Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 91 Detak Cinta


''Kei, ambilkan aku handuk!" teriak Kevin dari balik pintu kamar mandi.


''Tidak mau! Ambil saja sendiri.'' Jawab Keira yang sedang sibuk merapikan pakaiannya.


''Baiklah kalau begitu aku keluar dengan telanjang ya? Tapi apa kamu siap melihat aset berharga ku, Kei? Atau memang kamu sengaja ingin melihatnya?'' goda Kevin.


''Apa? Dia sungguh pandai bermain kata-kata untuk menjebakku,'' gumam Keira dalam hati.


''Baiklah aku ambilkan. Dimana tempatnya?''


''Ambilkan di almari pakaianku.'' Ucap Kevin. Keira kemudian mengambilkan handuk untuk Kevin. Saat sudah dekat dengan ambang pintu kamar mandi, Keira memilih untuk berbalik membelakangi Kevin.


''Ini handuknya!"


''Oke, terima kasih. Tolong siapkan pakaianku ya.'' Pinta Kevin.


''Iya-iya, cerewet.'' Ucap Keira dengan buru-buru menjauh dari Kevin.


-


Leon sendiri baru saja tiba di rumah, ia buru-buru masuk ke kamarnya. Jaket dan sepatu ia lepas dan letakkan pada tempatnya.


''Leon!" panggil Tuan Handoko sambil mengetuk pintu kamarnya.


''Masuk Pah,'' sahut Leon.


''Ada apa Pah?"


"Papa ingin bicara dengan mu." Kata Tuan Handoko seraya duduk di kursi sofa.


"Bicara saja Pah."


"Leon, Papa ingin kamu secepatnya turun tangan di perusahaan. Apalagi perusahaan kita sedang ada masalah." Kata Pak Handoko dengan wajah seriusnya.


"Masalah apa Pah? Apakah sangat serius?"


"Adikmu membuat ulah. Sampai akhirnya kerja sama kita bertahun-tahun dengan Sanjaya Group di akhiri. Lily sudah berani menyakiti istri Tuan Kevin Sanjaya."


"Apa? Tuan Kevin Sanjaya?" kata Leon terperangah.


"Memangnya apa yang di lakukan Lily Pah?" sambung Leon.


"Lily mendorong bahkan sampai mengguyur air istri Tuan Kevin. Dan ternyata istri Tuan Kevin sebelumnya pernah menjadi guru bantu di yayasan sekolah kita. Lily juga yang memecatnya. Papa heran dengan adikmu itu, suka sekali melakukan sesuatu tanpa pikir panjang."


"Memang apa alasan Lily melakukan itu?"


"Papa tidak tahu karena dia sama sekali tidak mau cerita. Alasannya dia hanya benci saja dengan istri Tuan Kevin. Padahal sebelumnya mereka kan tidak saling mengenal. Untuk itu Papa ingin kamu membujuk Tuan Kevin untuk menarik keputusannya."


"Lalu dimana Lily sekarang Pah?"


"Seperti biasa, dia di apartemen. Gaya hidupnya sudah seperti orang luar saja. Papa menyesal menuruti permintaannya kuliah di luar negeri."


"Lalu Ferdi Pah?"


"Dia masih tetap sama. Dia anak yang cerdas dan penurut."


"Ya sudah, Papa tenang saja. Biar nanti Leon yang mengurusnya. Leon mandi dulu ya dan Leon akan menemui Lily."


"Terima kasih ya, Nak. Kamu adalah harapan Papa satu-satunya. Karena Ferdi terkadang akhir-akhir ini juga sering mengabaikan pekerjaan karena menuruti rengekan adikmu itu. Bisa kacau nanti semuanya."


"Iya Pah. Aku akan mengurusnya. Papa jangan terlalu banyak pikiran ya."


"Baiklah kalau begitu Papa keluar dulu ya."


"Iya Pah."


"Hmmm ada masalah apa Lily dengan Keira? Lily juga keterlaluan sekali." Gumam Leon.


-


Malam harinya, Keira yang merasa bosan, tengah duduk di teras samping rumah. Ia sedang asyik chat dengan Laras dan Johan.


Laras : Cieee, pengantin baru. Semalam berapa ronde nih? Sampai nggak ngasih kabar sama sekali.


Keira : Apanya yang berapa ronde? Udah deh jangan travelling.


Johan : Serius Kei, si Tuan Kevin belum velah duren.


Keira : Duren apa Jo, maksud elo? Gue justru tidur sampai pagi gara-gara salah minum. Gue kira air eh ternyata minuman beralkohol.


Laras : Kuat banget ya si Om dua itu. Masa iya nggak tergoda sama sekali. Apa jangan-jangan dia beneran gay ya?


Keira : Husss jangan bergosip. Gay atau tidak, tidak penting. Yang jelas gue kangen klayapan sama kalian.


