Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Rencana yang gagal


Sementara itu di lain tempat, tampak Dito tersenyum kemenangan melihat mobil yang dikemudikan oleh Bara dan Clara istrinya, membentur sebuah pohon, sehingga mobil itu mengeluarkan asap.


"Terima kasih, Nak. Kamu akhirnya benar-benar mau mengikuti saran papa, untuk membalaskan kematian mamamu pada mereka," ucap Dito pada Tristan sembari tersenyum puas menatap dari dalam mobil putranya itu.


Tristan sama sekali tidak menjawab. Pria itu menatap nanar ke arah mobil yang bagian depannya benar-benar sudah tidak berbentuk lagi.


"Sekarang kamu bisa pura-pura baik, lalu diam-diam, mengalihkan kepemilikan harta kekayaan keluarga Prayoga atas namamu," sambung Dito lagi, mencoba untuk kembali menghasut atau mencuci otak Tristan.


"Ayo kita turun sekarang, Nak. Kamu mainkan lagi dramamu. Kamu harus pura-pura menangis seakan kamu benar-benar sedih dengan apa yang terjadi, pada orang tua angkatmu itu," Dito tetap saja bicara, sekalipun Tristan sama sekali tidak memberikan tanggapan.


Mereka berdua akhirnya sama-sama keluar dari mobil dan langsung melangkah ke arah mobil yang sudah banyak dikerumuni orang.


"Papa, Mama!" pekik Tristan menghambur melewati kerumunan, ristan dengan sengaja berlari ke arah mobil dan langsung menuju kursi depan, yang sama Sekali sudah tidak ada seorang pun di kursi depan itu.


"Oh, kamu anak dari pemilik mobil itu ya? tadi kedua orang tuamu sudah dibawa ke rumah sakit!" salah seorang wanita yang ada di tempat itu buka suara.


"Apa keadaan mereka parah?" tanya Dito yang benar-benar penasaran dengan kondisi Bara dan Clara. Pria itu benar-benar berharap dia mendapat jawaban yang sangat memuaskan seperti yang dia harapkan.


"Sepertinya sangat parah. Aku rasa sangat mustahil untuk bisa diselamatkan," sahut wanita tadi memberikan jawaban.


Sementara banyak orang yang ada di tempat itu mengrenyitkan kening, terlihat seperti kebingungan.


" Dibawa kerumah sakit? siapa yang dibawa? aku dari tadi ada di sini tapi tidak ada yang dikeluarkan dari dalam mobil itu." gumam dari salah satu yang berada di tempat itu. Untungnya ucapan wanita itu tidak didengar oleh Dito.


Dito menundukkkan kepalanya,agar senyum kemenangannya tidak bis dilihat oleh orang lain.


Sementara itu, Tristan kini tersungkur duduk menyender di mobil, dan tidak berhenti untuk menangis.


"Sudahlah, Nak. Sekarang kita ke rumah sakit saja Kita lihat kondisi papa dan mamamu," Dito terlihat seakan dirinya ikut simpati pada dengan apa yang menimpa Bara dan Clara.


Sementara itu, orang-orang sudah mulai meninggalkan lokasi tempat kejadian, walaupun polisi belum datang.


"Tristan, sudah pura-pura menangisnya! orang-orang sudah pergi. Sekarang ayo berdiri!"


Tristan pun kemudian berhenti menangis dan langsung berdiri sembari melihatnya ke sekeliling yang memang sudah sepi.


"Tristan, ini kan mobil yang dikemudikan Bara, kalau mobil yang dikemudikan Bima di mana ya? apa kecelakaannya ada di tempat lain? tadi kamu meminta orang untuk memutuskan remny juga kan?" Dito mengrenyitkan keningnya.


"Mungkin juga. Kalau begitu ayo kita pergi dari sini. Kita ke rumah sakit untuk memastikan kondisi mereka semua,"


"Tidak perlu ke rumah sakit, kami berdua ada di sini!" celetuk seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Dito.


Dito sontak berbalik, menoleh untuk melihat siapa yang baru saja bersuara. Alangkah kagetnya pria itu begitu melihat sosok Bara dan Clara berdiri dengan kondisi tubuh baik-baik saja, tidak lecet sedikitpun.


"Kenapa? kamu kaget kami baik-baik saja?" Bara menyeringai sinis.


"Ba-bagaimana bisa kamu ...." Dito menggantung ucapannya karena sudah tidak sanggup untuk berkata-kata lagi.


"Ya, karena aku tidak melakukan seperti yang Om minta," bukan Bara yang menjawab melainkan Tristan.


"A-apa? apa yang kamu lakukan Tristan? jadi kamu menghianati papa kandung kamu sendiri? kamu sadar tidak, apa yang kamu lakukan ini juga sudah merupakan penghianatan pada almmarhumah mamamu?" pekik Dito dengan suara yang meninggi.


