Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Clara tahu yang sebenarnya


Clara dan Bara berjalan memasuki rumah Teguh yang sepertinya memang sengaja dibuka.


Sebelum mencapai pintu, Bara tiba-tiba menahan tubuh Clara, hingga membuat langkah Clara terhenti.


"Ada apa, Mas?" Clara mengrenyitkan keningnya.


"Emm, kamu benar-benar tidak akan berubah pikiran kan?" ulang Bara, memastikan. Sumpah demi apapun, pria itu benar-benar khawatir kalau Clara berubah pikiran, karena dia tahu bagaimana lembutnya perasaan wanita itu.


Melihat kekhawatiran Bara, Clara sontak menerbitkan seulas senyum manis, di bibir tipisnya.


"Mas, tenang saja. Aku janji kalau aku tidak akan berubah pikiran. Aku kan sudah bilang kalau aku tidak mau membuat anak kita kecewa," sahut Clara dengan sangat yakin.


"Baiklah, aku pegang kata-katamu!" pungkas Bara, pasrah. Walaupun, sebenarnya di dalam hatinya masih ada rasa khawatir.


"Hei, ternyata kalian berdua sudah sampai. Kenapa kalian berdua belum juga masuk?" tiba-tiba Arumi sudah berdiri di ambang pintu.


"Ini kami mau masuk." ucap Clara, sembari melanjutkan langkahnya.


Di saat bersamaan, sebuah mobil masuk ke area pekarangan rumah Teguh dan berhenti tepat di samping mobil Bara.


Bara, Clara dan Arumi sontak melihat ke arah mobil. "Apa kondisi Tante Chintya, parah sampai Kak Theo juga harus pulang?" bisik Clara tepat di telinga Arumi.


Ya, mobil yang baru masuk itu adalah mobil Theo, pria yang belakangan ini gencar mendekati Clara.


"Kamu lihat sendiri saja nanti di dalam. Kamu akan tahu jawabannya," sahut Arumi, ambigu.


Sementara itu, Bara menatap tajam penuh permusuhan ke arah Theo yang berjalan menghampiri mereka. Sebuah pikiran negatif langsung singgah di pikirannya.


"Apa nanti Tante Chintya akan meminta Clara untuk menikah dengan laki-laki ini? kalau iya, aku tidak akan membiarkan itu terjadi," bisik Bara pada dirinya sendiri.


"Kenapa kalian semua berdiri di luar? apa yang sebenarnya terjadi pada mama, Arumi?" cecar Theo begitu dirinya sudah berada tepat di depan tiga orang itu.


Arumi sontak memasang wajah sedih dan menghela napasnya dengan cukup berat.


"Kalau mau tahu jawabannya, lebih baik kita masuk sama-sama!" lagi-lagi Arumi memberikan Jawa yang ambigu, hingga membuat yang ada di tempat itu, merasa bingung sekaligus khawatir.


Arumi kemudian berjalan lebih dulu, masuk ke dalam disusul oleh Bara dan Clara serta Theo.


Begitu masuk ke dalam, Bara, Clara dan Theo mengreyitkan kening, bingung melihat Chintya wanita yang mereka khawatirkan, sedang duduk tenang, dan terlihat baik-baik saja. Namun, mata wanita itu menatap Clara dengan mata yang berkaca-kaca, seperti ingin menangis. Bukan hanya wanita itu, pria yang duduk di sampingnya juga menatap Clara dengan tatapan sendu.


"Lho, bukannya kata Arumi mama pingsan? tapi kenapa mama terlihat baik-baik saja? ada apa ini?" cecar Theo beruntun.


Chintya tidak menjawab sama sekali. Wanita paruh baya itu justru berdiri dan melangkah menghampiri Clara, yang juga tampak kebingungan.


Setelah berdiri di depan Clara, tangan Chintya terulur menyentuh pipi wanita itu dan juga membelainya dengan lembut. Cairan bening di matanya yang dari tadi berusaha dia bendung, kini sudah tidak bisa ditahan lagi. Pipi wanita itu, kini sudah biasa. Tanpa memperdulikan kebingungan Clara, Chintya dengan penuh kerinduan langsung menarik tubuh Clara ke dalam pelukannya.


Mendapat perlakuan yang sangat membingungkan, Clara sedikit bergerak untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Chintya.


"Maaf, kalau sempat membuatmu panik, Nak. Sebenarnya Mama baik-baik saja. Mama yang memintanya untuk mengatakan hal seperti itu, supaya kamu langsung datang ke sini," ucap Chintya dengan suara yang bergetar.


