
''Mas, besok jangan lupa luangkan waktu untuk acara disekolah Marvel ya. Besok perpisahan kelas 6 tapi Marvel di tunjuk untuk mengisi acara.'' Ucap Keira sembari menuangkan nasi ke piring suaminya.
''Serius besok Kakak Marvel mau tampil diatas panggung?'' tanya Kevin pada putranya.
''Iya dong, Pah. Besok Marvel tampil diatas panggung membawakan musikalisasi puisi.'' Sahut Marvel.
''Wah, anak Papa hebat banget ya. Papa sampai ketinggalan info.''
''Bagaimana tidak ketinggalan info, kamu akhir-akhir ini pulang malam terus, Mas.''
''Ya bagaimana lagi sayang, aku kan sedang menggarap produk baru. Maaf ya sayang sampai aku tidak memberi waktu kamu untuk mengobrol. Kamu juga semakin repot apalagi sekarang ada Rachel. Kamu sebaiknya pergi ke salon gih, untuk treatment. Apalagi besok acara spesial untuk Marvel, jadi kamu harus tampil cantik dan fresh.'' Ucap Kevin sambil mengelus kepala istrinya.
''Besok Papa dan Mama juga harus memberikan penampilan yang terbaik juga untuk Marvel. Besok hari spesial untuk Marvel.'' Ucap Marvel dengan penuh semangat.
''Tuh dengerin apa kata Marvel, sayang. Stok ASI kamu juga melimpah kan? Jadi tidak usah khawatir kalau Rachel menangis minta susu. Atau kamu minta orang salonnya untuk kerumah. Aku juga tidak ingin kamu terlalu capek. Atau aku saja yang menghubungi anak buah Gina ya, supaya mereka ke rumah.''
''Ya sudah Mas, terserah kamu saja.''
''Ya sudah kalau begitu biar nanti mereka kerumah ya. Aku nanti akan pulang lebih awal.'' Ucap Kevin.
''Iya-iya Mas.''
''Hmmm paling-paling nanti aku habis perawatan, Mas Kevin langsung minta jatah. Apalagi Mas Kevin mau pulang lebih awal. Modusnya Mas Kevin sudah bisa aku tebak.'' Gumam Keira dalam hati.
...----------------...
''Terima kasih ya sudah mengantarku. Kamu hati-hati ya.'' Ucap Chika saat turun dari motor Zidni.
''Oke. Aku pergi dulu.''
''Iya.'' Singkat Chika. Zidni kemudian melajukan motornya untuk pergi ke kantor. Chika lalu berjalan menuju ruangannya. Namun suara seorang pria tiba-tiba saja menyapanya.
''Pagi Chika!" sapa Nino salah satu karyawan Kevin yang menjabat sebagai manager pemasaran.
''Mas Nino! Pagi juga.''
''Wah, penampilan baru nih.'' Nino menyamakan langkahnya dengan Chika.
''Masa iya ganti baju saja penampilan baru?'' ucap Chika malu-malu.
''Kamu terlihat beda dan semakin cantik. Apalagi dengan sepatu dan bajumu ini. Sepertinya style seperti ini sangat cocok untukmu.''
''Iya tapi aku tidak terbiasa memakai rok begini.''
''Kamu mau pakai apa saja tetap cantik, Chika. Apalagi sebagai seorang sekretaris penampilan itu sangat penting.''
''Iya juga sih.''
''Oh ya, nanti aku ingin mengajakmu makan siang. Apa kamu mau?''
''Makan siang? Mmmm boleh.''
''Baiklah sampai jumpa nanti ya.''
''Iya Mas Nino.''
''Sudah lama tidak ada pria yang memujiku. Mantan pacar ku saja ilfiil denganku. Tapi apa benar ya pengirimnya itu Mas Nino. Apalagi dia ingin mengajakku makan siang. Akhirnya ada juga yang melirikku.'' Gumam Chika dalam hati.
Saat jam makan siang, Mas Nino menghampiri Chika di ruangannya.
''Hai Chika! Yuk, berangkat.'' Ajak Nino.
''Iya.''
Chika dan Nino lalu berjalan menuju tempat parkir. Chika yang hendak duduk di pintu belakang, tiba-tiba di cegah oleh Nino.
''Chika, duduklah disampingku bangku depan. Aku bukan supir taksi.'' Kata Nino dengan senyum kecilnya.
Chika meringis. ''Maaf.''
Nino lalu membukakan pintu depan. mobil untuk Chika.
''Terima kasih.'' Ucapnya.
''Sama-sama.''
Nino lalu naik ke mobilnya dan segera melajukannya.
