
Sementara itu, di kediaman Teguh papanya Theo dan Tania, terdengar amarah yang amat sangat dari pria paruh baya itu, begitu melihat postingan Tania, 15 menit yang lalu.
"Sudahlah, Pa! emangnya kenapa kalau Bara menyayangi anak itu? walaupun dia hanya anak angkat tapi dia juga manusia, anak kecil yang punya hak untuk disayangi kan?" bujuk Chintya, berusaha meredam kemarahan sang suami yang dia anggap terlalu berlebihan.
Begitu mendengar ucapan sang istri, Teguh menatap Cinthya dengan tatapan yang sangat tajam dan berapi-api.
"Kamu ini bagaimana sih? apa pantas kamu disebut seorang ibu? ini anakmu sendiri,Ma yang diperlakukan tidak adil. Apa menurutmu itu tidak kelewatan? Seharusnya sebagai ibu, kamu itu marah, melihat kesedihan yang dialami putrimu sendiri," nada suara Teguh terdengar sangat tinggi.
"Jadi menurut,Papa aku harus menemui. Bara dan marah-marah padanya begitu?"
"Ya, harusnya begitu."
"Pa,dari awal, siapa yang paling menginginkan pernikahan mereka? papa kan? aku sudah bilang,biarkan saja Bara menikah dengan Arumi, kalau Jeng Elva menginginkannya jadi istri Bara. Tapi, Papa tidak mau terima dengan pendapatku. Ingat Pa, yang menjadi pilihan jeng Elva saat itu Arumi bukan Tania!" ucap Chintya dengan nada kesal.
"Jadi, dengan apa yang dialami putrimu sekarang, seharusnya kamu bisa menerimanya. Dari awal aku sudah mengingatkan Papa kalau Tania belum layak menjadi seorang istri, karena sikapnya yang sangat manja dan suka semena-mena. Dia masih perlu didikan, tapi Papa bersikeras untuk tetap menikahkan mereka dan mengatakan yang pantas jadi istri Bara itu Tania bukan Arumi," imbuh Chyntia lagi.
"Tapi, walaupun seperti itu tidak sepantasnya Bara memperlakukan Tania tidak adil seperti ini?" suara Teguh sudah mulai rendah.
"Aku mau bertanya Pa? dia diperlakukan tidak adil bagaimana? setidaknya papa lihat,dia bisa tetap hidup mewah. Shopping barang-barang mewah. Bukannya itu yang Papa inginkan? Tania bisa hidup mewah, untuk masalah cinta urusan belakangan?"
Teguh bergeming,diam seribu bahasa, karena dia sama sekali tidak menemukan celah untuk bisa membantah ucapan Chintya istrinya.
Melihat suaminya yang hanya diam saja, Chintya menarik napas panjang dan mengembuskannya kembali ke udara.
"Pa, dia itu benar-benar tumbuh menjadi wanita yang egois dan itu semua karena Papa yang terlalu memanjakannya. Karena sikapnya itulah, membuat Bara sulit untuk mencintai putrimu. Dan sekarang,apa yang dia perbuat? Dia secara tidak langsung sudah merusak reputasi dan harga diri Bara. Apa menurut Papa Bara akan merasa simpati padanya? aku bisa pastikan,Bara pasti akan murka dan semakin membenci Tania.Coba instrospeksi diri deh! pungkas Chintya sembari beranjak pergi meninggalkan Teguh suaminya.
"Tapi, aku tetap tidak terima anakku diperlakukan seperti itu!" bisik Teguh pada dirinya sendiri.
Pria paruh baya itu kemudian meraih ponselnya dan menghubungi Theo.
"Ada apa, Pa?" nada suara Theo terdengar malas-malasan di ujung sana saat menerima panggilan dari papanya.
"Theo, kamu coba lihat postingan Tania di media sosialnya! adikmu itu mencurahkan perasaannya yang selalu diabaikan oleh Bara dan lebih menyayangi anak angkat dari pada anak kandungnya sendiri. Papa mau kamu menemui Bara dan meminta penjelasan padanya. Bagaimanapun Tania itu adik kamu dan sebagai seorang kakak laki-laki satu-satunya kamu itu harus melindungi adikmu," ucap Teguh dengan panjang lebar dan napas yang memburu akibat rasa marah yang merasuki hatinya.
Terdengar suara decakan dari Theo, disusul embusan napas. "Pa, aku benar-benar malas mengurusi hal seperti itu. Aku yakin, kalau ini hanya drama yang dilakukan oleh Tania. Dia kan emang ratu drama,"
"Theo!" bentak Teguh dengan mata yang berkilat-kilat.
"Apa pantas kamu disebut sebagai seorang Kakak, hah? pokoknya sekarang kamu datangi Bara dan minta penjelasannya. Jangan membantah!"Teguh berbicara dengan sangat tegas.
