
Sementara itu Keira dan Marvel baru saja pulang dari toko buah dengan membawa beberapa buah durian.
"Mah, durian sebanyak ini untuk apa?''
''Ini Papamu yang minta Marvel. Katanya Papa malam ini minta belah durian.'' Jelas Keira.
''Mah, Marvel boleh nggak kabur aja. Jujur, Marvel sedari tadi mau muntah nyium baunya. Aku tidak suka, Mah.''
''Baiklah kamu masuk ke kamar saja ya atau menonton tv.''
''Maaf ya Mah, kalau aku tidak bisa membantu.''
''Tidak apa-apa sayang. Mama bisa sendiri kok, lagi pula sebentar lagi Papa juga pulang.''
''Oke Mah. Aku mau membaca buku dulu ya.'' Marvel kemudian pergi ke kamar namun tak lupa memberikan kecupan di pipi Keira.
''Ayah sama anak, hobinya nyium melulu,'' batin Keira sambil terkekeh.
''Biar Mas Kevin saja yang membelah durian ini. Aku sebaiknya menyiapkan camilan yang lain.'' Gumam Keira. Malam itu Keira memilih membuat pisang goreng. Dan tiba-tiba ada tangan yang sudah melingkar di pinggangnya.
''Kei, aku pulang.''
''Ya ampun, Mas. Bikin kaget saja.'' Kata Keira yang merasa terkejut.
''Kamu lagi bikin apa sih?''
''Pisang goreng untuk kita, Mas. Katanya kamu mau mengajak belah durian.''
''Pisang goreng? Lalu apa hubungannya dengan belah durian?'' batin Kevin.
''Itu aku sudah membeli duriannya, Mas.'' Kata Keira sambil menunjuk keatas meja.
''Oh astaga! Kei, kenapa kamu tidak mengerti juga?'' gerutu Kevin dalam hati.
''Pantas saja aku mencium bau durian. Tapi bukan durian ini maksudku, Kei.''
''Lalu durian yang bagaimana, Mas? Ini pisang gorengnya sudah matang, mending kita belah duriannya sekarang saja. Marvel tidak mau duriannya, katanya dia tidak suka.'' Kata Keira sambil mengajak Kevin menuju halaman belakang rumahnya.
''Mas, kamu tunggu disini. Aku antar pisang goreng ke kamarnya Marvel dulu ya.'' Kata Keira sambil berlalu. Kevin sangat kesal karena semua ini di luar ekspetasinya. Ia melepaskan kemejanya, melepas dasinya, dan menggulung keatas kemejanya. Bahkan Kevin yang kesal mengacak rambutnya.
''Mas, apa kamu sudah membelahnya?''
''E... belum.'' Kata Kevin tergagap.
''Sebaiknya kamu mandi dan ganti baju ya, Mas. Aku sudah menyiapkan air panas. Aku bawa masuk jasmu ini dulu ya. Supaya nanti kita pas makan duriannya enak, kamu sudah bersih dan wangi.'' Kata Keira tanpa rasa berdosa. Kevin pun akhirnya menurut saja dengan apa yang di katakan oleh Keira. Saat sedang mandi, terbesitlah niat mesum Kevin. Kebetulan kamar mandi di rumah Keira, tidak jauh dari dapur.
''Kei, biasa tolong ambilkan aku sahmpo. Disini habis.'' Kata Kevin sambil membuka sedikit pintu kamar mandi.
''Perasaan baru kemarin beli, Mas. Masa sudah habis.'' Kata Keira.
''Tapi ini memang habis, Kei. Kamu juga baru kembali ke sini kan?''
''Iya juga ya, Mas. Ya udah kalau gitu, aku ambilkan sebentar.'' Keira lalu menghentikan aktivitas mencuci piringnya dan mengambilkan shampo untuk Kevin.
''Mas, ini shamponya.'' Kata Keira sambil mengetuk pintu kamar mandi. Kevin membukanya lalu menarik Keira masuk ke dalam.
''Aaaaaaaa...!" Keira berteriak sambil menutup matanya. Kevin lalu menutup mulut Keira.
''Sssttt jangan teriak! Nanti Marvel mendengarnya.'' Kata Kevin. Kevin lalu menyelakan shower. Kini tubuh keduanya basah di bawah guyuran shower. Kevin menatap lekat mata Keira. Tak di pungkiri, lengan berotot dan perut six pack itu sangat menggoda iman Keira sebagai seorang wanita normal. Apalagi yang berdiri di hadapannya adalah suaminya sendiri. Seorang pria yang telah ia selamatkan nyawanya dalam sebuah kecelakaan mobil.
