Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Keputusan Bima


Mobil yang dikemudikan oleh Bima kini sudah tiba di depan kediaman Adrian. Pria itu nekad datang sendiri tanpa didampingi oleh Bara maupun Clara. Bukannya Clara dan Bara tidak mau datang, tapi Bima yang secara gentle berniat untuk datang, untuk menyelesaikan kesalahpahaman


Ya, setelah penuh pertimbangan, akhirnya Bima tidak bisa lagi membantah ucapan kedua orangtuanya untuk mempersunting Ayunda menjadi istrinya. Di hari yang sama saat kejadian, Bima pun langsung berniat menemui Adrian ke kediamannya.


"Ada apa kamu datang kemari? kalau kamu hanya mau meminta maaf, lupakan saja niat kamu itu!" Adrian memasang wajah dingin.


"Sebenarnya aku datang ke sini bukan mau mengakui kesalahan dan mencari pembelaan, Om. Karena kalau aku melakukannya, berarti sama saja aku mengakui kalau aku sudah melakukan tindakan asusila pada Ayunda. Aku berani bersumpah kalau aku tidak melakukan apapun pada Ayu. Tapi sebagai seorang pria sejati, aku tetap datang ke sini untuk menyampaikan niatku untuk menikah dengan Ayu, karena aku tahu kalau Ayu itu sangat berharga pada Om dan Tante," ucap Bima tegas dan lugas.


"Apa, mama dan papamu yang memintamu kemari?"


"Kalau aku mengatakan tidak ada hubungannya dengan mama dan Papa, itu berartiaku bohong. Mama dan Papa memang yang memintaku untuk menikah dengan Ayu, tapi jujur aku aku datang ke sini juga karena memang niat dari hatiku bukan hanya karena permintaan mama dan Papa,"


Adrian tersenyum samar, bahkan hampir tidak terlihat, melihat ketegasan pria yang memang sangat dia harapkan jadi menantunya itu. Namun keinginannya itu berusaha tidak terlalu dia tunjukkan di depan putra sahabatnya itu.


"Sebenarnya aku masih kesal dengan apa yang terjadi, walaupun kamu masih tetap dengan pendirianmu, yang kamu tidak melakukan apa-apa pada putriku. Aku ingin percaya, tapi entah kenapa aku masih lebih percaya dengan apa yang aku lihat. Tapi,melihat niat dan tanggung jawabmu, hatiku akhirnya luluh. Aku percaya kalau kamu bisa menjaga dan melindungi putriku dengan baik, Bima," Tutur Adrian.


"Terima kasih, Om." sahut Bima, singkat. Sementara itu dari tempat yang tidak terlalu jauh dari Adrian, tampak Arya yang menatap Bima dengan tatapan sengit. Pemuda itu sepertinya masih belum bisa menerima permintaan Bima.


Bima kemudian bangun berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah, Om! aku mau pamit dulu. Aku akan membicarakan hal ini lagi dengan mama dan Papa. Secepatnya kami akan datang melamar Ayu dengan resmi," ucapnya dengan sopan.


"Baiklah! tolong bicarakan baik-baik dengan mama dan papamu. Lalu berikan kami kabar kapan kalian datang melamara," Bima mengangguk mengiyakan dan berlalu pergi.


Di saat bersamaan Tiara mamanya Ayunda turun dari atas dan duduk tepat di samping Adrian.


"Bagaimana Ayu sekarang?" tanya Adrian.


"Dia masih belum mau membuka pintu kamarnya. Berulang kali aku ketuk, dia tetap tidak mau buka. Kamu sih, Pa terlalu keras ke Ayu. Dia bahkan belum makan dari tadi," ucap Tiara memasang wajah khawatir.


"Sudahlah, tidak perlu terlalu khawatir, nanti kalau dia sudah tenang dia akan keluar sendiri dari kamarnya. Dia tidak akan bisa menahan lapar," ucap Adrian menenangkan istrinya.


"Jadi, bagaimana kelanjutannya?" tanya Tiara, antusias.


" Semua berjalan sesuai dengan rencana," senyum yang dari tadi berusaha ditahan oleh Adrian kini ia keluarkan dengan lebar, membuat Arya bingung.


"Aku mau menghubungi Bara dulu!" Adrian meraih ponselnya dengan wajah berbinar membuat Arya semakin kebingungan.


"Heh, bukannya tadi Papa sangat marah dengan Om Bara, tapi kenapa sekarang terlihat seperti tidak terjadi apa-apa?" Arya bertanya pada hatinya sendiri yang sayangnya ia tidak menemukan jawaban sama sekali.


