
Acara resepsi kini sudah selesai dan berjalan dengan lancar. Ayunda kini terlihat sudah segar setelah selesai membersihkan tubuhnya. Karena takut dianggap ingin menggoda Bima, Ayunda memutuskan untuk tidak mengenakan Lingerie, tapi memilih menggunakan piyama tidur.
Wanita yang baru saja sah menyandang status jadi nyonya Bima Abhimata Prayoga itu menyembulkan kepala dari pintu kamar mandi, untuk memantau situasi, apakah Bima sudah masuk ke dalam kamar atau masih berada di luar.
Besar harapannya kalau pria itu masih berada di luar, karena sumpah demi apapun dia masih belum siap untuk berduaan saja di dalam kamar yang sama dengan status yang baru saja berubah.
"Mau berapa lama lagi kamu di dalam sana? apa kamu belum mau keluar juga?" tiba-tiba terdengar suara Bima yang sangat dekat dengan telinga Ayu, hingga membuat wanita itu tersentak kaget bahkan hampir terjungkal. Beruntungnya, tangan Bima sigap menangkapnya.
"Se-sejak kapan kamu masuk kamar?" tanya Ayunda dengan gugup sembari berdiri kembali dan mendorong pelan tubuh Bima yang sangat dekat dengan tubuhnya.
"Emm, tidak lama setelah kamu masuk kamar aku langsung masuk. Aku dari tadi menunggumu keluar, karena aku juga ingin cepat-cepat mandi,"
"Oh, ka-kalau begitu, kamu masuk saja, aku sudah selesai!" Ayunda mendorong pelan tubuh Bima, ke arah kamar mandi. Sumpah, dengan dekatnya pria itu di sampingnya, dia merasa seperti sesak untuk bernapas.
Bima tersenyum tipis dan samar. ia menyadari kalau istrinya itu sedang gugup.
"Ya udah, aku mandi dulu. Kamu istirahat aja dulu!" pungkas Bima sembari masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah tubuh Bima sudah menghilang di balik pintu kamar mandi, Ayunda sontak mengembuskan napas lega. Wanita itu seketika merasa seperti baru terlepas dari himpitan batu besar.
"Mumpung Bima ada lagi mandi, sebaiknya aku langsung tidur saja," Dengan sedikit berlari Ayunda beranjak menuju ranjang.
Namun, setelah sampai di dekat ranjang, wanita itu seketika bimbang, apakah dia akan tetap naik ke atas ranjang atau tidak.
"Astaga, kenapa aku tidak tega ya buat baring di kasur ini? soalnya dekorasinya nanti hancur kalau aku berbaring di atasnya.Tapi, kalau aku tidak tidur, aku bingung nanti mau ngapain kalau Bima keluar dari kamar mandi. Suasananya pasti jadi canggung nantinya. Aduh, jadi aku harus bagaimana dong?" Ayunda benar-benar gugup sekarang. Bahkan saking gugupnya dia tidak sadar sudah menggigit -gigit jari jempolnya dari tadi.
Suara air dari arah kamar mandi terdengar bagai bom waktu bagi Ayunda sekarang, takut suara air itu berhenti. Kalau sudah berhenti, itu berarti, Bima sudah selesai mandi.
"Mmm, aku tidur di sofa aja deh," Ayunda mengayunkan kakinya, melangkah menuju sofa. Kemudian wanita itu mulai menutup matanya dan berusaha untuk tidur. Namun, semakin dia berusaha untuk tidur, rasa kantuk belum juga datang menghampirinya.
"Haish, nih mata gimana sih? ayo tidur! kenapa sekarang kamu tidak bisa diajak kerja sama sih? biasanya kalau aku capek, baru aja aku nempel di kasur langsung cepat tidur kan? Ini kenapa sekarang tidak bisa?" Ayunda menggerutu dalam hati, memaksakan matanya untuk tertidur.
Suara decitan tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamar mandi, membuat Ayunda tersentak kaget dan langsung berpura-pura sudah tidur. Karena dia tahu kalau Bima pasti sudah selesai mandi dan akan keluar dari kamar mandi
Benar saja, pria itu tampak keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut seutas handuk yang terlilit di pinggangnya. Sedangkan bagian atas terlihat polos tanpa sehelai benang pun, hingga memperlihatkan bentuk tubuhnya yang Atletis.
Ayunda yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, membuka sedikit matanya untuk mengintip.
"Astaga, kenapa dia tidak langsung berpakaian di dalam kamar mandi? dia mau pamer ya, kalau dia punya tubuh bagus? atau dia mau memancingku agar menerkamnya?" berbagai pemikiran negatif sudah berseliweran di kepalanya.
Sementara itu tampak di depan pintu kamar mandi, Bima memicingkan matanya melihat Ayunda yang berbaring di sofa.
"Hmm, apa dia sudah tidur? kenapa dia malah baring di sana bukannya di kasur? bisik Bima pada dirinya sendiri sembari berjalan menghampiri Ayunda.
