
Acara pesta perayaaan ulang tahun William terlihat begitu meriah, karena memang William adalah putra satu-satunya dari seorang konglomerat di negara itu.
Di antara para tamu undangan tampak Bima duduk bersama dengan beberapa temannya, tapi terlihat jelas kalau dia sama sekali tidak menikmati pesta.
"Hei, kenapa wajahmu selalu datar? nikmati pesta ini, Bro!" ucap salah satu temanya menggunakan bahasa Inggris.
Bima tidak menjawab sama sekali. Pria itu hanya menanggapi dengan sebuah senyuman tipis.
"Lihat saudara kembarmu itu! Dia sudah memiliki kekasih, apa kamu tidak ingin seperti dia!" seseorang tadi menunjuk ke arah Bimo yang sedang berdansa dengan Michelle.
Lagi-lagi Bima tersenyum. "Semua ada waktunya, tapi yang jelas tidak dalam waktu dekat ini," jawab Bima, lugas.
"Aku heran dengan kamu, kenapa kamu tidak mau memanfaatkan wajah tampanmu? Padahal aku yakin, akan banyak yang dengan suka rela melemparkan tubuhnya, padamu. Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan menyia-nyiakannya," satu lagi teman Bima, buka suara menimpali pembicaraannya dengan temanya yang tadi.
"Maaf sekali! setiap orang memiliki prinsip yang berbeda. Begitu juga aku. Aku mau melakukannya pada wanita yang aku cintai dan tentunya sudah sah menjadi istriku," tutur Bima dengan tetap tersenyum.
"Wah, aku salut dengan kamu!" dua orang pria berkebangsaan Ingris itu, berdecak kagum pada Bima.
"Tuan, ini orange juice pesanan anda!" seorang wanita berpakaian waitres datang menghampiria Bima.
"Oh, iya, terima kasih banyak!" tanpa senyum Bima meraih gelas berisi orange juice itu dari nampan yang dibawa waitres itu.
Namun, Bima terlihat tidak langsung meminum. Pria itu justru meletakan gelas itu di atas sebuah meja.
Waitres tadi kemudian menganggukkan kepala dan memutar tubuhnya hendak pergi.
"Nona, tolong bawakan aku juga orange juice ya?" salah satu teman Bima yang bernama Bima, buka suara sebelum waitress itu benar-benar pergi.
Setelah itu, pria itu menoleh ke arah Bima dan melihat gelas milik Bima masih belum berkurang.
"Kenapa tidak diminum, Bro?" tanya Bryan, dengan alis bertaut.
"Oh iya, sebentar lagi. Aku belum terlalu haus." sahut Bima. " Oh ya,aku ke toilet dulu sebentar ya!" Bima berdiri dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
Baru saja Bima pergi, Bimo tiba-tiba datang menghampiri dengan tangan yang memegang gelas berisi orange juice juga. Dan sepertinya, pria itu juga belum sedikitpun meneguk minumannya itu.
"Kalian melihat Bima?" tanya Bimo dengan mata yang mengedar menatap ke sekeliling, untuk mencari keberadaan kakaknya itu.
"Dia baru saja pergi ke toilet. Mungkin sebentar lagi akan kembali," sahut Brian.
"Oh," Bimo mengangguk-anggukan kepalanya.
"Emm,aku haus sekali! Waitres tadi kenapa lama ya?" Brian menatap tempat dari mana waitres tadi datang.
"Kamu minum punya Bima dulu. Dia pasti tidak akan marah. Nanti, kamu kan bisa ganti dengan juice pesananmu," pria di sampingnya memberikan saran.
"Emmm, kamu benar juga. Kan sama saja ya?" Brian meraih gelas milik Bima dan meneguk isinya sampai tandas.
"Aku juga sepertinya haus," pria di samping Brian itu,meraih gelas milik Bimo dan meneguk sampai tandas.
Tidak kurang dari lima menit, terlihat Brian mulai gelisah disertai dengan peluh yang mengalir deras dari pelipisnya.
"Kamu kenapa, Brian?"
"Aku tidak tahu, Victor. Aku tiba-tiba merasa panas dan aku sepertinya butuh seorang wanita. Kamu tahu kan maksudku?" Brian terlihat semakin pucat.
Tiba-tiba Victor juga merasakan hal yang sama. Pria itu juga terlihat mulai gelisah.
"Brian, sepertinya aku juga merasakan hal yang sama. Sepertinya ada yang meletakkan sesuatu di minuman itu. Target mereka pasti Bima dan Bimo tapi, kita yang kena. Bagaimana ini, Brian? Apa kamu bisa menghubungi wanita-wanita bayaran yang sering kamu pakai? Aku benar-benar sudah tidak kuat ini!" napas Victor terlihat memburu saking kuatnya pengaruh obat di tubuhnya
"Kalau menunggu mereka datang, kita pasti akan mati,Victor!" rintih Brian.
"Maaf, ini juice pesanan anda. Maaf lama!"waitres yang tadi tiba-tiba datang.
"Oh ya, di mana Tuan yang tadi?" waitres itu menunjuk ke arah kursi Bima yang kosong.
"Dia ke toilet," jawab Brian sembari menahan hasratnya. Ingin sekali dia, dia menyergap waitres itu saat itu juga.
"Oh begitu? Kalau begitu, tolong sampaikan pesan ini pada tuan itu kalau dia sudah kembali, karena aku masih banyak pekerjaan!" waitres itu memberikan satu carik kertas pada Brian. Kemudian mata waitress itu, Mengedar seperti mencari seseorang yang tadinya dia tahu ada di lantai dansa.
"Emm, di mana pria itu? Ahh, aku tidak peduli sama sekali. Sepertinya dia juga sudah pergi.waitres itu menjatuhkan secarik kertas ke lantai dan langsung berlalu pergi.
"Victor, ini ada pesan! Sepertinya ini ditunjukkan untuk Bima. Dia meminta Bima untuk menemuinya di kamar nomor 303 lantai 3. Katanya dia siap untuk memuaskan Bima. Coba kamu ambil kertas itu. Aku yakin itu pasti untuk Bimo!" Brian menunjukkan pesan itu yang kebetulam ditulis menggunakan bahasa Inggris.
Victor kemudian meraih kertas itu. Dan benar saja, itu pesan yang sama persis dengan kertas yang ada di tangan Brian. Bedanya hanya beda kamar saja.
"Ini kesempatan kita! Ayo kita langsung ke sana, aku sudah tidak kuat!" dengan sedikit berlari dua pria itu keluar dari ruangan itu menuju kamar yang mereka tahu, ada wanita yang bisa membuat mereka keluar dari pengaruh obat.
Tbc