
''Aku kecewa sama papa! lebih baik aku pergi bersama Om Miko dan Tante Gina ke luar negeri. Jangan pernah menghubungi ku lagi atau menncariku lagi, pah. Papa sama sekali tidak mencintaiku. Papa lebih senang hidup dalam kenangan masa lalu daripada denganku, anak papa sendiri. Om Miko dan Tante Gina kini adalah orang tuaku, bukan lagi papa. Selamat menikmati hidup papa yang selalu kesepian dan selamanya akan sendirian. Selamat tinggal pah!" pamit Marvel papanya.
''Jangan tinggalkan papa, Marvel. Maafkan papa! maafkan papa! kembalilah.''
''Maaf papa sudah terlambat.''
''Gue sudah bilang sama elo kalau elo seharusnya bersyukur, Kev. Gue sekarang bahagia karena ada Marvel yang bakal temenin gue sama Gina. Gue dan Gina akan menyayangi Marvel sepenuh hati dan jiwa raga kita. Selamat menikmati kesendiran elo dan selamat terkurung dengan keegoisan elo, Kevin. Keegoisan elo akan menjadi penghancur untuk hidup elo sendiri, BYE!" Miko dan Gina akhirnya membawa Marvel pergi. Mereka bertiga memberikan senyuman mengejek pada Kevin.
''Jangan tinggalkan papa, Marvel!" teriak Kevin. Kevin pun terbangun dari mimpi buruknya. Kevin mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rupanya Kevin tertidur di kursi kebesarannya itu. Dan mengingat mimpi itu, membuat Kevin merasakan gelisah dan takut.
''Sepertinya Miko tidak main-main,'' gumamnya. Kevin lalu melihat kearah jam tangannya.
''Masih ada waktu 45 menit untuk sampai di rumah. Sebaiknya aku pulang saja!" gumamnya. Kevin pun akhirnya bergegas untuk pulang.
Namun sesampainya di rumah, rumah Kevin justru tampak sepi. Dengan rasa khawatir ia segera masuk ke dalam rumah.
''Marvel!'' panggil Kevin.
''Lho tuan kok balik ke rumah?'' tanya Bi Nani yang melihat tuannya pulang dengan wajah cemas.
''Maksudnya gimana, Bi? saya memang baru pulang dari kantor. Marvel mana?''
''Sepuluh menit yang lalu sudah pergi di ajak Tuan Miko dan Nona Gina, mereka bilang mau merayakan ulang tahun Den Marvel dan saya pikir pergi bersama anda.'' Jelas Bi Nani.
''Lalu Keira?''
''Ikut bersama mereka. Tadi Den Miko bawa koper juga jadi saya pikir tuan dan yang lain akan berlibur.''
''Apa? ternyata Miko tidak main-main tapi kenapa Keira di ajak juga? jangan-jangan memang benar dia hanya modus dan berniat menculik Marvel lalu meminta tebusan.'' Gumam Marvel dalam hati.
''Baiklah Bi, saya akan cari ke rumah Miko.''
''Hati-hati tuan.'' Kata Bi Nani. Selepas Kevin pergi dan terdengar deru mobilnya meninggalkan rumah, Bi Nani langsung menelpon Miko.
''Halo tuan Miko, target sudah masuk perangkap.''
''Kerja bagus, Bi. Terima kasih ya, Bi.''
''Sama-sama tuan Miko.'' Panggilan pun berakhir.
-
Selama perjalanan, Kevin berusaha menelpon Miko namun Miko memilih mengabaikan panggilan Kevin. Miko, Gina, Marvel dan Keira sendiri sedang berkumpul di rumah Miko. Ada rencana di balik rencana yang telah Miko susun dengan Marvel tanpa sepengetahuan Keira.
Akhirnya Kevin sampai juga di rumah Miko. Namun rumah Miko tampak sepi dan lampu rumah Miko tampak padam semua. Di lihat dari GPS ponselnya, Miko masih berada di rumah.
''Apa yang elo rencakan Miko? gue masih bisa melacak keberadaan elo,'' gumamnya menyeringai. Ia menganggap Miko kurang pintar mengatur strategi. Kevin akhirnya masuk ke rumah Miko dan anehnya pintu rumahnya tidak terkunci. Namun rumah Miko benar-benar gelap.
