Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
AKCA Season 2 (Kamu mau kemana?)


Acara prom night berlangsung begitu meriah dan dihiasi senyum dan tawa dari para siswa-siswi yang sebentar lagi akan menanggalkan seragam putih abu-abunya. Namun, senyum dan tawa itu sama sekali tidak terlihat di bibir dua orang pemuda dingin yang tidak lain adalah Bima dan Bimo. Raut wajah keduanya terlihat kusut seakan-akan sedang memiliki beban yang sangat berat.


Bimo dengan kegalauannya melihat Michelle yang dari tadi lengket dengan Bima, memilih duduk terpisah dari dua orang itu. Sementara Ayunda juga duduk terpisah dan ditemani oleh Tristan.


Bimo memang melihat kalau Bima tidak terlalu antusias saat berbicara dengan Michelle, tapi tetap saja membuat pemuda itu dibakar oleh api cemburu. Karena sudah tidak kuat melihat kebersamaan saudara kembarnya itu dengan wanita yang dia cintai, Bimo akhirnya memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu.


"Bima, aku keluar dulu ya!" Michelle yang melihat Bimo meninggalkan ruangan, sontak pamit pada Bima dan langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari pemuda itu.


Bima sontak mengembuskan napas lega ketika Michelle sudah pergi. Sebenarnya dari tadi pemuda itu ingin sekali pergi dari tempat itu, karena hati dan pikirannya sedang sibuk berperang mempertanyakan sikap Ayunda yang sangat membingungkan. Kemudian, setelah memastikan Michelle benar-benar pergi, Bima pun juga langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar melalui pintu yang berbeda dari pintu yang digunakan oleh Michelle tadi.


Sementara itu, Michelle berusaha mengejar Bimo yang memang memiliki langkah panjang.


"Bimo, tunggu!" Bimo sontak menghentikan langkahnya, ketika mendengar panggilan dari wanita yang disukainya sejak kecil itu dan langsung memutar tubuhnya, menoleh ke arah Michelle yang ngos-ngosan.


"Ada apa?" nada suara Bimo terdengar sangat dingin.


"Kamu mau kemana?" tanya Michelle setelah sedikit berhasil mengatur napasnya.


"Mau pulang?" singkat,padat dan jelas.


"Kenapa buru-buru? bukannya acaranya belum selesai?" Michelle mengrenyitkan keningnya.


"Aku malas ada di dalam sana. Kamu kenapa ke sini? bukannya kamu sedang asik bersama dengan Bima?" Bimo berusaha menekan suaranya berusaha meredam rasa cemburunya.


"Kamu cemburu?" tukas Michelle, menyelidik.


"Aku rasa kamu sudah tahu jawabannya. Atau kamu sedang berpura-pura tidak tahu?" sindir Bimo, tersenyum miring.


"Emm, bagaimana aku bisa tahu? aku serius, benar-benar tidak tahu,"


Bimo mendengus dan maju dua langkah agar jaraknya dengan gadis itu semakin dekat.


"Kenapa kamu masih berpura-pura tidak tahu,Chel? aku yakin kalau sebenarnya kamu sudah tahu bagaimana perasaanku padamu. Kamu tidak bodoh untuk bisa mengetahui bagaimana perasaanku kan? semua orang bisa melihat dan tahu, tidak mungkin kamu tidak bisa,"


Michelle sontak tercenung, diam seribu bahasa, bingung bagaimana caranya menanggapi ucapan pemuda itu.


"Kenapa kamu diam? apa memang kamu benar-benar tidak bisa melihat perasaanku yang menyukaimu, atau kamu pura-pura tidak melihat dan tidak mau tahu karena kamu menyukai Bima?" cecar Bimo dengan nada sinis.


Michelle semakin terdiam mendengar ucapan Bimo yang menurutnya susah untuk dijawab. Michelle memang tidak menampik kalau


ada perasaan bahagia di hatinya ketika mendengar Bima menyukainya. Namun, dia juga tidak munafik kalau perasaannya tidak tenang dan merasa tidak rela ketika dia serasa dianggap tidak ada oleh Bimo.


