Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Bara mengungkapkan keinginannya


Bara terlihat duduk tidak tenang di tempat dia duduk. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, sampai-sampai dia gelisah.


Sementara itu, Elva yang melihat kegelisahan anaknya seketika paham kenapa putranya itu bisa seperti itu. Wanita itu bisa menyimpulkan kalau sepertinya putranya itu ingin ditinggalkan berdua dengan Clara saja.


"Emm, Oma mau tanya, apa di dekat sini ada mini market?" tanya Elva yang dengan sengaja mulai mengalihkan pembicaraan dari apa yang mereka bicarakan sebelumnya.


"Ada, Oma. Tidak terlalu jauh dari sini. Emangnya ada apa Oma?" tanya Bima dengan kening berkerut.


"Emm, Oma tiba-tiba ingin beli es krim. Hari ini perasaan Oma sangat senang, karena Oma tahu kalau Oma punya dua cucu sekaligus. Jadi, Oma ingin makan yang segar dan dingin. Oma ingin makan es krim. Boleh tidak kamu antarkan Oma ke mini market itu?" tanya Elva dengan mata yang sengaja dikedipkan, seakan memberikan tanda kalau es krim itu hanya sebuah alasan agar bisa keluar dari rumah itu untuk sementara waktu.


Bima kemudian tersenyum, dan langsung paham maksud Omanya. Demikian juga dengan Bimo.


"Ayo Oma, aku antar ke sana. Kebetulan aku juga mau makan es krim," Bima berdiri dari tempat dia duduk.


"Aku juga mau ikut!" Bimo tidak mau ketinggalan. Anak kecil itu, juga ikut berdiri dari tempat di duduk.


"Aku juga mau pamit. Karena aku baru ingat kalau aku sudah ada janji dengan pasien siang ini. Aku pamit dulu ya?" Arumi juga tidak mau ketinggalan. Wanita yang merupakan sahabat Clara itu ikut berdiri dari tempat dia berdiri.


"Eh, kenapa semuanya pada pergi? aku juga ikut!" Clara yang merasa grogi, sontak ikut berdiri.


"Mama mau ikut kemana? mau ikut Tante Arumi ke rumah sakit?" ledek Bima.


Clara menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Emm, mama ikut kalian aja deh!" pungkas Clara akhirnya. Jangan lupakan ekspresi Bara yang sudah terlihat kecewa.


Elva berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bagaimana mungkin kamu ikut, Nak? kalau kamu ikut, bagaimana dengan Bara? apa kamu tega membiarkan dia sendiri di sini?"


Clara terdiam dan menggigit bibirnya. Wanita itu, menoleh ke arah Bara yang kini juga tengah menatapnya.


"Emm, ya udah deh, aku di sini aja. Tapi, kalian jangan lama-lama ya!" ucap Clara sembari membelai lembut kepala kedua anaknya.


"Kami nggak janji, Ma!" ucap Bima yang sayangnya hanya berani dia ucapkan dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keheningan tercipta cukup lama antara sepasang insan yang dulu pernah memiliki hubungan suami istri itu. Tidak ada yang mencoba untuk buka suara. Situasi benar-benar canggung pada saat ini.


"Ehem, ehem!" Clara mulai berdeham, untuk memancing Bara buka suara.


"Cla, boleh aku minta minum?" untuk pertama kalinya Bara buka suara, tapi langsung membuat Clara merasa malu. Bagaimana tidak, sudah lumayan lama Bara ada di rumahnya, sekalipun dia belum Mengambilkan minum,bahkan untuk menawarkan saja tidak.


"Astaga, Maaf, Mas! aku lupa. Aku ke belakang dulu ya!" Clara sontak berdiri dari tempat dia duduk dan hendak melangkah pergi. Namun, lagi-lagi wanita itu merasa bodoh lagi, karena dia belum menanyakan, Bara mau minum apa.


"Sial,kenap aku jadi bodoh?" umpat Clara merutuki kebodohannya.


"Emm, Mas Bara, itu ... emm,kamu mau minum apa?" tanya Clara sembari menggigit bibirnya.


