
Masih suasana pengantin baru, saat pertama kali membuka mata, Laras melihat pria yang di cintainya itu masih tampak terlelap. Tangan berototnya masih memeluk tubuh Laras dengan erat. Laras senyum-senyum sendiri mengingat apa yang terjadi semalam. Kamar hotel itu pun tampak kacau seperti kapal pecah. Laras lalu memberikan kecupan di bibir pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
''Morning my hubby,'' sapa Laras dengan lembut.
''Ih gemes banget deh, tidurnya kayak bayi,'' gumam Laras yang begitu jatuh cinta dengan wajah Krisna yang masih terlelap. Laras lalu membelai wajah suaminya dengan lembut.
''Suamiku, bangun!" ucap Laras. Krisna akhirnya bangun dan perlahan membuka matanya. Mata Krisna terbelalak melihat Laras berada di hadapannya.
''Laras, kamu untuk apa disini?'' tanya Krisna tergagap.
''Ihhhh kamu ini bagaimana sih, Kak? Kita ini sudah suami istri.''
''Ohh maaf, aku lupa.'' Jawab Krisna meringis.
''Enak saja bilang lupa, kamu sudah menodai ku dan meminta sampai beronde-ronde.''
Krisna mengernyitkan dahinya. ''Maksudmu apa Laras? Aku tidak mengerti.''
''Sumpah, kamu menyebalkan.'' Laras lalu menyibak selimut. ''Lihatlah Mas, kita tidur saja masih telanjang. Kamu amnesia apa?''
Krisna lalu melihat sendiri tubuhnya dan tubuh Laras yang memang dalam keadaan telanjang. Pandangannya mengedar melihat kamar hotel berantakan, kamar mandi yang terbuka, bahkan sampai sofa dan meja ikut bergeser kemana aja. Krisna terdiam, mencoba mengingat kembali apa yang semalam terjadi.
''Maaf ya, aku masih syok. Berarti kita tidak berbuat dosa kan?'' tanya Krisna dengan tatapan polosnya.
''Tidak suamiku sayang. Kita sudah halal. Kamu pasti kecapekan banget ya?''
''Iya, pinggul ku sakit sekali. Apa kamu sakit?'' tanya Krisna.
''Heem sakit, Kak. Entahlah aku bisa jalan atau tidak. Kenapa Kakak bisa lupa sih?''
''Maaf ya, mungkin efek kecapekan dan kaget kalau tiba-tiba ada kamu yang tidur di samping aku.''
''Nih lihat dada aku, sudah kamu kasih setempel.''
''Ya ampun, apakah aku seganas itu?''
''Iya. Kamu ganas sekali dan aku suka.'' Laras lalu bangun dan menindih tubuh suaminya. Krisna tersenyum lalu memeluk Laras.
''Terima kasih, kamu sudah membuatku menjadi seorang pria sejati.''
''Mmmm baiklah ayo kita sarapan.''
''Disini saja dulu. Aku malas keluar kamar,'' kata Krisna.
''Tapi aku lapar, Kak.''
''Salah siapa berbaring di atas tubuhku? Kamu sudah aku kunci dan tidak bisa bergerak. Jadi layani aku setelah itu kita pergi jalan-jalan.''
''Mmmm kalau di suruh melayani, tentu saja aku siap. Mau berapa ronde, hayuk!"
''Aku tidak menyangka kamu bisa sekuat itu untuk urusan ranjang. Pasti kamu terlalu banyak nonton film blue ya? Jadi fantasi kamu sangat liar?''
''Hanya beberapa kali saja.''
''Dasar nakal!" Ucap Krisna sambil menyentil kening Laras. Mereka kemudian saling tersenyum lalu berciuman. Krisna semakin piawai melakukan ciuman, semua ilmu yang di berikan oleh Kevin, sangat manjur, meskipun harus banyak drama sebelum melalui malam pengantin itu.
-
''Sayangku cantik sekali pagi ini.'' Kata Miko yang melihat istrinya sedang bersolek di depan cermin.
''Iya Mas, aku hari ini kan ada fashion show.''
''Oh ya aku hampir lupa. Nanti aku temani kamu ya.''
''Katanya kamu nanti ada meeting dan ketemu klien.''
''Oh ya, itu juga aku lupa. Seharusnya aku mengosongkan jadwalku untuk menemani kamu. Kenapa aku bisa lupa begini ya?''
''Ya sudah lah Mas tidak apa-apa.''
Miko tiba-tiba mengendus sesuatu yang membuatnya mual.
''Sayang, kamu ganti parfum ya?''
''Tidak Mas. Masih sama kok.''
''Kenapa aku jadi mual begini ya, eneg banget rasanya.''
''Kamu baik-baik saja kan, Mas?''
''Iya aku tidak apa-apa cuma merasa eneg saja.'' Dan rasa mual itu semakin terasa, Miko lalu segera berlari menuju kamar mandi. Huek huek huek! Gina yang panik mendengar Miko muntah, segera menyusulnya.
''Ya ampun Mas, kamu ini kenapa sih? Apa begadang ya semalam?'' kata Gina sambil memijit tengkuk Miko.
''Bisa jadi sayang. Mungkin masuk angin.'' Jawab Miko. Gina kemudian memapah Miko dan membantunya berbaring di atas tempat tidur. Gina lalu mengambil minyak angin, membuka kancing kemeja Miko lalu mengoleskan minyak angin.
