Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 165 Senyum dalam luka


Di butik, Gina terlihat panik di depan halaman butiknya. Ia tampak mondar-mandir dengan cemas. ''Aduh, sudah jam 7 lagi. Mana barang yang aku pesan belum sampai. Janji jam 5 sore tapi sampai sekarang belum tiba. Deadline besok jam 7 pagi, aku sepertinya harus lembur dan menginap. Karyawan banyak libur juga cuma ada tiga orang. Mana bisa aku meninggalkan mereka.'' Gina juga sesekali terlihat melihat layar ponselnya. Ia kemudian memutuskan untuk memberi kabar pada Miko.


''Halo Mas, Mama bagaimana?''


''Mama baik kok. Kamu masih di butik?''


''Iya Mas. Maaf ya Mas, sepertinya aku harus lembur. Kain yang aku pesan jauh-jauh hari mengalami keterlambatan pengiriman karena PPKM, sedangkan deadline besok jam 7 pagi.''


''Memangnya karyawan kamu pada kemana?''


''Mereka banyak yang ambil cuti di hari yang sama, Mas. Sedangkan di butik cuma ada tiga orang. Sedangkan baju yang di butuhkan masih kurang 100 potong lagi.''


''Ya sudah tidak apa-apa, sayang. Lagi pula Mama juga sudah membaik.''


''Tapi aku tidak bisa menyiapkan makan malam dan mengurus kamu. Bibi pulang kampung juga belum balik-balik juga.''


''Tenang saja, nanti aku bisa pesan makanan online. Kamu selesaikan saja pekerjaan kamu ya. Kamu jangan lupa makan.''


''Iya, Mas. Sekali lagi maafkan aku ya, Mas.''


''Iya tidak apa-apa. I love you.''


''I love you too, Mas.'' Panggilan berakhir.


Miko yang merasa lapar, memilih membuat mie instan.


''Miko, sedang apa kamu?''


''Eh Mah. Sedang membuat mie instan.''


''Mana istrimu?''


''Gina sepertinya akan lembur, Mah.''


''Tuh kan Mama bilang apa. Apa dia sering seperti itu?''


''Tidak Mah. Gina selalu menjalankan perannya dengan baik sebagai istri.''


Suara bel pintu rumah, mengalihkan perhatian Miko.


''Mah, Miko buka pintu dulu ya.'' Miko lalu berjalan menuju pintu utama.


''Nad-Nadia,'' ucap Miko tergagap.


''Malam Miko. Apa Tante Rosa ada?''


''Ada. Silahkan masuk.'' Miko kemudian mengajak Nadia masuk lebih dalam.


''Mama, ada Nadia!" panggil Miko. Nyonya Rosa yang berada di dapur segera keluar menemui Nadia.


''Nadia,'' seru Nyonya Rosa sambil memeluk Nadia.


''Tante sudah sehat kan?''


''Sudah Nadia.''


''Oh ya aku mencium bau gosong,'' kata Nadia sambil mengendus.


''Astaga! Mie ku,'' sahut Miko. Miko lalu berlari menuju dapur dan segera mematikan kompornya. Miko menggaruk kepalanya dengan kesal karena mie nya hangus.


''Yah, gosong. Hmmm mana udah keroncongan lagi.''


''Ada apa Miko?'' sahut Nadia yang menyusul Miko ke dapur.


''Hehehe ini aku membuat mie, eh malah gosong.''


''Memang istri kamu kemana?''


''Dia lembur di butik, sedang ada masalah deadline.''


''Oh begitu, ya suda kebetulan aku bawa makanan untuk Tante Rosa tapi aku bawa banyak juga sih jadi kamu bisa ikut memakannya.''


''Baiklah kalau begitu, daripada aku kelaparan.'' Miko terkekeh. Nadia lalu membantu mengambil piring untuk menyiapkan makanan yang ia bawa.


''Wah, nasi goreng seafood. Ini makanan kesukaanku.''


''Serius ini makanan kesukaanmu?''


''Iya, Nad.'' Tanpa banyak bicara lagi, Miko langsung melahapnya.


''Oh ya, untuk Tante, aku sudah memasak tumis sayur. Ada wortel, buncis, brokoli dan sawi putihnya juga. Terus ikannya ini aku kukus. Karena Tante harus benar-benar menjaga makanan Tante.''


''Terima kasih ya, Nadia. Kamu memang pengertian sekali. Maaf ya kalau Tante merepotkan kamu.''


''Mmmm ini enak banget, Nad.'' Sahut Miko.


''Syukurlah kalau kamu suka. Aku sengaja memasak dua, sebenarnya ingin memberikannya pada Gina juga tapi Gina ternyata lembur.''


