Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 160 Meminta Restu


Setelah puas menggoda dan membuat Kevin bertengkar dengan Keira, Mauren memilih merayakannya dengan menghabiskan waktu di bar.


''Pasti Keira marah besar pada Kevin dan mereka pasti sedang bertengkar hebat. Semoga mereka secepatnya berpisah dan bercerai. Dan aku akan merebut Kevin dengan caraku. Sepertinya cara itu lebih ampuh untuk menghancurkan mereka.''


''Nona Mauren,'' sapa Leon.


''Kamu? Kenapa harus bertemu denganmu lagi? Menyebalkan sekali,'' ucap Mauren dengan tatapan sinis. Leon lalu duduk di samping Mauren, sambil menuangkan wine ke dalam gelas Mauren yang telah kosong. Leon mengangkat gelasnya untuk mengajak Mauren bersulang.


''Kenapa sendirian saja, Nona? Dimana kekasih anda?''


''Kekasih? Aku tidak punya. Lalu mana kekasihmu?''


''Sama, aku juga tidak punya,'' Leon terkekeh.


''Bukannya kamu menyukai Keira? Terlihat sekali dari sikap dan tatapan matamu padanya.''


''Iya tapi aku terlambat.''


''Maksudnya?''


''Aku terlambat bertemu dengannya karena saat bertemu dengannya dia sudah menjadi milik Tuan Kevin.''


''Mencintai milik orang lain memang lebih asyik dan menantang. Apa kamu tidak ingin merebutnya?''


''Tidak, untuk apa?''


''Ya untuk di perjuangkan lah.''


''Di perjuangkan kalau dia belum pasangan tapi kalau sudah punya pasangan itu namanya merusak.''


Mauren mencibir ucapan Leon. ''Alasan yang sangat klise tapi sebenarnya hatimu menderita kan?''


''Memang alasan klise dan menyakitkan. Tapi kalau orang yang kita cintai bahagia, itu sudah cukup. Karena level tertinggi mencintai adalah melepaskannya dengan ikhlas.''


''Bullshit! Itu pemikiran orang bodoh.''


''Memangnya apa pendapat Nona tentang itu?''


''Kalau aku tidak akan membiarkannya bahagia sampai kapanpun. Kalau aku tidak bisa memilikinya maka orang lain juga tidak boleh memiliknya. Jadi dia harus merasakan apa yang aku rasakan juga, itu prinsipku.''


''Wah, ternyata sangat menyeramkan sekali.''


''Memang menyeramkan tapi itu asyik.'' Mauren lalu tertawa. Leon hanya bisa tersenyum kecil namun dalam hatinya berpikir bahwa Mauren lebih mirip seperti psikopat.


Di tempat lain, Keira dan Kevin sedang menikmati makan siang romantis. Tampak sesekali keduanya saling menyuapi.


''Kei, apa kamu sudah tahu sesuatu?''


''Sesuatu apa, Mas?''


''Krisna dan Laras.''


''Memangnya ada apa dengan mereka? Di grup kita bertiga masih sepi. Tidak ada informasi apapun dari Laras, apalagi Johan.''


''Jadi tadi Krisna cerita kalau dia akan melamar Laras.''


''Serius, Mas? Ah, akhirnya.''


''Aku sendiri juga terkejut. Sepertinya Laras berhasil menaklukkan Krisna. Apalagi sampai Krisna mau melamar Laras dan menikahinya.''


''Itu juga pasti karena Laras yang memaksanya, Mas. Memang sih pria seperti Pak Krisna, harus di hadapinya sama Laras.''


''Dan Krisna meminta aku sama kamu untuk mendampinginya saat pesta pertunangan nanti. Dia kan hanya memiliki Ibu dan tidak ada kerabat disini. Jadi dia ingin kita datang sebagai saudaranya.''


''Memangnya kapan, Mas?''


''Belum tahu. Dia sendiri masih belum menemui orang tua Laras. Dia juga bingung apa saja yang di bawa saat pertunangan nanti. Tapi aku sudah menjelaskan semuanya pada Krisna.''


''Oh ya Mas, kapan kita mengadakan syukuran?''


''Terserah kamu saja sayang, lebih cepat lebih baik.''


''Lusa saja ya, Mas. Supaya semua tidak mendadak.''


''Iya tidak masalah. Oh ya sayang, setelah ini rencana kita apa?''


''Rencana apa maksudnya, Mas?''


''Rencana tentang Mauren. Dia kan tahu kalau kita bertengkar.''


''Kita ikuti saja alurnya, Mas. Kita pura-pura marahan di depan Mauren. Pastikan acara syukuran kita tertutup ya, biarkan Pak Krisna dan Mbak Siska di kantor saja supaya Mauren tidak menganggu kita. Aku ingin acara sykuran kita hanya untuk keluarga dan anak-anak yatim piatu.''


