
Tania, duduk meringkuk di sudut ruangan selnya, dengan tangan yang berkali-kali mengacak-acak rambutnya, sehingga benar-benar berantakan. Wanita itu benar-benar terlihat sangat depresi. Dia kadang menangis, tapi detik berikutnya bisa tertawa kembali.
Kenapa bisa seperti itu? itu terjadi karena dia sudah mendengar cerita yang sebenarnya dan sejelas-jelasnya dari asisten rumah tangga, yang ternyata ibu kandungnya sendiri.
Awalnya dia tetap tidak percaya, apa yang diceritakan oleh pembantu itu. Namun, semuanya itu dibenarkan oleh Teguh dan Chintya yang datang menjenguknya setelah 1 jam yang lalu dia mengusir pembantu orang tuanya yang ternyata ibu kandungnya sendiri.
"Dunia ini benar-benar tidak adil bagiku! Aku yang dulunya tuan putri bagi papaku, jadi menantu konglomerat, ternyata aku hanya seorang anak pembantu. Sekarang apa? ternyata semuanya harus berakhir menyedihkan begini. Aku harus di penjara, dan aku sama sekali tidak pernah dicintai oleh suamiku sendiri. Arghhhh!" Tania menggeram dan kembali mengacak-acak rambutnya.
"Tadi, aku dengar apa lagi? aku mendengar anakku akan dirawat oleh wanita itu? hehe," Tania terkekeh dengan sudut bibir yang menyeringai sinis.
"Kenapa aku merasa kesal Tristan dirawat wanita itu? bukannya seharusnya aku bahagia ya? aku harus bahagia kan? iya dong, aku harus bahagia." Tania benar-benar sudah seperti orang gila yang bertanya sendiri dan menjawab sendiri.
Tania memejamkan matanya sekilas dan tersenyum sembari mengangguk-anggukan kepalanya. "Ya, aku harus bahagia. Setidaknya Tristan masih memiliki masa depan nantinya dan tidak hidup miskin kalau hidup dengan pembantu itu!" guma wanita itu, dengan bibir yang tetap tersenyum. Namun, senyum itu hanya bertahan sebentar, karena tiba-tiba pemikiran negatif datang menghampiri pikirannya.
"Tapi, apa dia benar-benar ikhlas merawat anakku, atau dia akan selalu menyiksa Anakku nanti untuk membalas perbuatanku pada Bimo dulu!" wajah Tania berubah panik.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang! kalau begitu, lebih baik Tristan dirawat oleh pembantu itu. Setidaknya dia nanti akan menyayangi Tristan. Iya, dia harus dirawat oleh pembantu itu!" Tania sibuk berperang dengan pikirannya sendiri.
"Hei, orang gila! apa yang kamu lakukan di pojokan ini? hah!" tiba-tiba seorang wanita bertubuh tambun dan memiliki paras garang membentak Tania, dan mendorong kepala wanita itu dengan cukup keras.
"Tahu, tuh. Sepertinya dia benar-benar sudah gila! lihat saja tampangnya! dia juga dari tadi selalu bicara sendiri," salah seorang wanita penghuni sel itu juga ikut buka suara menimpali ucapan wanita bertubuh tambun itu.
Tania, menggeram dan sontak menatap tajam ke arah wanita bertubuh tambun, yang bisa dipastikan adalah ketua geng di ruangan itu.
"Kamu bisa diam, nggak? kamu jangan urusi diriku! urus saja badanmu itu! apa kamu pikir kamu itu cantik dengan tubuh seperti itu? kamu itu benar-benar mirip seperti__"
"Auhhhh, sakit!" belum sempat Tania menyelesaikan ucapannya, wanita itu sudah menjerit kesakitan karena tiba-tiba rambutnya ditarik dengan kencang oleh wanita bertubuh tambun itu.
"Berani-beraninya kamu menghinaku! kamu bosan hidup ya!" wanita itu semakin mengencangkan tarikannya di rambut Tania, hingga membuat Tania semakin menjerit kesakitan.
Wanita bertubuh tambun itu, kemudian menoleh ke arah tiga orang wanita lain yang berada satu sel dengannya. "Kalian bertiga, pegang dia! aku akan memberikan pelajaran padanya!" titahnya, yang tentu saja langsung dipatuhi oleh tiga wanita itu. Dua orang, memegang tangannya, dan satu lagi membekap mulut Tania, agar suara jeritannya tidak didengar oleh penjaga.
Setelah kedua tangan Tania sudah dipegang oleh bawahan wanita bertubuh tambun itu, tubuh Tania langsung mendapat pukulan yang bertubi-tubi dari ketua di dalam sel itu. Wajah Tania yang tadinya cantik kini sudah terlihat lebam membiru, akibat tamparan yang dia dapatkan berulang kali. Bahkan dari sudut bibirnya sudah mengeluarkan darah.
