Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Keusilan Salena


Michelle akhirnya sudah terlihat cantik dengan gaun yang sudah dipersiapkan oleh Ayunda ditambah dengan riasan sederhana, membuat wanita itu terlihat semakin anggun.


Setelah dirasa Michelle sudah siap, Ayunda mengajak wanita itu untuk kembali ke taman, tempat Bimo dan yang lainnya sudah menunggu.


"Michelle sudah siap!" seru Ayunda dan tentu saja langsung mendapatkan respon dari semua yang berada di tempat itu.


Semua mata langsung menatap Michelle, tidak terkecuali Bimo yang langsung terpaku menatap wanita tercintanya tampil begitu cantik.


Sementara itu, Michelle juga bergeming, merasa heran, melihat taman yang kini cukup ramai, di mana tampak ada kedua orang tuanya, keluarga besar dari Bimo, dan juga ada keluarga dari Adrian.


"Bimo, kenapa kamu malah bengong? sekarang jemput calon istrimu yang juga bengong itu!" bisik Bima, menyadarkan Bimo dari alam bawah sadarnya.


"Oh, i-iya!" Bimo mengayunkan kakinya melangkah menghampiri Michelle.


"Sayang, kamu cantik sekali!" bisik Bimo ketika dirinya sudah berada tepat di depan Michele.


Pujian Bimo tentu saja langsung membuat wajah Michelle memerah karena tersipu malu.


"Ah, kamu bisa saja! apa kamu sedang membujukku agar aku tidak marah padamu, karena kamu tidak mempersiapkan gaun untukku?" tukas Michelle dengan bibir yang mengerucut.


"Tentu saja tidak! kamu memang benar-benar cantik malam ini!" ucap Bimo, tersenyum tulus.


Setelah pembicaraan itu, tidak perlu menunggu lama lagi, Bimo kini kembali berlutut di depan Michele dan kembali mengulangi kata-kata puitisnya untuk melamar wanita itu, dan kini Michelle benar-benar menjawab "Yes, I will!" dan cincin kini sudah tersemat indah di jari manisnya.


"Sayang, satu lagi! alasan kenapa aku mengadakan lamaran di taman rumah sakit ini, itu karena rumah sakit ini sudah aku beli dan hadiahkan ke kamu, karena aku tahu kalau kamu bercita-cita ingin memiliki rumah sakit sendiri," Mata Michele sontak membesar dan tangannya menutup mulutnya yang terbuka, kaget mendengar ucapan Bimo.


"Ka-kamu, bohong kan?" suara Michelle terdengar bergetar.


Bimo menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang tidak pernah memudar dari bibirnya. "Aku serius, sama seperti cintaku padamu!" ujar Bimo dengan tulus, membuat Michelle tidak sungkan untuk memeluk pria yang sudah resmi menjadi calon suaminya itu.


"Wah, bahagia sekali ya jadi Michelle. Dia mendapat lamaran yang benar-benar jadi impian banyak wanita? tidak seperti aku yang menikah karena kesalahpahaman," celetuk Ayunda sembari menatap Bimo dan Michelle dengan tatapan sendu.


"Heh?" Bima sontak menoleh ke arah Ayunda begitu mendengar keluhan istrinya.


"Bimo sangat romantis kasih kejutan buat Michelle, tidak seperti yang duduk di sebelahku ini!" Ayunda melirik sinis ke arah Bima yang terlihat semakin bingung.


"Ada apa lagi ini ya, Tuhan?" batin Bima sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Bima, kamu dengar aku nggak sih?" cetus Ayunda, merasa kesal melihat Bima yang diam saja, tidak merespon sama sekali keluhannya.


"Iya, aku dengar, Sayang,"


"Jadi, kenapa kamu diam saja? kasih respon apa kek," Ayunda mengerucutkan bibirnya.


Bima menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. Seandainya memungkinkan, ingin sekali dia menghilang saat ini dari pada harus menghadapi kondisi yang membuat dirinya serba salah. Dia salah, berbicara akan lebih salah lagi.


"Aku harus respon bagaimana, Sayang? apa aku harus mengatakan kalau aku membuat kejutan lamaran yang lebih wah dari ini? kita kan sudah menikah, masa buat lamaran lagi," Bima berucap dengan suara yang begitu lembut, walaupun sebenarnya hatinya ingin berteriak.


