Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 254 Diskusi


Keira setelah menjemput Marvel mampir ke butik milik Gina. Keira membawakan rujak dan es kelapa muda untuk Gina.


''Tante Gina!" seru Marvel begitu tiba di butik milik Gina. Marvel kemudian berlari memeluk Tantenya itu.


''Marvel sayang,'' ucap Gina menyambut keponakannya.


''Hai Mbak. Apa kabar?''


''Hai Kei, aku baik kok.'' Keduanya berpelukan dan saling cipika-cipiki.


''Gimana Mbak? Masih suka mual-mual?''


''Semua mual dan pusing di borong sama Mas Miko, hehehe. Kamu sendiri bagaimana Kei?''


''Sudah berkurang Mbak, tidak seperti awal-awal dulu. Oh ya aku bawa rujak nih sama es kelapa muda untuk Mbak.''


''Wah, kebetulan banget Kei, aku lagi pingin. Mas Miko kebetulan juga sedang keluar kota, baru saja tapi pagi berangkat.''


''Mah, aku main dulu ya.'' Kata Marvel.


''Iya sayang.'' Ucap Keira. Di tempat Gina memang di lengkapi dengan area bermain mini untuk anak. Karena Gina ingin memberikan kenyamanan kepada customer yang membawa anak kecil.


''Yuk duduk disana aja! Aku ambil piring dan gelas dulu deh.'' Kata Gina sambil menunjuk kearah sofa.


''Iya Mbak.'' Keira kemudian menuju sofa sembari menunggu Gina mengambil piring dan gelas. Beberapa saat kemudian Gina kembali. Dengan antusias, Gina menuang rujak ke dalam piring dan es kelapa ke dalam gelas.


''Oh ya gimana reaksi Kak Kevin dengan penampilan baru kamu?''


''Seperti yang Mbak bilang kalau suamiku bucin akut. Yang jelas setelah pulang kerja dia langsung minta jatah, sampai kita ninggalin Marvel makan malam sendirian,'' cerita Keira terkekeh.


''Ya ampun, emang ya Kak Kevin itu bener-bener bucin akut.'' Gina pun tertawa.


''Oh ya Kei, aku lagi butuh orang nih. Soalnya karyawan aku ada yang keluar. Dia habis nikah dan di ajak pindah suaminya ke luar kota.'' Sambung Gina


''Memang Mbak butuh yang bagian apa?''


''Aku butuhnya yang bisa accounting, Kei. Selain itu dia harus jujur dan pekerja keras. Kalau ada langsung kabari aku ya. Ada beberapa tapi entahlah aku kurang sreg aja. Soalnya jaman sekarang nyari orang yang jujur itu susah banget, Kei. Siapa tahu ada teman kuliahmu gitu, Kei.''


''Iya deh Mbak, nanti aku bantu cariin secepatnya.''


''Makasih ya, Kei.''


''Sama-sama Mbak.''


Sementara itu setelah puas melihat rumah baru, Johan mengantar Tessa dan Anrez untuk pulang. Kemudian Johan kembali lagi ke kantor. Sesampainya di rumah, Tessa melanjutkan untuk beberes karena masih ada barang-barang yang belum di pack.


''Sepertinya aku harus mencari pekerjaan untuk membantu Johan. Setidaknya kelonggaran angsuran selama setahun, aku bisa menabung. Lumayan kan kalau bisa nyisihin uang setahun. Johan ada pemasukan, aku juga ada pemasukan. Jadi tabungannya cepat terkumpul. Dan rumahnya cepat lunas. Tapi bagaimana Anrez ya?'' Tessa bergumam dengan batinnya.


''Belum lagi untuk mengisi rumah. Harus ada kasur, kursi, meja dan perabot lainnya. Aku tidak bisa diam saja dan membiarkan Johan berjuang sendiri. Sebaiknya nanti aku bicarakan lagi dengan Johan.'' Sambungnya.


Tepat jam 8 malam Johan sampai di rumah. Ia melihat rumahnya sudah rapi dan disana kebetulan ada Tessa juga.


''Tessa, kamu disini?'' Johan terkejut melihat Tessa sedang melipat baju di ruang tamu.


''Iya, maaf ya Jo, aku sekalian beberes. Kamu sebaiknya mandi dulu ya. Aku juga sudah menyiapkan makan malam untuk kamu.''


''Iya terima kasih ya.''


Johan pun bergegas ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, Johan segera menyantap makan malam yang disiapkan oleh Tessa. Johan lalu membawa piringnya menuju ruang tamu, supaya ia bisa menemani Tessa.


''Anrez mana, Tes?''


''Kenapa kamu tinggal kesini?''


''Tadi sebelum tidur, aku udah bilang sama dia kalau mau beres-beres di rumah kamu. Aku juga meninggalkan ponselku di samping Anrez. Kalau ada apa-apa, dia biar bisa telepon kamu. Karena jam segini kamu juga sudah sampai.''


''Ya sudah kalau begitu. Aku hanya kasihan kalau dia di tinggal sendirian.''


''Oh ya Jo, setelah menikah nanti aku ingin kerja. Boleh kan?''


''Kalau kamu kerja nanti Anrez bagaimana, Tes? Terus kalau misal nanti kamu hamil lagi bagaimana? Kamu dirumah saja ya, biar aku yang kerja.''


''Jo, setidaknya kita bisa memanfaatkan waktu untuk menabung selama setahun ini. Karena Tuan Kevin memberikan kita tenggang waktu selama itu. Sayang sekali kalau di lewatkan Jo. Aku bisa kerja yang pulang sore kok. Nanti Anrez biar aku kerja saja.''