''Nanti aku akan sampaikan pada Gina kalau kamu memasak untuknya. Maaf ya kalau Mama menyusahkan kamu. Besok kamu tidak perlu melakukan ini lagi ya, Nad. Kamu kan sibuk dan banyak pekerjaan, jadi kalau ada waktu luang sebaiknya kamu gunakan untuk istirahat.''


''Kamu santai saja, Mik. Kebetulan hari ini aku cuti jadi aku free seharian ini.''


Sikap Miko yang memang humble, sangat mudah membuat orang merasa nyaman disisinya.


-


''Mas, bagaimana kabar Tante Rosa?'' tanya Keira sembari menuangkan nasi ke dalam piring Marvel dan Kevin secara bergantian.


''Kata Miko, Tante Rosa sudah berangsur membaik.''


''Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya.''


''Pah-Mah, besok hari Minggu, aku ingin jalan-jalan.'' Sahut Marvel.


''Jalan-jalan kemana, sayang?'' tanya Keira.


''Aku dengar dari temanku, katanya besok ada festival layang-layang. Aku ingin sekali ke sana, Pah-Mah.''


''Baiklah kalau begitu besok kita berangkat. Sepertinya itu akan menyenangkan,'' kata Kevin.


''Ide yang bagus juga, Marvel. Mama juga ingin sekali melihatnya. Terakhir kali Mama melihat festival itu saat SMP.''


''Terima kasih ya Mah-Pah.''


''Sama-sama, sayang.''


-


Di sela-sela kesibukannya, Gina menyempatkan untuk menelepon Miko. Miko sendiri baru saja selesai makan malam dan ia sedang berada di kamarnya. Melihat ponselnya berdering, Miko lalu mengangkatnya.


''Halo sayang, ada apa?'' sapa Miko.


''Kamu sudah makan? Terus Mama juga sudah makan belum? Jangan lupa obatnya Mama ya, Mas.''


''Kamu makan sama apa, Mas?''


''Tadinya mau membuat mie instan, eh aku tinggal malah gosong. Lalu ada Nadia membawa makanan. Dia juga membawakan untuk kamu juga tapi kamu tidak di rumah. Mama yang meminta Nadia untuk memasak.''


Ulu hati Gina terasa nyeri mendengar apa yang di katakan oleh Miko. Namun ia berusaha bersikap biasa. Dulu ia begitu kebal dengan sikap nakal Miko jadi seharusnya Gina kali ini harus kebal juga.


''Oh, begitu. Lalu apa Nadia sudah pulang?''


''Belum, dia masih ngobrol sama Mama di kamar. Sayang, kamu sabar ya. Aku hanya berusaha jujur dan berusaha tidak menutupi apapun dari kamu.''


Namun di seberang sana, air mata Gina sudah mengalir membasahi pipinya.


''Iya tidak apa-apa kok. Sampaikan terima kasih pada Nadia karena dia sudah membantu merawat Mama.''


''Iya nanti aku sampaikan. Oh ya besok kan hari Minggu, aku mau mengajakmu melihat festival layang-layang. Kamu mau kan?''


''Iya Mas, aku mau kok. Oh ya Mas, sepertinya aku harus menginap di butik dan besok pagi baru bisa pulang.''


''Yah, padahal aku sudah merapikan kamar kita malam ini. Kita kan harus semangat berbuat supaya kamu bisa cepat hamil. Tapi tidak apa-apa lah, besok aku jemput kamu di butik saja ya. Kasihan kalau kamu harus bolak-balik, sekalian aku bawakan kamu baju ganti ya.''


''Iya Mas tidak apa-apa. Sekali lagi maafkan aku ya, Mas. Aku jadi mengabaikan kamu dan Mama.''


''Tidak apa-apa sayang, aku mengerti kok. Kamu jaga kesehatan ya. Aku malam ini pasti tidak bisa tidur karena kami tidak di rumah.''


''Anggap saja guling itu aku,'' Gina tersenyum dalam rasa perihnya.


''Ya sudah Mas, selamat malam ya.''


''Malam juga sayang, i love you, muah.''


''I love you too, muah juga untuk kamu Mas.'' Panggilan berakhir. Miko yang merasa mengantuk, membanting tubuhnya di atas tempat tidur. Namun panggilan Nyonya Rosa justru menganggunya.


''Miko, tolong antarkan Nadia pulang. Ban mobilnya kempes.'' Teriak Nyonya Rosa sambil mengetuk pintu kamar Miko.


''Hmmm Mama ini mengganggu orang mau tidur saja,'' gerutunya. Miko segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera membuka pintu untuk Mamanya.


''Mah, ada apa? Miko ngantuk.''


''Nadia antar pulang sana. Ban mobilnya kempes.''