''Kei, aku mencintaimu.'' Ucap Kevin. Keira tidak menyangka Kevin akan menyatakan perasaannya dengan cara seperti.
''Mas, aku....,'' belum selesai Keira bicara, Kevin menutup bibir Keira dengan telunjuknya.
''Aku tidak butuh jawabanmu, Kei. Cukup kamu tahu bahwa aku mencintaimu.''
''Tapi aku kedingin...mmpphh.'' Belum selesai bicara, Kevin sudah melahap bibir Keira. Keira yang tadinya merasa dingin, tiba-tiba tubuhnya menjadi hangat. Dibawah gemericik air shower, Kevin memberikan kehangatan bagi Keira. Benda pusaka Kevin pun kini telah menegang. Piyama warna putih Keira pun telah basah kuyup, sehingga menampakkan bra dan cd warna merah. Saat Kevin ******* bibirnya, Keira merasakan sesuatu yang mengeras menyentuh pahanya.
''Kei, aku ingin kamu menjadi milikku seutuhnya. Begitu juga diriku yang menjadi milikmu seutuhnya. Tetaplah berada disisiku sampai ajal menjemputku.''
''Mas, jangan bicara seperti itu. Marvel dan aku membutuhkanmu.'' Kata Keira. Keduanya lalu saling berpelukan dan kembali berciuman. Tangan Kevin perlahan membukan kancing piyama Keira yang sudah basah. Keira bisa merasakan, betapa tubuh Kevin sangat nyaman untuk ia peluk. Bahkan ia tidak menolak saat Kevin melepas piyamanya. Perlahan tangan Kevin melepas pengait bra namun tiba-tiba, Keira mencegah tangan Kevin.
''Jangan Mas.''
''Kenapa Kei?''
''Mmmm aku malu!" Keira meraih handuk lalu segera pergi ke kamar. Ia sebenarnya sangat kedinginan karena malam seperti ini Kevin mengajaknya mandi.
''Keira! Dia sudah menegang tapi kamu malah pergi,'' teriak Kevin yang membuat Keira juga berusaha menahan tawanya.
''Dia pikir aku tidak kedinginan apa,'' gumam Keira sambil berlari menuju kamar. Kevin lalu memakain handuk dan menyusul Keira menuju kamar.
''Kei, kenapa kamu meninggalkanku?''
''Mas, aku kedinginan. Kamu malam-malam malah mengajak mandi.''
Kevin lalu mengunci pintu kamar dan mengambil kunci itu, supaya Keira tidak bisa kabur lagi.
''Aku ganti baju dulu ya, Mas.''
''Kei, apa kamu tidak melihat ini?'' kata Kevin sambil menunjuk kearah juniornya yang sudah menegang di balik handuk. Keira tidak percaya, kalau junior Kevin bisa menyembul memanjang seperti itu. Ada rasa ingin namun juga ada rasa malu dalam benak Keira.
''Mmm ya sudah Mas, kamu ajak dia tidur saja.''
''Kei, apa kamu tidak percaya dengan pengakuan ku? Kamu pikir aku cuma main-main? Cuma kamu yang bisa membuatnya turn on seperti ini.'' Kevin pun mulai kesal dan frustasi menghadapi Keira yang tidak mengerti keinginannya. Kevin lalu duduk di tepi ranjang.
''Mas, aku mau ganti baju.''
''Kamu sudah melihat seluruh tubuhku. Tidak adil kalau aku belum melihat semuanya.'' Kevin lalu menarik Keira untuk duduk di pangkuannya. Keira terhenyak saat duduk di pangkuan Kevin, merasakan junior Kevin yang sangat keras. Kevin lalu membuka handuk yang melilit tubuh Keira. Ia lalu mengecup punggung mulus Keira yang masih terbalut bra.
''Mas, geli,'' ucap Keira sambil tertawa kecil.
''Kei, aku serius. Ini momen romantis dan mesra kenapa kamu malah merusaknya?''
''Mas, aku memang merasakan geli.'' Jawab Keira. Kevin yang putus asa, lalu beranjak dari ranjang dan kembali memakai pakaiannya. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar. Keira menatap polos kepergian Kevin.
"Mas Kevin marah ya? Kan memang geli. Memang apanya yang salah," gumam Keira.
Bersambung.....