
''Kevin, elo dimana?'' tanya Miko lewat sambungan. Miko dan Gina kini sedang berada di rumah Kevin.
''Gue ada di rumah sakit. Ayahnya Keira drop mendengar berita yang sedang heboh itu.''
''Iya gue udah lihat beritanya tapi sekarang di rumah elo ada polisi karena ada yang melaporkan Keira.''
''Apa? Bagaimana bisa?'' ucapnya dengan suara meninggi.
''Sebaiknya elo dan Keira pulang sebentar deh.'' Kata Miko yang berusaha tetap tenang.
''Siapkan pengacara dan hubungi David juga.''
''Oke, elo tenang aja ya.'' Panggilan pun berakhir. Kevin menghela nafas panjang, melihat Keira dengan matanya yang tampak sembab. Kevin lalu menghampiri Kenny dan mengajaknya bicara empat mata.
''Tuan Kenny, sepertinya aku harus membawa Keira pulang ke rumah. Aku baru saja mendapat telepon kalau ada polisi datang kerumah.''
''Apa? Polisi? Kenapa sampai ada polisi segala? Apa Keira akan di tangkap?'' kata Kenny dengan amarahnya.
''Tuan tenang saja, aku akan menjaga Keira dan menyelidiki masalah ini. Karena sepertinya bukan Keira yang mereka tuju tapi aku.''
''Ya Allah, kenapa malah jadi seperti ini?'' gumam Kenny sambil membasuh wajahnya dengan telapak tangannya. Musibah yang datang bersamaan, membuatnya sangat tertekan.
''Anda tenang saja, aku akan mengurusnya. Sebaiknya Tuan Kenny, fokus menemani Ayah Ammar saja. Aku akan membawa Keira pulang.''
''Baiklah, tolong jaga dan lindungi Keira ya.''
''Pasti.''
Setelah berbicara empat mata dengan Kenny, Kevin lalu menghampiri Keira.
''Sayang, sebaiknya kita pulang dulu ya.''
''Ada apa Mas? Aku mau menunggu Ayah disini.''
''Ada polisi di rumah kita.''
''Apa? Polisi? Apa dia mau menangkapku, Mas?''
''Sudah tenang saja. Sebaiknya kita temui saja mereka ya. Kakakmu akan menjaga Ayah dengan baik disini.''
''Pulanglah, Kei.'' Sahut Kenny. Keira lalu mengangguk dan ikut Kevin untuk pulang.
Selama perjalanan pulang, Kevin terus menggenggam tangan istrinya. Baru kali ini ia melihat Keira sesedih ini. Keira yang selalu ceria, pemberani, judes dan bawel, seolah lenyap dari pandangan Kevin.
''Mas, aku takut. Apa aku akan di penjara?''
''Tidak, sayang. Tidak ada bukti kuat yang bisa membawa kamu kesana. Buktinya saja tidak ada, iya kan? Kamu tenang saja, aku akan mengurusnya.''
-
Sesampainya di rumah....
''Apa-apaan ini? Kenapa ada polisi segala di rumahku?'' ucap Keenan dengan suara meninggi.
''Maaf Tuan Kevin, kami membawa surat penangkapan untuk Nyonya Keira atas dugaan kasus prostitusi online.'' Kata Polisi 1.
''Ini hoax! Istriku sama sekali tidak pernah melakukan itu.'' Bentak Kevin dengan ekspresi wajah yang menakutkan.
''Ini surat penangkapan resminya. Nyonya Keira bisa memberi penjelasan di kantor polisi.'' Sahut Polisi 2.
''Jangan bawa Mamaku!" seru Marvel sambil memeluk erat Keira.
''Mama ku tidak bersalah! Itu bohong! Mama tidak melakukan itu.'' Sambung Marvel dengan segala amarahnya untuk membela Keira.
''Apakah ada bukti yang kuat dengan dugaan itu?'' sambung Kevin.
''Nanti bisa di jelaskan di kantor polisi, Tuan.''
''Nyonya mari ikut kami! Anda bisa menjelaskan semuanya disana.'' Kata Polisi 1 sambil memegang lengan Keira. Namun Kevin dan Marvel kompak menghadang kedua polisi itu. Ayah dan anak itu kompak merentangkan kedua tangannya untuk melindungi Keira.
''Tuan, kami mohon jangan persulit tugas kami.'' Kata Polisi 2.
''Jangan bawa Mama! Kalian ini polisi atau penjahat sih,'' teriak Marvel.
''Pak Polisi jangan ngadi-ngadi ya. Adik ipar saya ini wanita baik-baik,'' sahut Miko dengan suara lantangnya.
''Nyonya saya ini baik, Pak. Jadi Bapak jangan macam-macam ya. Dengan mudahnya menangkap Nyonya saya,'' kata Bi Nani yabg juga ikut marah.
''Iya ih, si Bapak pasti salah informasi.'' Sahut Mbak Rima.
''Tolong ya kalian jangan mempersulit proses penyidikan. Kalau memang Nyonya Keira tidak bersalah, kami juga akan melepaskan Nyonya Keira. Jadi biarkan kami membawa Nyonya Keira untuk dimintai keterangan.'' Jelas Pak Polisi. Keira merasa terharu karena mereka semua ternyata sangat peduli padanya.
''Bawa kami juga, Pak!" suara Johan mengagetkan semuanya.
''Johan-Laras,'' gumam Keira.
''Siapa kalian?''
