Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kembali ke Indonesia


Pesawat yang dinaiki oleh Bima mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta dengan selamat setelah berada di atas udara selama lebih kurang 20 jam an.


Setelah mengambil bagasi Bima pun berjalan keluar. Setelah keluar, Bima tersenyum tipis seraya menghirup udara Indonesia dalam-dalam.


Di saat bersamaan, pria itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru seperti sedang mencari seseorang.


"Tuan Bima! Apa anda ini tuan Bima?" tanya seorang pria paruh baya, yang memiliki tubuh yang kurus.


Bima, menurunkan sedikit kaca mata hitamnya,untuk melihat lebih jelas siapa pria di depannya itu.


"Kamu siapa?" tanya Bima, dingin.


"Oh, namaku Dahlan, Tuan! Aku diminta sama Tuan Radit untuk menjemput, anda!" pria yang bernama Dahlan itu menjawab dengan gugup, karena sikap Bima yang sangat dingin.


"Oh, tidak perlu! Sekarang kamu pulang saja, aku akan naik taksi," tolak, Bima.


"Tapi, Tuan, aku ...."


"Kamu tunggu sebentar! Aku akan telepon Radit," Bima merogoh sakunya untuk menghubungi pria bernama Radit.


"Hmm, nomor ponselku belum aku rubah ke provider Indonesia. Apa kamu bisa pinjamkan handphonemu?" Bima kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Bo-boleh, Tuan!" Dahlan memberikan handponenya dengan tangan bergetar.


"Kamu coba hubungi dia, setelah tersambung baru kamu kasih ke aku!" suara Bima terdengar biasa saja, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan aura pemimpin di diri pria tampan itu


"Halo, Pak Dahlan. Kamu sudah bertemu Tuan Bima?" terdengar suara seorang pria dari ujung sana.


"Ini aku," sahut Bima singkat.


"Oh,ini kamu Bim? Berarti kamu sudah dengan Pak Dahlan ya? Kamu langsung ke__"


"Aku langsung pulang ke rumah," belum selesai pria di ujung sana bicara,Bima sudah menyela lebih dulu. "Dan aku akan naik taksi." imbuh Bima lagi.


"Kenapa? Bukannya Pak Dahlan udah ada di sana? Kenapa kamu malah milih naik taksi? Kamu masih waras kan?"


"Kamu bisa diam tidak? Aku kan tidak ada memintamu untuk menyuruh orang menjemputku?"


"Iya deh iya. Kalau begitu kamu minta Pak Dahlan untuk kembali lagi!" pungkas Radit akhirnya mengalah.


"Kamu bicara saja sendiri!" tanpa menunggu jawaban dari Radit, Bima langsung memberikan handphone ke tangan Pak Dahlan. Tapi, dia masih sempat mendengar umpatan Radit di ujung sana dan dia sama sekali tidak peduli.


"Baik, Tuan Radit, saya pulang sekarang!". Dahlan kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya setelah panggilannya dengan pria bernama Radit itu selesai.


"Tuan Bima, sebelum saya pulang, apa, Tuan butuh saya untuk memanggil taksi untuk Tuan?" tanya Dahlan kembali, dengan sopan.


"Tidak perlu, Pak Dahlan. Bapak boleh pulang sekarang. Terima kasih buat tawarannya!"


Pak Dahlan menganggukkan kepalanya dan setelah itu pamit pada Bima, lalu beranjak pergi.


"Eh, Pak Dahlan tunggu dulu!" Dahlan yang nyaris saja jauh, langsung menghentikan langkahnya dan kembali memutar tubuhnya.


"Ada apa, Tuan?" tanya pria paruh baya itu, sopan.


"Kamu jangan pergi dulu! Kamu tunggu di sana menunggu perintah dariku!"


Walaupun Pak Dahlan bingung dengan sikap Bima yang berubah-rubah, tapi pria paruh baya itu tetap mengganggukkan kepalanya tanpa berani bertanya.


Ketika hendak melanjutkan langkahnya, tiba-tiba dia melihat seorang pria paruh baya yang sangat dia kenal yakni Adrian, datang bersama dengan istri dan anak laki-lakinya.


Bima seketika memutar kembali tubuhnya dan menatap ke arah lain, sampai keluarga Ayunda itu melewatinya.


"Papa juga kangen," sahut Adrian,sembari tersenyum. Hal yang sama juga dikatakam oleh mamanya Ayunda. Ya, wanita yang baru datang itu adalah Ayunda. Pendidikannya sudah selesai dan dia diharuskan pulang kembali ke Indonesia.


"Kak, apa aku makhluk tidak kasat mata di sini? Apa kamu hanya melihat papa dan mama?" celetuk seorang pemuda yang berdiri dengan tangan bersedekap di dada dan wajah yang ditekuk, pura-pura kesal.


"Ma, siapa dia? kenapa ada pengeran di sini? aku tidak mimipi kan?" bukannya menyahuti ucapan pemuda itu, Ayunda justru menggoda dengan cara menghampiri pria itu dan membelai-belai wajahnya.


