Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 305 Posesif


Akhirnya Chika sampai juga di depan rumah. Nino dibuat takjub dengan rumah mewah Chika.


“Kamu tinggal disini?”


“Iya. Ini rumah Om dan Tante aku. Merekalah motivasiku untuk sukses, Mas.”


“Bagus Chika. Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya.”


“Oh ya terima kasih ya Mas sudah mengajakku menonton dan makan.”


“Sama-sama Chika. Kalau begitu masuklah. Aku akan pergi saat kamu sudah masuk.”


“Baiklah kalau begitu, Mas. Mas Nino hati-hati ya.”


“Iya. Nanti aku akan meneleponmu begitu aku sampai rumah.”


“Iya Mas.” Chika lalu membyka pintu gerbang yang tinggi itu dan segera masuk ke dalam. Setelah memastikan Chika masuk ke dalam rumah, Nino pun melajukan mobilnya kembali.


Sesampainya di rumah, Chika segera menuju kamar Zidni. Chika membuka begitu saja kamar Zidni. Zidni tampak berbaring diatas tempat tidur.


“Zidni, bagaimana perutmu?” tanya Chika seraya duduk di bibir ranjang.


“Rasanya sangat sakit seperti di remas-remas.”


“Apa perlu kita kerumah sakit?”


“Ti-tidak usah. Minum obat saja dulu. Kalau belum juga reda, besok kita ke dokter.”


“Oh ya, ini obat yang kamu minta. Tapi kamu sudah makan?”


“Belum. Aku belum selera makan.”


“Oh ya apa kamu memang punya penyakit lambung sebelumnya? Atau habis makan sesuatu yang pedas atau basi?”


“Aku memang ada riwayat penyakit lambung.”


“Kalau begitu kamu makan dulu ya, biar aku ambilkan. Sekalian aku buatkan perasan air lemon hangat, itu sangat bagus untuk lambung.”


“Iya.” Jawab Zidni dengan lemah. Chika kemudian meletakkan tasnya di atas meja dan ia segera pergi ke dapur. Entah kenapa Zidni merasa senang diperhatikan oleh Chika. Tak lama kemudian, Chika kembali ke kamar Zidni dengan membawa makanan dan secangkir air lemon hangat.


“Ini, makanlah dulu.” Kata Chika. Zidni lalu bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjang.


“Terima kasih.”


“Sama-sama. Oh ya aku mau mandi dulu, gerah rasanya.”


“Oh ya kenapa kamu lama sekali?”


“Hehehe tadi sama Mas Nino di ajakin nonton dan makan. Sudah ya aku ke kamar.” Cerita Chika dengan wajahnya yang ceria.


“Apa kamu menyukainya?” selidik Zidni.


“Entahlah. Mau tau aja. Sudah ah, aku mau mandi. Jangan lupa obatnya di minum.” Chika kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kamar Zidni. Melihat wajah sumringah Chika, membuat selera makan Zidni hilang lagi. Ia lalu meletakkan makanannya begitu saja dan memilih untuk tidur. Toh Zidni juga hanya pura-pura tapi kalau soal makan, sejak tadi siang perutnya masih kosong.


 


...****************...


 


“Istriku cantik sekali,” sapa Kevin saat melihat Keira duduk dihadapan meja riasnya.


“Sudah pulang, Mas?”


“Iya dong sayang, aku kan janji mau pulang lebih awal. Aku tidak mendapat pelukan nih?” Ucap Kevin sambil merentangkan kedua tangannya. Keira lalu beranjak dari duduknya lalu datang memeluk suaminya.


“Kamu ini ada-ada saja, Mas. Kamu kan bisa memeluk aku.”


“Beda rasanya sayang. Kalu meluknya dari depan ada yang empuk.”


“Tuh suamiku makin mesum saja pikirannya. Ya sudah, kamu mandi ya Mas. Aku siapkan makan malam untuk kamu.”


“Oke sayang. Tapi jangan lupa nanti jatah malam ya.”


“Iya Mas.”


“I love you too.”


 


Keesokan harinya Keira sedang sibuk memilihkan pakaian untuk dirinya dan juga Rachel.


“Sayang, kamu masih belum siap-siap?”


“Bingung Mas, mau pakai baju apa? Tidak ada baju yang bagus sepertinya. Seharusnya kemarin aku beli baju juga untuk Rachel.”


“Astaga, baju kamu dan Rachel sudah sangta banyak. Masa iya bingung mau pakai baju apa. Aku bantu pilih ya? Padahal biasanya kamu mau pakai apa aja oke.”


“Ini kan hari special Marvel, Mas. Jadi aku ingin memberikan yang terbaik.”


