
''Selamat bergabung di Gina's! Semoga kamu betah disini ya, Tessa.'' Ucap Gina sambil menjabat tangan Tessa.
''Terima kasih Nona Gina. Saya akan bekerja keras dan setulus hati.''
''Iya Tessa.''
''Terima kasih juga ya, Kei. Kamu selalu membantuku. Aku tidak tahu harus bilang apalagi. Aku sungkan sekali karena selalu menerima bantuan darimu dan juga merepotkanmu.''
''Sudahlah Mbak, tidak usah di pikirkan.'' Ucap Keira.
''Oh ya tapi Nona Gina, apa saya boleh meminta ijin untuk menjemput anak saya sekolah dan membawanya bekerja?''
''Boleh saja, Tessa. Disini kan juga ada arena main anak-anak jadi kamu tidak usah khawatir.''
''Syukurlah, terima kasih ya Nona.''
''Iya sama-sama Tessa.''
Hari itu Tessa dengan semangat memulai pekerjaannya. Gina tentu saja senang sekali karena Tessa memang sangat bisa diandalkan. Tessa juga senang karena jam kerja hanya sampai pukul setengah lima sore. Setidaknya ia masih bisa menyisihkan waktu untuk membereskan pekerjaan rumah dan menyiapkan makan malam untuk Anrez dan juga Johan.
Anrez pun sangat memahami pekerjaan Mamanya. Ia bermain dan belajar di area bermain anak tanpa merepotkan atau bahkan rewel. Jadi Tessa bisa bekerja dengan tenang.
''Bagaimana hari pertamamu kerja, Tes? Apa kamu senang?'' tanya Johan. Kini keduanya sedang duduk di teras kontrakan Tessa.
''Iya aku sangat senang. Apalagi aku bekerja sesuai dengan keahlian ku. Aku di tempatkan bagian office jadi aku sore bisa pulang. Bisa mengurus rumah, Anrez dan juga kamu.''
''Tapi Anrez bagaimana tadi? Apa dia juga enjoy?''
''Iya Jo. Dia memahami keadaan Mamanya. Aku sebenarnya kasihan tapi mau gimana lagi. Untung saja Nona Gina baik sekali. Dan semua karyawan disana juga senang dengan Anrez. Bahkan saat jam istirahat, mereka justru menemani Anrez bermain.''
''Syukurlah kalau begitu. Tapi inilah yang aku khawatirkan. Aku kasihan pada Anrez.''
''Johan, kita sudah sepakat dengan semua ini. Jadi kamu jangan berpikiran seperti itu lagi. Nona Gina juga mempermudah posisiku sebagai Ibu rumah tangga kok. Nanti kalau ada uang lebih, kita cari jasa pembantu saja ya. Jadi Anrez di rumah tidak kesepian.''
''Itu lebih baik, Tes. Daripada Anrez harus ikut kamu kerja. Aku akan usahakan nyari jasa pembantu nanti.''
''Tapi bisa menggajinya?'' tanya Tessa dengan senyum kecilnya.
''Bisa saja kalau cicilannya lunas,'' ucap Johan terkekeh.
''Sudahlah Jo, jangan di pikirkan. Apa yang ada di jalani saja dulu ya.''
''Kalau aku tidak sibuk, biar aku yang jemput Anrez. Kita kan pulangnya sama jamnya, kalau sedang lembur saja pulang ku malam. Atau aku antar jemput kamu saja ya?''
''Tidak usah, Jo. Aku masuk jam 9, sedangkan kamu jam 8. Kalau pulang sepertinya kita bisa bareng tapi kalau salah satu dari kita ada yang lembur itu yang susah.''
''Kalau begitu kamu naik mobil saja ya. Biar aku yang bawa motor. Kasihan Anrez kalau kepanasan dan kehujanan.''
''Kamu santai saja Johan. Sepertinya kamu ini cemas sekali. Sudah ya jangan terlalu di buat berat. Aku saja santai. Yang jelas kita sudah punya pekerjaan dan ada pemasukan saja, aku lega sekali.''
''Iya aku juga begitu. Maaf ya kalau aku jadi parno seperti ini. Aku terlalu khawatir.''
''Iya tidak apa-apa. Aku mengerti sekali apa yang kamu rasakan Jo.''
...****************...
Waktu pun terus berlalu, akhirnya Johan dan Tessa pindah di rumah baru mereka. Johan dan Tessa sedang sibuk mempersiapkan syukuran kecil untuk rumah mereka. Mereka pun tak mengundang banyak tamu. Hanya kedua sahabat beserta suami mereka saja yang Johan dan Tessa undang. Johan dan Tessa menyiapkan tumpeng dan beberapa camilan yang siap mereka suguhkan, sembari menunggu para tamu datang.
Suara deru mobil yang datang bersamaan, membuat Johan dan Tessa segera menuju depan. Terlihat mobil Kevin dan Krisna terparkir di depan rumah Johan. Johan segera berlari untuk membuka pagar besi rumahnya, Tessa pun mengekor dari belakang.
''Tuan Kevin, Pak Krisna, selamat datang.'' Sapa Johan dengan ramah. Kevin dan Krisna hanya melemparkan senyumnya. Keira dan Laras kemudian kompak memeluk Johan. Dan hal itu membuat Kevin dan Krisna merasa kesal, terutama Kevin.
''Jo, selamat ya! Akhirnya punya rumah baru juga. Sumpah kita seneng banget.'' Kata Laras.
''Semua ini juga berkat elo, Kei. Kalian ini memang selir-selir ku yang baik hati.'' Celetuk Johan seraya melepaskan pelukannya.