"Ampun! jangan pukul lagi! aku minta maaf! tolong hentikan, aku sudah tidak kuat!" pekik Tania, dengan kesakitan amat sangat yang dia rasakan di tubuhnya. Terlebih di perutnya yang juga terkena pukulan berulang-ulang.
Wanita bertubuh tambun itu, tergelak dan kembali menarik rambut Tania ke belakang.
"Itu akibatnya kalau kamu berani menghinaku. Bahkan aku bisa membuat wajah yang kamu banggakan ini, menjadi menyeramkan. Paham kamu!"
Tania sudah tidak sanggup untuk menjawab lagi. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
"Bagus! makanya lain kali, kamu lihat dulu siapa lawan kamu!" Wanita tambun itu, melepaskan cengkeramannya di rambut Tania dengan cukup kencang, bahkan sampai terbentur mengenai tembok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tania membuka matanya secara perlahan. Tampak sebuah ruangan berwarna putih di sekelilingnya.
"Aku ada di mana?" desis Tania dengan suara yang sangat lirih.
"Kamu berada di rumah sakit. Tadi kamu pingsan akibat pukulan-pukulan yang kamu terima," terdengar sebuah suara wanita yang sangat lembut tepat di samping Tania.
Tania sontak menoleh ke arah datangnya suara, dan kaget begitu melihat siapa sosok wanita pemilik suara itu.
"Clara, kenapa kamu bisa ada di sini?" ya, wanita itu adalah Clara. Di samping Clara berdiri sosok pria yang tidak lain adalah Bara.
"Kami mendapat kabar dari polisi, makanya kami datang ke sini," sahut Clara dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Kamu datang ke sini mau menertawakanku kan?" tukas Tania sembari menahan rasa sakit yang amat sangat di tubuhnya, terlebih di bagian perut dan kepala.
"Kamu ya, benar-benar tidak tahu terima kasih. Kamu sudah di___" Bara yang merasa geram hendak mengumpat tapi terhenti ketika dia melihat tatapan Clara yang sangat tajam padanya dan menggeleng-gelengkan kepala, memberikan tanda agar dirinya agar tidak melanjutkan umpatannya.
Clara yang merasa kalau Bara sudah bisa dikendalikan, kembali menatap lembut Tania dan tersenyum pada wanita yang terbaring lemah itu.
"Kamu jangan salah paham, Tania. Kami datang ke sini tidak untuk menertawakanmu. Kami justru ...." ucapan Clara tergantung di tenggorokannya karena tiba-tiba Tania terlihat seperti sesak napas.
"Tania, kamu kenapa? jangan membuatku takut!" pekik Clara dengan sangat panik.
"Mas, tolong panggilkan dokter!" seru Clara kembali, memerintah Bara.
Bara yang juga ikut panik, sontak mendadak seperti orang bodoh. Alih-alih menekan tombol bel yang berada di atas ranjang, Bara justru berlari ke luar untuk memanggil dokter.
"Tania, kamu yang kuat ya! kamu pasti bisa bertahan. Kamu harus kuat, karena Tristan sangat membutuhkanmu! Setelah kamu menyelesaikan hukumanmu, kamu bertobat dan bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi
Kamu tenang saja, aku akan menjaga dan merawat Tristan seperti anakku sendiri," Clara berceloteh, untuk memberikan semangat pada Tania, yang terlihat semakin sesak bernapas.
"Sakit, Clara!" desis Tania dengan suara yang sangat lirih.
"Aku rasa aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku titip Tristan padamu. Jaga dan rawat dia. Aku mohon, tolong sayangi dia seperti anak kamu sendiri. Aku percaya sekarang, kalau kamu adalah wanita yang sangat baik dan kamu bisa mendidik anakku menjadi anak yang baik," ucap Tania, dengan suara yang terputus-putus.
Clara tiba-tiba menangis dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, Tania. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kamu pasti bisa sembuh!" Lagi-lagi Clara berusaha memberikan kekuatan pada Tania dengan mencengkram kuat telapak tangan wanita itu.
Untuk pertama kalinya, Tania tersenyum-senyum tulus dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maaf, aku sudah tidak kuat lagi. Sampaikan permintaan maafku buat mas Bara, mama Elva, Arumi dan semua orang-orang yang pernah aku sakiti. Sampaikan juga maafku buat Tristan, karena aku tidak bisa menjawab mama yang baik untuknya. Bilang padanya, kalau aku sangat men-cin-tainya," Tania mengucapkan kata mencintainya dengan sangat lemah, dan seiring dengan selesainya dia mengucapkan kata-kata itu, Tania pun menghembuskan napas terakhirnya.
tbc