
Setelah makan siang dan banyak cerita dengan orang tua Leon, Leon lalu mengantar Nadia pulang karena hari sudah semakin sore.
''Terima kasih ya Nad, kamu sudah mau aku ajak bertemu denganmu.''
''Justru aku yang berterima kasih karena kamu memberiku keluarga baru. Aku juga bahagia karena kedua orang tua kamu menerimaku dengan tangan terbuka.''
''Kedua orang tuaku memang tidak pernah memandang status sosial. Yang terpenting bagi mereka, kebahagiaan anak-anak mereka sudah cukup.''
''Iya dan aku beruntung menjadi bagian dari keluarga kalian. Oh ya aku juga ingin bertemu dengan adik kamu, Leon.''
''Saat hari bahagia kita nanti, dia pasti akan datang. Aku juga belum cerita apa-apa tentang kamu karena aku masih menunggu jawaban kamu. Ditambah adikku sedang sibuk mengurus anaknya.''
''Wah kamu sudah punya keponakan juga ya?''
''Iya tapi dia masih berusia 5 bulanan kalau tidak salah.''
''Oh ya aku juga ingin membawamu menemui seseorang, Leon.''
''Siapa?''
''Satu-satunya keluargaku. Terserah kamu bisanya kapan.''
''Besok aku akan meluangkan waktu untuk menemuinya dan meminta restu padanya.''
''Baiklah, aku akan memberitahunya, semoga dia besok bisa karena dia sangat sibuk.''
''Iya, aku akan menunggu kabar darimu.''
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai juga di apartemen Nadia.
''Terima kasih ya sudah mengantarku. Mau mampir?''
''Mmmm kalau di ijinkan.''
''Tentu saja Leon.'' Nadia dan Leon segera turun dari mobil. Nadia lalu mengajak Leon untuk mampir sejenak di apartemennya.
''Kamu mau minum apa?'' tanya Nadia.
''Yang dingin saja.''
''Soft drink bagaimana?''
''Iya tidak apa-apa.'' Ucap Leon. Nadia lalu mengambilkan satu kaleng soft drink untuk Leon.
''Leon, kamu tunggu ya, aku mau mandi. Kamu bisa nonton televisi.''
''Iya Nad, aku akan menunggumu.'' Ucap Leon.
Setelah menunggu dua puluh menit, Nadia akhirnya selesai mandi. Ia pun segera memakai baju tidur dan menyusul Leon menonton televisi. Leon mencium aroma rose pada tubuh Nadia. Aromanya sangat kuat dan membuat Leon ingin memeluk Nadia.
''Kamu sedang menonton apa Leon?''
''Tidak tahu, Nad. Hampir semua acaranya berita. Apa setiap hari kamu menonton berita?''
''Hehehe iya. Kamu coba ganti chanel lain saja. Aku sendiri jarang nonton televisi. Tapi aku pernah tidak sengaja lihat jam segini biasanya ada drama romantis gitu.'' Kata Nadia. Leon mengangguk, ia lalu mengganti chanel televisinya. Dan benar saja drama baru di mulai. Keduanya fokus menonton drama tersebut sambil menikmati camilan.
''Bagus ya dekorasi pelaminnya? Sederhana tapi elegan.'' Ucap Nadia saat melihat drama yang menampilkan sepasang kekasih telah menikah.
''Iya. Apa kamu ingin yang seperti itu? Itu gaun pengantinnya juga cantik. Kalau kamu mau, kita bisa fitting secepatnya.'' Ucap Leon.
''Tidak usah terburu-buru Leon, aku akan menyelesaikan kasusku dulu. Supaya nanti saat kita menikah tidak ada yang mengganjal di pikiran ku. Kamu tidak apa-apa kan?''
''Iya tidak masalah kok.'' Ucap Leon. Keduanya lalu fokus pada drama tersebut. Drama tersbeut beralih ke adegan dalam kamar, dimana sepasang pengantin baru itu tampak malu-malu untuk memulainya dulu. Melihat adegan yang awalnya biasa saja, lalu menuju adegan ciuman dan setelah itu adegan ranjang, membuat Leon dan Nadia salah tingkah. Keduanya saling menoleh dan tersenyum paksa.
''Aduh, kenapa aku panas dingin ya?'' gumam Nadia dalam hati.
''Leon, sudah malam, sebaiknya kamu pulang ya.'' Kata Nadia tergagap.
''I-iya, memang seharusnya aku pulang saja sejak tadi.'' Leon pun juga tergagap. Mereka berdua sama-sama salah tingkah. Leon lalu menenggak habis soft drink yang ada dihadapannya itu. Leon kemudian beranjak dari sofa, begitu juga dengan Nadia. Namun karena grogi, kaki Leon meyandung kaki meja. Sehingga membuatnya terjatuh dan menimpa tubuh Nadia. Untuk saja Nadia sigap, jadi mereka masih terjatuh di sofa karena Nadia berpegangan pada lengan sofa. Dan secara tidak sengaja bibir mereka bersentuhan. Mata Leon dan Nadia kompak membulat. Jantung Nadia berdegup tidak karuan. Untuk pertama kalinya, bibirnya bersentuhan dengan seorang pria. Begitu juga dengan Leon, detak jantungnya tidak bisa ia kendalikan.