"Mama? kenapa dia seakan-akan, menyebut dia mamaku? apa Tante Chintya benar-benar sudah stres dan menganggap aku Tania?" bisik Clara pada dirinya sendiri.


Berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Clara, Bara justru sudah berpikir yang tidak-tidak. Dia merasa kalau Chintya ingin Clara memanggilnya Mama, karena dia sangat menginginkan wanita yang dia cintai itu jadi menantunya.


"Mama, apa Mama sadar dengan apa yang baru saja mama ucapkan? dia itu Clara bukan Tania," celetuk Theo mencoba mengingatkan. Pemikiran pria itu sama seperti Clara, yang mengira wanita paruh baya itu, stress karena kejadian yang menimpa Tania.


"Mama tidak salah dan sepenuhnya sadar dengan yang mama ucapkan, Theo. Mama sadar kalau dia ini Clara bukan Tania. Kenapa Mama__"


"Jangan bilang, Ibu Chintya menginginkan Clara jadi menantu anda, makanya anda menginginkan Clara memanggil anda Mama! Dengar ya, Ibu Chintya, aku bisa pastikan kalau aku tidak akan membiarkannya, karena dia itu ditakdirkan untukku!" sebelum Chintya selesai dengan ucapannya, Bara sudah lebih dari menyela.


Mendengar ucapan Bara yang tegas, sebuah senyuman sontak terbit di bibir Chintya.


"Dia memang sudah ditakdirkan untukmu, Nak Bara, bahkan ketika kalian berdua masih bayi." ucap Chintya ambigu.


"Kalian berdua sudah dijodohkan dari kecil, Nak Bara. Karena sebenarnya Claralah, anak mama bukan Tania,"


Ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Chintya sontak membuat Clara, Bara dan Theo tersentak kaget.


"Ma-maksud Tante apa? siapa yang Tante maksud anak Tante?" ucap Clara dengan suara yang bergetar.


"Iya, Ma. Bagaimana bisa Mama mengatakan kalau Clara anak Mama? Apa Mama benar-benar sudah stres?" sambung Theo menimpali ucapan Clara.


"Kak Theo. Bude tidak stress dan apa yang dikatakan bude itu benar. Clara memang anak kandung Pakde dan bude. Yang berarti Clara itu adikmu," Arumi akhirnya buka suara setelah dia hanya menjadi pendengar tadi


Theo mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya masih belum percaya. "Lelucon apa yang kalian katakan ini? ini benar-benar tidak lucu," nada suara Theo sudah mulai meninggi.


"Theo, Clara memang adik kandungmu. Sedangkan Tania 'bukan'. Dia itu ternyata anak bibi Minah. Dulu, almarhum suaminya menukar Clara dengan Tania dengan tujuan agar Tania bisa mendapat hidup yang layak," kali ini Teguh yang buka suara.


Theo tercenung, demikian juga dengan Clara. Tidak ada yang buka mulut, karena bagi mereka apa yang baru saja mereka dengar itu, benar-benar sangat membingungkan.


"Kenapa kamu diam saja, Nak? kamu memang benar-benar anak kami. Mama dan Papa tidak berbohong," ucap Chintya sembari menyeka air matanya yang masih terus merembes keluar.


"Iya, Clara. Bude Chintya benar. Kamu memang anak kandung Pakde Teguh dan Bude Chintya, yang berarti kamu adalah sepupuku," Arumi kembali buka suara, menimpali ucapan Chintya.


Clara menggeleng-gelengkan kepalanya, masih sukar untuk percaya. Melihat ekspresi Clara yang masih tidak percaya itu, Arumi kemudian menceritakan mengenai cerita Bimo yang diberikan kalung oleh wanita bernama Munah. Yang mana merupakan kalung yang bisa mengungkapkan identitas Clara yang ternyata bukan cucu kandung almarhum wanita yang dia panggil nenek dari dulu. Arumi juga tidak lupa menunjukkan bukti hasil test DNA antara Teguh dan Clara yang mengatakan hasil yang positif. Demikian juga dengan hasil test DNA Tania dengan Teguh yang hasilnya negatif. Semuanya diceritakan oleh Arumi tanpa menambahi dan tanpa mengurangi.


Mendengar cerita Arumi, Clara tidak bisa lagi menahan air matanya. Wanita itu sontak kembali menatap Chintya yang juga menatapnya penuh dengan kerinduan.


"Kamu tidak mau memeluk mamamu ini sekali lagi, Nak?"


tbc