"Aduh, kenapa dia malah ke sini sih? apa yang akan dia lakukan? apa dia akan menerkamku?" detak jantung Ayunda semakin berdetak kencang melihat Bima yang semakin dekat.
Setelah berada di dekat Ayunda, Bima mendekatkan wajahnya ke wajah Ayu yang seketika meringis tanpa sengaja.
Ingin rasanya Bima tertawa, karena begitu melihat ekspresi wajah meringis dari wanita itu, dia tahu kalau Ayunda ternyata hanya pura-pura tidur. Namun, Bima berusaha untuk menahan tawanya, karena dia tidak mau, kalau dia tertawa, pasti akan membuat wanita yang sudah menjadi istrinya itu kesal dan malu.
Bima kemudian memutuskan untuk meninggalkan Ayunda dan kembali berjalan untuk mengambil pakaiannya.
"Tunggu! dia benaran tidak menyentuhku sedikitpun? apa aku kurang cantik atau tidak membuat dia berselera? segitu buruknya kah aku?" bisik Ayunda dalam hati, tiba-tiba merasa sedih.
"Tapi, bagaimana dia mau menyentuhmu,Ayu? dia kan tidak mencintaimu. Dia kan terpaksa menikahimu. Ingat Ayu, jangan berharap terlalu tinggi, karena akan sakit rasanya kalau tidak sesuai ekspektasi," lagi-lagi Ayunda mengajak hatinya untuk bercengkrama, menghibur hatinya sendiri.
"Sampai berapa lama kamu masih mau bertahan di sofa itu, Ayu?" tiba-tiba terdengar suara Bima, memanggil.
Ayunda tersentak kaget, tapi dia memutuskan untuk tidak menjawab sama sekali, seakan dia memang sudah tidur pulas
"Aku tahu kalau kamu belum tidur, Ayu. jadi jangan berpura-pura lagi! atau kamu mau aku menggendongmu dari sana?" Bima kembali bersuara, memberikan sedikit ancaman.
" Aduh, bagaimana dia bisa tahu? bagaimana ini?apa aku memang harus bangun atau tetap berpura-pura saja? ah, aku lebih baik tetap berpura-pura saja, aaahh!" pekik Ayunda kaget karena tiba-tiba tubuhnya sudah berada di gendongan Bima.
"Bim, Bima, turunkan aku!"
Bima mengacuhkan permintaan Ayunda. Pria itu tetap saja menggendong wanita itu dan membaringkannya tepat di atas kasur.
"Kenapa kamu menggendongku ke sini sih?" Ayunda pura-pura kesal, untuk menyembunyikan kegugupannya.
"Salah kamu sendiri. Bukannya tadi aku sudah memintamu untuk bangun sendiri? tapi kamu memilih untuk tetap berpura-pura, dan tidak mengindahkan ancamanku. Jadi, jangan marah kalau aku harus menggendongmu ke sini." ucap Bima dengan tegas. "Sekarang aku mau tanya, kenapa kamu memilih untuk tidur di sofa?" sambung Bima, membuat Ayunda terdiam.
"Kenapa kamu diam, Ayu? apa sulit untuk menjawab itu saja?" desak Bima.
"Kamu tidur di sini saja bukan di sofa. Kalau kamu tadi memilih tidur di sana karena tidak mau tidur di kasur yang sama denganku, biar aku yang tidur di sofa," belum selesai Ayu bicara Bima sudah menyela lebih dulu.
Bima kemudian berbalik mengayunkan kakinya hendak melangkah menuju sofa. Namun tiba-tiba dia mendengar isak tangis, hingga ia pun mengurungkan langkahnya dan kembali berbalik menghampiri Ayunda.
"Kamu kenapa menangis?" tanya Bima, bingung.
"Ma-maaf, maafkan aku!" ucap Ayu yang semakin membuat Bima bingung.
"Maaf? maaf untuk apa?" Bima semakin kebingungan.
Bukannya mendapatkan jawaban, Bima justru semakin bingung karena tangisan Ayunda semakin kencang.
"Kamu kenapa sih? tolong jangan menangis seperti ini! jangan buat aku semakin kebingungan. Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu malam ini, jadi kamu tidak usah takut!"
Niat Bima ingin membuat tangis Ayunda mereda dengan berkata tidak akan menyentuh wanita itu, justru membuat tangis Ayunda malah semakin kencang dari sebelumnya. Bagaimana tidak, ucapan Bima barusan malah semakin membuat Ayunda yakin kalau Bima memang tidak pernah tertarik padanya dan pria itu menikah dengannya terpaksa demi menjaga hubungan persahabatan papanya dan Papanya Bima.