"Bimo, bukan seperti itu. Aku memang tahu tentang perasaanmu, tapi__"


"Kamu akui saja kalau kamu juga menyukai Bima? kalian berdua sama-sama munafik, Chell. Kamu tahu, kalau Ayu mencintai Bima dan kamu hanya pura-pura mendukungnya, sama dengan Bima yang menyukaimu tapi pura-pura mendukungku. Aku benci dengan sikap kalian berdua yang penuh kepura-puraan. Kamu tahu, sikap kalian berdua yang seperti ini, membuat aku merasa seperti orang bodoh, dan merasa sedang kalian kasihani. Aku tidak butuh, sikap kasihan kalian!" pungkas Bimo, yang kemudian beranjak pergi Tampa memberikan kesempatan pada Michelle untuk bicara.


Tanpa mereka sadari, Ayunda yang baru saja dari toilet mendengar semua pembicaraan mereka berdua.


"Jadi, kamu juga menyukai Bima?" Michelle terjengkit kaget dan menoleh ke arah orang yang baru saja berbicara.


"Ayu! ka-kamu kapan ada di sini?" tanya Michelle dengan gugup.


"Tidak lama sih, tapi cukuplah aku bisa mendengar apa yang baru saja kalian bicarakan," Ayunda tetap menyunggingkan senyumnya, walaupun dia tidak bisa menampik kalau hatinya sekarang seperti sedang diremas-remas mendengar ucapan Bimo tadi yang sama sekali tidak disanggah oleh Michelle.


"Yu, kamu jangan salah paham ya! Bimo hanya asal bicara. Tadi, aku tidak sempat membantah karena dia sama sekali tidak memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan," Michelle terlihat sangat panik, takut kalau sahabatnya itu ikut salah paham sama seperti Bimo.


"Eh, tidak apa-apa, Chell! lagian, kalaupun seandainya kamu menyukai Bima, juga sudah tidak menjadi masalah lagi bagiku, karena aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintainya."


Ucapan Ayunda barusan sontak saja membuat mata Michelle membesar, tidak menyangka kalau kalimat itu keluar dari mulut sahabatnya yang diketahui sangat mencintai Bima dari dulu.


"Cuma, aku sarankan lebih baik kamu jujur pada keduanya, agar hubungan mereka sebagai kakak dan adik tidak hancur. Karena kalau hubungan persaudaraan mereka hancur, yang merasakan sakit bukan hanya mereka saja, tapi juga Om Bara dan Tante Clara," lanjut Ayunda lagi, tidak peduli dengan kebingungan yang terlihat jelas di raut wajah Michelle.


"Yu, apa aku tidak salah dengar? kamu memilih berhenti? tapi, bagaimana bisa?" tanya Michelle beruntun.


Lagi-lagi Ayunda tersenyum. "Emm, karena aku menyadari kalau sebelum mencintai orang, kita harus mencintai diri kita sendiri lebih dulu, karena kita ini sangat berharga. Aku merasa, sudah saatnya aku menyerah dan lebih menghargai diri sendiri,"


Michelle benar-benar speechless, melihat perubahan Ayunda yang memang terlalu mendadak baginya.


"Udah dulu ya,Chell,aku mau pergi sebentar, nanti aku akan kembali lagi," tanpa menunggu jawaban dari Michelle, Ayunda mengayunkan kakinya berlalu meninggalkan Michelle.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayunda, keluar dari dalam lift dan berjalan menaiki tangga untuk menuju balkon yang dia yakini pasti sepi, guna untuk menenangkan dirinya.


Ya, walaupun dia sudah bertekad bulat untuk melupakan cintanya pada Bima, Ayu tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia masih merasa sakit bila mengingat cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada pria itu.


Baru saja kakinya menapak di lantai balkon, wanita itu langsung dikejutkan dengan sosok laki-laki yang sedang membelakanginya. Dari postur tubuhnya, Ayu tahu jelas kalau pemuda yang memunggunginya itu adalah pemuda yang ingin dia hindari. Siapa lagi pemuda itu kalau bukan Bima.


Mengetahui hal itu, Ayunda langsung berbalik dan berniat untuk pergi dari tempat itu.


"Kamu mau kemana?" Ayunda yang nyaris melangkah, sontak menghentikan langkahnya, begitu mendengar suara Bima.


Tbc