''Dia kan bisa pulang naik taksi. Miko ngantuk ah, Mah.'' Kata Miko dengan wajahnya yang tampak malas.


''Miko, ini sudah malam. Terlalu bahaya untuk Nadia kalau pulang sendiri. Dia sudah membantu Mama jadi kamu harus membantunya juga dong.''


''Kalau begitu Mama saja yang membantunya. Kan Mama yang meminta bantuannya.''


Nyonya Rosa yang kesal lalu menjewer telinga Miko.


''Sakit, Mah.''


''Makanya turuti omongan Mama. Apa sih susahnya mengantar Nadia.''


''Iya-iya, ah. Sebentar aku ambil jaket dulu.'' Nyonya Rosa lalu melepaskan tangannya dari telinga Miko. Nyonya Rosa tersenyum puas.


''Sepertinya semesta mendukungku.''


-


Sekarang Miko sedang dalam perjalanan untuk mengantar Nadia pulang ke apartemennya.


''Mik, maaf ya aku merepotkanmu.''


''Ya anggap saja ini balasan karena kamu sudah membantu, Mama. Lain kali kamu tidak usah menuruti Mama ya. Aku tidak enak, Nad. Nanti kalau pacarmu marah, bagaimana?''


''Pacar? aku masih single kali.'' Jawabnya tertawa.


''Mau aku carikan pacar? aku punya banyak teman yang masih single juga.''


''Boleh saja tapi untuk saat ini aku sedang ingin fokus menyelesaikan kasusku.''


''Oh ya bicara kasus, aku butuh bantuanmu, Nad. Kamu bisa kan membantu sepupuku? menyambung pembicaraan kita waktu itu.''


''Tapi aku harus bertemu dengannya dulu.''


''Iya lah. Nanti aku akan bilang padanya juga, secepatnya aku akan memberimu kabar.''


''Oke, aku tunggu kabar dari kamu, Mik. Oh ya kamu dan istrimu sudah berapa tahun menikah?''


''Sudah masuk ke 4 tahun pernikahan.''


''Wah, hebat ya.''


''Empat tahun masih pendek, Nad.''


''Bagaimana kamu bisa mengenal istri kamu?''


''Dia itu sahabat aku. Sahabat terbaikku yang mau menerima segala kekurangan bahkan kebusukan aku,'' ucapnya serawa tertawa.


''Sepertinya seru menikah dengan sahabat sendiri. Tentu kalian tidak membutuhkan waktu lama untuk saling memahami.''


''Iya sih. Padahal dulu aku ini seorang playboy, bahkan tak jarang Gina yang membantuku mengatur jadwal kencan ku dengan para gadis.''


''Apa? wah, kamu gila juga ternyata. Apa Gina saat itu tidak cemburu?''


''Aku juga tidak tahu tapi aku sering mendapat wejangan dari dia supaya aku segera taubat, hahaha. Aku sendiri lupa bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya. Mungkin karena para gadis sudah hafal dengan wajah playboy ku, jadi mereka semua tidak mau dan kapok dengan ku. Jadi yang mau dengan ku hanya Gina.'' Jelasnya yang di selingi tawa khas Miko.


"Sepertinya hubungan kalian sangat menyenangkan sekali ya. Menikah dengan seseorang yang bisa mengerti dan memahami kita sangat menyenangkan. Apalagi yang satu frekuensi."


"Betul banget, Nad. Cuma dia yang bisa mengerti aku. Dia itu galak tapi juga bisa sabar menghadapi aku, aneh kan? banyak wanita yang aku kencani tapi ujung-ujungnya jodohku adalah Gina."


"Namanya juga sudah jodoh, Mik."


"Dia juga yang membuatku banyak berubah. Merubahku yang kadang masih suka nakal," ucapnya dengan tawa lebarnya. Selama perjalanan Nadia dan Miko asyik mengobrol, hingga akhirnya Miko sampai juga di apartemen Nadia.


"Akhirnya sampai juga, Nad."


"Makasih ya, Mik. Ternyata kamu sangat menyenangkan. Kamu ceplas-ceplos dan apa adanya. Bicara denganmu seperti sudah lama mengenalmu."


"Kamu adalah orang keseribu yang mengatakan aku seperti itu, hehehe."


"Dasar kamu! Baiklah aku turun ya. Besok biar aku menyuruh supir untuk mengambil mobilku di rumahmu."


"Oke."


"Hati-hati ya, Mik. Dan terima kasih sudah mengantarku. Salam untuk Gina ya."


"Iya sama-sama. Nanti aku sampaikan salam mu untuk Gina. Oh ya Gina juga mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membantu merawat Mama."


"Iya sama-sama." Nadia lalu turun dari mobil Miko. Miko kemudian melajukan kembali mobilnya dan segera pulang.


Bersambung....