
Bara keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju sebuah taman tempat dia akan bertemu dengan Clara.
Mata pria itu mengedar untuk mencari keberadaan Clara yang katanya sudah menunggu di tempat itu.
"Itu dia!" gumam Bara, setelah melihat keberadaan Clara yang duduk sambil serius memainkan ponsel di tangannya.
Dengan jantung yang berdetak kencang, Bara mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Clara yang belum menyadari kalau dirinya sudah tiba di tempat itu.
"Ehem! Bara berdeham, hingga membuat Clara terjengkit kaget.
"Eh, Mas, kamu sudah datang?" ucap Clara vb berbasa-basi.
"Kenapa kamu masih bertanya seperti itu? aku kan sudah ada di sini, berarti aku sudah datang," sahut Bara sembari mendaratkan tubuhnya duduk di samping Clara yang mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Bara lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Belum terlalu lama. Kamu benar-benar tidak sibuk kan?" nada bicara Clara terdengar merasa tidak enak.
Mendengar pertanyaan Clara, seulas senyuman terbit di bibir Bara. "Kalau dikatakan tidak sibuk, ya tidak juga. Karena sebenarnya aku ada janji dengan seorang klien besar. Tapi, karena kamu memintaku untuk bertemu, aku lebih memilih untuk membatalkannya, karena bertemu dengan kamu lebih penting dari kerja sama itu," sahut Bara, yang tentu saja bagi orang yang mendengar, pasti mengira kalau pria itu adalah pria buaya yang pintar menggombal.
Clara mendengus mendengar ucapan Bara yang menganggap kalau kata mantan suaminya itu hanya gombal semata.
"Tolong jangan berlebihan kalau bicara. Kata-katamu tadi hanya ingin merayuku kan? sejak kapan kamu pintar mengeluarkan kata-kata gombal seperti itu?"ledek Clara, yang membuat Bara terkekeh.
"Terserah, kamu mengatakan kalau aku sedang menggombal atau tidak. Karena apa yang aku katakan tadi itu memang murni dari hatiku," ucap Bara. "Oh ya, kamu mengajakku bertemu, katamu ada yang ingin kamu bicarakan, sekarang apa yang ingin kamu bicarakan?" lanjut Bara, mengalihkan pembicaraan lagi.
Clara sontak terdiam, tidak langsung menjawab. Karena tiba-tiba jantungnya berdetak lebih cepat dari detak jantung normal, begitu mendengar pertanyaan Bara.
"Emm, aku mau membicarakan tentang kelanjutan hubungan kita," ucap Clara dengan nada suara yang sangat pelan, dan hati-hati.
Alis Bara bertaut tajam. Jantungnya, sontak berdetak kencang, merasa was-was, takut kalau wanita yang dia cintai itu, meminta untuk melupakannya, dan mencari wanita lain.
"Emm, kalau kamu tetap memintaku untuk melupakanmu dan mencari wanita lain, jangan harap aku mau! karena perasaanku tidak akan berubah, dan aku yakin kalau kamu tahu akan hal itu!" tegas Bara penuh penekanan.
"Mas, kenapa kamu bisa membuat asumsi seperti itu? aku sama sekali tidak akan memintamu untuk mencari wanita lain. Justru aku ...." Clara menggantung ucapannya, karena merasa grogi untuk mengungkapkan keinginannya pada mantan suaminya itu.
"Justru kamu apa, Cla? kenapa kamu berhenti bicara? tolong jangan buat aku penasaran!" tuntut Bara, penasaran.
Clara menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya kembali ke udara, guna menenangkan hatinya .
"Mas, sebenarnya, aku bukan tidak mau untuk kembali lagi padamu. Aku hanya merasa kalau aku cepat-cepat kembali padamu di saat kamu baru bercerai dengan Tania, ada perasaan orang tua yang aku hancurkan. Aku yakin, kalau perasaan orang tua Tania akan hancur kalau kita langsung kembali bersama, di saat putri mereka baru menyandang status janda dan mendekam di penjara. Aku hanya ingin menunggu sampai mereka bisa menerima kenyataan, baru kita membicarakan tentang kelanjutan hubungan kita. Namun, setelah dipikir-pikir, aku merasa kalau aku ternyata terlalu memikirkan perasaan orang lain, tapi tanpa sadar mengabaikan perasaan dua anakku yang selama ini sudah berjuang dan berusaha untuk membuat kita bisa bersama. Aku merasa sudah menjadi seorang ibu yang egois, tidak memperdulikan kerinduan Bima dan Bimo. Mereka terpaksa tinggal di rumah yang terpisah, dan mereka pasti tidak menginginkan hal itu. Jadi, karena itu aku mau mengambil keputusan untuk memenuhi keinginan mereka berdua, dengan kita kembali bersama," tutur Clara panjang lebar tanpa jeda.