"Aku tidak menghianati almmarhumah mama dan aku juga tidak menghianatimu. Karena dari awal aku sudah menolak rencana Om untuk mencelakai papa dan mama, tapi Om tetap kekeuh dan semakin memprovokasiku. Aku merasa tidak ada gunanya aku menolak, karena bagaimanapun mau atau tidaknya aku, nantinya Om pasti akan berusaha untuk mencelakai papa, mama dan kedua adikku. Jadi, cara untuk menghentikannya, aku berpura-pura sudah terprovokasi dan mau mengikuti rencana yang sudah Om susun. Agar kejahatan Om secepatnya dihentikan dengan mengirim Om kembali ke penjara," tutur Tristan panjang lebar tanpa jeda.


"Jadi, semua ini sudah kami rencanakan Dito. Kami sengaja tadi berhenti di sini, kami keluar dan meminta orang untuk membantu mendorong mobilnya ke pohon. Aku tidak masalah, kalau mobil itu rusak, yang penting niatmu bisa kami gagalkan. Oh ya, bahkan orang yang tadi mengatakan kami sudah dibawa ke rumah sakit adalah orang yang kami bayar untuk mengatakan hal itu," Kali ini Bara yang buka suara. Sudut bibir pria Karismatik itu, membentuk senyuman sinis.


Dito berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak menyangka kalau Tristan yang merupakan darah dagingnya sendiri sanggup menghianatinya dan justru bekerja sama dengan laki-laki yang hanya papa angkat saja.


"Tristan, kamu benar-benar keterlaluan, Nak. Pantas saja, kamu tadi tidak mau mengemudikan mobilmu dengan cepat. Ternyata kamu melakukan hal itu, untuk memberikan kesempatan pada papa dan mama angkatmu ini, untuk melakukan rencana kalian. Kamu benar-benar tega berbohong, Tristan. Kamu tidak sadar kalau tanpa aku kamu tidak akan ada di dunia ini," ucap Dito dengan raut wajah kecewa.


"Aku tahu kalau Om adalah papa biologicalku, tapi kalau seandainya bisa memilih, aku bahkan lebih baik tidak dilahirkan ke dunia ini kalau aku tahu punya papa kandung yang licik, tidak tahu terima kasih seperti Om. Kalau Om memang seorang papa yang baik, Om pasti akan merasa bersyukur, di mana Om yang sudah berbuat jahat, tapi orang yang Om Jahati tetap mau membesarkan anak Om dengan penuh kasih sayang, dan sama sekali tidak dibedakan dengan anak kandung mereka sendiri. Coba Om bayangkan seandainya aku tidak diterima di keluarga Papa Bara, apa menurut Om ... Om masih bisa bertemu denganku dengan keadaan baik seperti ini? mungkin aku sudah hidup terlunta-lunta di jalanan dan mungkin saja tidak bisa bertahan hidup, tapi apa yang Om lakukan sekarang? Om sama sekali tidak berpikir ke arah sana. Yang ada di kepala Om itu hanya dendam dan kekayaan. Bagaimana aku bisa menerima papa sepertimu?" Tristan terlihat berapi-api dan napas yang memburu. Bahkan pria itu kini sudah kembali mulai menangis.


"Bahkan Om, aku juga tidak tahu bagaimana caranya aku membalas budi Papa Bara dan Mama Clara. Aku malu Om, aku benar-benar malu punya papa kandung yang tidak tahu berterima kasih seperti Om!" lanjut Tristan lagi dengan sangat emosional.


"Dito, aku tahu apa yang kamu rasakan. Tapi, tidak seharusnya kamu melakukan perbuatan seperti ini lagi. Harusnya hidup di penjara belasan tahun bisa kamu jadikan pembelajaran, Dito. Tolong buang dendam di hatimu karena dengan dendam yang selalu ada di hati, membuat hidupmu tidak akan pernah merasa tenang," Kali ini Clara yang dari tadi hanya diam, buka suara memberikan pencerahan pada Dito.


Dito tampak terdiam seribu bahasa, tidak tahu mau mengatakan apa-apa lagi. Kemudian dia menatap Tristan dengan tatapan sendu. "Kamu tahu kenapa aku melakukan hal ini? itu karena kamu sama sekali tidak pernah memanggilku papa, Tristan. Aku merasa sedih mendengar kamu memanggil orang lain papa, sedangkan aku kamu panggil, Om. Aku merasa Kalau kamu sama sekali tidak menganggapku, aku merasa kesepian, Tristan."


Kini gantian Tristan yang terdiam mendengar ucapan demi ucapan dari mulut Dito.


tbc