Terjebak Cinta Duda Tampan

Terjebak Cinta Duda Tampan
BAB 79 Mencari Alasan


Marvel lalu mengajak Keira berjalan menuju mobil. Dari kejauhan Kevin sembari joging berbincang dengan kliennya. Kevin pun melihat saat Keira dan Marvel masuk ke dalam mobil.


''Hari minggu pun dia masih kerja. Pantas saja dia tidak ada waktu untuk Marvel,'' ucap Keira dalam hati. Marvel dan Keira memutuskan untuk menunggu Kevin di dalam mobil. Namun tak lama kemudian, Kevin akhirnya menyusul ke dalam mobil.


''Sudah selesai sarapan buburnya, Marvel?'' tanya Kevin.


''Sudah Pah. Buburnya tidak enak jadi aku tidak memakannya.''


''Masa sih? Tadi Mama coba enak kok.''


''Yang menjadi tidak enak karena ada Om tadi.'' Ketus Marvel.


''Om? Om siapa?'' tanya Kevin.


''Oh tadi tidak sengajak kita bertemu dengan Leon.''


''Leon? Dia lagi?'' seru Kevin.


''Memangnya kenapa Mas? Apa ada masalah dengan Leon?''


''Tidak! Hanya saja kamu harus jaga jarak. Ingat ya hari pernikahan kita tinggal menghitung hari. Jangan sampai kamu mengacaukan semuanya, Kei.'' Tegas Kevin.


''Namanya juga tidak sengaja bertemu, Mas. Masa iya tidak boleh.''


''Sudah jangan membantah! Sebaiknya kita sarapan saja di rumah,'' ketus Kevin.


''Sabar Kei,'' batin Keira.


''Mas, sekalian antar aku pulang.'' Ucap Keira saat Kevin mulai melajukan mobilnya.


''Mah, jangan pulang! Ini kan hari Minggu jadi temani aku,'' bujuk Marvel.


''Kan ada Papa di rumah, Mama harus pulang karena ada urusan.''


''Apa Mama marah ya dengan sikapku tadi? Aku kan tidak sengaja dan sudah meminta maaf pada Om Leon.''


''Tidak Marvel. Mama tidak marah kok.''


''Memang apa yang di lakukan oleh Marvel pada Leon, Kei?''


''Marvel tidak sengaja menumpahkan teh ke mangkok bubur milik Leon. Jangan lupa langsung antar aku pulang, Mas.''


''Sebaiknya kamu memang pulang dan jangan pergi kemanapun!"


''Memangnya kenapa? Kenapa jadi mengaturku?'' protes Keira.


''Ya pokoknya menurut saja.'' Kata Kevin yang tidak bisa memberikan alasannya pada Keira.


-


Malam harinya Keira berniat bertemu dengan Laras dan Johan.


''Baru sehari di rumah si kepala batu itu raya aku sudah jenuh. Entah kenapa aku merasa kebebasanku akan terancam setelah menikah. Kenapa aku malah jadi ragu-ragu? Tapi aku sudah terlanjur menandatangani kontrak itu.'' Gumam Keira sambil bersiap. Keira lalu keluar dari kamarnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Kevin dan Marvel sudah berada di ruang tamu.


''Marvel-Tuan Kevin! Ka...kalian disini?''


''Hai Mah!" sapa Marvel dengan senyum lebarnya.


''Maaf Kei, Marvel memaksaku kemari untuk mengajakmu makan malam di luar.'' Kata Kevin.


''Tuh kan, mau hangout aja nggak bisa. Tiba-tiba udah nongol disini saja, huft,'' gerutu Keira dalam hati.


''Nak Kevin dan Marvel sudah sepuluh menit lalu disini, Kei. Kalau kalian mau keluar silahkan.'' Sahut Pak Ammar.


''Kei, pergi dulu ya Yah.'' Pamit Keira sambil mencium punggung tangan Ayahnya. Tak lupa Kevin dan Marvel juga berpamitan.


Selama di dalam perjalanan, Keira hanya diam. Ia benar-benar kesal karena merasa di teror oleh Ayah dan anak ini.


''Mah, kita mau makan malam dimana?''


''Marvel, Mama sebenarnya mau bertemu dengan sahabat Mama. Tapi kalian malah disini.''


''Ya sudah kenalkan kita pada sahabatmu,'' sahut Kevin.


''Aku kan ingin menghabiskan waktu dengan mereka,'' kesal Keira.


''Ya udah kita berdua ikut,'' paksa Kevin.


''Kenapa harus ikut?''


''Papa khawatir kalau Mama berjalan dengan pria lain,'' sahut Marvel. Keira lalu menatap kesal Kevin.


''Hah? Cemburu? Hahahahah lucu kamu! Siapa yang cemburu? Aku hanya berusaha mengawasimu supaya kamu tidak mengacaukan semuanya. Kalau sampai ada kabar tidak enak lagi, siapa yang mau tanggung jawab? Berita sudah reda eh malah nanti di tambah-tambahin lagi. Reputasi Kei! Reputasi!" kata Kevin dengan penuh penekanan. Ketika mendengar kalimat itu lagi, Keira akhirnya menyerah dan pasrah.


