kembali menyerahkan sebuah amplop dari rumah sakit yang sama.
Dengan tangan gemetar, Teguh menerima amplop itu dan melihat isinya. "Ja-jadi, Clara itu adalah putri kandungku?" gumam Teguh dengan lirih.
"Iya, Pakde! aku berani bersumpah demi apapun, kalau aku tidak memalsukan hasil test itu," dengan sangat tegas, Arumi berusaha meyakinkan kakak laki-laki papanya itu.
"Ta-tapi apa benar sample yang kalian ambil untuk melakukan test adalah punyaku bukan orang lain?" alis Teguh kembali bertaut tajam, tidak langsung percaya begitu saja.
"Tentu saja samplenya asli milik anda Pak Teguh, karena aku sendiri yang mengambilnya." celetuk seseorang yang tidak lain adalah Satya. Pria itu ternyata sudah tiba dan mendengar semua pembicaraan yang ada di ruangan itu.
"Anda ingat ketika tangan anda berdarah karena sangat marah, di hari di mana Tania dimasukkan ke penjara? di saat itulah aku mengambil sampel darah anda," terang Satya, dengan seulas senyuman tipis di bibirnya.
Teguh sontak terdiam. Ingatan di saat kejadian yang dikatakan oleh Satya, sontak berkelebat di kepalanya.
"Apa ini jawaban, kenapa di saat aku melihat wajah Clara, aku tidak bisa marah pada wanita itu? apa karena dia benar-benar anakku makanya dia bisa memiliki tatapan dan senyuman seperti Chintya?" bisik Teguh pada dirinya sendiri.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Chintya. Wanita itu, akhirnya menemukan jawaban kenapa ketika dia melihat Clara, ada keinginan untuk memeluk wanita itu. Dan Chintya akhirnya menyadari, kenapa juga Theo putranya, sampai timbul keinginan untuk melindungi wanita itu. Hal itu ternyata naluri seorang kakak yang ingin melindungi adik perempuannya.
"Tapi, kenapa ini bisa terjadi? kalau Tania bukan anakku, siapa orang tuanya? dan bagaimana bisa dia bisa aku besarkan sedangkan anakku sendiri dibesarkan oleh orang lain?" gumam Teguh yang masih bisa didengar oleh orang-orang yang berada di tempat itu.
"Kalau masalah, siapa orang tua Tania yang sebenarnya, maaf, Pakde, aku sama sekali tidak tahu," sahut Arumi dengan lirih.
"Tapi, aku tahu siapa orang tua, Tania sebenarnya," celetuk Satya dengan raut wajah datar, tapi sanggup membuat semua yang berada di tempat itu tersentak kaget, terlebih Arumi.
"Kamu tahu? kenapa bisa?" tanya Arumi dengan alis bertaut.
Satya tersenyum miring dan misterius. "Kamu mau tahu kan, alasan kenapa aku memintamu untuk menunda agar jangan langsung menemui Pak Teguh? inilah alasannya. Bimo memintaku untuk lebih dulu menyelidiki siapa orang tua Tania dan menyelidiki alasan kenapa mamanya dulu ditukar dengan Tania dan dibuang ke luar kota. Karena Bimo mengatakan, kalau kita melakukan sesuatu hal, harus tuntas sampai ke akar-akarnya. Jadi, kenapa aku memintamu untuk menunda, ya karena aku harus melakukan penyelidikan lebih dulu," tutur Satya, menjelaskan panjang lebar.
"Apa? jadi Bimo yang memintamu untuk melakukannya? pemikiran anak itu benar-benar menakjubkan. Dia selalu bisa berpikir di luar kotak. Benar-benar tidak terlihat seperti anak kecil," Arumi berdecak kagum.
"Jadi,siapa orang tua Tania sebenarnya Nak Satya?" kali ini Arfan yang buka suara.
"Kalian semua mengenalnya. Ibu Tania selama ini bekerja di rumah kalian Pak Teguh. Dia asisten rumah tangga anda yang membantu membesarkan Tania dari kecil,"
Ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Satya, sontak membuat semua yang berada di tempat itu tersentak kaget. Bayangan di mana asisten rumah tangga mereka itu sangat telaten merawat Tania, dan selalu bersikap berlebihan langsung berkelebat di kepala mereka.
"Aku sudah menyelidikinya dan pembantu kalian itu sudah mengakuinya padaku. Kenapa aku bisa yakin kalau dia adalah ibu kandung Tania, itu karena aku curiga dengan kecemasannya yang berlebihan sampai-sampai dia datang ke penjara untuk memastikan kalau Tania baik-baik saja. Padahal, kalian belum mendatangi kantor polisi, tapi dia sudah ke sana lebih dulu." jelas Satya lagi, yang semakin membuat yang lainnya kaget.
"Tapi, kalian jangan menyalahkannya, karena yang menukar bayi kalian dulu Sebenarnya bukan dia, melainkan almarhum suaminya yang lebih dulu juga bekerja pada keluarga ini. Suaminya dengan sengaja menukar saat masih di ruangan bayi rumah sakit sebelum anda melihat wajah anak kalian. Tujuannya, menukar bayi kalian, hanya ingin melihat putri mereka bisa hidup layak. Makanya ketika Tania ada di tangan Pak Teguh dan Ibu Chintya, pembantu itu datang melamar untuk bekerja di rumah ini. Tujuannya agar dia bisa merawat Tania. Asisten rumah tangga kalian itu sebenarnya tidak ingin hal ini terjadi, tapi dia tidak bisa membantah ucapan suaminya," lanjut Satya lagi menjelaskan.
"Ini, hasil test DNA antara Tania dengan asisten rumah tangga Pak Teguh. Hasilnya memang positif," Satya memberikan amplop putih berisi hasil test DNA Tania dengan pembantu rumah tangga Teguh.
Teguh, bergeming. Berdiri terpaku di tempat dia berdiri dengan tangan yang bergetar saat melihat hasil test DNA di tangannya. Pria paruh baya itu benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, melihat hasilnya seperti yang dikatakan oleh Satya.
Tbc