''Kita mau makan dimana?'' tanya Nino.
''Oke baiklah. Aku akan mengajakmu ke restoran favoritku. Restoran Jepang mau kan?''
''Mmmm bagaimana kalau yang lain? Maaf lidahku ini kan lidahnya orang kampung jadi makanan seperti itu tidak cocok untukku.''
''Oh begitu. Oke, kalau begitu kita ke restoran yang lain saja. Gitu dong kamu bilang jadi aku tahu makanan kesukaan kamu seperti apa.''
''Maaf ya, aku memang norak.''
''Tidak apa-apa Chika. Itu kan memang soal selera jadi santailah. Kalau aku memang suka sekali makanan Jepang. Sampai aku memilih kuliah disana.''
''Wah keren ya kamu.''
''Kamu juga keren. Lulus cumlaude langsung menjadi sekretaris.''
''Memang aku kuliahnya ambil fakultas itu, Mas.''
''Oh ya, aku mengajakmu makan siang tidak ada yang marah kan?''
''Maksudnya siapa yang marah? Tuan Kevin?''
Nino terkekeh. ''Kamu ini lucu dan polos sekali. Maksudku itu, pacar kamu Chika.''
''Hehehe oh itu. Aku tidak punya pacar, Mas Nino. Aku bahkan hanya sekali pacaran.''
''Serius cuma sekali? Kamu sangat cantik dan pintar masa iya cuma sekali.''
''Iya. Sebenarnya aku ini tomboy dan tidak suka dandan, Mas. Pertama pacaran saja saat aku masih SMA. Dan aku diputusin karena itu.''
''Astaga, hanya karena itu di putusin. Menurut aku, kamu cantiknya natural. Tanpa polesan make up tebal saja, kamu sudah cantik.''
''Mas Nino, kamu sedari tadi memujiku. Aku bisa besar kepala.''
''Itu fakta lagi.'' Kata Nino.
''Apa Mr. X itu Mas Nino ya? Apa benar dia suka sama aku? Mas Nino memang tampan, ramah dan sangat baik. Dia sepertinya juga dewasa dan bisa mengayomi. Apalagi saat aku pertama masuk kerja, dia lah yang pertama menyapaku. Jangan ge-er dulu Chika, siapa tahu Mas Nino juga ramah dengan semuanya.'' Gumam Chika dalam hati.
''Mas Nino sendiri sudah punya pacar? Atau mungkin sudah memiliki calon istri?'' Chika mencoba menebaknya.
Nino pun tertawa. ''Hahahaha aku juga masih jomblo Chika. Aku terakhir punya pacar saat masih kuliah.''
''Habis, seorang Mas Nino tidak mungkin jomblo.'' Ucap Chika terkekeh.
''Kenapa memangnya? Kalau belum ada yang cocok, ya bagaimana lagi. Mending fokus kerja dulu. Kalau semuanya sudah siap, aku tentu akan secepatnya menikah. Apalagi tahun depan usiaku sudah 27 tahun.''
''Masih muda, Mas. Aku dulu berpikir kalau kita seumuran.''
''Hahahaha kamu memuji atau meledekku Chika?''
''Memuji kok, Mas. Beneran deh.''
''Kamu ini bisa saja. Kamu ini memang lucu, polos dan apa adanya.''
''Sudah Mas, jangan berlebihan memujiku.'' Ucap Chika malu-malu.
Sesampainya di restoran, Nino segera memesan makanan untuk dirinya dan juga Chika. Dan tak lama kemudian pesanan pun datang. Nino melihat Chika tampak kesulitan memotong daging.
''Sini, biar aku potongkan dagingnya ya.'' Nino menawarkan bantuan dengan lembut. Chika menganggyk dan membiarkan Nino memotong dagingnya.
''Terima kasih ya, Mas.''
''Sama-sama Chika. Ayo makan! Itu enak banget. Pasti cocok di lidah kamu.''
''I-iya.''
''Mmmm ini enak banget!" ucap Chika saat merasakan suapan pertama.
''Tuh benar kan apa kataku, kamu pasti menyukainya.''
''Iya Mas, ini enak banget. Dagingnya empuk tapi kenapa aku memotong saja kesusahan ya?''
''Itu karena kamu belum terbiasa Chika. Nanti kalau sudah terbiasa juga bisa kok. Kalau kamu nambah juga boleh kok.''
''Ah tidak usah, Mas. Ini saja sudah cukup.''
''Cukup untuk dua jam kedepan sih. Memang enak tapi tetap warteg yang bisa membuatku kenyang,'' gumam Chika dalam hati.
Bersambung....