"Makanya, kenapa dulu kamu mengaku cintanya setelah menikah? kan jadinya nggak ada lamaran romantis seperti ini. Padahal aku berharap kamu tiba-tiba membuat kejutan lamaran padaku di saat aku masih merasa kamu tidak mencintaiku. Coba kamu bayangkan, di saat aku belum tahu perasaan yang kamu mencintaiku, tiba-tiba kamu buat kejutan lamaran romantis seperti ini dan kamu mengungkapkan perasaanmu saat itu juga, pastilah itu akan menjadi momen kejutan yang paling membahagiakan buatku, karena itu hal yang tidak pernah aku duga-duga," raut wajah Ayunda berbinar larut dengan bayangan yang dia buat sendiri.


"Tapi, itu semua tidak terjadi. Ihh, aku kesal padamu, Bima!" wajah berbinar tadi kini berubah kembali menjadi wajah kesal.


"Ya, Tuhan, kapan dia berhenti mengeluh? aku serba salah jadinya," ucap Bima yang tentu saja masih dia ucapkan dalam hati.


"Nanti, di pesta pernikahan pasti Michelle akan tersenyum bahagia, sehingga hasil photo-photonya bagus, lah aku ... hasil photonya benar-benar di luar galaxy. Coba lihat photo pernikahan kita, wajahku di pernikahan itu seperti sedang menahan pup, karena aku menikah dengan membawa perasaan bersalah. Aku merasa saat itu, kamu yang menanggung hal yang tidak pernah kamu lakukan dan terpaksa menikahiku, benar-benar menyebalkan!" Ayunda masih saja terus mengoceh, dan Bima memilih untuk tidak menyahut sedikitpun.


"Bima, kenapa kamu dia aja sih? kamu tidak mendengar aku berbicara dari tadi?"


Bima mengembuskan napasnya, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sama sekali. "Maaf deh, Sayang! kalau masalah photo-photo kita itu, kita bisa photo lagi dengan pakaian pengantin kita. Kamu bisa tersenyum selebar-lebarnya Dan aku juga demikian, ya!" ucap Bima, selembut mungkin, berharap istrinya itu melembut dan berhenti mengoceh.


"Tapi sudah beda rasanya, Bima! photo-photonya mungkin bisa kita lakukan lagi, tapi moment pernikahan kan tidak lagi. Pasti saat itu banyak yang membicarakanku di belakang. Mereka pasti berbisik-bisik kalau wajahku sama persis dengan wajah yang sedang BAB, dan pupnya itu keras. Jelek banget sumpah," ternyata usaha Bima sia-sia. Ayunda masih saja tidak berhenti mengoceh.


"Jadi bagaimana sekarang? apa kamu mau kita mengadakan pesta pernikahan lagi? kalau iya, apa alasannya? tidak mungkin kan kita membuat alasan, karena hasil photo-photonya jelek, makanya kita buat pesta lagi, kamu mau begitu?" Ayunda dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tuh kamu tahu! jadi ikhlaskan saja ya, Sayang. Yang penting kita sudah menikah, dan kamu tahu kalau aku mencintaimu. Bukannya itu juga sudah menjadi kejutan buatmu? apa kamu masih kurang bahagia dengan kenyataan itu? bukannya saat itu kamu sampai menangis terharu?"


Ayunda terdiam seribu bahasa, mendengar penuturan Bima yang memang benar adanya. Melihat istrinya yang sudah diam, Bima mengembuskan napas lega.


"Akhirnya dramanya selesai juga," bisik Bima pada dirinya sendiri.


"Emm, kamu benar sih. Tapi, tetap saja aku masih merasa ada yang kurang," celetuk Ayunda setelah terdiam cukup lama.


"Haish, para alien di planet Mars, tolong bawa aku untuk sementara ke planetmu!" gumam Bima di sela-sela keputusasaanya.


Sementara itu di meja lain tampak Salena yang juga menatap momen lamaran Bimo dan Michelle dengan tatapan takjub.


"Kak, apa nanti Kakak punya rencana untuk membuat lamaran seperti lamaran kak Bimo ke Kak Michelle?" celetuk Salena, membuat Tristan mengrenyitkan keningnya, bingung.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


Kamu masih sekolah, kuliah lagi, jadi masih lama," ucap Tristan.


