Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 292 Kerja Sama


Begitu sampai di kamar Sheeva, kamar Sheeva tampak sepi.


''Lho kok nggak ada di kamar juga?''


''Mungkin di bawa ke taman sama Bibi. '' kata Zidni. Zidni dan Chika kemudian pergi ketaman. Namun keduanya justru melihat Bibi menyiram tanaman.


''Bi, Sheeva kemana? " tanya Chika.


''Lho Non Sheeva sama Tuan dan Nyonya di kamar. Mereka kan sudah sampai, Non. ''


Zidni dan Chika saling melempar pandangan. Keduanya kemudian berlari menuju kamar Miko dan Gina.


''Tante! Om! " panggil Chika sambil mengetuk pintu kamar Miko.


''Tuh Mas, mereka pasti baru bangun, kamu tolong buka pintunya. '' Kata Gina yang sedang sibuk mengganti baju Sheeva.


''Iya sayang. '' Miko kemudian beranjak dan membuka pintu.


''Om sudah pulang? Sejak kapan? Sheeva sama Om kan?'' tanya Chika dengan wajah paniknya.


''Baru tadi pagi. Itu Sheeva habis mandi. '' Miko lalu mengajak Zidni dan Chika masuk. Chika dan Zidni menghela nafas lega, melihat Sheeva baik-baik saja.


''Syukurlah kalau Sheeva baik-baik saja. '' Kata Chika.


''Terima kasih ya kalian sudah menjaga Sheeva. Ternyata kalian semakin kompak ya. '' Goda Gina.


''Tante ini apa sih? Sheeva kan keponakan kita juga jadi sudah sewajarnya kita berdua menjaga Sheeva. '' Ucap Chika.


''Zidni, terima kasih ya. '' Kata Miko seraya merangkul pundak Zidni. Zidni hanya tersenyum miring saja.


''Baiklah kalau begitu, Chika mau siap-siap ke kantor. ''


''Oh ya Zidni, kamu nanti ke kantor Om Kevin ya. Sekalian ajak Chika bareng juga. Soalnya kami ada kerja sama proyek baru pembangunan resort. Kamu ambil proposal kerja samanya di ruang kerja Om, map warna biru. Om hari ini cuti dulu, capek. Semuanya sudah Om siapkan dan Om juga sudah memberi kabar Om Kevin. ''


''Aku, Om?''


''Iya, kamu. Memang siapa lagi? Kamu ini calon CEO lho jadi harus belajar berani mulai sekarang. Masa iya Om terus yang mengurusnya. Sudah, siap-siap sana! "


Zidni hanya bisa mendengus mendengar perintah Miko. Zidni dan Chika kemudian keluar dari kamar Miko. Mereka pun bersiap menuju kantor.


''Kenapa sekarang malah satu mobil denganmu?'' protes Zidni.


''Kan Om Miko sendiri yang memintanya. Aku biasanya naik angkot atau taksi online juga tidak masalah. Kalau kamu tidak mau satu mobil denganku, kenapa tidak bilang langsung dengan Om Miko?''


''Dasar tukang ngadu!'' Zidni mendengus.


''Siapa yang mengadu? Kamu tidak capek apa hidup satu rumah banyak orang tapi rasanya selalu sendiri?''


''Bukan urusanmu juga! Sebaiknya diam, setidaknya sampai di kantor Om Kevin.''


''Oke!'' singkat Chika. Chika lalu memasang earphone dan mendengarkan lagu di ponselnya. Setidaknya untuk membunuh rasa jenuh bersama Zidni.


Tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai juga di kantor.


''Jangan dekat-dekat denganku! Nanti orang akan salah paham, '' ketus Zidni. Tanpa banyak bicara, Chika berlalu begitu saja meninggalkan Zidni.


Zidni mendumel. ''Bukannya terima kasih tapi malam pergi begitu saja.


-


''Selamat pagi, Om!'' sapa Zidni pada Kevin.


''Zidni!'' Kevin lalu beranjak dari duduknya. Kevin kemudian memeluk Zidni.


''Wah, ternyata kamu sudah dewasa ya. Kamu semakin tampan saja. Bagaimana kabarmu?''


''Baik Om.''


''Sudah lama bersama Miko, kenapa tidak main kerumah? Bahkan kamu baru ini menginjakkan kaki di kantorku.''


''Maaf Om. Oh ya ini proposal dari Om Miko.'' kata Zidni.


''Duduklah, aku akan memeriksanya.''


''Iya Om.''


Setelah memeriksa dengan teliti, Kevin lalu menandatanganinya. Kevin kemudian menyambungkan teleponnya ke ruangan Chika.


''Chika, keruanganku sekarang!''


"Baik Tuan!" Jawab Chika.


Tidak sampai lima menit, Chika sudah berada di ruangan Kevin.


