
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tampak sebuah mobil berwarna abu-abu memasuki pekarangan rumah keluarga Prayoga. Setelah mobil itu berhenti dengan sempurna, sang pemilik mobil yang tidak lain adalah Bimo keluar dari dalam mobil dengan raut wajah yang bisa dikatakan murung. Kalau biasanya dia selalu menyapa satpam, Kali ini pria itu melewati satpam begitu saja, tanpa senyum sedikitpun dan langsung berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur untuk mengambil minum.
Pria itu tahu kalau jam segini adalah jam makan malam, tapi pria itu sama sekali tidak memiliki niat untuk gabung dengan keluarga besarnya. Tentu saja sikap Bimo itu, membuat seisi rumah bingung.
"Bimo kamu mau kemana, Nak? kamu tidak ikut makan malam?" tegur Clara, begitu melihat putranya itu hendak melangkah pergi.
Bimo yang nyaris pergi, sontak mengurungkan langkahnya dan berbalik menatap Clara. Pria itu kemudian memaksakan diri untuk melemparkan senyum pada wanita yang melahirkannya itu seraya menggelengkan kepalanya. "Maaf, Ma. aku sama sekali belum lapar. Nanti kalau sudah lapar aku akan makan sendiri. Aku ke kamar dulu ya!"
"Tunggu dulu!" Bimo yang kembali nyaris melangkah, kembali menghentikan langkahnya karena panggilan Bara papanya.
"Kamu kenapa? apa kamu ada masalah?" tanya Bara dengan alis yang bertaut.
"Emm tidak sama sekali, Pa. Aku hanya merasa lelah saja, menyelesaikan proposal kerja sama yang akan aku bawa besok ke Singapura," ucap Bimo memberikan alasan.
Bara mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti dengan alasan yang diberikan putra bungsunya itu.
"Ya udah, kamu istirahat dulu! nanti kalau kamu lapar, kamu bisa ambil sendiri," pungkas Bara akhirnya dan Bimo mengangguk, mengiyakan.
Kemudian tanpa bicara lagi, Bimo akhirnya kembali melanjutkan langkahnya. Sementara itu, Bima menatap kepergian adik kembarnya itu,sampai tubuh itu menghilang di balik pintu. "Emm, sepertinya bukan karena kecapean Bimo bersikap seperti itu. Aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi, makanya sikapnya seperti itu," batin Bima yang memang bisa membaca air muka adiknya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di kamar, Bimo menghempaskan tubuhnya, berbaring terlentang dengan mata yang menerawang menatap langit-langit kamar.
Ya, sesuai dugaan Bima, Bimo memang sedang tidak baik-baik saja, karena tadi Michelle wanita yang dia cintai memutuskan hubungan mereka begitu saja dan menuduhnya hanya ingin mempermainkan perasaan wanita itu.
Flashback on.
Bimo baru saja menyelesaikan proposal yang akan dia bawa besok ke Singapura. Pria tampan kembaran Bima itu tersenyum puas dan merasa kalau proposal yang dia buat sudah bagus dan siap untuk dipresentasikan di depan klien.
Di saat pria itu memasukkan proposalnya ke dalam tas kerjanya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Emm, siapa sih yang menemui aku jam segini? semua karyawan kan harusnya sudah pulang?" batin Bimo sembari melirik jam di pergelangan tangannya, yang ternyata sudah menunjukkan hampir pukul 6 petang.
Pintu kembali diketuk dan mau tidak mau, Bimo akhirnya memerintahkan orang itu untuk masuk.
"Loh, Sayang, kamu ternyata!" Senyum Bimo langsung merekah begitu melihat siapa yang datang. siapa lagi orang itu kalau bukan Michelle, wanita yang dia cintai.
Bimo kemudian berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan menghampiri sang kekasih.
"Aku berani masuk, karena aku tahu kalau kamu belum pulang. Sebenarnya aku dari jam 4 sudah berada di bawah dan menunggu kamu pulang. Tapi, aku tunggu-tunggu kamu tidak keluar-keluar makanya aku memutuskan untuk masuk saja," jelas Michelle dengan nada dingin.
