Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 97 Keira, di culik!


Keesokan harinya, lagi-lagi Keira tidak mendapati Kevin di kamar. Ia lalu buru-buru turun dari tempat tidurnya tapi ia lupa kalau kursi rodanya masih tertinggal di kamar Marvel. Keira lalu berusaha berjalan keluar, menuju kamar Marvel. Keira tersenyum saat putra sambungnya itu tengah bersiap memakai seragam.


''Marvel, kamu sudah siap?''


''Sudah dong, Mah. Mama sudah bisa jalan lagi?''


''Iya. Tapi harus pelan-pelan dulu. Oh ya mana Papa?''


''Papa baru saja pergi, Mah. Setelah menyapaku dia pergi ke kantor. Karena ada meeting yang tidak bisa di tinggalkan.''


''Oh begitu.'' Jawab Keira dengan lemas.


''Apa Papa dan Mama sedang ada masalah?'' selidik Marvel.


''Tidak. Kami baik-baik saja. Habisnya akhir-akhir ini Papa berangkatnya pagi sekali dan semalam saja hampir jam 12 baru sampai di rumah.''


''Ya begitulah Papa, Mah. Papa seperti tidak butuh kita. Papa selalu saja sibuk tanpa pernah memperhatikan aku. Tapi kalau Papa seperti ini terus, kita tinggalkan Papa saja Ya Mah. Aku sudah bahagia hidup bersama Mama saja.''


''Ssstttt kamu tidak boleh bicara seperti itu, Marvel. Mau bagaimanapun dia tetap Papa kamu jadi kamu harus menghormatinya. Papa melakukan ini semua juga demi kamu jadi kamu harus bersabar.''


''Iya Mah. Maaf ya. Ya sudah Mah, ayo kita sarapan. Nanti Mama antar aku ke sekolah ya.''


''Iya. Sekalian Mama ke rumah sakit Dokter Alan untuk mengontrol kaki Mama ini.''


''Oke Mah.''


Setelah mengantar Marvel ke sekolah, Keira yang hanya di temani oleh supir, menuju rumah sakit Dokter Alan. Ia juga sudah membuat janji. Sesampainya di rumah sakit, Dokter Alan segera memeriksa kaki Keira.


''Sepertinya kamu sudah lebih baik ya, Kei. Kamu sudah berjalan cukup jauh untuk sampai di ruanganku.''


''Ini semua kan berkat Dokter Alan yang terbaik.'' Puji Keira.


''Oh ya, kenapa kamu sendiri? Mana Kevin?''


''Mas Kevin pagi sekali sudah ke kantor.''


''Orang itu bagaimana sih? Sudah tahu istri sakit masih saja gila kerja,'' gerutu Alan.


''Ya maklumlah Dokter, pasti ada banyak hal yang perlu di urus.''


''Ya tapi ini sudah keterlaluan, Kei. Suami macam apa yang membiarkan istrinya pergi begitu saja. Oh ya sebaiknya kamu pakai satu kruk dulu ya, kami juga masih tertatih seperti itu.''


''Iya Dokter Alan.''


Selesai dari rumah sakit, Keira kemudian melanjutkan perjalananan menuju kantor Kevin. Ia sudah menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Kevin. Namun tiba-tiba saja, sebuah mobil menghadang perjalanan Keira.


''Pak, siapa mereka?'' tanya Keira pada Pak Wahyu.


''Saya tidak tahu, Non.'' Jawab Pak Wahyu. Ada lima orang pria bertubuh kekar, menghampiri mobil mereka, penampilan mereka mirip seorang mafia.


''Nona disini saja, saya akan turun.''


''Pak Wahyu hati-hati ya.''


Pak Wahyu kemudian terlibat adu pukul dengan lima orang pria itu. Lalu pria bertubuh kekar itu menghampiri bangku belakang Keira.


''Siapa kalian?'' tanya Keira dengan suara meninggi. Namun mereka tidak menjawab dan menarik paksa Keira keluar. Keira lalu berusaha memukul mereka dengan kruk-nya sekuat tenaga. Namun sayang Keira gagal melawan mereka, mereka justru membius Keira sampai akhirnya Keira tidak sadarkan diri. Sementara tenaga Pak Wahyu sudah habis untuk menyerang mereka semua, Pak Wahyu sampai tersungkur sambil memgangi dadanya. Wajahnya penuh memar dan berdarah.