''Pergilah bersama Zidni ke proyek pembangunan resort. Ini tugas pertama dariku untukmu. Kamu juga harus berani terjun kelapangan dan meninjaunya langsung. Jadi kamu tahu seluk beluknya.''


''Baik Tuan! Saya siap!"


''Dan setelah peninjauan, buat laporannya untukku.''


''Iya Tuan!"


''Zidni, kamu pergilah bersama Chika.''


''Iya Om. Kalau begitu permisi.''


''Iya, kalian hati-hati.''


''Permisi Tuan.'' Pamit Chika.


''Iya. Hati-hati.''


...****************...


''Wah, lokasinya keren banget! Berdekatan dengan pantai. Viewnya juga bagus sekali.'' Chika berdecak kagum begitu sampai di lokasi pembangunan resort itu. Disana pun sudah banyak pekerja. Zidni hanya diam seperti biasanya. Chika lalu mulai memotret lokasi itu.


''Ayo kita cek pembangunannya! " ajak Chika. Zidni hanya mengangguk dalam diam. Ada hal yang mengejutkan terjadi pada Zidni. Zidni membantu seorang pekerja yang mengangkat sebuah kayu. Chika tak melewatkan kesempatan itu untuk menjepret aktivitas Zidni. Zidni juga beberapa kali memberi nasihat untuk membuat perbandingan bahan yang pas supaya bangunan kokoh dan tahan lama. Zidni juga memberitahu pada mereka untuk memilih menggunakan bata merah. Zidni mengutamakan kualitas yang bagus karena kualitas yang bagus akan mempengaruhi hasil akhir. Chika yang sedari tadi mengekor Zidni, tidak menyangka kalau ternyata Zidni bisa bersikap di luar dugaannya.


''Sebenarnya apa yang disimpan Zidni? Buktinya dia bisa care dengan para pekerja." Gumam Chika dalam hati.


"Sudah waktunya makan siang!" kata Chika.


"Aku kembali ke kantor saja."


"Kenapa? Sekali-kali kita makan bersama. Apa malu jalan denganku? Atau khawatir ketahuan kekasihmu? Selama disini sudah dapat berapa gadis? "


"Ternyata kamu sangat cerewet ya. Aku tidak mood saja! "


"Baiklah kalau begitu antar aku makan. Setelah itu antar aku kembali ke kantor."


Zidni hanya mengangguk dan menuruti permintaan Chika.


"Mau makan dimana?" tanya Zidni.


"Mmmm di mana ya? Aku juga bingung."


Zidni mendengus. Dengan asal, Zidni membelokkan mobil di sebuah cafe.


"Ah disini juga tidak masalah." Kata Chika. Zidni hanya mendecih dengan tatapan kesal. Keduanya lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe. Chika lalu segera memesan makanan.


"Mau pesan apa?"


"Kamu saja," singkat Zidni. Chika lali memesan satu porsi udang saos padang beserta nasi dan segelas jus melon.


"Zidni!" suara seorang wanita mengagetkan Zidni.


"Monika?"


"Oh, ini alasan kamu tidak menemui ku? Ada wanita lain rupanya."


"Ya, aku sudah bilang kalau aku tidak bisa hidup dengan satu wanita. Aku mudah bosan, maafkan aku." Kata Zidni dengan entengnya. PLAK! Sebuah tamparan melayang di wajah Zindi.


"Oke, kita PUTUS!"


"FINE!" jawab Zidni dengan tegas. Wanita seksi itu pun pergi meninggalkan restoran sambil menangis.


"Kejar Zidni! Kenapa kamu bilang seperti itu?"


"Ah sudahlah biarkan saja! Mereka itu cuma mau senang-senang saja."


"Gila ya kamu! Dengan mudahnya bilang putus dan menyakiti wanita. Berapa banyak wanita yang kamu sakiti?"


"Jangan banyak bicara dan tanya. Sebaiknya kamu fokus makan saja."


"Dasar playboy kejam!" gerutu Chika. Namun Zidni tidak peduli dengan ucapan Chika itu. Tak lama kemudian pesanan Chika datang.


"Aku makan dulu ya. Kenapa kamu tidak makan?"


"Tidak lapar!" jawabnya ketus. Chika tanpa banyak basa-basi lagi lalu menyantap makanannya. Pandangan Zidni kemudian tertuju pada sebuah piano. Ia lalu beranjak dari duduknya dan mendekat kearah piano itu. Mata Chika mengikuti langkah kaki Zidni menuju piano. Mengikuti nalurinya, Zidni memainkan piano itu. Chika terkejut permainan piano Zidni sangat bagus. Semua pengunjung yang sedang menikmati makan siang terbawa suasana melow dari alunan nada piano yang Zidni mainkan.


"Meskipun aku tidak tahu itu lagu apa? Tapi sepertinya Zidni memendam sesuatu sendiri," gumam Chika dalam hati.


Bersambung..... Yukkk like komen dan votenya ya. Mampir juga di "Promise Of Love" makasih 🙏❤