Bimo sontak merasa tidak nyaman. melihat sikap dingin dari kekasihnya itu, tapi ia berusaha untuk menepisnya.
"Kenapa? kamu kangen ya padaku? maaf ya, Sayang, belakangan ini aku sangat sibuk, sehingga jarang menemuimu. Aku juga kangen kamu, Sayang!" Bimo mencoba untuk memeluk Michelle, namun wanita itu dengan sigap menghindar.
"Sayang, kamu kenapa menghindar!" Bimo mengrenyitkan keningnya.
"Bimo, kita putus saja!"
Bagai petir di siang bolong tanpa adanya hujan, Bimo terkesiap kaget mendengar ucapan Michelle.
"Sayang, kamu jangan bercanda! hal begini tidak bagus untuk dibuat sebagai candaan,"
"Apa kamu melihat kalau aku sedang tertawa? tidak kan? Bimo, aku sama sekali tidak bercanda, aku serius dengan ucapanku tadi," suara Michelle terdengar lirih tapi terselip ketegasan di balik ucapannya itu.
"Ti-tidak! kamu itu sedang bercanda Sayang? kita tidak punya masalah apapun. Hubungan kita baik-baik saja, jadi tidak mungkin kamu meminta untuk putus!" Bimo menggeleng-gelengkan kepalanya, sulit percaya kalau Michelle benar-benar mengajaknya untuk mengakhiri hubungan mereka yang sudah lama.
"Bimo, berapa kali aku harus mengatakan kalau aku tidak bercanda. Justru kamu yang bercanda dengan hubungan kita. Aku merasa kalau sudah saatnya kita memutuskan hubungan kita yang menurutku hanya jalan di tempat saja. Hubungan yang kita jalin selama ini sama sekali tidak ada kejelasan. Jadi, buat apa dipertahankan?" Kali ini Michele bicara dengan berapi-api dan dengan pipi yang tiba-tiba sudah basah.
"Chell, aku tidak pernah menganggap kalau hubungan kita ini main-main. Aku itu benar-benar mencintaimu. Aku tahu, kalau kamu memang butuh kepastian hubungan kita, apakah hanya sampai tahap pacaran atau berlanjut ke pelaminan. Aku tahu dan aku juga memikirkan hal itu, Chell. Tapi, aku memilih untuk menundanya dulu karena aku__"
"Karena kamu apa? karena kamu masih sibuk, begitu? itu hanya alasan kamu saja Bimo!" Michelle berhenti berbicara sejenak untuk mengatur napasnya. "Tapi, aku sudah capek. Aku merasa diriku tidak ada harganya buatmu, jadi aku putuskan, supaya kita mengakhiri hubungan kita ini saja, karena aku merasa hubungan kita ini tidak ada ujungnya. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik!" Michelle memutar tubuhnya dan hendak melangkah. Namun, tiba-tiba dia merasakan tangan Bimo sudah melingkar di perutnya.
"Sayang, tolong jangan bicara kata pisah. Aku sangat mencintaimu. Aku janji akan secepatnya melamarmu tapi aku meminta, agar kamu bersabar sedikit lagi!" mohon Bimo sembari meletakkan dagunya di pundak Michelle.
Michelle bergeming untuk berapa saat. Manik matanya yang indah kini sudah kembali digenangi air mata. Ingin rasanya dia menarik kembali kata-kata putusnya, namun entah kenapa mulutnya nya terasa kelu untuk berbicara. Karena jujur, ia juga sangat mencintai Bimo.
"Bimo, maaf! aku tetap dengan keputusanku!" Michelle menyingkirkan tangan Bimo yang ada di perutnya dan kembali melangkahkan kakinya, tidak peduli dengan suara Bimo yang berkali-kali memanggilnya.
Flashback End
"Kamu kenapa? apa ada sesuatu yang terjadi?" Bimo tersentak kaget dan langsung duduk, karena tiba-tiba Bima sudah berada di kamarnya.
tbc