''Non Keira! Jangan bawa Non Keira!" teriak Pak Wahyu sekuat tenaga. Pak Wahyu lalu merogoh ponselnya untuk menelepon Kevin.


Kevin sendiri sedang memimpin rapat bersama timnya. Ia melihat ponselnya bergetar di atas meja dan melihat ada nama Pak Wahyu disana.


''Pak Wahyu? Ada dia menelepon di jam segini,'' batin Kevin. Kevin kemudian mengangkat telepon dari Pak Wahyu.


''Halo Tuan! Nona Keira di culik!"


''Apa? Di culik? Bagaimana bisa?''


''Saya sudah memfoto nomor plat mobil yang menculik Nona. Kami sedang perjalanan menuju kantor anda tapi ada mobil yang menghadang kami. Maafkan saya tidak bisa menjaga Nona.''


''Sekarang Pak Wahyu ada dimana?''


''Saya berada di Jalan Kenanga, Tuan.''


''Baiklah saya segera kesana, Pak.'' Tanpa banyak bicara, Kevin pun segera meninggalkan rapat. Semua yang ada di ruangan rapat pun ikut panik setelah mendengar pembicaraan Kevin dan Pak Wahyu.


-


Kevin kemudian bergegas menemui Pak Wahyu untuk memastikan kalau Pak Wahyu baik-baik saja.


''Pak Wahyu! Astaga kenapa sampai seperti ini Pak? Kenapa Pak Wahyu membiarkan Keira keluar?'' tanya Kevin dengan panik.


''Nona meminta saya untuk mengantar ke rumah sakit menemui Dokter Alan. Karena perban di kakinya, sudah waktunya untuk di lepas. Setelah itu Nona minta di antar ke kantor Tuan, untuk mengantarkan sarapan sekaligus makan siang,'' cerita Pak Wahyu sambil berusaha menahan sakit.


''Ayo Pak, sebaiknya kita ke rumah sakit.''


''Tapi Pak....''


''Sudah jangan hiraukan saya. Selamatkan Nona Keira. Mereka tadi berjumlah lima orang dan Nona di bius.''


''Baiklah Pak. Pak Wahyu hati-hati dan jaga diri.''


Kevin pun bergegas melanjutkan perjalanannya, menyusuri jejak mobil yang membawa Keira. Meskipun ia sendiri tidak tahu, kemana langkahnya akan terhenti. Rasa panik dan cemas menghantui Kevin sepanjang perjalanan.


-


Keira baru sadar dari pengaruh biusnya. Ia sangat terkejut saat sudah berada di sebuah ruangan yang mirip gudang bekas tak terpakai. Tubuhnya sudah terikat di atas kursi dan lakban hitam menutup rapat mulut Keira.


''Mmmmmmm, mmmmmm, mmmmm,'' hanya itu yang bisa Keira ucapkan. Kemudian munculah, seorang pria yang tak asing bagi Keira.


''Tuan Jason!" batin Keira.


''Halo sayang, kamu sudah sadar ternyata.'' Kata Tuan Jason dengan mulut manisnya. Tuan Jason kemudian mendekatkan wajahnya pada Keira. Keira memalingkan wajahnya, jijik menatap pria di hadapannya itu. Tuan Jason yang tidak suka di abaikan, menjabak rambut Keira dengan sangat kuat sampai kepala Keira mendongak. Tuan Jason lalu melepas lakban yang menutup bibir Keira.


''Kamu masih ingat kan? Apa yang terakhir kali kamu lakukan? Dan sekarang kamu harus membayarnya. Kamu sudah merusak harga diriku. Aku tidak bisa membiarkanmu hidup bahagia dengan suamimu yang kaya raya itu. Pertama aku akan meminta tebusan pada suamimu, lalu setelah itu aku akan membunuhnya di hadapanmu, setelah itu aku akan menikmati tubuhmu dan terakhir aku juga akan membunuhmu, lalu membuang tubuhmu di laut.'' Kata Tuan Jason dengan tawa menggelegarnya.


''Aku tidak akan membiarkannya terjadi. Lagi pula dia bukan suamiku. Kami melakukan kontrak, sama halnya saat kamu menjadi partnerku.'' Kata Keira dengan tegas.


