
''Akhirnya pekerjaanku selesai juga.'' Gumam Chika. Chika terkejut saat melihat jam di layar ponselnya ternyata sudah menunjukkan pukul 8 malam.
''Sudah jam 8, Zidni tidak mungkin menjemputku. Dia juga pasti sudah pulang. Lagi pula, mana mungkin dia mau menjemputku.'' Gumam Chika sembari membereskan meja kerjanya. Setelah semuanya rapi, Chika bergegas meninggalkan ruangannya. Kantor pun sudah tampak sepi, hanya ada security yang selalu standby di sana.
Saat tiba di pelataran kantor, Chika terkejut melihat Zidni yang ternyata menjemputnya. Zidni bertengger pada motor sportnya. Tatapan matanya sangat tajam, saat melihat Chika yang baru saja keluar.
''Serius Zidni menungguku? Apa aku halusinasi ya?'' Chika mencubit pipinya dan rasanya sakit. Itu NYATA! Chika kemudian berjalan menghampiri Zidni yang sudah memasang wajah masamnya.
''Kenapa lama sekali? Aku sudah menunggumu dua jam lalu, '' ketus Zidni.
''Hah? Dua jam yang lalu? Kenapa tidak menelepon? Aku pikir kamu tidak akan menjemputku.''
''Kalau seperti ini aku tidak mau menjemputmu.''
''Ya maaf, salah siapa tidak meneleponku. Aku kebetulan sedang banyak pekerjaan.''
''Jangan banyak bicara! Pakai helmnya.'' Kata Zidni sambil melempar pelan helm untuk Chika. Namun tiba-tiba terdengar suara perut Chika keroncongan. Kruukk! Kruukk! Kruukk! Chika meringis menatap Zidni yang melihat ke arah perutnya.
''Boleh tidak kita makan dulu. Aku lapar. Aku kalau lapar tidak bisa tidur.''
Zidne mendengus. ''Merepotkan saja! "
Zidni kemudian mulai melajukan motornya.
''Mau makan dimana?'' tanya Zidni.
''Di warung tenda pinggir jalan saja murah dan bikin kenyang.'' Kata Chika.
''Baiklah! " Akhirnya Zidni menghentikan motornya di warung tenda. Chika pun segera turun dari motor.
''Ayo masuk! " ajak Chika.
''Tidak usah! Aku sudah makan. Aku tunggu disini.''
''Kamu ini manusia apa bukan sih? Aku melihatmu makan saat pagi saja. Oh ya aku lupa, kamu kan orang kaya jadi mana level makan di tempat seperti ini.''
''Jangam cerewet! Cepat makan atau aku pergi.''
''Yah, jangan dong! Iya-iya aku pesan dulu. Tunggu disini dan jangan kemana-mana.'' Ucap Chika seraya berlalu. Sembari menunggu Chika, Zidni memilih mendengarkan musik dari ponselnya.
Tiga puluh menit kemudian, Chika keluar dari warung tenda itu. Untung saja antreannya tidak panjang, jadi Zidni tidak terlalu lama menunggu. Chika sendiri makan terburu karena ia tidak mau membuat Zidni menunggu lebih lama lagi.
''Ayo pulang! " kata Chika. Zidni tersenyum tipis melihat butir nasi ada di bibir Chika.
''Itu, " kata Zidni sambil menunjuk bibir Chika.
''Itu apa sih? Di gigiku ada cabenya?''
''Tidak. Itu di bibirmu ada bulir nasi. ''
''Oh, '' Chika lalu menyekanya.
''Sudah? Atau masih ada?''
''Sudah hilang. Ayo naik! Sepertinya akan turun hujan. Langitnya mendung sejak tadi.''
''Iya-iya.''
Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Zidni segera mencari tempat berteduh. Mereka lalu berteduh di emperan toko.
''Yah, basah.'' Gumam Chika sambil membasuh bajunya. Chika merasa tidak nyaman karena blouse warna putihnya itu transparan karena basah. Membuat pakaian dalamnya kelihatan. Melihat Chika yang sibuk menutupi tubuhnya, Zidni melepas jaket kulitnya dan memakaikannya pada Chika. Chika terkejut dengan sikap Zidni itu.
''Kamu nanti kedinginan, Zidni.'' Kata Chika yang merasa tidak enak pada Zidni.
''Aku sudah biasa tinggal di udara yang lebih dingin dari ini. Pakai saja daripada pakaian dalammu terlihat.''
''Wah, matamu ternyata jeli juga ya.''
''Jeli? Kalau bajumu hitam, tidak akan kelihatan.'' Jawabnya ketus.