''Mik, gue tahu elo di rumah. GPS ponsel elo, bisa gue lacak,'' suara Kevin memecah kesunyian rumah Miko.
''Papa tolong!" teriak Marvel dengan penuh ketakutan.
''Marvel, kamu dimana?'' teriak Kevin semakin panik. Kevin lalu menyalakan flash ponselnya dan mendekat ke arah sumber suara. Sepertinya suara Marvel dari halaman belakang. Kevin pun bergegas lari menuju halaman belakang dan ternyata, disana Marvel bersama Miko, Gina dan Keira sudah berkumpul untuk merayakan ulang tahun Marvel.
''Papa! akhirnya papa datang juga,'' ucap Marvel dengan rona mata bahagia. Ia kemudian mendekat dan memeluk putranya.
''Kamu sengaja mengerjai papa?''
''Maaf ya pah, aku hanya ingin papa pulang dan kita merayakan hari bahagia ini bersama.''
''Ini semua ide elo, Mik?''
''Ide kita semua demi kebahagiaan Marvel. Kita semua memikirkan kebahagiaan Marvel tapi elo sebagai papanya, malah cuek saja.''
''Tapi ini tidak lucu sama sekali! kalian tidak tahu apa-apa tentang ini semua.'' Kata Kevin penuh dengan rasa kecewa karena di bohongi.
''Pah, jangan marah! ayo kita tiup lilin dan potong kuenya.'' Ajak Marvel sambil menggandeng tangan papanya namun Kevin justru tidak bergerak sama sekali.
''Pah, ayo! kenapa diam saja?'' kata Marvel yang masih berusaha menarik tangan Kevin.
''Marvel, maafkan papa. Kamu sudah mendapatkan hadiah ulang tahun yang kamu ingin kan jadi tolong jangan paksa papa untuk melewatkan ulang tahunmu,'' kata Kevin. Kevin kemudian perlahan melepas tangan Marvel. Marvel benar-benar kecewa dan ia merasa sakit hati dengan sikap papanya. Mata Marvel pun berkaca-kaca melihat sikap papanya. Ia bahkan tidak tahu alasan apa yang membuat papanya tidak pernah mau merayakan ulang tahunnya.
''Kevin, elo bener-bener tega hancurin perasaan Marvel ya? ancaman gue bakalan jadi kenyataan kalau elo terus seperti itu,'' kata Miko dengan suara meninggi.
''Gue sudah datang kan, Mik? jadi apa yang harus gue lakukan? gue juga udah ngabulin permintaan aneh Marvel itu jadi kurang apalagi? hah?'' kata Kevin dengan suara memelan.
''Papa jahat!" bentak Marvel. Keira kemudian memeluk Marvel berusaha untuk menenangkannya. Kevin hanya bisa terdian dengan sorot mata sendu. Kevin dengan langkah gontai, memilih meninggalkan rumah Miko.
''Mah, bawa aku pergi! aku tidak mau melihat papa. Papa jahat! papa tidak sayang padaku!" teriak Marvel menumpahkan segala kekecewaan dan kekesalannya. Marvel pun menangis di pelukan Keira. Miko dan Gina hanya bisa terdiam. Mereka juga sangat sedih dan kecewa dengan sikap Kevin. Sampai detik ini mereka juga tidak tahu mengapa Kevin selalu mengindari ulang tahun Marvel.
''Marvel tenanglah, papa pasti lelah, makanya bicara seperti itu. Bagaimana kalau kita tiup lilinnya dulu? kan ada mama, Om Miko dan juga Tante Gina,'' bujuk Keira.
''Aku tidak mau! aku tidak mau ulang tahun lagi!" teriak Marvel dengan kesal. Marvel pun berlari dan keluar dari rumah Miko.
''Marvel, kamu mau kemana?'' teriak Keira.
''Kei, sebaiknya kamu kejar dia ya. Tolong jaga Marvel, biarkan Kevin larut dengan kesendiriannya dulu. Aku yakin ada alasan kuat dia melakukan ini ya walaupun apapun itu, tetap saja itu egois.'' Kata Miko.
''Iya, Kak. Marvel sepertinya juga perlu menenangkan diri. Aku akan menjaga Marvel dengan baik.''
''Terima kasih ya, Kei.''
''Iya, sama-sama Kak.''
Keira kemudian pergi untuk mengejar Marvel.
Bersambung....