Raut wajah Bara sontak berbinar, mendengar penuturan Clara. Walaupun sebenarnya ada sedikit rasa kecewa, karena mendengar ucapan Clara yang bersedia kembali padanya hanya demi kebahagiaan anak-anak. Tapi, bagi Bara itu sudah lebih dari cukup, karena meskipun tidak terucap dari bibir Clara, dia yakin kalau wanita itu, masih mencintainya.
"A-apa kamu serius dengan ucapanmu tadi?" ulang Bara memastikan.
Clara menganggukkan kepala, mengiyakan dengan bibir yang menyunggingkan seulas senyum manis di bibirnya.
"Mas, lepas! aku sesak bernapas, lagian ini tempat umum, malu dilihat orang!" Clara berusaha keluar dari pelukan Bara.
Bara melerai pelukannya dan melemparkan senyum termanisnya ke arah Clara.
"Maaf! aku begitu karena terlalu bahagia dan dan sangat rindu ingin memelukmu," ujar Bara, jujur.
Semburat merah langsung menghiasi pipi Clara. Sejujurnya, dia juga sangat merindukan pelukan pria itu.
"Aku sekarang sangat bahagia. Aku yakin Bima dan Bimo juga pasti akan lebih bahagia mendengar mama dan papanya akan kembali bersama. Kita akan tinggal di bawah atap yang sama, bersama-sama membesarkan anak-anak kita!" Bara berucap dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya. "Ayo, kita temui anak-anak! mereka harus tahu kabar bahagia ini!" Bara meraih tangan Clara, mengajak wanita itu untuk segera meninggalkan tempat itu.
"Tunggu, Mas!" cegah Clara tiba-tiba.
"Ada apa lagi? kamu tidak akan berubah pikiran kan?" Bara mengrenyitkan keningnya.
"Emm, tidak, Mas. Tapi aku hanya mau bilang, sebelum kita ketemu dengan Bima dan Bimo, aku mau kita pergi ke rumah OmTeguh dan Tante Chintya, karena aku ingin minta maaf pada mereka lebih dulu, karena aku akan kembali padamu," ucap Clara dengan nada lirih.
Bara memasang wajah datar, yang sukar untuk dibaca. Pria itu tidak menolak, tapi juga tidak mengiyakan permintaan Clara. Karena sesungguhnya, ada perasaan takut kalau-kalau nanti wanita itu akan berubah pikiran, jika sudah bertemu dengan kedua orang tua Tania.
"Mas, kamu tidak keberatan kan kita ke rumah Om Teguh dulu?" tanya Clara, mengulangi permintaannya.
"Emm,aku__" belum sempat Bara menjawab, tiba-tiba ponsel Clara berbunyi.
"Tunggu sebentar, Mas. Aku jawab telepon Arumi dulu!" Ya, yang sedang menghubungi Clara adalah Arumi, sahabatnya.
"Iya, Rum, ada apa?" tanya Clara to the point.
"Clara, kamu bisa tidak datang ke rumah Pakde Teguh? karena Bude Chintya sakit dan ingin bertemu denganmu," terdengar suara Arumi yang sedikit panik dari seberang sana.
"Apa? Tante Chintya sakit? i-iya aku akan ke sana sekarang!" ucap Clara, menyanggupi.
Panggilan kemudian terputus dan Clara menatap Bara dengan tatapan memelas.
"Mas, kamu antar aku ke rumah OmTeguh ya? Tante Chintya sakit. Ini pasti gara-gara, dia stres dan sedih atas apa yang menimpa Tania. Please Mas antar aku ke sana!" mohon Clara.
"Tapi, aku takut setelah nanti kamu melihat kondisi Tante Chintya, kamu akan berubah pikiran lagi. Sebelum kita ke sana, kamu janji dulu, kalau kamu tidak akan berubah pikiran, apa dan bagaimanapun nanti keadaan di sana!" ucap Bara dengan tegas. Pria itu benar-benar tidak mau mengambil resiko, kehilangan Clara lagi.
Clara diam sejenak, memikirkan perkataan Bara. Namun detik berikutnya, wanita itu menghela napasnya dengan sekali hentakan.
"Baiklah, aku janji tidak akan berubah pikiran! sekarang ayo, kita ke sana!"
Tbc
Maaf, kalau belakangan ini aku selalu telat up. Seperti yang pernah aku katakan, kalau aku akan sibuk sampai akhir tahun, karena aku panitia inti dari sebuah acara. Sekali lagi maaf ya!🙏🏻