''Ya kebetulan saja pakai ini. Ini hujannya makin deras. Kamu telepon Om Miko dong, supaya mereka tidak khawatir. Baterai ku habis. Kenapa tidak kamu saja?''
Sementara itu Gina di kamar mondar-mandir sedari tadi.
''Sayang, kamu ini bikin pusing saja. Duduklah! Kamu ini kenapa?'' kata Miko.
''Mas, di luar hujan deras. Chika dan Zidni belum pulang. Ponsel mereka tidak aktif.''
''Mereka sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi. Siapa tahu mereka melipir kemana gitu. Santai saja lah. '' Ucap Miko yang tampak santai sembari membaca majalah.
''Aku khawatir, bagaimana kalau Chika termakan rayuan Zidni terus Zidni melakukan itu pada Chika.''
''Ketakutan kamu berlebihan. Itu sama saja kamu menuduh Zidni. Zidni tidak mungkin melakukan itu. Dia itu playboy bengis, beda denganku playboy ramah.''
''Iya RAMAH, rajin menjamah! " celetuk Gina dengan kesal.
''Lho-lho kok malah aku yang di sewotin sih. Sudah kamu tenang saja. Mungkin mereka sedang berteduh, secara Zidni bawa motor.''
''Aku juga takut kalau mereka ada apa-apa di jalan bagaimana?''
''Kalau ada apa-apa pasti juga ada kabar dari kepolisian.''
''Mas, kita tunggu mereka sambil nonton televisi di bawah yuk! Aku tidak akan memberimu jatah, kalau kamu tidak menemaniku.''
''Aduh, kalau urusannya soal jatah, aku sudah pasti tidak bisa menolak. Lagian kamu ini berlebihan. ''
''Masa kamu tidak khawatir, Mas. Mereka juga keponakan kamu. ''
''Iya tapi mereka sudah dewasa dan bukan anak-anak lagi. Mereka sudah tahu cara melindungi. diri.''
''Sudah, pokoknya temani aku ke bawah.''
''Iya-iya sayang, aku temani kamu.''
Zidni dan Chika masih berteduh di emperan toko, sementara hujan tak kunjung reda. Zidni mulai kedinginan.
''Jam berapa ini?'' tanya Chika. Zidni kemudian menoleh kearah jam tangannya.
''Sudah jam 10.''
''Duh kenapa belum reda juga ya? Apa kita nekat saja ya. Nanti Om Miko dan Tante Gina khawatir.''
''Kamu mau basah kuyup? Ini masih deras begini.'' Jawabnya sambil menggigil.
''Wah, kamu kedinginan ya? Katanya sudah biasa hidup di cuaca dingin. Nah ini malah menggigil, '' ledek Chika. Zidni hanya diam tidak menanggapi ocehan Chika. Chika kemudian menggosok-gosokkan telapak tangannya, lalu ia tempelkan pada pipi Zidni. Zidni terkejut dengan apa yang Chika lakukan. Membuat tubuhnya kaku dan lidahnya kelu.
''Seperti ini, kamu tidak akan terlalu kedinginan.'' Ucap Chika sembari mengulang menggosok telapak tangannya. Chika kemudian memegang kedua tangan Zidni, lalu menggosokkan kedua telapak tangan Zidni, setelah itu Chika menempelkannya pada wajah Zidni.
''Kamu coba sendiri seperti ini. Ini bisa mengurangi rasa dinginmu.'' Ucap Chika dengan senyum kecilnya. Zidni tertegun, baru menyadari kalau Chika memiliki senyum yang manis. Zidni kemudian melakukan apa yang sudah Chika ajarkan padanya.
''Apa cukup hangat?''
''I-iya.'' Jawab Zidni gugup. Setelah menunggu hampir tiga jam, akhirnya hujan reda juga.
''Nah, sudah reda. Ayo kita pulang!" ucap Chika.
''Iya, ayo!" ucap Zidni. Chika lalu melepas jaketnya dan memberikannya pada Zidni.
''Kenapa kamu berikan padaku? Pakaianmu?''
''Tenang saja, aku masih pakai tank top kok. Lagi pula ini sudah malam begini tidak akan ada yang melihatku. Kamu lebih membutuhkannya karena dingin dan kamu menyetir. Kalau aku kan duduk dibelakang jadi cukup terlindungi dengan tubuhmu.''
''Ya sudah, ayo naik!"
''Oke."
Setelah Chika naik, Zidni kemudian melajukan motornya. Zidni terbayang dengan apa yang Chika lakukan tadi. Sentuhan lembut tangan Chika.
''Apa yang kamu pikirkan Zidni?'' gumam Zidni dalam hati.
Bersambung....