"Aku kan cuma mau tanya aja, Kak. Maksud aku, kalau kakak punya rencana, jadi besok kaka antarkan aku ke rumah sakit dulu, untuk memastikan kalau jantung aku aman. Takutnya aku pingsan nanti seandainya aku mendengar kakak kecelakaan. Kalau aku bangun lagi ya tidak apa-apa, tapi kalau aku nggak bangun-bangun karena jantung berhenti kan acara kejutan kakak jadi gagal," tutur Salena absurd.


"Salena, pemikiran kamu kenapa jauh sekali sih sampai ke sana? bukannya sudah aku bilang kalau kamu itu masih sekolah? kamu juga harus kuliah. Jadi masih membutuhkan waktu kira-kira 4 tahun lagi," ucap Tristan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kenapa harus tunggu aku selesai kuliah sih, Kak? tiga bulan lagi aku lulus SMA, kenapa kita tidak langsung menikah saja setelah aku lulus?" Salena mengerucutkan bibirnya.


"Salena, kamu itu masih terlalu muda. Kamu itu harus tetap mengutamakan pendidikanmu agar cita-cita kamu bisa kamu gapai," Tristan berbicara begitu lembut, sama seperti seorang kakak yang memberikan nasehat pada adik perempuannya.


"Bukannya aku sudah bilang Kak, kalau cita-cita utamaku, menikah muda?"


"Kalau kamu menikah setelah kamu lulus kuliah, juga termasuk menikah muda, Salena!" Tristan masih sabar berbicara dengan gadis remaja itu.


Salena terdiam, tidak membantah lagi ucapan Tristan, karena memang ucapan pria berusia 25 tahun di depannya itu benar adanya.


Keheningan tercipta untuk sementara di antara mereka berdua. Ketika gadis itu menoleh ke belakang, dia melihat Satya papanya yang sepertinya hendak menghampirinya. Mengetahui hal itu, Sudut bibir Salena seketika melengkung membentuk senyuman licik.


"Tapi, Kakak kan memang harus cepat-cepat bertanggung jawab. Ingat Kak aku sudah tidak perawan lagi, dan itu gara-gara Kakak," ucap Salena, tepat di saat Satya sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Apa? Kamu sudah tidak perawan?apa yang papa dengar tadi tidak salah?" pekik Satya, membuat semua mata yang berada di tempat itu beralih ke arah mereka. Bara dan Clara bahkan dengan sigap langsung datang menghampiri.


Satya terlihat murka, dia menarik kerah kemeja Tristan dan mencengkramnya dengan kuat.


"Aku memintamu untuk menjaganya, bukan untuk merusaknya. Tapi, kenapa kamu menghianati kepercayaanku padamu!" bentak Satya dengan satu tangan yang sudah terangkat ke atas.


"O-Om, tenang dulu! sumpah demi apapun, aku tidak pernah melakukan apapun pada Salena!" cegah Tristan.


"Pa, Kak Tristan benar! yang aku maksud tidak perawan itu 'bibirku'. Karena Kak Tristan sudah menciumnya, itu saja, Pa. Yang lainnya masih tersegel kok!" seru Salena yang tidak menyangka kalau reaksi papanya akan seperti itu.


Satya sontak melongo seperti orang bodoh mendengar pengakuan polos putrinya. Pria paruh baya itupun, pelan-pelan melepaskan cengkaramannya di kerah kemeja Tristan, lalu merapikan kemeja calon menantunya itu lagi.


"Maafkan, Om! Om sudah salah paham. Tapi, hal itu juga sebenarnya jangan kamu lakukan, karena awalnya dari bibir setelah itu akan merembes kemana-mana," tutur Satya, di sela-sela rasa malunya pada tingkah putrinya.


Kemudian, Satya mengalihkan tatapannya ke arah Bara. "Bara, sepertinya Salena dan Tristan memang harus dinikahkan secepatnya, untuk menghindari hal yang tidak-tidak. Yang aku takutkan bukan anakmu yang kebablasan, tapi putriku," ucap Satya mengembuskan napas pasrah, membuat tawa Bara dan Clara pecah.


"Yes, berhasil!" sorak Selena, dengan wajah berbinar.


"Tuh, kamu bisa lihat sendiri!" ucap Satya lagi pada Bara, sembari berlalu pergi.


Sementara itu, dari arah yang tidak terlalu jauh, Arya menatap sendu ke arah Salena yang terlihat begitu bahagia.


"Sabar, dan relakan saja!" bisik Adrian yang mengerti bagaimana perasaan putranya itu sekarang.


tbc.