Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Jangan melihat


Tidak terhitung berapa kali Bima menghujani Ayunda dengan ciuman saat mereka berdua bergumul mengarungi gelayar nikmat yang baru pertama kali mereka berdua rasakan.


Ayunda kini tampak sudah terlihat lelah. Ia tidak menyangka kalau pria yang selalunya tampak dingin dan hampir tidak tersenyum itu bisa berubah ganas dalam permainan di ranjang.


Kalau Ayunda terlihat lelah, beda lagi dengan Bima yang terlihat lebih bugar dan senyum yang tidak pernah tanggal dari bibirnya. Bahkan ia tidak merasakan lapar, padahal jam sarapan sudah lewat dan hampir masuk jam makan siang.


"Kamu capek ya?" tanya Bima, basa-basi.


Ayunda mengerucut bibirnya kemudian mendengus kesal. "Sudah tahu, tapi nanya lagi," gumam Ayu, yang tentu saja masih bisa didengar oleh Bima. "Bukan hanya capek, tapi aku juga lapar," lanjut Ayu lagi,tapi masih dengan suara yang sangat pelan, karena dia belum cukup berani untuk berbicara keras.


"Astaga, iya ya! kita belum sarapan. Tapi, kenapa aku belum merasa lapar ya? apa karena aku sudah memakanmu?" ucap Bima yang menyelipkan sedikit candaan.


Raut wajah Ayu terlihat semakin bingung sekarang. Ia benar-benar merasa kalau Bima adalah orang yang berbeda. "Bagaimana dia bisa bercanda seperti ini? bukannya biasanya hidupnya kaku? dia benar-benar Bima nggak sih?" bisik Ayunda pada dirinya sendiri.


"Ya, sudah! sekarang sebaiknya kita mandi, supaya kita keluar cari makan," Bima mengulurkan tangannya, mengajak Ayu untuk bersama-sama ke kamar mandi.


Ayunda memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia sama sekali tidak menyambut uluran tangan Bima. Bukannya karena dia marah atau kesal, tapi dia benar-benar malu melihat tubuh Bima yang masih polos, hingga memperlihatkan senjatanya yang menjuntai manja.


"Astaga, kenapa dia jadi tidak tahu malu begini sih?" batin Ayunda, dengan wajah memerah. Jujur saja, walaupun tadi dia sudah melihat tubuh Bima yang polos,akan tetapi tetap saja Ayunda masih malu untuk melihatnya lagi.


"Ayu, ayo! kenapa kamu diam saja?" ulang Bima lagi.


"Emm, ka-kamu mandi saja lebih dulu, nanti setelah kamu selesai baru gantian aku," sahut Ayunda masih dengan tatapan ke arah lain.


"Kenapa kamu tidak melihatku saat bicara? apa aku tampak menakutkan?" Bima memicingkan matanya.


"Bu-bukan, tapi itu ... tolong kamu tutup dulu!" dengan mata masih menatap ke tempat yang sama Ayunda menunjuk ke arah bagian yang menggantung di antara paha, Bima.


Bima berusaha menahan tawanya, begitu mengetahui alasan sang istri. Tiba-tiba di kepalanya timbul ide untuk mengusili wanita itu. Bima kemudian melangkah berpindah persis ke arah mana Ayu memandang.


"Ahhh! kenapa kamu pindah tempat?" pekik Ayu seraya menutup matanya menggunakan kedua telapak tangannya.


"Kamu kenapa malu sih? tadi kan kamu sudah melihatnya? bahkan kamu menikmatinya juga. Atau kamu masih mau mengulanginya sekali lagi?ayo buka dong matanya!" Bima sengaja menarik tangan Ayunda agar bisa melihatnya. Namun Ayunda dengan sekuat tenaga bertahan dengan posisinya.


"Bima, aku nggak mau!" pekik Ayunda.


"Ayo lah, Yu, buka matanya!" Bima terus saja menggoda Ayunda, seakan itu adalah permainan seru baginya, lebih seru dari game yang dia ciptakan.


"Bima, aku nggak mau! hush, hush!"