''Baiklah sayang, kamu sutradaranya jadi aku mengikuti arahan dari sutradara Keira.''


''Dia kan drama queen, Mas. Jadi sekalian saja kita ikut ambil peran, iya kan? Aku rasa dia itu psikopat, bukan lagi manusia normal.''


''Sepertinya memang begitu, sudahlah jangan membahasnya lagi. Aku benci membahasnya.''


''Serius benci? Bukannya suka lihat yang montok?'' sindir Keira.


''Sayang, kenapa kamu suudzon sih? Tidak sama sekali ya.''


Keira terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya yang lucu. Setelah selesai makan siang, Keira dan Kevin pergi menjemput Marvel ke sekolah.


-


Pulang kantor, Krisna menjemput Laras di butik tempatnya magang. Terlihat Laras sudah berdiri di trotoar jalan untuk menunggu Krisna, maklum saja Laras masih menjalani hukuman dari orang tuanya. Krisna kemudian turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Laras.


''Terima kasih pangeranku,'' kata Laras dengan kedipan manjanya. Krisna hanya membalasnya dengan senyum kecilnya. Setelah masuk, Krisna kembali melajukan mobilnya.


''Kak, kapan kakak akan ke rumah ku?''


''Hari ini juga aku akan menemui orang tua kamu. Apa mereka di rumah?''


''Iya aku serius. Setelah itu aku akan mempersiapkan acara pertunangan kita.''


''Makasih ya, Kak. Mama dan Papa ada di rumah kok. Oh ya di belakang itu apa, Kak?''


''Oh itu hadiah kecil untuk Papa dan Mama kamu.''


''Sepertinya itu bukan hadiah kecil. Boxnya aja warna orange dua-duanya.''


''Aku memberikan sesuatu baik untuk mendapatkan kepercayaan orang tua kamu. Jujur saja aku gugup sekali. Aku takut mereka menolakku.''


''Aku yakin kalau melihat hadiah itu, mereka akan menerima Kakak.'' Akhirnya Krisna sampai juga di rumah Laras. Laras kemudian menggandeng Laras dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.


''Papa-Mama, Laras pulang!" seru Laras.


''Apa Laras? Papa dan Mama sedang makan malam,'' sahut Nyonya Dila. Laras dengan penuh percaya diri menggandeng Krisna menuju ruang makan.


''Selamat malam, Om-Tante!" sapa Krisna dengan ramahnya. Tuan Handi dan Nyonya Dila mengarahkan pandangannya ke arah Krisna. Nyonya Handi dan Nyonya Dila kompak melihat Krisna dari ujung kepala sampai ujung kaki.


''Selamat malam.'' Sapa keduanya dengan kompak juga.


''Pah-Mah, ini Kak Krisna.''


''Ayo duduklah, kita makan malam dulu. Kamu pasti belum makan malam kan?'' kata Nyonya Dila. Krisna hanya mengangguk pelan.


''Oh ya Om-Tante, ini ada hadiah kecil dari saya.'' Tuan Handi dan Nyonya Dila saling melempar pandangan saat melihat dua box warna orange bertuliskan Hermes, di hadapan mereka. Mereka saling memberi kode, bahwa Krisna bisa di pertimbangkan sebagai calon menantu.


''Kamu seharusnya tidak usah repot-repot, Krisna. Kamu datang menemui kami saja kami sudah senang,'' kata Tuan Handi.


''Tidak apa-apa, Om. Itu hanya hadiah kecil yang bisa saya bawa.''


''Sudah kita makan malam dulu. Nanti kita sambung lagi obrolan kita.'' Sahut Nyonya Dila. Laras lalu mengajak Krisna untuk duduk. Laras dengan sigap menuangkan nasi untuk Krisna.


''Kakak mau apa?'' tanya Laras.


''Terserah kamu saja. Apapun itu pasti aku makan.''


''Jangan terserah, Kak. Aku kan jadi bingung.''


''Baiklah aku mau tahu, ayam goreng dan sayur saja.'' Krisna menahan rasa gugupnya setengah mati namun saat melihat sambutan orang tua Laras yang hangat, membuat rasa gugupnya sedikit mereda.


''Krisna, kamu sudah lama menjadi sekretaris?'' tanya Tuan Handi.


''Sudah, Om. Bahkan sejak saya lulus kuliah. Tuan Kevin, bos saya sendirilah yang langsung menawarkan pekerjaan itu kepada saya.''


''Wah, berarti kamu memang memiliki kemampuan luar biasa ya.'' Puji Tua Handi.