Johan : Elo harus sadar kalau sekarang elo itu seorang ibu dan istri, Kei. Ya, kita berusaha ngerti kok.


Kiera : Ya udah deh kalau gitu, kalau nggak sibuk kita nongkrong seperti biasa. Soalnya si Om manggil gue.


Laras&Johan : Oke.


"Ada apa Mas?" tanya Keira yang mendengar Kevin memanggilnya.


"Cepat bersiap karena aku mau mengajakmu makan malam."


"Makan malam dimana?"


"Ya di restoran."


"Mas, aku bosan. Bagaimana kalau nonton?"


"Nonton apaan?"


"Nonton film di bioskop lah. Ayolah, aku sangat bosan." Rengek Keira.


"Baiklah. Cepat sekarang ganti pakaianmu."


"Oke. Terima kasih ya Mas Kevin." Keira kemudian berlalu menuju kamar.


"Kenapa buka ngrasa suami istri tapi kayak punya anak gadis," gumam Kevin menggelengkan kepalanya.


-


Sesampainya di bioskop....


''Mau nonton apa Kei?''


''Aku mau nonton film scooby doo yang baru. Yang itu lho Mas judulnya Summer 2020.''


''Apa? Film kartun itu?'' ucap Kevin terkejut.


''Iya. Memangnya kenapa? Tolong belikan popcorn ya Mas,'' pinta Keira seperti anak kecil.


''Aku tidak mau! Beli saja sendiri.'' Tolak Kevin dengan ketus.


''Ya sudah, aku beli saja sendiri.'' Ucap Keira sembari berlalu.


''Aku benar-benar seperti sedang bersama anak kecil. Masa iya nonton film animasi anjing,'' gerutu Kevin.


Namun siapa sangka saat Keira sedang membeli pop corn, ada Leon juga disana. Leon yang melihat Keira membeli tiket, segera menghampirinya.


''Keira!" panggil Leon.


''Mau nonton lah. Kamu mau nonton apa?''


''Ini nonton scooby doo.''


''Lho kok sama? Kamu suka banget ya?''


''Iya aku suka banget sama scooby. Apa kamu juga suka?''


''Iya. Itu adalah kartun favoritku. Tapi kamu pergi sama siapa?''


''Itu sama Mas Kevin tapi kayaknya dia tidak tertarik. Habisnya aku bete.''


''Lalu mana Marvel?''


''Marvel menginap di rumah Om-nya.''


''Ya udah kita nonton sama-sama aja. Kamu tunggu sini, aku beli pop corn dulu.''


''Oke.''


Keira lalu menghampiri Kevin, ingin meyakinkan Kevin untuk ikut nonton atau tidak.


''Mas, kamu serius tidak ikut masuk?''


''Iya. Kamu nonton saja sendiri. Lebih baik aku tunggu di food court sana.''


''Serius nih? Yakin tidak mau ikut?''


''Iya. Seperti anak kecil saja.''


''Ayolah Mas, terkadang kita juga perlu bersikap seperti anak kecil dan jangan kaku-kaku lah.'' Bujuk Keira.


''Aku tetap tidak mau! Aku lebih baik tunggu disana. Nanti kalau sudah selesai, kamu menyusul saja.''


''Baiklah kalau begitu.''


''Kei, ini pop cornnya,'' sahut Leon yang datang tiba-tiba menghampiri Keira dan Kevin.


''Makasih ya, Le.''


''Oh ya Tuan, kebetulan aku juga penggemar scooby jadi aku mau mengajak Keira menonton. Kata Keira Tuan tidak tertarik.''


''Ya-ya sudah. Pergi saja sana!" ketus Kevin.


''Terima kasih untuk ijinnya Tuan.''


''Mas, aku masuk dulu ya.'' Keira dan Leon pun berlalu. Mendadak rasa gelisah melanda hati Kevin. Ia tidak rela kalau Leon dan Keira duduk bersama dalam bioskop. Kevin kemudian segera membeli tiket dan juga pop corn untuk mengawasi keduanya dari jauh.


Di dalam bioskop, mata Kevin berkeliling mencari Keira dan Kevin. Setelah menemukan keduanya, Kevin memilih untuk duduk menjauh dari mereka. Kevin duduk dengan coolnya sambil menyilangkan kakinya. Bukan menonton film, Kevin justru menonton Keira dan Leon yang asyik tertawa bersama. Keira dan Leon pun kompak tertawa bersama bahkan sesekali Leon mengunci pandangannya pada Keira.


''Kurang ajar sekali si Leon. Sudah tahu Keira punya suami tapi justru malah sengaja mendekatinya,'' gerutu Kevin dalam hati.


Di menit terakhir film, Kevin buru-buru keluar dan bergegas menuju food court supaya tidak ketahuan oleh Keira dan juga Leon.