Bara tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. Pria itu,bisa melihat jelas kalau Clara saat ini benar-benar sedang grogi.


"Emm, cukup air putih saja. Soalnya tenggorokanku sudah kering dari tadi," ucap Bara, yang sekaligus menyelipkan sebuah sindiran di balik ucapannya.


"Oh,O-ok," dengan menahan malu, Clara akhirnya beranjak pergi menuju dapur.


Tidak perlu menunggu lama, Clara kembali muncul dengan sebuah teko dan gelas kosong di tangannya. Setelah sudah berada di dekat Bara, wanita itu pun menuangkan air ke dalam gelas kosong itu dan memberikannya pada Bara.


Bara, menerima gelas berisi air putih itu dari tangan Clara dengan mata yang fokus menatap wajah wanita itu, hingga membuat Clara merasa grogi, sampai-sampai tangannya bergetar dan membuat air putih itu tumpah sedikit.


Lagi-lagi, Bara tersenyum samar, lalu meneguk air putih itu sampai ludes.


"Akhirnya, tenggorokanku basah juga," gumam Bara yang tentu saja masih bisa didengar oleh Clara.


"Kamu lagi menyindirku ya?" celetuk Clara dengan bibir yang mengerucut. Wanita itu sekarang merasa kesal, karena Bara terus saja menyindirnya secara halus.


"Eh,maaf. Aku tak bermaksud menyindirmu!" sambar Bara dengan cepat, sebelum wanita di depannya itu, mengusirnya. Karena dia tahu benar sikap wanita itu kalau sudah kesal.


keheningan kembali tercipta di antara mereka. Bara berulang kali menggaruk-garuk kepalanya. Sementara itu, Clara melirik ke arah jam di dinding, karena merasa Elva, dan si kembar sudah pergi lumayan lama.


"Cla, aku mau bicara sesuatu, boleh kan?" akhirnya Bara memberanikan diri untuk buka suara.


Seketika jantung Clara berdetak kencang, dua kali lebih cepat dari detak jantung normal.


"I-iya, tentu saja boleh," jawab Clara, gugup.


Bara tidak langsung buka suara. Pria itu lebih dulu menarik napas dalam-dalam untuk mengisi kembali rongga-rongga paru-parunya yang sudah mulai minim oksigen. Setelah itu, pria itu mengembuskannya kembali ke luar dengan cukup panjang dan berat.


"Kamu sudah tahu kan apa yang sebenarnya terjadi? dan kamu juga pasti sudah tahu, kalau perasaanku tidak pernah berubah padamu. Kalau boleh aku meminta, aku ingin sekali kita bisa kembali seperti dulu, memiliki ikatan dalam pernikahan," setelah berhasil mengumpulkan keberanian, Bara akhirnya berani mengungkapkan niatnya.


Clara bergeming, diam seribu bahasa. Ada rasa ingin menganggukkan kepala dengan cepat dan berteriak mengiyakan, tapi entah kenapa kepalanya terasa berat untuk mengangguk dan mulutnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.


"Cla, kenapa kamu diam? apa kamu tidak bersedia?" ulang Bara kembali dengan debaran jantung yang seperti berperang.


Clara mengembuskan napasnya dengan berat, memejamkan matanya sekilas dan menatap Bara. "Mas, bagaimana mungkin kamu, memintaku untuk kembali, di saat kamu belum bercerai dengan Tania? kalaupun__"


"Oh,jadi begini kamu ternyata ya, Nak Bara! Tania bahkan masih berstatus istrimu, tapi kamu sudah melamar wanita lain untuk menjadi istrimu. Laki-laki seperti apa kamu!" tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara, sehingga Clara tidak jadi melanjutkan ucapannya.


Bara dan Clara sontak menoleh ke arah datangnya suara, dan melihat di ambang pintu sudah berdiri pasangan paruh baya yang sama sekali tidak dikenal oleh Clara. Namun, melihat ada Theo yang muncul dari belakang pasangan paruh baya itu, Clara bisa menyimpulkan kalau kedua orang itu adalah orang tua Tania, mertua Bara.


tbc