"Terserah Papa deh. Aku malas berurusan dengan masalah Tania. Kalau Papa tidak terima perlakuan Bara, ya kenapa tidak Papa sendiri yang mendatanginya? kenapa harus aku? Aku tidak punya waktu untuk mengurus masalah Tania, karena yang harus aku urus sekarang di perusahaan kecil papa ini sangat banyak. Semua managementnya sangat amburadul. Aku tutup teleponnya ya, Pa!" belum sempat Teguh menjawab ucapan putranya itu, panggilan sudah diputuskan secara sepihak oleh sang anak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Namun, ketika dirinya hendak melanjutkan pekerjaannya, entah kenapa dia merasa penasaran tentang postingan Tania yang membuat papanya murka. Pria itu kemudian meraih kembali ponselnya dan membuka media sosialnya lalu mencari akun Tania.
"Mana postingannya? tidak ada sama sekali! apa sudah dihapus ya? arghh bodoh amat lah!" Theo menutup kembali media sosialnya dan kembali menghiba sang Papa.
"Ada apa? apa kamu berubah pikiran?" tanya papanya dari seberang sana tanpa basa-basi lebih dulu.
"Tidak sama sekali, Pa. Aku cuma mau menginformasikan kalau Tania tidak ada memposting apapun. Mungkin dia merasa dramanya sudah selesai makanya dia hapus," sahut Theo santai.
"Apa, dihapus? itu berarti adikmu sekarang sedang dibentak-bentak Bara. Bara yang sudah memintanya untuk menghapus postingan itu. Papa yakin itu. Sekarang, pokoknya papa tidak mau tahu, kamu harus ke sana sekarang!"
"Kenapa dari tadi Papa memintaku yang ke sana? kenapa tidak Papa saja yang ke sana? Tania kan putri Papa. Aku lagi banyak urusan, Pa. Maaf, teleponnya aku tutup lagi!" tanpa menunggu jawaban papanya, Theo langsung memutuskan panggilan secara seperti. Kurang sopan memang, tapi pria itu benar-benar tidak mau mendengarkan celotehan papanya itu lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga Prayoga, Tania tampak kebingungan kenapa tiba-tiba postingannya hilang tanpa jejak, padahal dia tidak pernah menghapus postingan itu.
Wanita itu kemudian tanpa sadar menghubungi Dito, karena dia yakin kalau pria itu lah yang menghapus postingannya.
"Ada apa, Sayang? tumben kamu menghubungiku. Apa kamu merindukanku?" tanya Dito dengan nada sensual.
"Dito, stop pikiran mesummu! aku mau tanya, kamu ya, yang menghapus postinganku barusan? padahal postingan itu sudah sangat ramai mendapat tanggapan dari masyarakat, eh malah kamu hapus seenak jidat," bentak Tania, tidak terkendali.
"Postingan apaan sih? aku sama sekali tidak membuka media sosialmu, bahkan media sosialku juga tidak. Kamu jangan main tuduh sembarangan!" terdengar suara Dito yang tidak terima atas tuduhan Tania.
"Ja-jadi kalau bukan kamu siapa lagi?" Tania mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Emangnya apa yang kamu posting?" terdengar lagi suara Dito dari ujung sana dan kali ini, lebih lembut.
Tania akhirnya menceritakan apa yang dia lakukan tadi, untuk menarik simpati masyarakat dengan tujuan agar Bara bisa bersikap lebih baik padanya, karena tidak ingin dia melakukan hal itu lagi. Selain itu, tujuan Tania ingin agar Bara memberikan klarifikasi ke masyarakat tentang siapa Bimo, lalu memperkenalkan siapa anak kandung sebenarnya.
"Dia pasti ingin nama baiknya kembali kan? jadi dia pasti mau tidak mau akan bersikap baik padaku dan Tristan," pungkas Tania dengan penuh kebanggaan, dan merasa kalau dirinya sangat cerdik. "Tapi, masalahnya sekarang, aku bingung kenapa postingannya bisa hilang tanpa jejak," imbuh Tania lagi.
"Mungkin Bara yang sudah meminta postingan itu untuk di-takedown. Tapi,tadi postingannya sudah banyak yang membagikan kan? kalau iya, berarti kamu tidak sepenuhnya gagal. Syukur-syukur banyak yang sudah menyimpan videonya dan diupload ulang," bisa dipastikan kalau sudut bibir Dito di sebrang sana, pasti tersenyum sinis.
"Ya, banyak yang sudah membagikan, bahkan jumlahnya di luar dari prediksiku! mudah-mudahan apa yang kamu katakan itu benar. Sudah ya, aku tutup dulu. Aku tidak mau ada yang mendengar pembicaraan kita," Tania baru saja hendak mematikan panggilannya, tiba-tiba dia dikagetkan dengan kemunculan Bara yang sudah berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tatapan membunuh.
tbc