“Ini acara sekolah, sayang. Bukan acara fashon show. Jadi pakai baju yang semi formal saja. Kalau Rachel pakai baju apa aja bagus karena amsih kecil jadi pakai apa aja pasti cocok.”


“Ya sudah Mas, tolong bantu aku milih ya.”


“Iya sayang.”


Akhirnya setelah memilih, ketemu juga dengan pakaian yang cocok untuk Keira. Setelah semuanya siap, mereka segera berangkat ke sekolah Marvel. Disana mereka bertemu dengan Johan dan Tessa. Tampak perut Tessa semakin membuncit.


“Kei!” sapa Johan seraya melambaikan tangannya saat melihat Keira.


“Hai Jo!” balas Keira yang juga melambaikan tangannya pada Keira. Keduanya sama-sama baru turun dari mobil. Johan lalu mengajak Tessa mendekat kea rah Keira.


“Selamat pagi Tuan Kevin.” Sapa Johan sambil menjabat tangan Kevin.


“Pagi Jo.”


“Tuan Kevin, selamat pagi.” Giliran Tessa menyapa Kevin sebagai atasan Johan.


“Selamat pagi juga Tessa.”


“Mbak Tessa, sudah makin buncit aja nih perutnya.” Ucap Keira sambil mengusap perut Tessa.


“Iya nih, Kei. Udah jalan bulan kelima. Rachel juga makin cantik saja nih. Ya ampun gemesin banget ya Kei. Sudah bisa diajak bercanda.”


“Iya Mbak, Alhamdulillah nih dia makin aktif dan rewel tentunya.”


“Namanya anak perempuan, rewel dan manja itu sudah pasti.”


“Rachel, ya ampun kamu cantik banget ya, Nak, Ini gedenya pasti jadi rebutan cowok-cowok nih. Boleh lah nanti kalau sudah besar sama anak Om.” Celetuk Johan yang mendapat pelototan mata Kevin.


“Paling tidak, nanti putramu sudah menjadi CEO dan memiliki perusahaan yang besar kalau ingin menjadikan Rachel sebagai menantumu, Jo.” Ucap Kevin.


“Mas, ihh apaan sih? Johan bercanda aja kali. Kamu ini berlebihan sekali.” Ucap Keira.


Johan lalu tertawa. “Yang dikatakan oleh suami benar Kei. Apalagi seorang Ayah, dia pasti akan posesif pada putrinya. Terutama dalam memilihkan masa depan untuk putinya. Kalau aku di  posisi Tuan Kevin juga akan melakukan yang sama. Aku ingin putriku mendapatkan yang terbaik dan tidak akan membiarkannya menderita.” Ungkap Johan tanpa merasa tersinggung sedikitpun.


“Tuh sayang kamu dengar apa kata Johan? Bukannya matre sebagai orang tua tapi sebagai orang tua apalagi Ayah, kita harus memberikan yang terbaik.” Sahut Kevin.


“Boleh aku menggendongnya Tuan?” tanya Johan. Karena Rachel memang dalam gendongan Kevin.


“Tentu saja. Tapi awas ya, jangan sampai dia lecet.”


“Patsti Tuan.” Jawab Johan terkekeh.


“Mas, kamu ini apa sih? Masa iya Johan mau menyakiti Rachel.”


“Aku hanya mewanti-wanti Johan supaya hati-hati, sayang.”


“Sudah Kei, aku tidak apa-apa. Namanya juga kekhawatiran seorang Ayah, apalagi ini putri pertama Tuan Kevin. Sebaiknya kita segera masuk ke dalam gedung, sepertinya acara akan segera di mulai. Biar Rachel aku gendong saja, sekalian belajar.”


“Baiklah kalau begitu.” Ucap Keira. Di dalam aula, mereka juga duduk bersebelahan karena Anrez juga ikut mengisi acara. Kevin melihat Rachel duduk tenang di pangkuan Johan yang kebetulan duduk disebelahnya. Johan juga tampak tulus dan sayang dengan Rachel.


“Selain memiliki suami yang mapan, setidaknya Rachel harus mempunyai mertua yang tulus menyayanginya. Jangan sampai putriku mendapatkan mertua yang galak dan judes apalagi yang gila harta. Sungguh menyeramkan! Putriku yang ada akan menderita.” Gumam Kevin dalam hati.


##Sedikit bocoran, untuk Chika dan Zidni nanti insya allah akan ada sekuelnya. Jadi nanti di akhir cerita Terjebak Cinta Duda Tampan, kisah mereka akan author gantung. Dan akan di mulai lagi dengan judul baru 😁


Bersambung...