''Kamu menganggap istriku selir, Jo?'' sahut Kevin dengan tatapan kesalnya.
''Hehehe maaf Tuan, bercanda.''
Keira dan Laras kemudian bergantian memeluk Tessa.
''Selamat ya Mbak, semoga rumahnya berkah.'' Kata Laras.
''Semoga juga selalu membawa kebahagiaan dan mendatangkan rezeki yang lebih,'' sahut Keira.
''Amin, terima kasih ya untuk semua kebaikan kalian.'' Ucap Tessa seraya melepaskan pelukannya.
''Oh ya, aku bawakan kalian hadiah. Seperangkat alat masak,'' kata Keira yang menunjuk kearah parsel yang ada di tangan Kevin.
''Aku juga membawa seperangkat alat mandi, lengkap dengan sabun, shampo, handuk, ada untuk Anrez juga,'' sahut Laras sambil menunjukkan parsel yang ada di tangan Krisna.
''Ya ampun, kalian tidak usah repot-repot. Kalian datang saja kami sudah sangat senang.'' Kata Tessa.
''Tante, Anrez dimana?'' sahut Marvel.
''Hai Marvel, sampai lupa untuk menyapa Marvel. Anrez ada di dalam. Ayo sebaiknya kita semua masuk.'' Ucap Tessa. Mereka semua akhirnya masuk ke dalam rumah baru Johan. Johan langsung membawa mereka ke ruang tengah. Diatas meja sudah tersaji nasi tumpeng, aneka cemilan dan juga es sop buah untuk menjamu kedatangan Keira dan yang lain.
''Ihhh keren lho rumah elo, Jo.'' Ucap Laras.
''Ini juga belum lunas, Ras. Malu sama Tuan Kevin, gue. Gaya-gayaan syukuran tapi masih cicilan.'' Ucap Johan meringis malu.
''Kalau nunggu uang ngumpul, kamu juga tidak akan beli rumah, Jo. Lagi pula mengkredit rumah tidak ada ruginya. Aku lihat penjualanmu dua hari sudah mendapatkan 10 pcs ya, Jo.'' Sahut Kevin.
''Iya Tuan, alhamdulillah. Saya akan buktikan kalau saya bisa memenangkan challenge dari anda.''
''Harus itu, Jo!" kata Kevin sambil menepuk bahu Johan.
''Sekali lagi terima kasih untuk bantuan anda Tuan Kevin, Keira. Kalau bukan karena kalian, kami tidak bisa memiliki rumah ini. Dalam doa saya, saya menyebut nama kalian supaya kalian selalu bahagia, sehat, semakin sukses dan dimanapun berada selalu dalam lindungan Tuhan.'' Ungkap Tessa.
''Terima kasih Mbak Tessa untuk doanya. Kalian tidak usah sungkan. Kalian kan juga belinya di perusahaan Mas Kevin, jadi perusahaan juga pasti di untungkan. Apa kalian suka?'' sahut Tessa.
''Suka sekali, harganya sesuai dengan kualitas.'' Sahut Johan.
''Harus itu Jo. Kamu tahu, Dirgantara residence sudah beberapa kali mendapat plakat penghargaan. Karena kami selalu mengedepankan kualitas, bukan hanya sekedar murah. Makanya keberuntungan untukmu, mendapat tenggang waktu satu tahun.''
''I-iya Tuan.''
''Aku juga mendapatkan rumah berkat bantuan Tuan Kevin, Johan. Aku dulu lebih parah darimu. Aku tidak punya apa-apa sama sekali dan hanya berdua dengan Ibuku. Aku tidak tahu kalau saat itu tidak ada Tuan Kevin yang mengulurkan tangannya untuk ku. Aku dulu juga mengangsurnya. Dan dua tahun lalu baru lunas. Bahkan mobil pun beliau yang membantuku mendapatkannya. Dengan Tuan Kevin hidupku berubah.''
Kevin tersipu mendapat pujian. ''Wah, kepalaku berat sekali mendapat pujian dari kalian. Jangan membuatku sombong dengan pujian itu. Pasti dulu yang bergosip buruk tentangku menyesal.'' Ucap Kevin seraya melirik kearah Keira. Keira pun merasa tersindir dengan ucapan Kevin.
''Ihh, itu kan dulu Mas. Kamu memang menyebalkan, egois dan keras kepala sekali. Tapi dulu kalau sekarang bawelnya sih yang masih.'' Ucap Keira seraya meringis.
''Tuh kan kalian lihat, istriku sendiri padahal.'' Ucap Kevin dengan senyum kecilnya.
''Hehehe kamu suamiku yang terbaik di dunia, Mas.'' Ucap Keira seraya memberikan kecupan di pipi suaminya.
''Aduh, couple satu ini selalu bikin baper deh. Mending makan aja deh, Jo. Gue udah lapar.'' Sahut Laras terkekeh. Semuanya pun tertawa melihat tingkah couple Keira dan Kevin yang memang mereka saling melengkapi satu sama lain.
''Baiklah, ayo kita makan. Ini hasil masakan ku dengan Tessa. Ayo silahkan dicicipi.'' Ucap Johan. Suasana syukuran kecil-kecilan itupun berlangsung sangat hangat. Semuanya membaur jadi satu dan yang jelas Keira semakin kagum dengan sosok pria yang ada disampingnya yaitu suaminya sendiri. Dibalik kepala batu dan bawelnya Kevin, diam-diam Kevin memiliki rasa peduli kepada orang-orang yang mau berjuang seperti Johan dan Krisna.
Bersambung....