"Aduh, tolong jangan menangis lagi , Ayu! bukannya aku sudah bilang kalau kamu tidak perlu takut! kamu bisa tidur tenang, aku tidak akan mengganggumu!" ucap Bima sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Ma-maaf, Bima. Gara-gara kamu ingin menolongku malam itu, kamu jadi kena imbasnya. Kamu jadinya terpaksa menikahiku. Kamu pasti semakin membenciku kan? kamu pasti menganggap kalau gara-gara aku kamu tidak bisa menikah dengan wanita yang kamu cintai nantinya, iya kan? kamu pasti merasa jijik padaku makanya kamu tidak berniat menyentuhku!" Ayunda menangis sesunggukan.
Mata Bima sontak membesar terkesiap kaget, karena tidak menyangka kalau yang membuat istrinya itu menangis ternyata bukan karena ketakutan kalau dirinya meminta haknya malam ini juga, tapi justru karena masih salah paham.
Bima kemudian tersenyum smirk dan menarik kepala wanita itu ke perutnya.
"Kamu jangan berpikir terlalu jauh. Aku sama sekali tidak merasa jijik denganmu. Aku justru merasa kalau kamu takut aku sentuh makanya kamu memilih tidur di sofa. Dan untuk masalah kejadian malam itu, kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Karena apa yang kamu pikirkan itu semua salah. Aku tidak merasa terpaksa menikahimu," ucap Bima dengan lembut sembari membelai lembut rambut Ayunda.
"Tidak terpaksa? kalau tidak terpaksa jadi kenapa kamu menikahiku?" Ayunda mengangkat kepalanya, menatap Bima dengan tatapan menuntut.
Bima sontak merasa gugup saat menatap mata istrinya itu. "Sial, apa dia tidak peka sama sekali ya? apa memang harus diungkapkan alasan sebenarnya?" batin Bima, kesal.
"Haish, benar-benar menyebalkan! kenapa sih harus pakai diungkapkan segala? harusnya dia sudah bisa mengerti sendiri dari perubahan sikapku. Dia murni tidak tahu atau hanya ingin memancingku saja?" Bima masih tetap menggerutu dalam hati, sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa kamu diam, Bima?" Ayunda kembali bersuara membuat Bima semakin gugup.
"Emm, lain kali saja kita bahas. Sekarang kamu tidur saja ya! kamu pasti sudah lelah seharian ini!" pungkas Bima mengalihkan pembicaraan. Pria itu kemudian melangkah hendak menuju sofa.
"Kamu mau kemana?" Bima kembali berhenti melangkah mendengar pertanyaan istrinya.
"Emm, aku mau tidur di sofa,"
"Kenapa harus tidur di sana.Tempat tidur ini cukup luas untuk kita berdua,"
Bima tersenyum simpul dan melangkah kembali ke ranjang.
" Kamu tidak keberatan?" Ayunda menggelengkan kepalanya, membuat Bima tersenyum kembali.
"Baiklah, sekarang ayo kita tidur. Untuk masalah yang tadi kita bicarakan lain kali!" Bima membaringkan tubuh Ayu dan dia pun naik ke atas ranjang.
Jantung keduanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi sekarang. Terlebih Ayu, karena melihat Bima yang menatapnya begitu intens.
Ayu berusaha membaca arti tatapan itu, tapi dia selalu gagal.
Di saat Ayunda ingin membalikkan tubuhnya, wanita itu tersentak kaget, karena tiba-tiba tangan Bima menarik tubuhnya ke arah pria itu dan memeluknya dengan erat.
"Tidak baik tidur memunggungi suami! sekarang kita cukup begini dulu," ucap Bima dengan lembut dan memberikan ciuman di puncak kepala Ayunda.
Perlakukan Bima barusan sontak menimbulkan tanda tanya bagi Ayunda. Namun, entah kenapa dia tidak mau menanyakan lagi karena dia tidak mau merusak moment yang sangat diinginkannya sejak dulu.
Mungkin karena terlalu nyaman, tidak perlu menunggu lama Ayunda pun mulai tertidur.
Mendengar napas Ayunda yang sudah mulai teratur, Bima yakin kalau istrinya itu sudah tidur. Pria itu kemudian melepaskan sejenak pelukannya untuk bisa menatap wajah sang istri. Kemudian secara perlahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir tipis milik Ayu dan melu*matnya dengan lembut. Untuk pertama kalinya dia merasakan bagaimana lembutnya bibir seorang wanita.
"Sabar, Bima! kamu harus bisa menahannya malam ini! kasihan istrimu, sudah lelah seharian!" bisik Bima pada dirinya sendiri.
Bima kemudian menarik kembali tubuh Ayunda ke arahnya dan memeluknya dengan erat lalu berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, karena dia sudah menyentuh bibir Ayunda ditambah dada Ayunda yang menempel ke dadanya, sesuatu di bawah sana mulai menggeliat bangun.
"Sial! kamu tidur dulu! ini belum saatnya. Landasannya belum siap!" gumam Bima, bicara pada miliknya sendiri.
Tbc.