''Apa aku tidak usah datang saja ya, Mas. Aku khawatir sama kamu.''
''Iya tapi aku khawatir sama kamu.''
''Ini juga udah enakan.''
''Ya sudah aku buatkan minuman hangat ya.'' Kata Gina.
''Iya.'' Jawab Miko yang merasa lemas.
''Gina, kamu belum berangkat?'' tanya Nyonya Rosa saat melihat menantunya berlari kecil menuju dapur.
''Belum Mah. Mas Miko tiba-tiba muntah dan eneg.'' Jawab Gina sambil berlalu menuju dapur. Nyonya Rosa kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar menengok putranya.
''Miko, kamu kenapa? Kata Gina kamu habis muntah ya?''
''Iya Mah. Mama tidak usah khawatir. Mungkin efek begadang semalam.''
Beberapa saat kemudian Gina kembali dengan membawa secangkir jahe hangat untuk Miko.
''Mas, ini kamu minum dulu wedang jahenya ya.''
''Terima kasih sayang. Sebaiknya kamu berangkat saja, aku sudah tidak apa-apa.''
''Iya Gina, kamu berangkat saja. Kan sudah ada Mama disini. Ini kan pagelaran busana besar kamu. Sepertinya Miko hanya masuk angin saja.'' Kata Nyonya Rosa menenangkan.
''Ya sudah Mah, kalau begitu Gina pergi ya. Titip Mas Miko, kalau ada apa-apa segera hubungi Gina. Karena Gina nanti pulangnya juga malam.''
''Iya-iya, Mama mengerti kesibukan kamu. Sudah kamu kerja yang tenang ya, semoga acaranya lancar dan sukses.'' Kata Nyonya Rosa.
''Terima kasih ya, Mah.''
''Sama-sama, Nak.''
''Mas, aku berangkat dulu ya. Kamu baik-baik ya, Mas.''
''Kamu juga hati-hati sayang, semoga semuanya lancar ya.'' Ucap Miko. Gina kemudian mencium punggung tangan suaminya dan Miko memberikan kecupan di kening istrinya. Gina juga mencium punggung tangan Ibu mertuanya seraya memeluknya. Dengan langkah terburu, Gina segera berangkat menuju butik.
Sesampainya di butik, Gina mengecek kembali busana yang akan ia pamerkan nanti. Setelah semuanya siap, Gina dan timnya segera pergi menuju hotel tempat di mana acara di gelar. Sejak tiba sampai acara akan di mulai, Gina sama sekali tidak istirahat. Ia tidak akan tenang kalau acara itu belum selesai sampai finish.
Lelah Gina terbayarkan, saat ia naik keatas panggung catwalk dengan membawa buket bunga sebagai seorang perancang busana ternama dengan brand miliknya sendiri. Namun sayang, rasa bangga dan bahagianya malam itu kurang lengkap tanpa kehadiran suaminya. Biasanya di acara besar seperti ini, Miko selalu mendampinginya. Para tamu undangan dan penonton yang hadir, memberikan standing applause untuk Gina. Gina melemparkan senyum lebarnya dengan sangat ramah bersama jajaran model yang berbaris di samping kanan dan kirinya.
''Terima kasih Tuhan atas semua pencapaian ini. Semua ini aku persembahkan untuk kamu Mas Miko.'' Gumam Gina dalam hati.
Setelah turun dari panggung, ada seorang pria yang datang membawa buket bunga yang cantik untuk Gina.
''Congratulation, Gina!" ucap William dengan senyum ramahnya.
''William, kamu disini?''
''Iya tentu saja. Aku kan penggemarmu. Dimana ada kamu, disitu ada aku. Terimalah dulu buket bunga ini.''
Gina tersenyum lalu menerima buket bunga dari William. ''Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang kemari.''
''Kebetulan aku memang tidak sedang sibuk. Oh ya mana suami mu?'' tanya William.
''Kebetulan dia sedang tidak enak badan jadi aku harus pulang secepatnya William.''
''Apa kita tidak bisa bicara sebentar?''
Karena William adalah klien dari pria yang baik, akhirnya Gina mengiyakannya. ''Baiklah kalau begitu. Kita mau bicara dimana?''
''Mari ikut denganku!" kata William. Gina hanya mengangguk sambil tersenyum. Gina lalu mengikuti langkah William masuk ke salah satu kamar hotel disana.
''Harus di dalam sini?'' tanya Gina dengan sedikit perasaan tidak enak.
''Iya Gina. Kamu tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Kebetulan aku memang check ini di kamar ini.''
''Oke baiklah.''
Saat masuk ke kamar itu, Gina tercengang melihat William sudah menyiapkan makan malam romantis di dalam kamarnya.
''William, apa maksud ini semua?''
''Tidak ada maksud apa-apa Gina. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam saja. Aku tahu kamu belum makan. Ayo duduklah!" Kata William dengan lembut. Gina mencoba bersikap tenang, meskipun sebenarnya ia merasa sangat takut. Gina menurut dan duduk di kursi yang sudah William siapkan.
''Oh ya aku pernah membahas tentang fashion week di New York, temanku bisa membantumu untuk ikut acara bergengsi itu. Brand mu akan berjajar dengan brand ternama disana Gina.''
''Kamu serius Wil?''
''Iya, aku serius Gina. Aku bahkan sudah menyiapkan tiket untuk kita pergi kesana.''
''Tiket? Untuk kita? Maksudmu?''
Bersambung.....