Kali ini Bima sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Untuk pertama kalinya tawa laki-laki itu pecah di depan Ayunda. Label susah senyum dan tertawa, hilang sudah dari diri pria itu.


"Bima berhenti tertawa! sekarang kalau kamu tidak mau mandi lebih dulu, aku yang akan lebih dulu mandi!" tiba-tiba rasa canggung dan takut yang Ayunda rasakan tiba-tiba menguap entah kemana. Wanita itu sudah terlihat lebih berani berbicara dengan nada sedikit tinggi.


"Apa sih salahnya kita mandi bersama? kan untuk lebih mempersingkat waktu,"


Bima terkekeh dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, karena niat terselubungnya ternyata sudah terbaca oleh Ayunda.


"Ya udah, kamu saja yang mandi lebih dulu, nanti aku setelah kamu!" pungkas Bima, akhirnya.


"Aku tidak mau! nanti kalau aku lebih dulu kamu bisa saja punya banyak alasan untuk bisa masuk. Kamu bisa bilang kalau kamu kebeletlah, dan banyak cara untuk bisa masuk. Pokoknya kamu saja yang duluan!"


Lagi-lagi Bima terkekeh mendengar ucapan Ayunda yang memang benar adanya.


"Ya udah, aku duluan! " akhirnya Bima memutuskan untuk mengalah, merasa kalau setiap rencana liciknya sudah bisa dibaca oleh sang istri.


Tidak perlu menunggu lama, Bima akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dengan rambut dan tubuh yang masih sedikit basah. Entah kenapa bulir-bulir air yang menempel di dada bidang pria itu, menambah daya tarik dan sensualitas di mata Ayunda. Namun, Ayunda berusaha untuk menahan gejolak perasaannya yang ingin memeluk pria itu.


"Sekarang giliran kamu!" ucap Bima.


Ayunda sontak menarik selimut yang dari tadi setia menutupi tubuh polosnya dan menapakkan kakinya ke lantai.


Ketika dia hendak berdiri, wanita itu memekik kecil karena merasa perih di bagian sensitifnya.


"Kamu kenapa?" Bima sudah berada di dekatnya, bertanya dengan raut wajah panik.


"Tidak kenapa-napa! hanya sedikit perih saja," sahut Ayunda sembari melanjutkan niatnya untuk berdiri. Kali ini, walaupun dia masih merasakan perih, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya pada Bima.


Ayunda kemudian dengan perlahan mulai mengayunkan kakinya, melangkah menuju kamar mandi, dengan selimut yang masih menempel di tubunya.


"Kenapa kamu membawa selimut itu? apa kamu mau tidur di dalam sana?" goda Bima.


"Bukan urusanmu! pokoknya jangan melihat ke sini. Kalau kamu melihat, aku kutuk matamu jadi mata ikan!"


Ingin rasanya Bima kembali tertawa mendengar ancaman istrinya yang tidak masuk akal itu.


"Udah aku bilang jangan lihat!" Baru saja Bima hendak melihat karena merasa kalau Ayunda sudah masuk ke kamar mand, tiba-tiba Ayundak kembali memekik sehingga pria itu mengurungkan niatnya untuk menoleh.


"Kenapa tidak bisa lihat sih? Tadi kan aku sudah melihatnya. Padahal aku sudah hapal bagaimana bentuk dan sebesar apa sizenya. Bahkan aku juga sudah merasakan bagaimana__"


"Bima, bisa berhenti membicarakan itu nggak sih! kenapa kamu bisa berubah jadi menyebalkan seperti ini?" pekik Ayunda dengan pipi yang semakin memerah.


"Iya, iya aku tidak akan melihatnya lagi!" pungkas Bima, membuat Ayunda menghela napas lega.


"Tapi untuk Kali ini aja. Aku tidak bisa janji untuk nanti malam atau hari-hari berikutnya!" imbuhnya lagi dengan tertawa ringan.


"Bimaaaa! dasar me*sum! menyebalkan!" Ayunda menutup pintu kamar mandi sembari menggerutu. Namun, Tanpa sepengetahuan Bima, di dalam kamar mandi Ayunda sudah senyum-senyum sendiri.


Tbc