Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 55 Terjebak Rasa



Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. Marvel masih setia menemani papanya di kamar. Keduanya duduk bersandar pada dipan sembari menonton kartun. Marvel sangat senang karena ia bisa benar-benar menikmati waktunya bersama papanya. Namun Kevin tampak gelisah, sesekali ia melihat ponselnya karena ada sesuatu yang di nantinya.


''Marvel, Mama Keira tidak bilang dia akan kembali jam berapa?'' tanya Kevin tampak malu-malu.


''Tidak pah. Tapi Mama janji akan kembali setelah urusannya selesai.''


''Iya tapi jam berapa?''


''Memangnya ada apa sih pah? kok papa sepertinya ingin Mama cepat pulang.''


''Bukan begitu, dia kan masih terikat kontrak sama kamu dan dia sudah janji akan membantu kamu untuk merawat papa kan?'' kata Kevin yang mencoba mencari alasan.


''Baiklah, aku akan menelepon mama. Pinjam ponsel papa dong,'' kata Marvel. Kevin lalu memberikan ponselnya pada Keira. Marvel tersenyum saat nama kontak Keira di ponsel papanya tidak di ubah.


''Halo mama. Mama dimana? aku ingin makan ayam crispy,'' pinta Marvel sembari merajuk.


''Ini baru saja mau jalan. Papa sudah makan siang, Marvel?''


''Belum mah, papa tidak mau makan sebelum mama pulang. Papa sangat merindukan mama dan selalu menanyakan kapan papa pulang, jadi mama cepat pulang....,'' belum selesai Marvel berbicara, Kevin merebut dan mengakhiri panggilannya begitu saja.


''Marvel ini kenapa sih? telepon belum selesai sudah di matikan. Dan tadi bilang si kepala batu merindukanku? iya merindukan untuk bertengkar dengan ku. Lebih baik aku belikan ayam goreng untuk Marvel, setelah itu aku pulang.'' Gumamnya sembari melajukan motornya kembali.


''Marvel, kamu ini bicara apa sih? bikin malu saja,'' kata Kevin dengan kesal.


''Malu apanya pah? papa mulai suka ya sama Mama Keira?'' goda Marvel.


''Suka? tidak! aku hanya membantunya saja supaya dia tidak mendapat hukuman dari kamu.''


''Masa sih pah,'' goda Marvel sambil menggelitiki papanya.


''Marvel, geli ah,'' keluhnya sambil tertawa. Kevin lalu membalas dengan menggelitiki Marvel, keduanya lalu saling tertawa dan berpelukan.


''Mama Keira itu baik banget pah. Keluarnganya juga sangat baik. Selama aku disana, mereka menjaga dan merawatku dengan baik. Banyak hal baru yang aku dapat disana. Om Kenny juga baik, dia membelikan aku perlengkapan menggambar. Apalagi Kakek Ammar, ayahnya Mama Keira. Kakek Ammar juga sangat baik, aku merasa memiliki kakek kandung pah. Pokoknya aku sangat bahagia bersama mereka. Aku juga tidak tahu bagaimana kalau saat itu Om Kenny dan Tante Cindy tidak menemukan aku. Maafkan aku ya pah, sekali lagi maafkan aku untuk semuanya.''


''Tidak nak. Kamu tidak perlu meminta maaf. Kejadian kemarin memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk papa. Kalau papa tidak bisa kehilangan kamu, papa sangat mencintai kamu dan kamu adalah segalanya untuk papa.''


''Papa juga segalanya untuk aku. Untuk itu aku ingin melihat papa bahagia bersama seseorang yang tepat yaitu Mama Keira.''


''Oh ya papa ingin sekali bertemu dengan keluarga Mama Keira. Papa ingin mengucapkan terima kasih. Karena selama disana, mereka menjaga dan merawat kamu dengan baik.'' Kata Kevin yang berusaha mengalihkan perhatian Marvel.


''Bagaimana kalau besok pah? besok adalah hari pernikahan Om Kenny dan Tante Cindy. Kita beri mereka hadiah pernikahan. Apa papa setuju?''


''Setuju saja. Semoga papa segera pulih dan bisa menghadiri pernikahan Om Kenny dan Tante Cindy.''


-


''Siang Mbak,'' sapa Keira saat Mbak Rima membukakan pintu untuknya.


''Siang juga Nona Keira. Ayo masuk, Non. Den Marvel sudah menunggu di kamarnya tuan.''


''Oke Mbak.''


''Nona mau minum apa?''


''Mbak, tidak usah repot-repot membuatkan saya minum setiap saya datang kemari. Santai saja lah, Mbak. Oke,'' kata Keira dengan senyum lebarnya.


''Iya Mbak. Ya sudah kalau begitu saya ke belakang dulu ya.''


''Iya Mbak.''


Keira lalu berjalan menuju kamar Kevin dengan tangan kanan yang membawa ayam crispy pesanan Marvel. Keira membuka perlahan dan melihat dari celah pintu kalau ayah dan anak itu tampak kompak. Keduanya terlihat lebih saling menyayangi dan saling perhatian. Keira pun ikut tersenyum melihat keduanya yang sudah berdamai.


''Mama, kemarilah!" seru Marvel saat melihat Keira. Keira lalu masuk lebih dalam lagi dan mendekat ke arah tempat tidur. Karena keduanya sedang duduk bersama di atas tempat tidur sembari menonton televisi.


''Marvel, ini ayam crispy pesanan kamu.'' Kata Keira sambil memberikan satu bucket ayam untuk Marvel.


''Berapa total semuanya Kei? mulai dari makanan yang kamu buat, waktu kamu selama disini dan sekalian biaya hidup Marvel selama tinggal di rumah kamu?'' tanya Kevin.