''Sungguh? Kenapa aku tidak percaya ya? Kamu pintar juga mencari suami.'' Kata Tuan Jason sambil terus menarik rambut Keira. Keira hanya bisa menahan rintihannya, bahkan air matanya pun sudah membasahi pipinya.


''Aku tidak percaya ternyata seoran pria sepertimu itu, sangatlah pengecut dan banci!" kata Keira dengan sinisnya. Tuan Jason yang geram, melayangkan tamparan keras ke wajah Keira berkali-kali, sampai membuat ujung bibir Keira berdarah.


''Bunuh aku saja! Lebih baik mati, daripada harus berhadapan dengan manusia biadab sepertimu.''


''Dasar wanita ******!" bentak Jason sambil melayangkan tamparannya, namun tamparan itu berhenti saat ponsel Keira berdiring. Mata Keira membulat sempurna penuh ketakutan, berharap jangan sampai Kevin yang menelepon.


''Ambil ponselnya!" perintah Kevin pada anak buahnya. Anak buahnya lalu mengambil ponsel yang berada di tas slempang Keira.


''Kepala batu? Siapa kepala batu?'' selidik Tuan Jason.


''Dia hanya teman kampusku saja. Jadi tidak perlu mengangkatnya,'' kata Keira penuh ketakutan. Melihat wajah Keira yang ketakutan, justru semakin membuat Tuan Jason penasaran. Tuan Jason lalu mengangkat telepon itu dengan mode loudspeaker.


''Halo, kepala batu!" sapa Jason.


''Halo, siapa ini? Dimana istriku?'' bentak Kevin sambil terus fokus menyetir.


''Oh jadi dia istrimu. Tenang saja Tuan, aku akan menjaganya dengan baik. Aku hanya ingin bawakan uang 50 Milyar karena kalau tidak, aku akan membunuhnya.''


''Ja-jangan! Aku akan menuruti perintahmu. Katakan, dimana aku harus membawa uang itu? Tapi jangan sakiti istriku.''


''Mas jangan datang! Jangan pernah datang. Mereka semua bajingan.'' Sahut Keira dengan suara yang keras.


''Diam kamu wanita ******, PLAK!" Tamparan yang keras itu pun terdengar nyaring di gudang yang kosong itu.


''Jangan pernah sentuh dia! Kalau sampai kamu menyentuhnya, aku tidak segan-segan membunuhmu dengan tanganku sendiri.''


''Hahahaha, kalau kamu sudah membawa uang itu, aku tidak akan menyentuhnya tapi kalau sampai kamu tidak datang, kamu tahu sendiri apa yang akan aku lakukan.''


''Mas, jangan datang. Dia adalah Tuan Jason dan aku berada di gudang kosong,'' kata Keira yang berusaha memberi tahu Kevin.


''Terlalu banyak bicara!" Tamparan melayang lagi dari tangan Tuan Jason, sampai akhirnya Keira pingsan. Anak buah Tuan Jason lalu menutup kembali mulut Keira.


''Kei, kamu tunggu aku Kei.'' Kata Kevin yang semakin panik.


''Aku menunggumu di gudang kosong bekas tekstil. Jangan lupa 50 Milyar dan ingat jangan libatkan polisi kalau ingin istrimu selamat,'' Panggilan pun berakhir.


''Aaaaa, sial! sial! sial! Bajingan itu. Dia yang waktu itu akan memperkosa Keira.'' Umpat Kevin.


Kevin kemudian menghubungi Miko.


''Mik, elo dimana?''


''Gue lagi di cafe. Ada apa? Kayaknya elo panik.''


''Keira di culik.''


''Apa? Di culik?''


''Iya. Sekarang gue menuju ke gudang kosong bekas tekstil dan siapkan uang 50 Milyar.''


''Jangan gegabah, Kevin. Sebaiknya elo hubungi David, biar dia dan anak buahnya bantuin elo.''


''Tapi David sedang dinas di luar kota. Lagian mereka mengancam untuk tidak melibatkan polisi karena nyawa Keira taruhannya.''


''Halah, elo masih aja percaya sama mulut penjahat kayak gitu. Kebetulan gue baru aja ketemu David di cafe, dia baru balik juga. Udah elo tenang dulu, gue bakal telepon David buat bantuin elo. Kalau masalah seperti itu serahkan pada komandan David.''


''Oke Mik, thanks ya.'' Panggilan pun berakhir.


Bersambung.....