''Kak Krisna ini hebat banget, Pah. Papa tahu di kamarnya ada almari yang isinya piala dan piagam penghargaan yang di raih oleh Kak Krisna di bidang akademik. Bahkan Laras melihat ada penghargaan juga dari perusahaannya.'' Cerocos Laras.


''Kamar? Kamu main ke kamar seorang pria?'' selidik Tuan Handi.


''Aduh mati, keceplosan,'' batin Laras.


''Apa yang sudah kalian lakukan sampai di kamar?'' sahut Nyonya Dila menatap Laras dan Krisna bergantian.


Laras tergagap. ''Papa dan Mama ini bawaannya jelek melulu. Kami tidak melakukan apa-apa. Laras waktu itu masuk ke kamar Kak Krisna di ajakan Ibunya Kak Krisna, melihat foto masa kecilnya. Jadi Kak Krisna sendiri tidak tahu apa-apa.'' Jelasnya.


''Om dan Tante tenang saja, kami tidak pernah melakukan apapun. Sebenarnya kedatangan saya kemari ingin meminta restu kepada Om dan Tante untuk meminang Laras. Saya tidak mau menjanjikan apapun tapi saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Laras.''


''Krisna, sebenarnya Om dan Tante juga tidak muluk-muluk masalah siapa jodoh Laras. Hanya saja Laras itu suka bodoh memilih pasangan. Dia kalau sudah cinta itu buta, bahkan ucapan kami sebagai orang tuanya tidak di dengar.'' Jelas Tuan Handi.


''Papa ih, itu kan masa lalu. Laras juga sadar kok dengan kesalahan Laras.''


''Setelah melihat kamu yang sepertinya dewasa dan matang, Om yakin kalau kamu bisa menjaga dan membimbing Laras ke arah yang lebih baik lagi. Karena dia ini susah sekali di atur.'' Sambung Tuan Handi.


''Apa kamu yakin, memilih Laras dalam hidup kamu? Dia ini tidak bisa apa-apa selain belanja, dandan, hangout dan kluyuran kesana kemari,'' sahut Nyonya Dila.


Laras kesal mendengar apa yang di ucapkan orang tuanya pada Krisna. ''Papa dan Mama ini apa-apaan sih? Kenapa malah jelek-jelekin Laras di hadapan Kak Krisna. Cerita yang baik-baik gitu.''


''Bagus dong, Krisna harus tahu keburukan kamu supaya dia tidak kaget saat kalian menikah nanti,'' sahut Nyonya Dila. Mendengar perdebatan kecil antara orang tua dan anak, Krisna justru bahagia dan tersenyum kecil. Di hadapan kedua orang tua Laras, Krisna menggenggam tangan Laras dengan erat.


''Om, Tante, apapun sikap Laras, saya mencintai dia apa adanya. Masalah masak dia bisa belajar atau dia tidak perlu memasak, biar saya membayar jasa pembantu, dia cukup melayani saya saja. Saya sendiri mempunyai banyak kekurangan dan Laras bisa menyempurnakan kekurangan saya. Jadi di dunia ini tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada hanyalah kita saling menyempurnakan dan saling melengkapi kekurangan masing-masing.''


Tuan Handi dan Nyonya Dila kompak memberikan standing applause untuk Krisna.


''Pemikiran yang bijak sekali, Krisna. Ini baru laki!" kata Tuan Handi dengan hebohnya.


''Tuh Pah, dengerin Krisna. Jangan banyak protes kalau Mama kurang ini itu.''


''Mama, kok malah Papa yang kena.''


''Mama sama Papa itu sama kocak dan sama anehnya,'' bisik Laras pada Krisna sambil cekikikan.


''Jadi apa Om dan Tante merestui hubungan kami?'' tanya Krisna untuk memastikan.


''Tentu saja, Krisna. Kapan kamu akan melakukan lamaran resmi pada Laras?'' tanya Tuan Handi.


''Minggu depan, Om. Saya akan menyiapkan semuanya untuk Laras. Untuk acara pernikahan, saya akan menunggu Laras menyelesaikan kuliahnya.'' Jawab Krisna dengan hati yang sudah mantap.


''Bagus, Om suka gaya kamu yang tenang tapi tegas.''


''Pah, sebentar lagi kita gendong cucu nih.''


''Iya Mah, makanya Mama kurang-kurangin tuh kesibukan.''


''Papa juga kurangi keluar kotanya. Kerja apa cari daun muda?''


''Ya ampun Mama ini di depan calon mantu malah gitu ngomongnya.'' Mendengar perdebatan orang tua Laras, Krisna hanya bisa menahan tawanya. Namun ia sekarang benar-benar lega karena orang tua Laras sangat ramah dan kocak jadi tidak ada suasanya tegang dalak ruangan itu. Krisna justru terhibur dengan kekonyolan calon mertuanya itu.


Bersambung....