''Aku dengan temanku membuat janji di Galakxy Cafe.'' Ketus Keira. Kevin pun mengarahkan mobilnya kearag yang Keira tuju.


Saat sampai disana, Keira segera turun dari mobil tanpa menghiraukan Kevin ataupun Marvel. Tapi Marvel buru-buru meraih tangan Keira dan menggandengnya. Keira pun memaksa senyumnya ke arah Marvel. Keira lalu berdiri diambang pintu untuk mencari meja Laras dan Johan.


''Kei!" panggil Laras. Keira pun melambaikan tangannya pada Laras. Senyum Johan dan Laras sirna saat melihat Keira menggandeng Marvel dan melihat Kevin yang menyusul masuk di belakang Keira.


''Wah, si Keira bawa pasukan, Ras!" kata Johan.


''Ah iya nih, nggak seru! Tapi itu Tuan Kevin emang ganteng banget ya. Marvel juga cakep banget. Eh tapi mereka serasi tahu.'' Kata Laras.


''Malam Ras-Jo. Kalian udah lama?''


''Ya lumayan sih.'' Jawab Johan.


''Marvel ini teman Mama. Ini Tante Laras dan ini Om Johan.'' Ucap Keira.


''Hai Marvel, senang bertemu dengamu.'' Kata Laras sambil mengulurkan tangannya.


''Hai juga Tante.''


''Ya ampun, kamu ganteng banget sih.'' Puki Laras.


''Hai Marvel, aku Johan. Senang bertemu denganmu.''


''Hai Om. Aku juga senang bertemu denganmu.''


''Mmm Mas kenalin, ini teman aku.'' Kata Keira. Kevin lalu mengulurkan tangannya pada Laras dan Johan.


''Kevin!" ucapnya dengan dingin.


''Senang bertemu dengan Tuan,'' kata Laras dan Johan bersamaan.


Akhirnya mereka duduk satu meja. Suasana makan malam pun mendadak kaku. Mereka bertiga yang biasanya cengengesan dan heboh mendadak menjadi diam tak berkutik karena Kevin bergabung bersama mereka.


''Ganteng sih tapi dingin banget. Apa Keira akan bahagia ya nanti?'' gumam Laras dalam hati.


''Kayaknya Keira salah pilih suami nih. Dingin kayak es gini, apa Keira bisa hidup bersama mereka? Ayah dan anak sama-sama dingin. Nggak bisa bayangin deh kehidupan Keira kedepannya seperti apa.'' Kata Johan dalam hati.


''Baiklah ayo kita pulang!" ajak Kevin tiba-tiba.


''Kalian pulang saja dulu, aku masih mau disini bersama mereka.'' Kata Keira yang berusaha menghindar.


''Kei, ini sudah jam 9 malam. Waktu jam makan malam sudah selesai. Sebaiknya kita pulang. Kamu tidak boleh begadang apalagi keluyuran malam tidak jelas.'' Kata Kevin seperti seorang Ayah yang menasihati anaknya. Laras dan Johan kompak menelan ludah, melihat sikap Kevin yang tampak otoriter.


''I... iya Kei. Tuan Kevin benar, sebaiknya kamu pulang bersama mereka. Apalagi sebentar lagi kalian akan menikah jadi kamu harus belajar nurut sama suami.'' Sahut Laras dengan memaksa senyumnya. Mendengar ucapan Laras, Keira membulatkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya.


''Kenapa Laras malah bilang begitu sih?'' gerutunya dalam hati.


''Temanmu saja paham. Kenapa kamu tidak?'' sambung Kevin.


''Baiklah, ayo pulang!" Keira segera beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju mobil tanpa pamit pada kedua sahabatnya itu. Sementara Kevin tersenyum puas melihat Keira yang benar-benar kesal.


Hanya ada keheningan selama perjalanan pulang. Keira memalingkan wajahnya dari Kevin. Ia benar-benar kesal karena belum apa-apa kebebasannya terenggut.


''Pingin gitu seneng-seneng sebentar saja. Eh malah di kintilin juga. Padahal ini kan hari Minggu. Kalau hari Minggu gini, gue biasanya main sama Laras dan Johan karena Minggu adalah hari kebebasan tapi ini malah sebaliknya.'' Ucap Keira dalam hati.


''Oh ya Kei, besok aku jemput dan kita ke kantor. Setelah itu kita ke panti karena besik material bahan bangunan akan tiba.''


''Kenapa aku harus ikut?''


''Ya karena sebentar lagi kita akan menikah jadi kita harus sama-sama. Karena kita masih menjadi incaran media. Jadi aku harap kamu memahami ini semua.''


''Huft, baiklah,'' jawabnya pasrah.


Tanpa bertanya pada Keira, Kevin membelokkan mobilnya ke arah rumahnya.


''Lho-lho ini bukan arah rumahku,'' kata Keira.


''Iya ini arah rumahku. Sebentar lagi akan turun hujan. Jadi sebaiknya kamu di rumahku saja daripada kita terjebak hujan di jalanan. Karena rumahmu masih cukup jauh.''


''Tapi bagaimana dengan Ayah?''


''Biar aku nanti yang menghubunginya.'' Kata Kevin. Lag-lagi Keira harus menyerah dan menurut pada Kevin.


Bersambung....