"Sana, sana jauh! Hush ... Hush, geli tahu!" pemuda yang tidak lain adalah Arya adik laki-laki yang kini berusia 22 tahun itu,mendorong pelan tubuh Ayunda dan bergidik geli.


Tawa Ayunda sontak pecah melihat ekpresi wajah adik laki-lakinya itu.


"Apa kabar adikku sayang?" setelah puas tertawa, akhirnya Ayunda memeluk tubuh Arya juga.


"Seperti yang kakak lihat, aku baik-baik saja, dan yang pastinya semakin tampan,"


Ayunda sontak berdecih dan mengembuskan napas kesal. "Cih, kamu berkata seperi itu seakan kita itu sudah bertahun- tahun tidak ketemu,makanya bisa berubah drastis Padahal dua minggu lalu kita udah bertemu di London. Kamu kira kamu ada bedanya dengan dua mingu yang lalu? Sama saja kali," Ayunda mengerucutkan bibirnya kesal.


Tawa Arya sontak pecah, melihat ekpresi kesal kakak perempuannya itu. "Ada perbedaannya lah. Baju yang aku pakai di sana, kan bukan yang aku pakai sekarang. Jadi ada bedanya," Arya tidak mau kalah, membuat tawa Ayunda kembali pecah.


"Sudah, sudah. Sekarang kita pulang ke rumah. Kalau kalian mau berdebat, kalian bisa melanjutkan kembali di rumah,Tiara mamanya Ayunda buka suara kembali, menghentikan perdebatan ke dua anaknya.


"Ayo, Ma!" Ayunda langsung menggandeng tangan mamanya itu.


"Lepaskan tangan mamaku! kamu gandenga tangan papa kamu saja!" Arya menyingkirkan tangan Ayunda dari mama mereka berdua.


"Cih, dia mamaku juga kalau kamu lupa," cetus Ayunda tapi, tetap meraih tangan Adrian untuk digandeng. Sementara itu, Tiara hanya bisa berdecak dan menggeleng-gengkan kepalanya,melihat kelakuan kedua anaknya.


Mereka berempat, akhirnya mengayunkan kaki, melangkah menuju di mana mobil Adrian terparkir.


Saat melewati tempat di mana Bima berdiri, tanpa sengaja, mata Ayunda menoleh ke arah pria itu. Hal itu tentu saja membuat Bima langsung memutar tubuhnya membelakangi Ayunda dan keluarganya.


"Emm, apa itu Bima?" bisik Ayunda pada dirinya sendiri tanpa melepaskan pandangannya dari pria itu.


"Ayu, kamu lihat apa? Kenapa jalannya berhenti?" tegur Adrian yang merasa tangan Ayunda sudah lepas dari rangkulan tangannya.


Ayunda tersentak kaget dan kembali tersenyum sembari berlari kecil ke arah papanya itu. "Tidak ada apa-apa kok, Pa. Cuma tadi aku seperti melihat teman SMA-ku dulu. Tapi, sepertinya aku salah orang," ujar Ayunda dengan bibir yang tersenyum manis.


Ayunda kembali menggandeng tangan papanya dan melanjutkan langkahnya. Namun sesekali,wanita itu masih menoleh ke belakang, karena masih penasaran dengan sosok pria yang entah kenapa dia yakin adalah Bima. "Tapi, tidak mungkin itu dia. Mungkin itu hanya perasaanku saja," gumam Ayunda yang tentu saja dapat didengar oleh Adrian.


"Itu memang Bima. Kamu tidak salah lihat! Ternyata 6 tahun kepergianmu belum bisa melupakannya," ucap Adrian, yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati. Ya,sebenarnya di awal kedatangan mereka ke bandara untuk menjemput Ayunda, Adrian sudah melihat sosok Bima dari jauh, tapi dia hanya pura-pura tidak tahu saja.


Sementara itu, setelah Ayunda dan keluarganya benar-benar jauh, Bima baru memutar tubuhnya melihat ke arah empat orang itu.


Setelah itu,dari arah tempat Ayunda keluar tadi, tampak beberapa pria, sekitar 4 orang datang menghampiri Bima dan membungkukkan badan mereka di depan Bima.


"Kalian semua sudah aku siapkan apartemen untuk tempat kalian tinggal. Kalian akan diantarkan oleh pria itu ke sana!" Bima menunjuk ke arah Dahlan yang masih setia. Menunggu.


"Baik,Tuan!" sahut empat orang itu, hampir bersamaan.


Setelah itu, Bima melambaikan tangannya memanggil Dahlan,dan pria paruh baya itupun berlari ke arah Bima.


"Pak Dahlan, tolong kamu antarkan mereka ke alamat ini. Dan pastikan antar mereka sampai masuk ke dalam apartemen. Kamu bilang saja kalau kamu diperintahkan oleh Bima!"


Dahlan menganggukkan kepala, mengiyakan.


Setelah memastikan empat pria yang merupakan anak buahnya itu pergi, Bima kemudian mencegat taksi dan meminta supir untuk membawanya ke kediaman keluarga besar Bara.


Tbc