''Kami admin situs itu. Itu bukan situs prostitusi. Kami memiliki banyak klien sebagai saksi situs pacarsewaan.com. Jadi biarkan Keira dan bawa kami saja,'' kata Johan.
''Iya Keira bergerak atas perintah kami. Tidak ada klien yang rugikan. Kami bisa membuktikan itu.'' Imbuh Laras.
''Kalau begitu kalian berdua juga ikut ke kantor polisi.''
''Oke, siapa takut! Kami tidak salah jadi kami akan membuktikannya.'' Tantang Johan.
''Biar kami berdua saja. Biakan Keira di rumah.'' Sahut Laras.
''Tidak bisa Nona. Ini sudah prosedur.'' Jawab Polisi 2.
''Saya boleh bicara sebentar dengan Tuan Kevin?'' tanya Johan.
''Silahkan.''
Johan kemudian mengajak Kevin berbicara dengan menjauh dari mereka semua. Johan lalu mengeluarkan ipadnya dan memberikannya pada Kevin.
''Tuan, semua bukti ada disini. Banyak sekali klien yang terbantu dengan jasa kami. Didalam ipad ini ada data semua klien kami dan bukti chat semua klien kami. Anda bisa mengaktifkan kembali website kami untuk di jadikan bukti. Disini pun kami menyimpan bukti transaksi jasa, sekaligus tanda tangan kerja sama yang memang sengaja kami jadikan dokumentasi pribadi untuk berjaga-jaga jika hal buruk seperti ini terjadi. Anda juga bisa meminta tolong pada mereka sebagai saksi untuk masalah ini. Semua password sudah saya simpan rapi di file ini. Kami bahkan tidak memasang tarif dan banyak juga yang kami gratiskan, niat kami hanya membantu. Saya dan Laras akan menemani Keira, anda tidak usah khawatir. Saya sendiri tidak tahu kenapa ada berita hoax seperti ini. Lagi pula kami juga menutup bisnis ini. Dan satu lagi bukti tentang Tuan Jason, itu sangat membantu.'' Jelas Johan panjang lebar.
''Terima kasih ya karena kamu sudah mau membantu Keira. Tolong jaga Keira, sembari aku mencari siapa penyebar hoax ini.''
''Pasti Tuan.'' Kata Johan. Setelah berbicara empat mata dengan Johan, Kevin lalu kembali bersama dengan Keira.
''Mas, biarkan aku ikut saja. Kalau aku kooperatif semuanya akan baik-baik saja. Aku juga akan menghadapinya karena aku memang benar dan tidak bersalah.''
''Sayang, aku akan membantumu. Johan sudah memberikan semua buktinya. Dan aku akan secepatnya menangkap penyebar hoax itu.''
''Iya, aku percaya kamu. Tolong jaga Ayah dan Marvel juga ya.''
''Mah, Mama mau ikut Pak Polisi ini?'' tanya Marvel sambil menangis tersedu-sedu.
''Iya sayang. Mama hanya ikut sebentar. Mama akan membuktikan kalau Mama tidak bersalah. Kamu doakan Mama ya, supaya semua masalahnya cepat selesai dan kita bisa kembali bersama.'' Ucap Keria sambil menyeka air mata Marvel.
''Mah... Jangan pergi!" pelukan Marvel pun semakin erat.
''Nyonya... Jangan pergi!" kompak Bi Nani dan Mbak Rima dengan tangisnya.
''Bi Nani-Mbak Rima, jaga Marvel ya. Doakan semoga semuanya cepat selesai.'' Kata Keira sambil menahan rasa sedihnya. Hal yang paling membuat Keira sedih saat ini adalah kondisi Ayahnya. Kevin kemudian memeluk istrinya dengan erat, air mata yang sedari tadi Kevin tahan pun lolos juga.
''Bersabarlah sayang, aku akan melakukan apapun untuk kamu. Aku sangat mencintaimu.''
''Aku juga mencintaimu, Mas.'' Kevin kemudian mengecup kening Keira dengan bibir yang bergeta menahan rasa sedih. Kevin dengan berat melepaskan pelukannya pada Keira. Keira kemudian memeluk Marvel dan mencium kening serta pipi Marvel. Ia kemudian berbalik dan melangkah keluar bersama Polisi. Laras dan Johan ikut serta bersama Keira.
''Mama!" tangis Marvel sambil berteriak memanggil Keira.
''Pak Polisi jahat! Mama ku tidak bersalah kenapa kalian membawanya? Jangan sakiti Mama ku! Aku akan memukul kalian, kalau sampai Mama ku terluka meskipun hanya seujung kuku,'' ucap Marvel dengan histeris sambil sesenggukan sambil mengejar Keira keluar. Kevin kemudian menahan Marvel dan memeluknya erat.
''Marvel tenanglah! Kita harus kompak untuk mencari bukti kalau Mama tidak bersalah. Kemarahan dan tangisan kamu percuma, Nak. Tangisan dan kemarahanmu tidak akan membantu Mama. Jadi kita harus bekerja sama, oke.'' Kata Kevin yang berusaha kuat di hadapan putranya, meskipun hatinya pun sangat hancur dan tidak sanggup melihat Keira di perlakukan seperti itu.
''Pah, kita harus selamatkan Mama. Aku tidak mau kehilangan Mama.'' Isak tangis Marvel.
''Iya Marvel, itu pasti.''
''Aku tidak akan membiarkan orang itu jika aku menemukannya,'' gumam Kevin dalam hati penuh rasa amarah dan dendam.
Bersambung......