''Tuan, tidak semuanya di ukur dengan uang. Kalau kebaikan dan kebahagiaan bisa di ukur dengan uang, harta yang anda miliki tidak akan bisa membayarnya.'' Kata Keira dengan suara meninggi.


''Papa-Mama sudah jangan berdebat, lebih baik kita duduk bersama sambil makan ayam crispy ini. Kalian itu persis seperti kartun yang sedang aku tonton, Tom and Jerry.'' Protes Marvel yang selalu terjebak dengan perdebatan keduanya.


''Marvel, maaf ya bukannya mama tidak mau. Tapi mama harus pulang untuk membantu pernikahan Om Kenny dan Tante Cindy.'' Tolak Keira dengan halus.


''Oh iya aku hampir lupa tapi sebelum pergi peluk aku dulu mah.'' Kata Marvel sambil merentangkan kedua tangannya. Keira mengangguk lalu mendekat ke sisi ranjang sebelah kanan untuk memeluk Marvel.


''Mama hati-hati ya. Besok aku akan datang ke pernikahan Om Kenny dan Tante Cindy, boleh kan?''


''Tentu saja boleh.'' Jawab Keira. Keira lalu melepaskan pelukannya pada Marvel.


''Tuan jangan lupa makan dan minum obat kalau ingin punya umur panjang karena aku harus pulang,'' pesan Keira.


''Tanpa kamu minta juga aku akan melakukannya.''


''Oke baguslah. Kalau begitu permisi.''


''Iya. Terima kasih.'' Singkat Kevin. Keira lalu pamit dan meninggalkan rumah Kevin.


...****************...


''Sayang, I miss you. Akhirnya kamu pulang juga. Pasti papa memberikan kamu banyak pekerjaan ya,'' kata Lily seraya memeluk manja kekasihnya itu.


''Aku juga sangat merindukanmu, sayang.'' Kata Ferdi yang baru saja tiba di apartemen milik Lily.


''Kemarilah ada yang ingin aku bicarakan denganmu,'' lanjut Ferdi sembari mengajak Lily duduk.


''Ada apa sih? serius banget kayaknya.''


''Lily, kenapa kamu mengeluarkan Keira dari sekolah?''


Mendengar ucapan Ferdi, seketika membuat wajah Lily berubah kesal.


''Oh, kamu sudah mendengar rupanya. Tadinya aku tidak mau membahas ini denganmu.'' Lily kemudian berdiri dan mengambil beberapa foto yang pernah ia tunjukkan pada Keira juga.


''Lihat ini! jangan pikir aku tidak tahu. Kamu bermain api di belakang ku kan?'' kata Lily sambil melempar foto itu. Melihat foto-foto itu, Ferdi hanya bisa terdiam sambil menghela nafas panjang.


''Kenapa kamu diam-diam menemuinya? kamu pikir aku bodoh, Fer. Setelah pengorbananku selama ini, kamu tega menjalin hubungan dengannya lagi? dimana perasaan kamu, Fer? kenapa kamu mau bersamaku, kalau kamu memang masih mencintainya. Apa kamu ingin memanfaatkan aku dan keluargaku untuk hidup mewah, iya?'' ucapnya dengan suara meninggi. Ferdi lalu berdiri dan memeluk Lily dari belakang.


''Maafkan aku, Lily. Aku tidak ada maksud untuk untuk memanfaatkan siapapun. Aku rela melepas semuanya dan menjalani semuanya dari nol. Oke, aku salah. Tapi semua pertemuan itu terjadi tanpa unsur kesengajaan. Hubunganku dengan dia hanya sebatas teman saja. Aku pun sudah menjelaskannya kalau aku sekarang memilikimu, bahkan aku mengundangnya di acara pertunangan kita. Jadi aku mohon, jangan sakiti dia.''


''Oh jadi kamu memohon untuk itu?'' kata Lily sambil menepis kasar pelukan Ferdi.


''Bukan itu maksudku, Lily. Biarlah dia jadi masa laluku karena masa depanku adalah kamu. Jadi kamu juga tidak usah mengusiknya. Biarkan dia menjalani hidupnya sendiri. Aku bahkan mana pernah menelepon atau menghibunginya. Aku saja sendiri tidak tahu kalau dia magang di yayasan milik keluarga kamu dan tidak seharusnya kamy mengeluarkan dia hanya karena masalah pribadi.''


''Itu karena aku marah padamu dan itu lebih baik, supaya aku tidak selalu melihatnya. Karena setelah ini, papa akan mempercayakan aku untuk mengurus yayasan sekolah itu. Aku harap kamu jangan temu dia atau menjalin hubungan dengannya karena aku tidak akan segan-segan untuk menyakitinya.'' Ancaman Lily sungguh tidak main-main. Ferdi hanya bisa mengangguk pasrah dengan ancaman Liliy, ia kemudian memeluk Lily. Tidak bisa di pungkiri, keluarga Lily sangat baik. Sekalipun menurut orang Lily itu judes, egois dan angkuh tapi Lily selalu baik dengannya ataupun dengan ibunya.


''Maafkan aku Lily, kamu sangat baik. Tapi bertemu kembali dengan Kei, seolah membangkitkan kembali perasaanku padanya. Aku menyesal telah meninggalkannya dan tergoda untuk bersamamu. Tapi aku juga sudah terlanjur menyakitinya dan aku kini terjebak dengan rasa bersalah yang dalam terhadap Kei.'' Kata Ferdi dalam hati.


Sebenarnya ini episode 56 tapi nggak tahu kok episode 55 nya tiba2 hilang dan otomatis ini yang naik, bingung jadinya


Bersambung..... Maaf yaaa baru up lagi, kemarin sibuknya fulll banget 🙏🙏❤️❤️