Leon lalu berusaha berdiri.
''Ma-maafkan aku, Nadia.'' Ucap Leon tergagap.
''I-iya tidak apa-apa.'' Kata Nadia.
''Kamu tidak akan memperkarakan kasus ini kan?''
''Kasus apa maksudmu Leon?''
''Bibirku tidak sengaja menyentuh bibirmu. Aku takut kamu akan membawanya ke jalur hukum atas tindakan pelecehan.'' Mendengar ucapan Leon, Nadia yang tadinya gugup langsung tertawa lepas. Hahahaha!
''Leon, kamu lucu sekali. Mentang-mentang aku jaksa, masa iya aku mau memperkarakan ini. Bukankah kita saling mencintai Leon, kalaupun kita melakukannya dengan sadar dan atas dasar suka sama suka, masa iya aku mau melaporkanmu. Masa iya gara-gara tidak sengaja mencium bibir, seorang wanira tega melaporkan calon suaminya sendiri.'' Ucap Nadia dengan tawanya. Ia merasa Leon sangat lucu.
''Huft syukurlah. Jujur saja aku sangat takut untuk menyentuhmu. Aku takut kamu akan mempidanakan aku, Nad.'' Ucap Leon seraya menghela nafas lega.
''Kamu ini lucu sekali, Leon. Bukannya kamu sudah pengalaman ya untuk hal seperti itu? Kenapa jadi takut?''
''Ayolah Nadia, aku bukan pria gampangan seperti itu. Aku pria yang sangat sulit jatuh cinta. Tentu saja aku tidak mudah mengobral itu semua.''
''Hehehe iya-iya aku mengerti Leon. Kamu memang sangat baik dan aku bersyukur dicintai kamu.''
Leon kemudian menggenggam kedua tangan Nadia.
''Nad, apa aku boleh meminta ijin padamu?''
Nadia menaikkan alisnya. ''Ijin apa Leon?''
''Mmmm aku minta ijin untuk melakukan yang seperti tadi.''
''Seperti tadi yang mana?''
''Itu yang ada dalam adegan drama televisi.'' Kata Leon dengan malu-malu.
''Begini ya rasanya punya pasangan bocil.'' Celetuk Nadia.
''Bocil? Enak saja mengataiku bocil.''
''Kalau bukan bocil apa? Apa-apa minta ijin. Kita sudah cukup dewaa Leon, apalagi aku.'' Nadia terkekeh.
''Aku melakukan itu karena aku sangat menghargai kamu, Nadia. Aku tidak ingin kamu berpikir buruk tentang aku. Apalagi profesi kamu itu, kalau kamu tersinggung dan tidak nyaman, kamu pasti dengan mudah menjebloskan aku ke penjara.''
''Terima kasih ya. Jujur dijaman sekarang, sudah sangat langka pria seperti kamu Leon. Biasanya pria suka main serobot saja tapi kamu selalu meminta ijin.''
''Iya lah itu harus. Kalau aku tiba-tiba menciummu tapi kamu tidak mau dan tidak terima, wah, bisa habis aku. Aku pasti dikira pria mesum. Kalau kamu mengijinkannya, kita juga nyaman melakukannya.''
''Iya-iya, kamu tidak usah menjelaskan sedetail itu. Jadi sekarang mau apa?'' tanya Nadia. Tanpa basa-basi, Leon langsung mengecup bibir Nadia. Nadia terperanjat kaget mendapat kecupan itu dari Leon.
''Leon, kamu membuatku terkejut.'' Ucap Nadia.
''Ma-maafkan aku Nadia. Apa sakit?'' tanya Leon dengan tatapan polosnya. Lagi-lagi Nadia dibuat tertawa dengan sikap Leon.
''Kok malah ketawa?''
''Habis kamu lucu.'' Kata Nadia. Nadia lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Leon. Dan Nadia mendaratkan bibirnya pada Leon begitu saja. Mata Leon membulat bahkan ia sangat terkejut dengan apa yang Nadia lakukan. Namun Leon kali ini tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Leon merapatkan tubuh Nadia pada tubuhnya, tangannya bergerak merengkuh tengkuk Nadia. Nadia dibuat terkejut karena Leon perlahan membuka bibirnya dan membalas ciumannya.
Tubuh Nadia terasa semakin panas, kala ciuman Leon semakin dalam dan menuntut. Leon lalu terduduk disofa, ia kemudian mendudukkan Nadia dipangkuannya. Nadia kemudian perlahan memberanikan diri untuk membalas ciuman Leon. Keduanya saling memejamkan mata, merasakan betapa lembutnya kedua bibir yang saling berpagut menjadi satu. Dan itulah ciuman pertama Nadia yang ia berikan pada Leon. Leon juga bahagia kareja ia adalah pria pertama yang mendapat ciuman pertama Nadia.
Bersambung.... Yukkk like, komen dan votenya ya. Oh ya untuk novel "Takdir Cinta Aruna" berubah judul jadi "Promise Of Love" Yaaaa... Yukkk di kepoin karya baruku, makasih 🙏🙏❤️❤️