"Halo, Adrian! bagaimana? apa Bima sudah ke sana?" terdengar suara Bara dari ujung sana, yang terdengar seperti biasa, seakan tidak terjadi masalah apapun. Hal itu tentu saja membuat Arya semakin bingung. Bagaimana Arya bisa mendengar suara Bara? tentu saja karena Adrian papanya, mengaktifkan speaker.


"Tapi, sumpah aku kasihan pada Bima tadi,


"Kamu pikir aku tidak kasihan juga pada Ayu? Aku kasihan juga. Bahkan sekarang dia masih mengurung diri di kamar dan bilang aku egois. Tapi, mau gimana lagi? anakmu itu harus harus dihajar dengan cara itu. Kalau tidak dia pasti akan tetap dengan tekadnya." tutur Adrian.


"Sudahlah, yang penting sekarang rencana kita untuk menyatukan Bima dan Ayu sudah berhasil. Mudah-mudahan memang ini jalan yang terbaik walaupun diawali dengan kebohongan kita," pungkas Bara yang diangguki kepala oleh Adrian, tidak sadar kalau Bara tidak bisa melihat gerakan kepalanya.


Setelah mereka selesai berbicara panjang lebar, akhirnya panggilan mereka pun berakhir.


"Pa, jadi ini semua rencana kalian semua?" baru saja Adrian meletakkan ponselnya di atas meja, Arya sudah mencecar Adrian papanya. Akhirnya setelah mendengar pembicaraan kedua pria paruh baya itu, Arya bisa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Adrian tidak memberikan jawaban, tapi pria itu menganggukan kepalanya, mengiyakan.


"Astaga, Pa! bagaimana kalian bisa setega itu melakukan hal licik agar keinginan kalian untuk tetap besanan tercapai? apa papa tidak merasa kalau yang papa lakukan itu salah? papa tahu sendiri kan kalau Bima itu sama sekali tidak menyukai Kak Ayu?" Arya terlihat mulai berapi-api.


"Arya, Papa tahu yang papa lakukan dan Papa tahu kalau ini yang terbaik,"


"Terbaik untuk siapa? terbaik untuk papa dan Om Bara maksudnya? Pa, Kak Ayu tidak akan pernah bahagia kalau pria yang menjadi suaminya tidak mencintainya sama sekali. Papa sadar nggak sih kalau yang papa lakukan ini tindakan yang egois? Dengar Pa, aku tidak akan membiarkan pernikahan mereka terjadi. Bagaimanapun aku akan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka, karena aku tidak mau melihat Kak Ayu terluka terus-terusan hidup dengan pria dingin itu!" Arya berdiri dari tempat duduknya dengan napas yang memburu, lalu bergerak hendak melangkah pergi.


"Tunggu! kamu mau kemana?" Arya, berhenti melangkah dan menoleh ke arah Adrian.


"Aku mau pergi. Aku kecewa sama Papa,"


"Papa paham kalau kamu kecewa, tapi kamu juga perlu tahu alasannya kenapa papa mau bekerja sama dengan Om Bara, Bimo dan Tristan untuk menjebak Bima dan Ayu. Apa kamu mau tahu alasannya?"


Arya diam saja, tidak mengiyakan ataupun menolak. Tapi, dari raut wajah pemuda itu, bisa dipastikan kalau ia tidak keberatan untuk mengetahui alasan papanya melakukan hal yang dianggapnya tega itu.


Melihat antusias yang ada di wajah Arya, Adrian pun akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya dengan detail tanpa ditambahi maupun dikurangi.


"Oh, jadi itu alasannya, Pa?" Adrian menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Jadi selama ini sikap Kak Bima selama ini ke Kak Ayu hanya pura-pura?" lagi-lagi Adrian menganggukkan kepalanya.


Adrian juga akhirnya menceritakan kalau sebenarnya Bima selama ini selalu menjaga Ayunda, walaupun mereka terpisah jarak.


Mendengar penuturan papanya, pandangan buruk Arya terhadap Bima luruh seketika, berganti dengan rasa kagum dan terima kasih.


"Apa kamu pikir Papa bisa setega itu membiarkan putri papa tidur semalaman di ranjang yang sama dengan pria yang bukan suaminya? tapi karena papa tahu, kalau laki-laki itu adalah Bima, papa percaya dan merasa tenang, tidak akan terjadi apapun pada kakakmu, dan itu terbukti. Dari mana Papa bisa tahu? itu karena Bimo tetap mengirimkan video kegiatan mereka di kamar itu ke papa. Jadi, papa minta kamu tetap merahasiakan ini semua dari Ayu. Kamu juga jangan cerita tentang perasaan Bima pada kakakmu itu. Biarkan Bima sendiri yang membuat pengakuannya nanti!" pungkas Adrian, mengahiri penjelasannya.