''Tessa, aku tidak mau kamu nantinya kerepotan. Sudahlah kamu jangan pikirkan hal itu ya.''


''Aku mohon ya Jo, ijinin aku. Nanti kalau aku nggak nyaman, aku berhenti deh. Aku tidak bisa cuma duduk di rumah tanpa melakukan apapun. Kalau rumah ini lunas, aku baru lega dan aku akan fokus ke keluarga kecil kita. Setidaknya ijinkan aku setahun ini untuk kerja. Aku mohon ya.''


''Tapi kamu kerja apa, Tessa? Aku sama sekali tidak keberatan kok kalau kamu hanya fokus mengurus aku dan Anrez saja.''


''Aku mohon Jo, hanya satu tahun saja. Kalau ada pemasukan dari aku kan lumayan. Kita selama satu tahun bisa sama-sama nabung, terus uang yang ke kumpul langsung kita berikan pada Tuan Kevin. Jadi angsuran kita biar cepet selesai. Aku mau kerja keras dengan kamu, Jo. Pokoknya susah, senang harus kita lewati sama-sama. Aku mohon.'' Tessa merengek memohon sambil mengatupkan kedua tangannya.


Johan menghela nafas panjang, mendengar permintaan Tessa.


''Tapi Anrez bagaimana? Aku kasihan Anrez Tessa. Kalau kita sama-sama kerja, bagaimana dia?''


''Makanya itu aku cari yang pulangnya sore atau part time saja. Ayolah kita coba dulu.''


''Oke baiklah kalau kamu memang ingin seperti itu. Aku sama sekali tidak memaksa kamu. Kalau kamu sewaktu-waktu ingin berhenti kerja, aku sangat mengijinkannya.''


''Terima kasih ya, Jo. Besok setelah selesai mengantar Anrez ke sekolah, aku cari kerja.''


''Biar aku yang mengantar Anrez ke sekolah. Kamu jemput oas pulang saja ya. Kamu bawa mobil saja ya, biar aku yang pakai motor.''


''Jangan Jo, kamu kan pulangnya malam. Kasihan kalau naik motor dan kena angin malam. Apalagi kontrakan dan kantor cukup jauh. Kalau aku butuh naik mobil aku bisa naik taksi online. Sudah ya, kamu jangan terlalu memusingkan hal-hal seperti itu. Ingat ya aku lebih berpengalaman.'' Ucap Tessa dengan senyum lebarnya.


''Hehehe iya lupa. Kamu memang sudah sangat berpengalaman dalam segala hal, Tessa. Seharusnya kamu kan yang harus mengajari aku banyak hal. Bukankah begitu?'' ucap Johan dengan tatapan penuh arti.


''Kamu sudah pintar, ngapain juga di ajarin. Sudah ah, aku mau ke kontrakan dulu. Kamu makannya juga sudah habis gitu.''


''Iya makasih ya, kamu memang paling bisa membuatku kenyang. Masa mau pulang begitu saja? Tidak ada ucapan selamat tidur atau selamat malam gitu.''


''Iya selamat malam dan selamat tidur Johan.'' Ucap Tessa. Tessa kemudian beranjak dari sofa namun tiba-tiba Johan menarik Tessa dan akhirnya Tessa jatuh ke pangkuan Johan.


''Jo, apa yang kamu lakukan?''


''Seharusnya aku juga mendapat hadiah gitu. Sudah lama sekali lho Tes, bibir kita tidak silaturahmi. Masa ikutan PPKM aja.''


Mendengar ucapan Johan, Tessa pun terkekeh. ''Kamu ini ada-ada saja, Jo. Kita kan akhir-akhir ini menghadapi banyak masalah.''


''Iya makanya itu, boleh kan kalau sebelum tidur, silaturahmi sebentar saja. Lima menit saja.'' Pinta Johan dengan tatapan mengiba. Tessa tersenyum, tanpa basa-basi, ia menangkupkan kedua tangannya pada wajah Johan. Tessa lalu mendaratkaj bibirnya pada Johan. Johan terkesiap karena Tessa memulainya terlebih dahulu. Tentu saja Johan tidak melewatkan kesempatan yang Johan berikan. Johan memberikan ciuman balasan yang lebih panas. Lidah keduanya pun saling membelit dengan lincahnya. Johan yang gemas dan merindukan lu...ma..tan bibir Tessa, menghisap dan menggigit gemas bibir Tessa. Apalagi Johan mengakui bahwa Tessa yang lebih berpengalaman sangat pandai dalam berciuman. Untuk itulah Johan merindukan dan kehebatan Tessa dalam berciuman. Setelah lima menit saling berpagut, Johan melepaskan ciumannya dari Tessa. Johan menyeka bibir Tessa yang basah, begitu juga dengan Tessa yang sudah membuat bibir Johan menjadi basah. Keduanya saling tersenyum, Johan lalu memberikan kecupan di kening Tessa. Ia lalu menurunkan Tessa dari pangkuannya.


''Aku pulang dulu ya, Jo.''


''Iya Tessa. Terima kasih untuk vitaminnya.'' Kata Johan dengan senyum lebar.


''Sama-sama.'' Jawab Tessa. Tessa kemudian berlalu dan seger kembali ke kontrakannya.


''Aduh, jadi nggak sabar pingin cepet nikah. Nggak sabar pingin malam pertama juga. Sepertinya yang berpengalaman lebih asoy.'' Gumam Johan sambil cekikian sendiri.


Bersambung....