''Dimana suami kamu Kei?'' tanya Leon saat mereka sudah sampai di luar ruangan.


''Dia menunggu di food court sana.''


''Baiklah Kei, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku mau menemui adikku dulu. Terima kasih sudah menemaniku.''


''Sama-sama Leon. Aku juga terima kasih, untung saja tadi ada kamu. Kamu hati-hati ya.''


''Iya Kei. Bye.'' Leon lalu berlalu meninggalka. Keira. Keira kemudian pergi menyusul Kevin.


''Sudah puas nontonnya?'' tanya Kevin ketus.


''Sudah. Aku sudah lama ingin sekali menontonnya, Mas. Terima kasih ya Mas, sudah mengijinkan ku menonton film bersama Leon.''


''Iya tapi ingat hukuman apa yang akan kamu dapat. Kalau kamu melanggarnya, kamu akan di denda.'' Kata Kevin yang membuat Keira tercekat menelan ludah.


''Tapi kan sudah meminta ijin. Masa iya harus di hukum?''


''Iya lah. Memang kamu tidak sadar, kalau dia menyukaimu?''


''Tidak! Aku hanya menganggapnya teman biasa. Memangnya kenapa? Jangan bilang Mas cemburu.''


''Awas saja kalau sampai nanti muncul berita kebersamaan kalian di media. Kamu benar-benar tidak menurut padaku, Keira.'' Kata Kevin dengan sangat kesal.


''Maafkan aku, Mas. Aku pikir tidak masalah karena aku sudah mendapatkan ijin darimu.'' Kata Keira yang merasa menyesal.


''Aku ingin pulang saja! ***** makan ku sudah hilang.'' Kevin kemudian beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan Keira.


''Hmmm marah lagi. Nggak bisa apa sehari saja nggak marah,'' batin Keira.


''Mas, tunggu!'' panggil Keira sambil berlari menyusul Kevin. Namun Kevin tidak menghiraukan Keira yang memanggilnya.


''Mas, tunggu aku! Langkahmu panjang sekali.'' Keira terus berlari dengan memakai heelsnya. Sebenarnya Keira tidak terbiasa menggunakan heels, hanya saat bertemu klien saja ia memakai heels. Dan untuk malam ini ia berusaha berdandan menyesuaikan diri dengan Kevin.


Namun tiba-tiba Keira terjatuh terpleset karena lantai yang basah, sehabis di pel.


''Auw!" rintih Keira yang terjatuh di lantai. Mendengar suara Keira yang merintih, Kevin pun berbalik. Melihat Keira yang terjatuh dan kesakitan, Kevin lalu berlari mendekat kearah Keira.


''Kamu tidak apa-apa Kei?''


''Kaki ku sakit, Mas. Sakit sekali.'' Kata Keira sambil memijit kaki kanannya.


''Sudah tahu pakai heels, kenapa juga lari? Ini juga kenapa lantainya tidak di beri tanda kalau basah.'' Kata Kevin dengan kesal. Kevin lalu melepas heels Keira dan berusaha memijit kaki kanan Keira.


''Coba berdiri!" kata Kevin sambil membantu Keira berdiri.


''Masih sakit, Mas. Aku tidak bisa menegakkan kakiku dan pinggulku juga sakit. Kamu sih, di panggil tidak mau berhenti.'' Ucapnya dengan manja dan itu membuat Kevin merasa gemas sekali.


''Ya aku kesal saja denganmu. Lebih baik kita ke rumah sakit.''


''Aku mau pulang saja.''


''Baiklah kita pulang. Nanti aku akan menelepon Alan supaya dia datang kerumah.''


''Jangan beritahu Marvel ya. Nanti dia pasti khawatir.''


''Iya-iya.'' Tanpa banyak bicara Kevin lalu menggendong Keira.


''Mas, kenapa di gendong? Banyak orang kan?''


''Memangnya kenapa? Kita kan sudah suami istri.'' Kata Kevin sambil terus berjalan melangkahkan kakinya. Keira yang mulai merasa nyaman dalam gendongan bridal style Kevin, memilih menyandarkan kepalanya di dada Kevin dengan kedua yang melingkar di leher Kevin. Jantung Kevin pun berdetak dengan sangat kencang.


''Mas, aku mendengar detak jantungmu keras sekali. Apa kamu baik-baik saja?'' tanya Keira dengan polosnya.


''Beberapa hari ini memang seperti itu tapi aku belum sempat periksa.''


''Kalau begitu nanti sekalian Dokter Alan memeriksamu ya. Aku tidak mau kamu sakit sampai membuat Marvel sedih. Nanti kalau kamu mati bagaimana? Kasihan Marvel.''


''Siapa juga yang mau mati. Lebih baik kamu diam karena semakin kamu banyak bicara, tubuhmu juga semakin berat.''


''Iya-iya. Dasar bawel.'' Gumam Keira.


Bersambung....